Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

WAKTU- WAKTU TERKABULNYA DO’A

WAKTU TERKABULNYA DOA

 

WAKTU- WAKTU TERKABULNYA DO’A-Setiap muslim musti sehari- harinya di penuhi dengan dzikir- dzkikir dan do’a di karenakan butuhnya dirinya kepada Allah Ta’ala. Berikut penjelasan ringkas tentang bagaimana cara agar Allah Ta’ala mengabulkan do’anya.

Do’a akan di kabulkan jika di dalamnya terkumpul kehadiran hati, konsentrasi penuh terhadap apa yang diminta, dan bertepatan dengan salah satu dari enam waktu di kabulkannya do’a, yaitu:

  • Sepertiga malam terakhir
  • Saat adzan
  • Antara adzan dan iqomah
  • Setelah melaksanakan shalat wajib
  • Saat imam naik ke atas mimbar pada hari jum’at, hingga selesainya shalat jum’at tersebut
  • Saat- saat terakhir setelah waktu asar

Syarat ini di tambah lagi dengan kekhusu’an hati serta sikap merendahkan diri di hadapan Allah yang di iringi dengan ketundukan dan kelembutan.

Seorang yang berdo’a hendaknya menghadap kearah kiblat, dalam keadaan suci, mengangkat kedua tangan kelangit, kemudian memulai do’anya dengan hamdalah, memuji Allah dan mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad selaku hamba dan utusanNya, mendahulukan taubat dan istiqfar sebelum menyebutkan hajatnya, lantas menghadirkan dirinya di hadapan Allah, bersikap memelas di dalam do’anya, menyerunya dengan ucapan lembut yang di iringi rasa harap dan cemas, bertawassul ( memohon ) kepadaNya dengan nama- nama dan sifat- sifat dan keesaanNya serta melakukan sedekah sebelum memanjatkan do’a tersebut. Sungguh do’a semacam ini hampir tidak akan pernah tertolak.

Terlebih lagi jika do’a tersebut termasuk do’a- do’a yang bersumber dari Nabi, yang beliau sendiri mengabarkan bahwa do’a ini atau do’a yang mengandung nama Allah yang paling agung ( asma’ul husna ) pasti akan di terima.

Di antara do’a yang di maksud adalah seperti yang di riwayatkan dalam as-Sunan dan shahih ibnu hibban dari Abdullah bin buraidah, dari ayahnya, bahwasannya Rasullah صلى الله عليه و سلم pernah mendengar seseorang sedang berdo’a:

اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله, الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu atas dasar persaksianku bahwa Engkau adalah Allah. Tiada yang berhak di ibadahi kecuali Engkau. Yang Maha Tunggal, Yang bergantung padaNya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula di pernakkan, serta Yang tiada sesuatu yang setara dengannya.” (HR. Ibnu Hibban)

Nabiصلى الله عليه و سلم  lalu bersabda:

لقد سأل الله بالاعظم الذي إذا سئل به أعطى, و إذا دعي به أجاب

Artinya: “Orang itu memohon kepada Allah dengan namaNya yang agung. Jika namaNya itu di gunakan untuk meminta, niscaya akan di beri dan jika di gunakan untuk berdo’a niscaya di kabulkan”. (HR. Ahmad)

Di sebutkan dalam lafadz yang lain:

لقد سألت الله باسمه الأعظم

Artinya: “Engkau meminta kepada Allah dengan menggunakan namaNya yang teragung”. (HR. Ahmad)

Masih dalam as- Sunan dan shahih ibnu hibban dari Anas bin Malik: ia duduk bersama Rasulullah, sementara tidak jauh dari mereka ada laki- laki itu berdo’a: Ya Allah, aku memohon kepadaMu karena Engkaulah pemilik segala pujian. Tidak ada ilah yang berhak di ibadahi kecuali Engkau, Yang Maha Pemberi, serta pencipta langit dan bumi. Wahai pemilik keagungan dan kemuliaan. Wahai zat Yang Maha hidup lagi selalu mengurus semua makhluk.

