Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Menikah Sesuai Sunnah

menikah sesuai sunnah

Menikah Sesuai Sunnah – Segala Puji hanya milik Allah ta’ala. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa salam penutup para nabi akhir zaman. Dan Segala puji bagi Allah, Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan Siapa yang Allah tetapkan, maka tidak ada yang dapat memberikannya petunjuk.

Meminang calon pasangan

Syariat Islam yang mulia memberikan konsep yang jelas tentang cara-cara menikah sesuai Alquran dan Sunnah yang salah menurut pemahaman para salaf ash-shalih. Langkah awal yang harus ditempuh oleh laki-laki muslim yang hendak menikah setelah saling mengenal karakter adalah Khitbah atau meminang.

Meminang merupakan  permintaan seorang laki-laki kepada orang tua atau wali dari pihak perempuan untuk menikah dengan anaknya. Permintaan ini bisa melalui perantara yang sudah dikenal, atau calon pengantin laki-laki datang dan bertemu langsung dengan wali perempuan.

Cuma meminang merupakan mukadimah dan pembukaan menuju pintu gerbang pernikahan sebelum melangsungkan akad nikah dengan tujuan supaya kedua calon pasangan saling mengenal sesuai dengan batasan syariat dan mengikat perempuan agar tidak di Pinang laki-laki lain. Rumah Minang merupakan mukadimah dan pembukaan menuju pintu gerbang pernikahan sebelum melangsungkan akad nikah dengan tujuan supaya kedua calon pasangan saling mengenal sesuai dengan batasan syariat dan mengikat perempuan agar tidak dipinang laki-laki lain.

Alasan meminang wanita

Secara umum, kriteria wanita yang menjadi alasan calon suami menjatuhkan pilihan, terhimpun dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,” wanita dinikahi karena 4 perkara: karena kehormatannya, bertanya, kecantikannya, dan anggotanya. Maka Pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan bahagia.” (Muttafaqun Alaih)

Syariat Islam telah menetapkan aturan dan etika Mulia dalam memilih jodoh agar tidak terjadi kesalahan dan kecewa. Pernikahan dalam Islam bukan hanya untuk melampiaskan hawa nafsu sesaat dan bukan pula hanya untuk mengeruk harta kekayaan. Tujuan utama menikah adalah mengikuti sunnah nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjalankan perintah agama dan beribadah kepada Allah Subhanallah Ta’ala. Oleh sebab itu menurut pandangan yang benar wanita dipinang karena beberapa alasan di bawah ini:

wanita dipinang karena hartanya

Harta kekayaan wanita yang terpuji adalah kekayaan yang dihiasi dengan ketakwaan titik bagi wanita salihah hanya berada di tangan, bukan di hatinya. Sehingga tidak membuat dirinya sombong,, dan besar kepala. Hartanya membantunya untuk beramal Salih, menciptakan ketentraman dan kebahagiaan rumah tangga.

Bila wanita memiliki harta tidak disertai keshalihan dan ketakwaan B menyebabkan sombong dan bersikap aku terhadap suami. Hal ini bisa menimbulkan kerusakan dalam rumah tangganya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ

Artinya: “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS.  As-Syura: 27)

Laki-laki yang menikahi wanita karena terpikat katanya, rumah tangganya akan cepat tumbang dan hubungan rumah tangganya kering. Kebahagiaan laki-laki semacam ini ketika bisa mengambil harta kekayaan sebanyak-banyaknya titik-titik wanita akan terus diperas hartanya seakan Dia petani yang terjerat tengkulak ibaratnya “ada harta istri disayang, habis harta istri ditendang” dan kehidupan istri pun menjadi sensara dan merana.

Hal ini akan berbeda jika harta bukan menjadi tujuan utama dalam membina rumah tangga, harta hanya sekedar perlengkapan saja. Maka, Apa itu bisa menjadi penyegar dunia dan akhirat mereka.

Wanita di Pinang karena ke keturunannya

Wanita yang berasal dari keturunan terhormat akan berusaha menjauhkan dirinya dari kehinaan dan tingkah laku yang buruk takut mencemarkan nama baik keluarga besarnya. Ia akan berusaha menanamkan kepada anak-anaknya nilai-nilai luhur dan terpuji agar menjadi penerusnya yang terhormat. Dia akan berusaha menjauhi perbuatan tercela yang dapat menjatuhkan martabat dan harga diri dan keluarganya.

wanita di Pinang Karena kecantikannya

Sudah menjadi Fitrah laki-laki menyukai wanita yang parasnya cantik, badannya tinggi semampai atau kulitnya putih bersih dan senyumnya selalu menghiasi bibirnya. Islam sangat memperhatikan hal ini karena kecantikan yang ada pada diri wanita merupakan kesenangan dan kenikmatan yang halal.

