Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Huru Hara Tiupan Sangkakala

huru-hara tiupan sangkakala

Huru Hara Tiupan Sangkakala – Tanda-tanda dimulainya kehidupan akhirat adalah ditiupkannya sebuah tiupan yang mengejutkan, yaitu tiupan sangkakala. Allah Ta’ala memerintahkan kepada Israfil agar meniupkan sangkakala, sebuah tiupan yang terbilang sangat panjang. Tidak ada seorang pun di antara penduduk bumi dan langit melainkan sangat terkejut, kecuali orang yang Allah kehendaki. Tiupan sangkakala ada tiga, tiupan kejutan, tiupan kematian dan tiupan kebangkitan. Tidak pula ada yang mendengar seseorang di bumi kecuali terdengar suara “seandainya” dan menyerukan kata “seandainya”, atau semoga lembaran amalan mereka dihapus dan harapan lain. Perkara agung ini terdengar dan membuat orang merasa takut.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda:

بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ

“Antara dua tiupan, empat puluh.”[1]

Mereka bertanya kepada Abu Hurairah, shahabat yang meriwayatkan hadits ini, 40 hari atau 40 bulan atau apakah 40 tahun. Maka beliau (yaitu Abu Hurairah) enggan menjawabnya. Para ulama mengatakan karena tidak mengetahui ilmunya. Dan di antara dua tiupan inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan yang ringan, yang dengan sebabnya akan tumbuh jasad manusia di dalam kuburnya, sebagaimana di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits al-A’masy berkaitan dengan tulang ekor bahwa ia tidak rusak dan sesungguhnya penciptaan dimulai dari itu, dan darinyalah mereka disusun kembali pada hari kiamat. Ahmad meriwayatkan dari Yahya al-Qathân dari Muhammad bin ‘Allan dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj dari Abû Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam akan usang tulang ekornya. Darinya ia diciptakan dan darinya pula ia akan disusun kembali.” Ahmad sendiri dan ia di atas syarat Muslim. Ahmad meriwayatkan juga dari hadits Ibrâhim al-Hijrî dari Abû ‘lyadh dari Abu Hurairah secara marfu’ seperti itu. Ahmad berkata, Hasan bin Mûsâ meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Lahi’ah dari Daraj dari Abú al-Haitsam dari Abu Sa’id dari Rasulullah s beliau berkata, “Tanah memakan segala sesuatu dari manusia kecuali tulang ekomya.” Dikatakan, “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Seperti biji merica, darinya dia tumbuh,”

Maksudnya di sini disebutkan dua tiupan di antaranya adalah empat puluh, bisa jadi empat puluh hari, atau bulan dan bisa jadi tahun. Kedua tiupan ini adalah -dan Allah-lah yang lebih mengetahui-, tiupan kematian dan tiupan kebangkitan untuk menghidupkan. Dengan dalil turunnya air di antara keduanya dan disebutkannya tulang ekor yang darinya manusia diciptakan dan dari itu pula disusun pada saat kebangkitan pada Hari Kiamat. Tapi bisa jadi yang dimaksudkan dari keduanya adalah antara tiupan kejutan dengan tiupan kematian dan itulah yang akan dibahas pada tempat ini. Bagaimana pun juga harus ada jeda waktu di antara dua tiupan kejutan kematian. Telah disebutkan dalam Hadits Sangkakala bahwa di sana terjadi berbagai peristiwa besar.

Huru-hara hari kiamat diantaranya adalah berguncang dan bergetarnya bumi, serta menggoyangkannya bersama penduduknya ke kanan dan ke kiri. Allah Ta’ala berfirman, Artinya: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini).”[2]

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (١) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (٢

Artinya:“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu, sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.”[3]

 

Allah Ta’ala berfirman:

ذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (١) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (٢) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (٣) إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا (٤) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (٥) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (٦)وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً (٧)

Artinya: “Apabila terjadi Hari Kiamat, terjadinya Kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat. dahsyatnya dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan dan kamu menjadi tiga golongan.”[4]

“Sungguh! Benar-benar terjadi Kiamat dan dua orang laki-laki sedang menghamparkan pakaian di antara keduanya maka keduanya tidak jadi berjual beli dan tidak pula melipatnya. Sungguh! Benar-benar terjadi Kiamat seorang laki-laki telah pulang dengan susu yang sudah diperahnya maka ia tidak jadi memakannya. Sungguh! Benar-benar terjadi Kiamat ia telah melapisi kolamnya dan maka ia tidak jadi mengisinya dengan air, dan sungguh! Benar-benar terjadi Kiamat seseorang telah mengangkat makanan ke mulutnya maka ia tidak jadi memakannya.” Sesungguhnya ini menunjukkan kesimpulan bahwa Tiupan Kejutan adalah Kiamat, karena ia merupakan awal permulaannya. Ismail bin Rafi’ telah menyebutkan bahwa langit terbelah di antara dua tiupan, tiupan kejutan dan tiupan kematian, Antang-bintang bertebaran, dan matahari menutupi bulan. Nampaknya-dan Allah lebih mengetahui- bahwa ini terjadi setelah tiupan kematian.

