Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Terkait Pembahasan Jangan Marah

jangan marah

Terkait Pembahasan Jangan Marah – Marah kebanyakan dari syaithan, dan ia hanya membawa kerugian serta penyesalan. Sekiranya seseorang melihat wajahnya ketika marah, pasti ia merasa malu. Bukan hanya bisa merusak hati, marah juga bisa merusak jantung; bahkan bisa menyebabkan kematian dikarenakan serangan jantung. Marah pada asalnya harus dihindari, kecuali kemarahan karena Allah dalam kondisi-kondisi tertentu. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berpesan kepada seorang laki-laki yang meminta nasihat kepada beliau:

لا تغضب

Artinya: “Jangan marah !”[1]

Laki-laki itu mengulanginya berkali-kali, tetapi beliau tetap memberinya nasihat serupa: “Jangan marah.”

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Al-Khathabi Rahimahullah mengatakan bahwa jangan marah artinya jauhilah sebab-sebab kemarahan, dan jangan melakukan sesuatu yang mengarah pada kemarahan. Namun marah memang suatu kondisi yang terkadang tidak mampu kita cegah atau kendalikan.”

Maka dari itu seyogyanya kita mengamalkan bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam mengendalikan sifat buruk ini antara lain :

  1. Tidak marah kecuali karena Allah

Apabila seseorang marah karena Allah, niscaya ia akan mendapat pahala. Kemarahan bergolak dalam hatinya saat melihat hukum Allah diabaikan dan dilanggar, atau tatkala menyaksikan perbuatan haram merajalela. Jihad fi sabilillah juga bentuk kemarahan karena Allah. Maka seorang muslim tidak akan marah kecuali karena-Nya, sehingga ia mendapat pahala dari kemarahannya tersebut. Jadi, hindarilah kemarahan karena urusan dunia yang tidak mendatangkan pahala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah marah karena persoalan pribadi, namun beliau marah karena pertolongan pribadi, namun beliau marah ketika melihat agama Allah diabaikan. Nabi pun tidak pernah menghukum seseorang dikarenakan pelanggarannya terhadap beliau, kecuali jika melanggar hak Allah Subhanahu Wata’ala dalam sebuah hadits disebutkan:

ما خيّر النبيّ صلى الله عليه وسلّم بين أمرين إلاّ اختار أيسرهما, ما لم يأثم, فأذا كان الإثم كان أبعدهما منه, والله ما انتقم لنفسه في شيئ يؤتى إليه قطّ حتّى تنتهك حرمات الله فينتقم لله

Artinya: “Tidaklah dua pilihan diajukan kepada Nabi kecuali beliau memilih yang termudah di antara keduanya, selama tidak berdampak dosa. Tetapi jika itu dosa maka beliau menjauhi keduanya. Dan demi Allah, beliau tidak pernah menghukum seseorang karena sesuatu yang dilakukannya terhadap beliau. Kecuali jika larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau akan menjatuhkan hukuman karena Allah.”[2]

  1. Menjauhi kemarahan karena urusan duniawi

Marah itu semuanya buruk, kecuali marah karena Allah. Marah terkadang mendorong manusia untuk bertikai dengan orang lain. Sampai-sampai memukulnya, menghinanya, atau menjerumuskannya ke dalam dosa besar, juga memutuskan tali silaturahim. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لا تغضب

Artinya: “Jangan marah.”[3]

Sabda ini adalah perintah untuk menjauhi kemarahan, atau perintah untuk menahan amarah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

{…وَٱلكَـٰظِمِينَ ٱلغَيظَ…}

Artinya: “… Dan orang-orang yang menahan amarah….” (QS. Ali-Imran [3] : 134)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berkata kepada Asyajj Abdul Qais Radhiyallahu Anhu:

إنّ فيك لخصلتين يحبّهما الله: الحلم, والأناة

Artinya: “Sungguh, di dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yaitu lemah lembut dan santun.”[4]

  1. Menahan amarah dan meredamnya jika terjadi

Sikap ini sangat disukai Allah Subhanahu Wata’ala. firman-Nya:

{وَٱلكَـٰظِمِينَ ٱلغَيظَ وَٱلعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يحِبُّ ٱلمُحسِنِينَ}

Artinya: “…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran [3]: 134)

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Dua ayat ini bukanlah dalil untuk membunuh rasa marah. Akan tetapi jika marah memuncak, hendaklah ia menahan dan meredamnya untuk menghindari kekejian. Itulah yang dimaksud.”[5]

Menahan amarah akan mendatangkan pahala yang besar. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من كظم غيظا وهو قادر على أن ينفذه, دعاه الله عزّ وجلّ على رءوسهم الخلائق يوم القيامة, حتى يخير الله

من الحور العين يزوّجه منها ماشاء

Artinya: “Barangsiapa menahan amarah padahal bisa meluapkannya, maka pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan segenap makhluk, hingga Dia menyuruhnya untuk memilih bidadari Surga dan Dia menikahkannya dengannya, sesuai kehendaknya.”[6]

  1. Berta’awudz kepada Allah ketika marah

Ta’awudz atau berlindung kepada-Nya dari makar syaitan adalah obat yang paling muarab untuk meredakan marah. Sebab, marah berasal dari syaitan. Namun banyak orang yang melalaikan sunnah ini padahal, tentu lebih baik bagi mereka mengamalkannya. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إذا غضب الرّجل فقال: أعوذ بالله, سكن غضبه

Artinya: “Jika seseorang marah kemudian mengucapkan: A’udzubillah (Aku berlindung kepada Allah), niscaya marahnya mereda.”[7]

