Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Neraka Saqar Untuk Para Koruptor (Bagian I)

NERAKA SAQAR UNTUK KORUPTOR

NERAKA SAQAR UNTUK PARA KORUPTOR-Bagian 1

Bahaya Fitnah Harta 

Segala puji hanya milik Allah rabb alam semesta, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad, sholawat juga untuk para keluarga dan para sahabat beliau.

Pada pembahasan kali ini adalah Neraka Shaqor menanti Kuruptor (Bab 1 Bahaya Fitnah Harta) lanjutan.

Imam Hasan Bashri Rahimahullah Berkata: “Semua Kenikmatan dunia dari awal hingga akhir bagaikan orang yang tidur lalu bermimipi melihat suatu yang menyenangkan kemudian ia bangun dari tidurnya.”

Orang yang membersihkan hatinya dari sifat rakus dan seraka akan merasa ringan untuk meninggalkannya, senatiasa siap bertemu dengan robbnya, dengan penuh semangat menyonsong masa depan yaitu akhirat, dan selalu siaga menyambut kematian. Naba صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Bersabda, “Jika cahaya telah masuk kedalam hati, maka akan menjadi lapang dan tenang. “ mereka bertanya, “ dan apakah tanda-tandanya wahai Rasulullah?” beliau bersabda,” bersiap siaga untuk ke kampung kekekalan, bersiap siaga untuk berpisah dengan kampung penuh penipuan (dunia) dan bersiap siaga untuk menjemput kematian sebelum kehadirannya”.

Pernah ada seorang laki-laki menulis surat kepada Umar Bin Abdul Aziz yang isinya “Sesungguhnya dunia bukan tempat tinggal abadi, karena Adam diturunkan ke dunia hanya untuk menjalani sanksi, maka dunia laksana ular yang indah untuk pandang namum bahaya di pegang. Hiduplah kalian di dunia seperti orang sakit yang benci obat, dia terpaksa minum agar sehat dan dia tidak makan makanan tertentu agar sembuh dari penyakit.

Selakyaknya kita bersiap diri meninggalkan kampung dunia menuju kampung akhirat dengan selalu menambah simpanan kebaikan, bersegera memenuhi panggilan Allah, memperbanyak bekal dan bertaubat dengan taubat nasuhan, kalu tidak, kita pastimakan tertipu fatamorgana dunia, sedangkan taibiat dunia hanya satu, dunia meninggalkan kita atau kita meninggalkan dunia. Manakah yang lebih dahulu menghampiri kita, hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Menentukan. Maka siapa yang menyia-nyiakan hidupnya, mengikuti rayuan setan dan mengumbar hawa nafsu niscaya ia akan terjatuh ke dalam berbagai macam dosa dan maksiat, akhirnya kehilangan nikmat surga akhirat.

  • Sederhana Mencari Maisyah

Allah menghalalkan kerja yang bersih dan mengharamkan usaha yang kotor. Seorang muslim tidak boleh jatuh ke jurang kehancuran karena mengejar keuntungan semu yang menggiurkan dengan menghalalkan segala cara dan profesi. Maka memilih kerja bersih, usaha berkah dan harta halal sangat berpengaruh positif terhadap gaya hidup dan prilaku manusia, bahkan menuntukan diterimanya ibadah dan terkabulnya doa seorang hamba, Rasulullah صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Wahai manusia sesungguhnya Allah maha bersih, tidak terima kecuali yang bersih, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para utusan-Nya, Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى berfirman, ‘Hai rasul-rasu makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Seseungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.’”(Al-Mu’minum: 51). Dan Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى  berfirman, “ Hai orang-orang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah lah kamu menyembah”(Al-Baqarah: 172) “ kemudian beliau menuturkan seseorang yang sedang berpergian sangat jauh, berpakaian compang-camping, berambut kusut, mengangkat tangan ke langit tinggi-tinggi dan ber doa, ‘Ya Robbi, Ya Robbi’ sementara makanan haram, minuman haram, pakaiannya haram dan darah dagingnya haram tumbuh dari yang haram, maka bagaimana terkabul doa nya?”

Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى  memberi keleluasaan untuk berpacu dalam mengais rejeki dan berlomba dalam menciptakan lapangan kerja, sepanjang itu tidak dicela, asal melalui jalur yang halal dan cara yang benar. Bahkan beribadah sambal berusaha pun dipersilakan.

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ  فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِه لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ

Artinya: Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).