Islam tidak mengekang fitrah manusia, bahkan menjadikan kecantikan diantara ke kriteria dalam mencari istri namun ada kriteria lain yang lebih utama untuk dicari sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,:

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

“padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”( Al-A’la:17)

Namun, kecantikan yang tidak disertai dengan ketakwaan dan keshalihan akan mencelakakan hidup rumah tangga dan menghancurkan masa depan anak-anak sebagai sebagaimana firman Allah ta’ala, Yang artinya: “sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik Walaupun dia menarik hatimu.” ( Al-Baqarah:221)

Wanita yang memiliki kecantikan dan dihiasi dengan ketakwaan tulus akan menciptakan rumah tangga yang harmonis dan serasi

Wanita di Pinang karena agamanya

Iman yang kuat dan agama yang kokoh merupakan pilar penting yang memberi jaminan kebahagiaan dan kesuksesan Hidup berumah tangga. Kecantikan atau keseksian akan pudar dan sinar dengan berjalannya waktu. Fakta pun tidak dibawa mati dan kehormatan keturunan tidak menentukan derajat Mulia dihadapan Allah ta’ala. Namun, agama dan iman akan selalu menyertai dan tidak akan Lapuk ditelan massa bahkan akan semakin subur dan kokoh. Maka ketika Ummu sulaim radhiallahu anhuma dilamar oleh Abu Salha, Iya hanya menjalankan Abu tolha masuk Islam, dan menjadikan keislaman Abu tolha sebagai mahar.

Ketakwaan seorang wanita akan menumbuhkan cinta dan menyuburkan hasil kasih sayang antara suami dan istri. Ia akan mampu menyelesaikan setiap problem yang muncul dalam kehidupan rumah tangga. Wanita yang bertakwa akan mengetahui hak dan kewajibannya. Maka ia pun akan berusaha untuk menunaikan haknya kepada siapapun yang memiliki hak secara wajar, terutama hak suaminya. Iya menasehati anak-anaknya dan membimbing mereka Dengan pemahaman yang benar dan yang lurus.

Ada sebagian orang yang menikah dengan wanita cantik kaya atau terhormat Meskipun tidak taat beragama, sementara mereka berkata, “saya akan memperbaiki nya sambil berjalan.” Namun, setelah menikah dan mengarungi kehidupan bersama ternyata harapannya meleset. Tak jarang, ia dihadapkan pada kebatilan dan si Wanita tetap bersikukuh pada hawa nafsunya. Masalah pun kemudian bermunculan. Pada saat tidak dapat dituntaskan, maka perceraian menjadi jalan keluar. disaat suami tak mau melepaskan, Ia pun terbawa arus istri bersama melakukan kebatilan. Akhirnya suami pun melepas agamanya karena hawa nafsu belaka.

Sesungguhnya dalam memilih pasangan, orang-orang yang mengabaikan agama dan ketakwaan pada diri wanita, bisa dipastikan dalam keluarganya nanti tercipta banyak keluhan setelah menikah. Maka, selayaknya saat menjatuhkan pilihan pada seorang gadis hendaknya atas rasa ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Karena dalam realita dan kasus sehari-hari faktor inilah yang paling bermanfaat.

Wanita di Pinang karena kegadisannya

Tidak dapat dipungkiri bahwa keperawanan masih menjadi kriteria yang sangat diperhitungkan bagi para pemuda Shalih. Pada zaman sekarang pergaulan bebas Sudah menjadi kebiasaan, maka semakin banyak jumlah gadis yang tak lagi perawan. Maka, pria pun semakin hati-hati dalam mencari pilihan.

Ketika laki-laki mendapatkan istri yang tidak perawan karena hawa nafsunya di masa lalu itu akan menimbulkan fitnah dan kecurigaan. Sang suami akan susah menyayangi dan memiliki seutuhnya. kecurigaan Akan selalu timbul. Bahkan, saat ketidakperawanan itu baru diketahui di malam pertama, itu akan menimbulkan kekecewaan yang sangat mendalam pada laki-laki akan merasa dibohongi. Maka tidak jarang perceraian pun segera terjadi.

Jika saat mengawali pernikahan si laki-laki masih perjaka, si gadis masih perawan, dan mereka saling menyerahkan semuanya di dalam malam pertama sungguh kebahagiaan dan keikhlasan semakin mendalam. Mereka merasa tidak sia-sia Setelah sekian lama mengekang hawa nafsu untuk menjauhi zina. Pada akhirnya benar-benar mendapatkan dan memberikan pada orang yang tepat yaitu orang yang dicintainya, orang yang diharapkan menjadi pasangan hidup untuk selama-lamanya. Inilah pentingnya arti keperawanan.