Dalam hadist lain disebutkan:

استبّ رجلان عند النبيّ صلى الله عليه وسلّم, فغضب أحدهما فاشتدّ غضبه حتّى انتفخ وجهه وتغيّر, فقال النبيّ صلى الله عليه وسلّم: إنيّ لأعلم كلمة لو قالها, لذهب عنه ما يجد, لو قال: أعوذ بالله من الله من الشّيطان الرّجيم

Artinya: “Dua orang laki-laki saling mencela di hadapan Nabi. Salah seorang dari mereka lantas marah, dan kemarahannya memuncak hingga wajahnya memerah dan berubah. Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat maka ia mengucapkannya, niscaya hilanglah kemarahannya. Andai ia mengucapkan: A’udzubillahi minasy syaithanirrajim (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).”[8]

Coba perhatikan nasihat, petunjuk dan anjuran Nabi agar berlindung kepada Allah dari syaitan ketika marah, karena syaitanlah yang menyulut kemarahan pada diri manusia.

  1. Diam ketika marah

Ini adalah perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau pun berpesan:

علّموا ويسّروا ولا تعسّروا, وإذا غضب أحدكم فليسكت

Artinya: “Ajarilah, mudahkanlah urusan dan jangan menyusahkan. Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah diam.”[9]

Sebab jika tidak, boleh jadi ia mengatakan sesuatu yang bisa merusak agamanya, atau menyalakan perselisihan dan menjadikan urusan demikian rumit. Atau ia mengatakan sesuatu yang membuatnya menyesal di kemudian hari.

  1. Mengubah posisi tubuh saat sedang marah

Ini adalah petunjuk Nabi, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس, فإن ذهب عنه الغضب وإلاّ فليضطجع

Artinya: “Jika salah seorang diantara kalian marah sedang saat itu ia berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika marahnya tidak juga hilang, maka hendaklah ia berbaring !”[10]

Anjuran ini dikarenakan orang yang berdiri biasanya lebih cepat marah daripada orang yang duduk, demikian pula orang yang duduk lebih cepat marah daripada orang yang berbaring. Maka itu lakukanlah sunnah tersebut jika sedang marah.

  1. Memohonkan ampunan, memaafkan, dan bersabar

Yaitu memaafkan dan memohonkan ampunan bagi orang yang membuatnya marah dan memaafkannya. Allah memuji para hamba-Nya: Artinya: “… Dan jika mereka marah, mereka memohon ampunan.” (QS. Asy-Syura [42]: 37)

Dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

{ٱلَّذِينَ ينفِقُونَ فِی ٱلسَّرَّاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ وَٱلكَـٰظِمِينَ ٱلغَيظَ وَٱلعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يحِبُّ ٱلمُحسِنِينَ}

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran [3]: 134)

Rasul  adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf terhadap orang yang bersalah. Diantara sifat beliau yang tertera dalam Taurat : “… dan ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi ia memaafkan dan memohonkan ampunan ….”

  1. Tidak membalas keburukan dengan keburukan

Sekalipun kita mendapat kesempatan untuk membalas keburukan itu dengan keburukan semisalnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

{وَإِن عَاقَبتُم فَعَاقِبُوا۟ بِمِثلِ مَا عُوقِبتُم بِهِۦۖ وَلَئِن صَبَرتُم لَهُوَ خَير لِّلصَّـٰبِرِينَ}

Artinya: “Jika kamu membalas (menghukum), maka balaslah dengan yang semisal (dengan keburukan) yang telah mereka lakukan, tetapi jika kalian sabar itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl [16]: 126)

Apabila seorang menjelek-jelekkan kita maka janganlah berlebihan membalasnya, sebab itu termasuk kezhaliman. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau cacian dengan cacian. Sungguh, memaafkan lebih utama.

 

REFERENSI:

Diringkas oleh : Yasmin Yuni Azrah (Pengabdian Ponpes Darul Quran wal Hadits)

Sumber : Buku Panduan Amal Sehari Semalam ditulis oleh Abu Ihsan al-Atsari dan Ummu Ihsan

[1] HR. Al-Bukhari (no.6116) dari Abu Hurairah.

[2] HR. Al-Bukhari (no.6768) dari Aisyah.

[3] HR. Al-Bukhari (no.6116) dari Abu Hurairah.

[4] HR. Muslim dari Abdullah bin Abbas (no.17) dan dari Abu Sa’id (no.18). asalnya terdapat pada riwayat al-Bukhari (no.53).

[5] Fathul Bari (X/535).

[6] HR.Ahmad (III/437), Abu Dawud (no.4777), at-Tirmidzi (no.2021), dan Ibnu Majah (no.4168) dari Mu’adz bin Anas. Dihasankan oelh at-Tirmidzi. Lihat Shahih al-Jami’ (no.6522).

[7] HR. Ibnu Adi dalam al-Kamil (V/256) dan as-Sahmi dalam Tarikh Jurjan (hlm. 252) dari Abu Hurairah, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no.695).

[8] HR. Al-Bukhari (no.6155, 6048) dan Muslim (no.2610) dari Sulaiman bin Shurad.

[9] HR. Ahmad (I/239), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no.191), dan Ibnu Adi dalam al-Kamil (IV/259) dari Abdullah bin Abbas. Dishahihkan oleh al-Albani di dalam ash-Shahih (no.1375), serta dinisbatkan kepada Ibnu Sahaini dan al-Quda’i. lihat Adabul Mufrad (no.1840).

[10] HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no.4782), dan Ibnu Majah (VII/5659/479) dari Abu Dzar al-Ghifari. Lihat Shahih al-Jami’ (no.694).

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.