Abu Amar Ibnu Abdul Bar berkata, “ Setiap harata yang tidak menopang ibadah kepada Allah, d pakai untuk kepentingan maksiat dan mendatangkan murka Allah, bahkan tidak dimanfaatkan untuk menunaikan hak Allah dan kewajiban agama, maka harta tersebut tercela. Adapun harta yang di peroleh lewat usaha yang benar sementara hak-hak harta di tunaikan secara sempurna, dibelanjakan di jalan kebaikan untuk meraih ridha Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى maka harta tersebut sangat terpuji.”

Manusia yang tidak memahami tujuan hidup dan tabiat dunia, mereka akan dengan rakus mengumpulkan harta sehingga melalaikan alam akhirat yang abadi, bahkan mereka tidak mengerti untuk apa mengimpun harta, Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى         berfirman:

اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ يُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُوْنَ وَرَاۤءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيْلًا

Artinya: “Sesungguhnya mereka (orang kafir) itu mencintai kehidupan (dunia) dan meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya. (QS. Al-Insan: 27) 

Kemiskinan bukan perkara tercela dan bukan suatu hal yang harus disesali bila menimpa seorang hamba. Bisa jadi kemiskinan Allah akan muliakan dan mengangkat derajatnya bila diterima dengan hati yang lapang dan qona’ah. Sehingga jiwa terhindar dari sifat tamak, tidak berharap nikmat yang ada di tangan manusia, dan tidak rakus mengejar harta dengan menghalalkan segala cara. Demikian itu hanya bisa dapat dengan sikap qona’ah dan mencari harta hanya untuk memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian.

Nabi صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Qona’ah Adalah harta simpanan yang tidak pernah habis dan telaga kehidupan yang tidak pernah kering airnya, sehingga Abu Hazm berkata, ”Siapa mempunyai tiga sifat ini maka akan menjadi sempurna akalnya; orang yang mengenali dirinya, mampu menjaga lisannya dan bersikap qona’ah terhadap karunia Allah.”

  • Jangan Serakah

Ketahuilah serakah dan tamak merupakan sifat yang sangat tercela dan lebih berbahaya ketimbang serigala yang sedang kelaparan dilepas pada seekor kambing, sebagimana sabda Nabi صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,

مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينه

Artinya: “Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” [HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih) 

Hasan Bashri Rahimahullah berkata, “ siapa yang serakah dan kagum kepada dunia akan keluarlah darinya rasa takut kepada akhirat, siapa yang tambah ilmunya tapi makin tambah serakah terhadap dunia, maka akan semakin tambah jauh dari Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى  dan semakin tambah di benci Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى

Dari Abdullah bin asy-syikhkhir dari bapaknya kepada Nabi صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Artinya: “Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?” (HR. Muslim no. 2958)

Qona’ah pasrah dan bertawakal kepada Allah sambil mengerahkan upaya maksimal menjadi solusi utama dalam menghilangkan sifat rakus dan kehidupan serba kekurangan, serta kerja yang tidak menentu sebagimana sabda nabi صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً  .

Artinya: “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.” (HR Imam at-Tarmizi no. 2344)

Janganlah melihat orang di atasmu dalam perkara-perkara dunia sehingga anda akan serakah dan mengikuti gaya hidup mereka, dan jangan suka membandingkan kemampuan duniamu dengan orang lain, karena nasib setiap individu berbeda-beda, bahkan dalam masalah harta, anda harus melihat orang yang dibawah anda, karena anda akan lebih bisa mensyukuri nikmat Allah سُبْحَا نَهُ وَتَعَالَى sebagaimana Sabda Nabi صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,

“Lihat orang yang dibawahmu dan janganlah melihat orang tinggi darimu, karena melihat kebawah itu membantu diri kalian untuk tidak mengingkari kenikmatan Allah atas kalian” (HR Imam Muslim no. 7356)

Seorang muslim selalu bersifap murah hati dan berusaha semaksimal mungkin menghindari sifat serakah, karena serakah menjadi sumber segala problem baik dalam kekayaan dan kejiwaan yang akhirnya melahirkan sikap pengecut, kikir, dzalim dan bodoh serta menghantarkan pada kehinaan hidup dunia dan akhirat Nabi صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

Artinya: “Celakalah wahai budak dinar, dirham, qothifah (pakaian yang memiliki beludru), khomishoh (pakaian berwarna hitam dan ada bintik-bintik merah). Jika ia diberi, maka ia rida. Jika ia tidak diberi, maka ia tidak rida.” (HR. Bukhari, no. 2886).

Bersambung….

REFERENSI:

Diambil dari buku: Neraka Saqor Menanti Koruptor/ Juni 2014 M, di tulis oleh: Zainal Abidin Syamsuddin, Lc.

Diringkas oleh: Muqbil Gantha Wijaya

Baca juga artikel:

Metode Pendidikan Islam (Bagian I)

Ramadhan Dalam Penantian

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.