Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

KOLERASI ANTARA DOA DAN TAKDIR

TAKDIR

 

Korelasi antara Doa dan Takdir-Kita sering menjumpai banyak doa dikabulkan oleh Allah subhanallahu ta’ala. Doa-doa tersebut kadang dipanjatkan seseorang ketika dalam kondisi sulit atau terjepit disertai ketundukkan kepada Allah ?. banyak yang salah persepsi bahwa rahasia terkabulnya doa tadi ada pada lafazh doa yang digunakan, maka ia pun memakai lafazh tersebut dan mengabaikan berbgai perkara serta kondisi yang menyertai orang yang yang doanya dikabulkan tadi.

 

Ada pertanyaan yang cukup populer, “jika perkara yang diminta oleh seorang hamba itu memang teah ditakdirkan, niscaya hal itu sudah pasti akan terjadi, baik ia berdoa ataupun tidak. Jika memang tak ditakdirn, niscaya hal itu tidak akan tejadi, baik ia berdoa ataupun tidak. Bukankah demikian?” Segolongan orang menyangka bahwa pernyataan tersebut sebuah kebenaran. Mereka pun lantas meninggalkan doa seraya mengatakan: “Doa itu sama sekali tidak berfaedah!’ seiring dengan kedunguan dan kesesatan mereka, sikp demikian sangat kontadiktif. Konsekuensi dan penerapan dari pemikiran seperti ini hanya akan meniadakan dan menafikan salah satu bentuk atau keberaaan faktor-faktor penyebab dari sebuah kejadian.

 

Sebagai bantahan, kita katakan kepada mereka: “Seandainya Anda memang ditakdirkan untuk kenyang dan terbebas dari dahaga, tentulah hal tersebut akan terjadi, baik Anda makan ataupun tidak. Demikian pula jika tidak ditakdirkan untuk kenyang, tentu Anda tidak akan pernah kenyang, baik Anda makan ataupun tidak. Sama halnya dengan keturunan, jika memang ditakdirkan untuk memilikinya.

 

Menurut orang yang berlagak pandai, tidak ada bedanya antara berdoa dan berdiam diri, baik secara lisan maupun hati untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Keterkaitan doa dengan tercapainya keinginan itu seperti halnya keterkaitan orang yang diam saja untuk mendapatkannya. Begitulah pendapat mereka. Menurut mereka tidak ada hubungan sebab akibat dalam peristiwa pecah dan memecahkan, terbakar dan membakar, serta terbunuh dan membunuh. Tidak ada hubungan antar keduanya melainkan rentetan peristiwa yang biasa, bukan sebab dan akibat.

 

Pendapat yang benar adalah ada bagian ketiga yang tidak tercantum dalam pernyataan di atas, yaitu apa yang ditakdirkan terjadi karena adanya sejumlah sebab, diantaranya adalah doa. Tidak mungkin sesuatu yang ditakdirkan terjadi begitu saja tanpa adanya sebab. Hal tersebut pasti memiliki keterkaitan dengan  sebab. Jika seorang hamba mengerjakan sebab, maka terjadilah apa yang ditakdirkan. Sebaliknya, jika hamba tidak mengerjakannya maka apa yang ditakdikan itu tidak terjadi. Jika demikian, doa merupakan salah satu faktor penyebab yang paling kuat.

 

Allah subhanallahu ta’ala berfirman,

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

 

Artinya:

“… Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan begimu…”[1]

 

Allah subhanallahu ta’ala juga berfirman,

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا

بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku”[2]

 

Hal ini menunjukkan bahwa ridha-Nya terletak pada permohonan dan ketaatan kepada-Nya. Jika Allah ridha, maka seluruh kebaikan akan dalam keridhaan-Nya, sebagaimana setiap bencana dan musibah itu terjadi karena kemaksiatan kepada Allah dan murka-Nya. Allah subhanallahu ta’ala mengaitkan kebaikan dan keburukan di dunia dan di akhirat dalam kitab-Nya dengan amal perbuatan, sebagaimana keterkaitan antara balasan dengan syarat, kejadian dengan alasan, dan akibat dengan sebab. Hal ini dapat kita jumpai pada lebih dari seribu tempat dalam al-Quran.

