Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Begini Seharusnya Menjadi Guru (Bagian 1)

begini seharusnya menjadi guru

Begini Seharusnya Menjadi Guru (Bagian 1) – Profesi mengajar tidak dapat disamai oleh profesi lain apapun dalam hal keutamaandan kedudukan, dan profesi sebagai pengajar semakin mulia dan semakin bermanfaat materi ilmu yang di ajarkan, semakin tinggi pula kemuliaan dan derajat pemiliknya. Dan ilmu yang paling mulia adalah ilmu syariat. Seorang pengajar , jika dia mengikhlaskan amanya untuk Allah serta meniatkan ta’limnya untuk memberi manfaat bagi manusia, mengajarkan mereka yang baik dan mengangkat kejahilan dari mereka, maka hal itu menjadi nilai plus kebaikannya serta sebab tambahan pahalanya.

Tugas seorang pengajar tidak hanya menyampaikan materi pelajaran kepada para anak didik saja, bahkan ia merupakan tugas berat yang sulit, tetapi akanmudah bagi siapa yang dimudahkan Allah. Tugas tersebut menuntut dari seorang pengajar sifat sabar, amanah, ketulusan, dan mengayomi yang dibawahnya. Seandainya kita menghitung satu persatu apa yang mesti ada pada seorang pengajar, tentunya akan menghabiskan waktu yang panjang.

KARAKTER-KARAKTER YANG HARUS DIMILIKI SEORANG PENGAJAR

1. MENGIKHLASKAN ILMU UNTUK ALLAH

Ini adalah perkara agung yang dilalaikan banyak kalangan pengajar dan pendidik, yaitu membangun dan menanamkan prinsip mengikhlaskan ilmu dan amal hanya untuk Allah subhanahuwata’ala. Demi Allah, berapa banyak ilmu yang bermanfaat dan amalan-amalan yang mulia untuk ummat, namun pemiliknya tidak mendapat manfaatdarinya sedikitpun. Yang demikian itu disebabkan karena pemiliknya tidak mengikhlaskan ilmu dan amal mereka. Tujuan mereka hanya semata meraih kehormatan atau kedudukan dan yang sejenisnya, karena itu sangat layak  bila amalan-amalan tersebut hilang begitu saja bagaikan debu yang beterbangan.

Karena itu, semestinya bagi para pendidik dn pengajar agar menanamkan sifat ikhlas dalam ilmu dan amal karena Allah subhanahuwata’ala pada diri anak didiknya, juga sifat mengharapkan pahala danganjaran dari Allah subhanahuwata’ala.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adapun jika dia melakukan sebuah amalan, murni untuk Allah, kemudian Allah melemparkan pujian baik baginya dihati orang-orang Mukmin dengan hal itu, lalu dia merasa senang dengan anugerah dan rahmat Allah serta merasa gembira dengannya, maka hal itu tidak mengapa baginya.

Poros itu semua terdapat dari niat, dan niat adalah tempatnya di dada dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah subhanahuwata’ala,

قُلْ إِن تُخْفُوا۟ مَا فِى صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ

Artinya: “Katakanlah,’Jika kalian menyebunyikan apa yang ada dalam hati kalian atau kalian menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya’.” (QS. Ali imran :29)

2. JUJUR

Sipat jujur adalah mahkota di atas kepala seorang gurupengajar. Jika sifat itu hilang darinya, dia akan kehilangan kepercayaan manusia akan ilmunya dan pengetahuan-pengetahuan yang disampaikannya kepada mereka. Maka apabila anak didik menemukan kedustaan pengajarnyadi sebagian perkara, hal itu secara otomatis jatuh dimata anak didiknya.

Jujur adalah kunci keselamatan hamba di dunia dan akhirat. Allah telah menguju orang-orang yang jujurdan memotivasi orang-orang mukmin agar masuk diantara mereka engan firmanNya,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yangberiman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”. (QS. At-taubah : 119)

Ketika menelusuri sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kita menemukan beliau dijuluki sebagai “yang jujur dan dapat dipercaya”. Karakter beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berupa sifat jujur, memiliki pengaruh besar di dalam masuknyanya banyak manusia ke dalam Agama Allah.

Kejujuran seorang pengajarakan menanamkan rasa percaya anak didik kepadanya dan kepada perkataannya serta menghormatinya. Kejujuran seorang pengajar akan terlihat pada konsekuensi-konsekuensi tanggung jawab yang dipikul di atas pundaknya, yang mana diantaranya adalah mentransfer pengetahuan lengkap beserta hakikatnya.

3. SERASI ANTARA UCAPAN DAN PERBUATAN

Allah subhanahuwata’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)

Maksudnya mengapa kalian mengatakan (menyuruh melakukan) kebaikan dan menganjurkannya, dan barangkali kalian memuji diri kalian dengannya, sementara kalian tidak melakukannya.

Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan manusia melakukan kebaikan dan beliau adalah orang yang paling pertama kali melakukannya; beliau melarang manusia dari keburukan dan beliau adalah orang yang pertama kali menghindari dan menjauhinya. Ini adalah kesempurnaan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal itu tidaklah aneh, karena akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Serasi antara ucapan dan perbuatan lebih cepat diterima daripada perkataan (ajakan) belaka.

Maka wajib atas para pendidik dan pengajar agar selalu takut kepada Allah, karena para anak didiktersebut adalah amanat yang dipikulkan di pundak mereka. Hendaklah mereka berjuang keras dalam mengjarkan apa yang bermanfaat bagi anak didik serta menserasikan antara ucapan dan perbuatan, karena hal itu akan memperkokoh ilmu yang mereka ajarkan.

4. BERSIKAP ADIL DAN TIDAK BERAT SEBELAH

Allah subhanahuwata’ala berfirman,

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adildan berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan bersikap adil dan mewajibkan atas hamba. Adil yang diperintahkan Allah subhanahuwata’ala mencangkup adil didalam hak Nya dan adil di di dalam hak hamba-hamba Nya dan hendaklah hamba memperlakukan orang lain dengan penuh keadilan. Maka setiap pnguasa harus menunaikan kewajibannya, yang berada di bawah kekuasaannya.

Para pengajar akan dihadapkan dengan banyak permasalahan dari para anak didiknya, baik dalam membagikan tugas dan pekerjaan rumah jika terdapat pekerjaan yang memerlukan kerja secara kelompokatau mengutamakan sebagian yang laindan sejenisnya. Sikap adil akan lebih ditekankan ketika mengoreksi dan memberikan nilai. Tidak ada tempat untuk mengasihi seorangpun baik dengan alasan kerabat atau kenalan atau perkara apapun.

5. BERAKHLAK MULIA DAN TERPUJI

Tidak diragukan bahwa kata yang baik dan tutur kata yang bagus mampu memberikan pengaruh di jiwa, mendamaikan hati, serta menghilangkan dengki dan dendam dari dada. Dmikian juga raut wajah yang tampak dari seorang pengajar, ia mampu menciptakan umpan balik positif atau negatif pada siswa, karena wajah yang riang dan berseri merupakan sesuatu yang disenangi dan disukai jiwa. Adapun bermuka masam adalah sesuatu yang tidak disukai dan diingkari jiwa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling suci dari segi ruh dan jiwa. Beliau adalah manusia yang paling agung akhlaknya, (karena itu Allah subhanahuwata’ala memuji beliau),

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benarberbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam : 4)

Selayaknya bagi para pendidik dan pengajar meniti jalan guru besar Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghias diri dengan akhlak yang mulia dan adab yang tinggi dan merupakan media paling sukses di dalam mengajar dan mendidik, dimana siswa pada umumnya akan terdorong dan berakhlak dengan akhlak gurunya dan lebih banyak mau menerima darinya daripada orang lain. Apabila seorang pengajar berakhlak dengan akhlak yang terpuji, hal itu akan memberikan pengaruh positif terhadap siswanya, serta akan memberikan reaksi di dalam jiwanya lebih dari reaksi yang diberikan dengan puluhan nasehat dan pelajaran. Dari sini kita dapat memahami rahasia sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

ما من شيءفي الميزان اثقل من حسن الخلق

Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik.”[1]

Serta sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

ان الرجل ليدرك بحسن خلقه درجات قائم الليل وصائم النهار

Artinya: “Sesungguhnya seseorang dengan akhlak baik mampu menyamai derajat-derajat orang yang shalat sunnah malam dan berpuasa di siang hari.”[2]

Karena akhlakh baik adalah perangai yang bekerja seperti sihir di dalam memikat hati, menarik jiwa dan menebar rasa cinta diantara pribadi masyarakat dan para pengajar adalah orang yang paling utama untuk hal itu.

6. TAWADHU’ (RENDAH HATI)

Tawadhu’ adalah akhlak yang terpuji yang akan menambah kehormatan dan wibawa pada pemiliknya dan barangsiapa beranggapan bahwa tawadhu’ adalah perangai rendah yang mesti dijauhi dan ditinggalkan, maka dia telah salah dan jauh dari harapan dan cukuplah bagimu imam orang-orang yang bertakwa yakni Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh. Tawadhu’, walaupun salah satu bentuk merendahkan diri, hal itu jika disisi Allah, maka betapa nikmat dan lezatnya, karena ubudiyah tidak akan terrealisasi dan tidak akan sempurna kecuali dengan sikap merendahkan diri kepada Allah serta tunduk dihadapanNya.

Mereka bersikap merendah kepada orang-orang yang beriman, karena kecintaan, ketulusan, kelemah lembutan, murah hati dan kasih sayang mereka kepada kaum mukminin.[3]

Guru sangat butuh dengan akhlak yang agung ini, karena bentuk perealisasian “meneladani” penghulu para rasul dan karena adanya manfaat agung bagi para murid.