Namun, Jika seorang wanita yang sudah tidak pahlawan benar-benar tidak berobat atas dosa-dosa masa lalunya dan si laki-laki telah mengetahui seluruh persoalan dan berlapang dada menerimanya maka ia pun dapat menjadi awal kebaikan keduanya. Apalagi saat menikah, wanita dimulai dimuliakan dan mendapatkan ketulusan cinta dari sang suami maka ia akan semakin cinta dan semakin merasa bersalah atau kebodohannya ia pun akan berusaha keras menjadi istri Sholihah guna menembus dosa-dosanya di masa lalu dan membalas Budi sang suami. Masa Lalu agar menjadi di pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang menyadarinya.

Seorang gadis tatkala  menjadi seorang istri, ia akan lebih mencintai suaminya dan lebih bisa menyatu dengannya daripada janda Bagaimana tabiat manusia, lebih menyayangi orang yang pertama kali mengikat hubungan dengannya. Dari Jabir radhiallahu Anhu dari Nabi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda,“(nikahilah) gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qanaah).”

Namun, jika di sana ada ke tahap yang lebih nyata untuk menikahi janda maka jalan yang ditempuh sah-sah saja. Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah memberikan jaminan atas perkawinan perkawinannya dengan seorang janda. Setelah beliau tahun menikahi janda agar istrinya mau membantu mengasuh 9 saudari-saudari nya, sebagai dituturkan Jabir radhiallahu anhu Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah memberkahi jaminan atas perkawinan perkawinannya dengan seorang janda. Setelah beliau tahun menikahi janda agar istrinya mau membantu mengasuh 9 saudara-saudaranya, sebagai dituturkan Jabir radhiallahu anhu “Ayahku meninggal dunia dan meninggalkan 7/9 Putri, lalu aku menikah dengan orang janda, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda” Apakah engkau sudah menikah, “Ayahku meninggal dunia dan meninggalkan 7/9 Putri, lalu aku menikah dengan orang janda, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir “Aku menjawab, “wahai Jabir Aku menjawab, “sudah.” Beliau bersabda, “dengan seorang Gadis Atau Janda? “Aku menjawab sama dengan seorang janda. “Beliau bertanya, Mengapa tidak memilih gadis sehingga engkau dapat bermain-main dengannya, dan dia pun dapat bermain-main denganmu? Engkau bisa tertawa dengannya dan dia bisa tertawa denganmu?” Aku menjawab, “Sesungguhnya saya punya beberapa saudara perempuan. Saya khawatir terjadi sesuatu antara mereka dengan saya.” beliau bersabda, “Ya, terserah kamu, sesungguhnya wanita dinikahi karena agamanya, hartanya dan kecantikannya, namun Pilihlah yang punya agama kalau tidak, kamu akan mendapati kehancuran.”

Gadis maupun janda tidak menjadi soal, yang penting harus disertai ketakwaan dan keshalihan sebagai bentuk ketaatan terhadap seruan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam boleh jadi janda lebih berkenan daripada wanita yang masih gadis karena memiliki sifat-sifat yang baik dan berpengalaman. Apalagi ketika rumah tangga membutuhkan wanita yang lebih menantang dan berpikir dan kaya dengan pengalaman hidup seperti yang dicari Jabir bin Abdullah radhiallahu Anhu. Beberapa banyak pemuda yang menikahi seorang janda kemudian hidup mereka semakin berbunga dan rumah tangga makin bersahaja? Bahkan rumah tangga mereka hampir mendekati kesempurnaan dibanding yang lain.

Wanita di Pinang karena suburnya.

Seorang laki-laki ketika meminang wanita hendaknya mempertimbangkan kesuburan rahimnya dan potensi memberinya keturunan kamar seperti yang disarankan Rasulullah Shalallahu Wassalam sabdanya, “nikahilah wanita yang banyak anak atau sumber dengan penuh kasih sayang. Karena aku bangga dengan jumlah kalian yang banyak.”

Kesuburan seorang wanita bisa dilihat dari kondisi saudara-saudari atau kerabat dekatnya sedangkan kemandulan wanita bisa diketahui dengan perkawinan sebelumnya maka sesungguhnya perkawinan dengan hanya kesenangan sekejap atau kegembiraan yang tanpa meninggalkan bekas mendalam. Kemudian bila istri sakit atau sudah lanjut usia, kami sekali Seringkali merasakan kekecewaan karena menikah dengannya bisa jadi dia menganggap pernikahan tersebut sebagai beban yang berat. Padahal andai kata dia mempunyai anak sama maka ia menjadi terhibur dan bebannya akan berkurang. Tanah Arab senantiasa dipandang sebagai perekat ikatan pernikahan pengharum sudut rumah tangga dan kemesraan.

Bersambung…..

 

Referensi:

Diringkas dari buku: Cerdas memilih jodoh

Karya: Zainal Abidin bin Syamsudin

Cetakan ke 1, Dzulqa’dah 1436 H. / september 2015 M

Diringkas oleh: Helmi Lia Putri (Pengabdian Ma’had Darul Qur’an wal Hadits)

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.