Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Pandailah Mengendalikan Lidahmu

pandailah mengendalikan lidahmu

Pandailah Mengendalikan Lidahmu – Atas segala nikmat dan karunianya yang telah dilimpahkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kepada kita semua selaku hamba-nya.

Ada begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita selaku hamba-nya salah satunya yaitu nikmat lisan tetapi banyak manusia yang tidak pandai dalam menggunakan lisannya sehingga dia mengeluarkan kata-kata yang kasar kata-kata dasar atau kata-kata yang buruk oleh karena itu pada kesempatan kali ini kita akan membahas kembali sebuah artikel yang menyampaikan tentang perihal ini artikel tersebut berjudul mengendalikan lidah kita mengetahui betapa pentingnya kita untuk mengendalikan lidah dan mengendalikan ucapan-ucapan kita dalam bidang tersebut dan itu adalah salah satu bentuk bersyukur atas nikmat nikmat lisan atau lintah yang telah Allah berikan…

NIKMAT LIDAH

Sesungguhnya Allah ta’ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan besar. Diantara nikmat Allah yang terbesar,setelah nikmat iman dan Islam ialah nikmat berbicara dengan lidah, dengan kemampuan menjelaskan isi hati dan kehendak.

Allah ta’ala berfirman :

الرحمن . علم القران . خلق الانسان . علمه البيان

Artinya: “Allah yang maha pemurah. yang telah mengajarkan Alquran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. ar-rahman/55:  1-4)

Penciptaan manusia dan pengajaran berbicara kepadanya benar-benar merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang besar. Oleh karena itulah, Allah juga menyebutkan nikmatnya tentang penciptaan alat-alat berbicara bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الم نجعل له عينين . ولسانا وشفتين

Artinya: “Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. ( QS. Al-balad /90 : 8-9 ).

LIDAH, SENJATA BERMATA DUA

Meski lidah merupakan nikmat yang besar namun kita perlu mengetahui bahwa lidah yang berfungsi untuk berbicara ini seperti senjata bermata dua titik yaitu dapat digunakan untuk taat kepada Allah dan juga dapat digunakan untuk memperturutkan setan.

Jika seorang hamba mempergunakan lidahnya untuk membaca Alquran berdzikir berdoa kepada Allah untuk Amar ma’ruf nahi mungkar, atau untuk bayinya yang berupa ketaatan kepada Allah maka inilah yang dituntut dari seorang mukmin dan ini merupakan perwujudan syukur kepada Allah terhadap nikmat lidah.

Sebaliknya, jika seorang mempergunakan lidahnya untuk berdoa kepada selain Allah berdusta bersaksi palsu Somad melakukan ghibah ( mengunjing ), namimah ( memfitnah ),memecah-belah umat muslim, merusak kehormatan seorang muslim, bernyanyi dengan lagu-lagu maksiat atau lainnya yang berupa ketaatan kepada setan, maka ini diharamkan atas seorang mukmin, dan merupakan kekufuran kepada Allah terhadap nikmat lidah.

Dengan demikian, lidah manusia itu bisa menjadi faktor yang bisa mengangkat derajat seseorang hamba di sisi Allah, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar bagi pemiliknya.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

ان العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقىي لها بالا يرفعه الله بها دراجات وان العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقىي لها بالا يهوي بها في جهنم

Artinya: “Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab 1 kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah dia tidak menganggapnya penting dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka jahanam”. (HR. Bukhari no. 6478 ).

Al-hafizh Ibnu Hajar al-asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan pikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. ( Lihat Fat-hul bari’ penjelasan hadits no. 6478 ).

BENCANA LIDAH

Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua titik yaitu berbicara batil ( kerusakan, sia-sia ), dan diam dari al-haq  yang wajib diucapkan.

Kebanyakan manusia ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang dengan dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas titik sedangkan orang yang beruntung, yaitu orang yang menahan lidahnya dari kebatilan dan menggunakannya untuk perkara bermanfaat.

Bencana lidah termasuk bagian dari bencana bencana yang berbahaya bagi manusia titik bencana lidah itu bisa menimpa pribadi masyarakat atau umat Islam secara keseluruhan.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

ان الرجل ليتكلم بالكلمة لا يرى بها باسا يهوي بها سبعين خريفا في النار

Artinya: “Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, dia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka. (HR. Muslim)

Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan. la haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim.