Maka Nabi صلى الله عليه و سلم  bersabda:

لقد سأل الله باسم العظيم, الذي إذا دعي به أجاب, وإذا سئل به أعطى

Artinya: “Ia telah benar- benar memohon kepada Allah dengan menggunakan namaNya yang paling agung. Jika nama itu di gunakan untuk berdo’a, niscaya akan di kabulkan, dan jika nama itu di gunakan untuk meminta niscaya akan diberi”. (HR. Ahmad)

Kedua hadits ini juga dicantumkan oleh Ahmad dalam musnadnya.

Di dalam jami’ut tirmidzi ( no.3544 ) dari asma’ bin yazid, di nukilkan bahwa Nabi صى الله عليه و سلم  bersabda:

اسم الله الأعظم في هاتين الايتين ( وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ ) (الم (1) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (2)

Artinya: Nama Allah yang paling agung terdapat dalam dua ayat ini: Dan Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada ilah selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang ( Albaqarah: 163 ) Dan pembukaan surat Ali- Imran Alif lam mim. Allah tidak ada ilah selain Dia. Yang Maha hidup Yang terus- menerus mengurus makhluknya”. (QS. Ali-imran: 1-2)

Attirmidzi berkomentar: status hadits ini adalah hasan shahih.

Di dalam musnad Imam Ahmad ( IV/ 177 ) dari hadits Abu khuroiroh, Anas bin malik, dan Rabi’ah bin amir, dari Nabi. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Senantiasalah mengucapkan:

ياذا الجلال والإكرام

Artinya: “Wahai pemilik keagungan dan kemulyaan”. (HR. Ahmad (IV/ 177))

Maksudnya akrabkanlah diri kalian dengan bacaan dzikir tersebut dan bacalah ia selalu.

Di dalam jami’ut tirmidzi ( no.3432 ) dari hadits Abu khuroiroh. Ia berkata: Jika Nabi di timpa perkara yang membuatnya gundah, beliau menengadahkan tangannya kelangit. Demikian pula ketika bersungguh- sunggh dalam berdo’a, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan:

ياحي ياقيوم

Artinya: “Wahai dzat Yang Maha Hidup lagi selalu megurus semua makhluk” (HR. Tirmidzi (3522)

Masih dalam jami’ut tirmidzi ( no.3522 ) dari hadits Anas bin malik, ia berkata: Jika sedang di timpa perkara yang membuatnya sedih, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan:

ياحي يا قيوم برحمتك أستغيث

Artinya: “Wahai dzat yang Mahahidup lagi selalu mengurus semua makhluk, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan”. (HR. Tirmidzi (3522)

Dalam hadits dari Abu umamah dari Nabi, beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

اسم الله الأعظم في ثلاث سور من القرآن: البقرة, وآل عمران, وطه

Artinya: Nama Allah yang paling teragung terdapat dalam tiga surat al- Qur’an: Al- baqarah, Ali ‘imran, dan Thaha. (Shahih, HR. Al-Hakim dalam Mustadrak (1/505-506))

Al- Qasim berkata: Aku mencarinya, dan ternyata yang dimaksud adalah al- Hayyu al- Qayyum.

Di dalam jami’ut tirmidzi ( No.3500 ) disebutkan dari Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu Anu, bahwasannya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

دعوة ذي النور, إذ دعا وهو في بطن الحوت, (أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ) إنه لم يدع بها مسلم في شيء قط إلا استجاب الله له

Artinya: “Do’a Dzun Nun ( Nabi Yunus ) saat berada dalam berada dalam perut ikan adalah: Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk oran- orang yang dzalim.” (QS. Al-anbiya’: 87)

Sungguh, tidaklah orang Muslim berdo’a dengannya dalam urusan apapun, Melainkan Allah akan mengabulkan do’anya.

Demikian artikel yang ringkas ini. Semoga kita senantiasa istiqomah di dalam berdo’a dan Allah Ta’ala segera mengabulkan terhadap apa saja yang kita inginkan.

REFERENSI:

Judul: Waktu- waktu terkabulnya berdo’a, kitab: Adda’ Wa addawa’, Karya: Ibnu qoyyim al- jauziyyah, Cetakan: ke- 5, Pustaka Imam Syafi’i

Diringkas oleh: Muslihan

Baca juga artikel:

Panjang Angan-Angan

Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.