 

Allah subhanallahu ta’ala berfirman,

فَلَمَّا عَتَوْا۟ عَن مَّا نُهُوا۟ عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ

Artinya:

“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: ‘jadilah kamu kera yang hina’”[3]

 

Secara umum, al-Quran dari awal hingga akhir mengaitkan secara jelas antara susunan ganjaran kebaikan dan keburukan, serta hukum alam dan hukum syar’i dengan sebab. Dijelaskan pula hubungan antara hukum di dunia dan di akhirat serta berbagai maslahat dan kerusakannya dengan amalan dan sebab. Barangsiapa yang memhami dan mencermati hal ini dengan seksama, niscaya ia akan mendapatkan manfaat yang tiada terkira. Namun, barangsiapa yang hanya sekedar menyandarkan diri kepada takdir karena kebodohan, kelemahan, kelalaian, dan kealpaan dirinya, maka tawakkalnya ini hanyalah kelemahan dan kelemahannya berubah menjadi tawakkal!.

 

Orang faqih atau berilmu,yang sesungghnya adalah orang yang menolak, menampik, dan melawan,takdir dengan takdir pula. Manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup, melainkan dengan melakukan hal ini. Lapar, haus dingin, serta berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran merupakan bagian dari takdir, sedangkan semua makhluk berusaha untuk menghadapinya dengan takdir pula. Begitu juga orang yang diberi pemahaman dan petunjuk-Nya. Ia akan menolak takdir hukuman akhirat dengan takdir taubat, iman, dan amal shalih. Hal ini setara dengan takdir yang ditakuti di dunia serta kebalikannya. Sebab, Rabb dunia dan akhirat adalah satu, hikmah-Nya juga satu, serta tidak ada pertentangan dan penafian antara satu sama lain. Masalah ini termasuk masalah yang sangat penting bagi orang yang mengetahui kedudukannya serta memperhatikannya secara seksama. Wallahul Musta’an.

 

Meskipun demikian, masih tersisa dua hal yang harus seseorang lakukkan untuk menyempurkan kebahagiaan dan keberuntungannya.

Pertama, ia seharusnya mengetahui rincian terjadinya sebab-sebab terjadinya keburukan dan kebaikan. Selain itu, seseorang mesti memiliki bashiroh (pengetahuan) dalam hal tersebut menurut apa yang disaksikannya dari alam, pengalaman pribadinya dan orang lain, serta berita umat-umat terdahulu dan sekarang yang pernah ia dengar.

 

Hal yang paling bermanfaat dalam hal ini adalah tadabbur al-Quran. Sungguh, al-Quran memberikan peran yang sempurna. Di dalamnya disebutkan sebab terjadinya kebaikan dan keburukan secara terperinci. Selajutnya adalah mempelajari as-Sunnah, yang tidak lain adalah saudara kandung al-Quran sekaligus wahyu kedua. Barangsiapa yang memusatkan perhatian kepada keduaya niscaya akan tercukupi sehingga tidak memutuhkan yang lain. Al-Quran dan as-Sunnah akan memperlihatkan kepadamu segala bentuk keburukan dan kebaikan, beserta sebab-sebab terjadinya hingga seolah-olah kita menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Setelah itu, perhatikan kabar umat-umat yang ada serta balasan Allah terhadap orang yang taat atau orang yang bermaksiat kepada-Nya, niscaya ia cocok dengan apa yang Anda ketahui dari al-Quran dan as-Sunnah, serta Anda lihat dengan terperinci di dalam berita dan janji Allah. Semua ini menunjukkan kepamu bahwa al-Quran i benar, Allah pasti menepati janji-Nya, dan sejara adalah rincian dari bagian-bagian yang dikenalkan oleh Allah dan rasul-nya kepada kita tentang sebab-sebab universal terjadinya kebaikan dan keburukan.

 

Kedua, ia seharusnya tidak menipu dirinya dalam berinteraksi dengan sebab-sebab tersebut. Ini termauk perkara yang terpenting. Seorang hamba mengetahui bahwa maksiat dan kelalaian termasuk sejumlah sebab yang pasti akan mendatngkan kemudharatan, baik di dunia maupun di akhirat. Ada kalanya, jiwa manusia menipu dirinya sendiri, misalnya mengandalka kepaa ampunan-Nya dan menunda taubat. Terkadang juga berlindung dengan ucapan istighfar ecara lisan, melaksanakan perkara-perkara yang dsunnahkan, atau imu yang ia miliki. Terkadang pula, dengan menjadikan takdir sebagai dalih, menjadikan hal-hal yang mirip dengan itu sebagai alasan atau dengan alasan mengikuti para pemimpin.