“[Yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” Apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah h cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manus berkata, ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempa berlindung! Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembal Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakan dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirin sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah (75), 7-15) Akan dijelaskan bahwa semua ini ada setelah tiupan kematian. hilang

Sementara berguncangnya bumi dan terbelahnya yang disebabkan oleh benturan tersebut, juga manusia yang berlarian ke segala penjuru dan pelosoknya, maka hal itu paling pas apabila terjadi setelah tiupan kejutan dan sebelum tiupan kematian. Allah Ta’ala berfirman mengenai seorang mukmin dari pengikut Fir’aun, bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (adzab) Allah.” [5]

Telah disebutkan hadits dalam Musnad Ahmad, Shahih Muslim dan pat kitab Sunan dari Abú Syuraihah Hudzaifah bin Asyad bahwa ulullah bersabda, “Sesungguhnya Kiamat tidak akan terjadi hingga dan melihat sepuluh tanda-tanda kiamat…,” maka ia menyebutkannya sampai perkataan Beliau, “Dan akhir dari semua itu adalah keluarnya api da Qa’i Adn yang menggiring manusia ke Mahsyar.” Api ini menggiring orang-orang yang ada di akhir zaman di seluruh bumi ke tanah Syâm dan ia merupakan padang tempat orang orang berkumpul. Disebutkan dalam Shahîhain dari hadîts Wuhaib dari ‘Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Abû Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia dikumpulkan dengan tiga jalan; orang-orang yang senang, orang-orang yang takut, dua di atas unta, tiga di atas unta, empat di atas unta dan sepuluh di atas unta, dan sisanya dikumpulkan oleh api. Maka ia beristirahat di waktu siang bersama mereka sebagaimana mereka beristirahat di waktu siang dan bermalam bersama mereka sebagaimana mereka bermalam, memasuki waktu pagi bersama mereka sebagaimana mereka memasuki waktu pagi dan memasuki waktu petang bersama mereka sebagaimana mereka juga memasuki waktu siang.””

Sungguhnya akan ada hijrah setelah hijrah. Orang-orang berbondong bondong ke tempat Ibrâhim berhijrah dan tidak ada lagi di bumi selain seburuk-buruk dari penduduknya, tanah mereka mengeluarkan mereka. Kemudian api menggiring mereka bersama dengan kera-kera dan babi babi. la bermalam bersama mereka apabila mereka bermalam dan beristirahat siang bersama mereka apabila mereka beristirahat, dan ia makan orang yang tertingga”. Demikian pula yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Yazid bin Hanin dan ia tidak menyebutkan bahwa Abû Dzarr membaca ayat tersebut dan menambahkan di akhirnya, “maka ia tidak mampu atasnya (tidak mendapatkannya).” Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadîts Bahz dan lainnya dari ayahnya Hukaim bin Mu’awiyah dari kakeknya Mu’awiyah bin Haidah al Qusyairi dari Rasulullah Beliau bersabda, “Kalian dikumpulkan di sini -Beliau menunjukkan tangannya ke arah Syam-dengan berjalan kaki dan mengendara. Kalian berlari di atas wajah kalian, dan kalian dihadapkan kepada Allah dengan mulut tertutup, dan yang pertama berbicara dari seseorang dari kalian adalah paha dan telapak tangannya.”

Kandungan hadits-hadits ini menunjukkan bahwa pengumpulan ini adalah pengumpulan orang-orang yang ada di akhir zaman dari seluruh penjuru bumi ke tempat padang mahsyar, yaitu tanah Syâm. Bahwa mereka terbagi menjadi tiga golongan, golongan yang dikumpulkan dengan diberi makanan, pakaian dan mengendara; golongan yang terkadang berjalan dan terkadang mengendara. Mereka bergantian di atas satu unta, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits sebelumnya dalam kitab ash-Shahîhain, “Dua orang di atas unta dan tiga orang di atas unta.” Sampai pada redaksi, “Sepuluh orang di atas unta.” Mereka bergantian karena sedikitnya tunggangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dan seperti yang dijelaskan dalam hadits lain yang menafsirkannya. Sementara sisanya dikumpulkan dengan api dan ia adalah api yang keluar dari dasar ‘Adn maka ia menggiring manusia dari belakang mereka, menggiring mereka dari seluruh penjuru bumi ke tanah Syam, dan barangsiapa yang melarikan diri maka api itu akan memakannya.

Semua ini menunjukkan bahwa ini terjadi di akhir zaman, dimana ada makan, minum, mengendara dan di atas tunggangan dan lainnya, serta menerangkan binasanya orang-orang yang tertinggal atau melarikan diri, dengan api. Apabila hal ini setelah tiupan kematian pastilah tidak ada lagi kematian. Tidak pula tunggangan yang berjalan, makan, minum juga pakaian di muka bumi. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk bersantai-santai dalam mengumpulkan bekal untuk menghadapi huru hara dimulainya kehidupan akhirat.

 

Referensi:

Al-Hafidzh Ibnu Katsir. 2012. Malapetaka Akhir Zaman. Jakarta: Pustaka As-sunnah

 

Diringkas oleh:

Shofwah (Pengajar Ponpes Darul Quran Wal Hadits OKU Timur)

[1] HR. Bukhari dan Muslim

[2] QS. Az-Zalzalah [99], 1-3)

[3] QS. Al-Hajj [22], 1-2

[4] QS. Al-Waqi’ah [56], 1-7

[5] (QS. Al-Mu’min [40], 32-33)

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.