Syaikh Husain al-Awaisyah berkata: ” sesungguhnya sekarang ini, sesuatu yang manusia merasa aman tentram terhadapnya ialah lidah mereka, padahal lidah yang paling dikhawatirkan nabi shallallahu alaihi wasallam atas umatnya. Dan yang nampak, tidak itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan bosan “.

MENJAGA LIDAH

Menjaga lidah disebut juga hifzhul-lisan.lidah itu sendiri merupakan anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah memiliki fungsi sebagai penerjemah dan pengungkap isi hati. oleh karena itu, setelah nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan seseorang berIstiqomah kemudian mewasiatkan pula untuk menjaga lisan. Keterjagaan dan lurusnya lisan sangat berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang.

di dalam musnad imam Ahmad, dari Anas bin Malik, dari nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:

لا يستقيم ايمان عبد حتى يستقيم قلبه ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه ولا يدخل رحل الجنة لا يامن جاره بوائقه

Artinya: “iman seorang hamba tidak akan Istiqomah, sehingga hatinya Istiqomah. Dan hati seorang hamba tindakan Istiqomah, sehingga lisannya Istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan kejahatan nya ia tidak akan masuk surga. (HR. Ahmad dalam musnadnya)

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaklah menjaga lidahnya. Apa jaminan bagi seseorang yang menjaga lidahnya dengan baik?. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عقبة بن عامر ولا قلت يا رسول الله ما النجة قال أملك عليك لسانك وليساك بيتك وابك على خطيئتك

Artinya: Dari uqbah bin Aamir ia berkata: “aku bertanya wahai Rasulullah apakah sebab keselamatan?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab: “kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu terasa luas bagimu, dan  tangisilah kesalahanmu”. (HR. Tirmidzi, no. 2406)

Maksudnya kamu janganlah berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikan, betah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan ketaatan, dan hendaklah menyesali kesalahan-kesalahan dengan cara menangis.

Imam an-nawawi rahimahullah berkata “ketahuilah, seharusnya setiap mukallaf ( orang yang berakal dan Baligh ), menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya, maka menurut sunnah adalah menahan diri darinya.karena perkataan Mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh kebiasaan ini bahkan banyak dilakukan. sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر قالوا لي يقول خيرا او ليصمت

Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits yang disepakati keshahihannya ini merupakan nasi yang jelas. Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang timbulnya masalah hanya, maka hendaklah ia tidak berbicara.

Diriwayatkan bahwasanya Yahya bin Mu’adz berkata:  “hati itu seperti periuk dengan isinya yang mendidih titik sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena sesungguhnya lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, tawar, asin dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepada rasa hatinya”.

PERKATAAN ULAMA SALAF TENTANG MENJAGA LISAN

  1. Umar bin al-khattab Radhiyallahu Anhu berkata: “barangsiapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barangsiapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barangsiapa banyak dosa dosanya, neraka lebih pantas baginya”.
  2. Ibnu Masud Radhiyallahu Anhu berkata: “tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah tanda seru di muka bumi ini tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah”.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu juga berkata: “jauhilah fudhulul-kalam ( pembicaraan yang melebihi keperluan ).cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai dengan kebutuhannya.

  1. Ibnu Nuraidah Rahimahullah berkata: “aku melihat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma memegangi lidahnya sambil berkata,” celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. diamlah dari keburukan niscaya engkau selamat. jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal.

Ada begitu banyak perkataan ulama salaf yang menegaskan tentang hal ini mungkin tidak akan cukup kertas ini untuk menuliskan semuanya maka dari itu kami hanya mengambil beberapa dari perkataan perkataan para ulama-ulama tersebut.

Mungkin hanya ini yang dapat kami tuliskan ulang artikel yang berjudul “menjaga lidah” semoga ini bisa bermanfaat bagi kami dan juga yang membaca.

REFERENSI:

Sumber: ustadz Abu Ismail muslim al-atsari. “Menjaga lisan”. Majalah as-sunnah. 1429 hijriah / 2008 edisi ke-12

Diringkas oleh: Hesti opita sari (Staf Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

 

BACA JUGA:

Bahaya Fitnah Harta (Bagian 1)
kumpulan berbagai ceramah singkat dan kajian Islam

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.