 

Banyak orang menyangka apabila seseorang melakukan kemaksiatan lalu mengucapkan: “astaghfirullah”, maka dampak negatif tau dosa dari kemaksiatan tersebut akan hilang dan selesailah urusannya. Ada orang yang faqih berkata: “aku akan berbuat semauku lalu aku mengucapkan: ‘subhanallahi wabihamdihi’, sebanyak seratus kali, maka apa yang kulakukan itu akan terampuni seluruhnya, sebagaimana riwayat shahih dari nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahasanya beliau bersabda:

 

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ

قَالَ حِيْنَ يُصْبِحُ وَحِيْنَ يُمْسِي : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ، مِئَةَ مَرَّةٍ ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

بِأفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ ، إِلاَّ أحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan ini ketika pagi dan petang hari: SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH (Mahasuci Allah dengan memuji-Nya), seratus kali, tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada yang ia bawa pada hari kiamat, kecuali seseorang yang mengucapkan yang sama seperti yang ia ucapkan atau lebih dari itu.[4]

 

Dalam riwayat shahih yang lain,

 

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ

لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ

وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ[5] ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ

فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ

الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

Artinya:

“Ada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berkata: ‘wahai rabbku, sesungguh aku telah melakukan dosa, maka ampunilah aku.’ Allah pun mengampuninya. Setelah itu, ia menahan diri dari maksiat selama beberaa waktu, kemudian ia melakukan lagi dosa yang lain. Ia lantas berkata: ‘wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dosa, maka ampuilah aku.’ Allah pun kembali mengampuinya. Setelah itu, ia menahan diri dari maksiat selama beberapa waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ia un berkata: ‘wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dosa, maka ampuilah aku.’ Allah azza wa jalla berkata: ‘hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai abb yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya. Aku telah mengampuni hamba-Ku itu. Maka berbuatlah semaunya.’ Kemudian orang itu berkata: ‘Aku tidak ragu bahwa aku memiliki Rabb yang akan mengampuni dsa dan menghukum karenanya!’”

 

Inilh contoh manusia yang bergantung pada ­nash-nash yang berisi pengharapan, menyandarkan diri kepadanya, dan memegangnya erat-erat engan kdua tangannya. Jika orang itu dicela atas dosa dan sikapnya yang terus menerus melakukan dosa, niscaya ia akan segera menyebut nash-nash yang berisi pengharapan serta keluasan rahmat dan ampunann Allah yang dihafalnya.

 

Sebagian orang terpengaruh dengan masalah Jabr (paham Jabariyyah) yang menyatakan seorang hamba sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat dan memilih, namun ia dipaksa untuk melakukan perbuatan maksiat. Sebagian lain tertipu masalah irja’ (paham Murji’ah), yang menyatakan iman itu hanyalah sebatas pembenaran dan amal bukan merupakan bukan bagian dari iman, sehingga ima seorang yang paling fasik pun sama seperti malaikat Jibril serta malaikat-malaikat lain! Sebagian lagi tertipu dengan mencintai orang-orang yang dianggap keramat, para syaikh, dan orang-orang shalih.

 

Bahasan di atas sesuai dengan pernyataan “apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai kelak”. Dunia tempat kita mengumpulkan bekal, maka perbanyak doa dan ibadah, serta yang terpenting adalah beriman kepada takdir Allah. Semoga kita dapat memetik pelajaran dari kejadian-kejadian di sekitar kita yang menunjukkan kekuasaan-Nya baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan. Wallahu A’lam.

 

Referensi:

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. 2018. Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ (Macam-macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam As-Syafi’i.

 

Ditulis ulang oleh: Siska (Pengajar Ponpes Darul Quran Wal Hadits OKU Timur)

[1] QS. Al-Mu’min: 60

[2] QS. Al-Baqarah: 186

[3] QS. Al-A’raf: 166

[4] HR. Muslim, no. 2692

[5] HR. Bukhari no. 7068 dan Muslim no 2758

Baca juga artikel:

Jalan Ke Surga Bagi Orang Miskin

Benarkah Cara Ber Islam Anda

 

 

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.