Jika seorang muslim memerlukan sikap tawadhu’ supaya sukses dalam hubungan vertikalnya dengan Allah, kemudian hubungan horizontalnya dengan masyarakat, maka tingkat kebutuhan seorang guru kepadanya lebih tinggi dan lebih kuat. Karena profesinya yang bersifat ilmu, pengajaran dan pengarahan mengharuskan adanya komunikasi dengan anak didik dan dekat dengan mereka, sehingga mereka tidak merasa sungkan bertanya dan berdiskusi serta curhat kepadanya, karena jiwa tidak akan merasa nyaman kepada orang yang sombong atau diktator atau yang menyombongkan ilmunya.[4]

Berikut sebagian contoh tawadhu’ beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam :

1). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ان الله اوحى الي ان تواضعوا حتى لا يفخر احد على احد, ولايبغي احد على احد

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalianbersikap tawadhu’ sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya terhadap yang lain dan tidak ada seseorang yang menzalimi yang lain.”[5]

2). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

ما بعث الله نبيا الا رعى الغنم , قال اصحابه : وانت؟ فقال : نعم, كنت ارعاها على قراريط لاهل مكة

Artinya: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia mengembala kambing.” Para sahabat bertanya, “dan anda?” Beliau menjawab, “Ya, dahulu juga mengembala kambing penduduk Makkah dengan imbalan beberapa qirath[6].”[7]

Tawadhu’ adalah lawan dari takabur yaitu perangai tercela yang tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya.

Diantara sifat negatif dari sifat takabbur yang menimpa sebagian guru di masyarakat Islam adalah :

  1. Penolakannya terhadap kebenaran dan tidak tunduk kepadanya.
  2. Sombong dengan ilmu yang dimilikinya, padahal hanya sedikit.
  3. Meninggalkan menuntut ilmukarena menyangka bahwa dirinya telah mengetahui dan memahami segala sesuatu.

Kemudian guru yang sombong tidak akan mampu meraih tujuan dari mengajar dan sifat takaburnya tidak akan memperkenankannya untuk mengetahui apa yang terwujud diantara tujuan-tujuan tersebut, karena dia tidak bergaul dan dekat dengan siswanya sehingga mampu mengetahui problematika mereka dan apa yang merintangi mereka dari mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan serta apa yang dibutuhkannya berupa evaluasi metode pengajaran serta sistematika dan penyajian pelajaran dan lain sebagainya. Sebagaimana siswa tidak merasa nyaman kepada guru yang angkuh dan sombong, perasaan dan indra mereka pun tidak membenarkannya, begitu juga dalam kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, yang menjadikan faidah yang di proleh dari guru, seperti ini sangatlah sedikit sekali.”[8]

Alhamdulillah sampai disini dulu ringkasan saya, insyaallah akan disambung lagi ke artikel selanjutnya. Dan dapat disimpulkan menjadi beberapa poin :

  1. Merupakan kewajiban bagi seorang pengajar untuk menanamkan hakikat ikhlas pada diri anak didiknya.
  2. Seorang pengajar harus menyertakan hakikat tersebut semejak awal dan terus menerus mengingatkannya.
  3. Kontradiksi ucapan dengan perbuatan menepatkan siswa pada kebingungan dan menjadikannya tidak stabil pada satu keadaan.
  4. Besarnya tugas yang di emban para pengajar dan pendidik.
  5. Besarnya perkara adil, dimana Allah telah memerintahkannya dan mewajibkannya terhadap kerabat dan yang bukan, juga terhadap musuh.
  6. Urgensi mewujudkan keadilan di antara siswa, demi memasyarakatkan rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka.
  7. Sikap adil semakin ditekankan dan wajib ketika mengoreksi dan memberikan nilai.
  8. Akhlak adalah sifat terpuji yang mesti bagi guru untuk behias dengannya serta menganjurkan para anak didiknya untuk berakhlak dengannya.
  9. Kata yang baik, muka riang dan ceria termasuk di antara sebab yang akan menghilangkan jarak antara guru dan siswanya.
  10. Sabar danbijaksana serta sikap lapang dada seorang pendidik ketika menghadapi kejahilan siswa.
  11. Pengaruh sifat tawadhu’ tidak terbatas pada guru, akan tetapi memantul kepada anak didiknya dan memberi efek pada mereka secara positif.

 

REFERENSI:

Diringkas dari buku : Begini Seharusnya Menjadi Guru

Penulis : Fu’ad bin Abdul Aziz asy-syalhub

Penerbit : Darul Haq

Peringkas: Evi Utami Ummu Afifah (Staf Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad serta disahihkan Ibnu Hibban. Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dia berkata ‘‘ini hadits gharib dari jalur ini’’, Al-albani berkata,”sanadnya shahih.” As-silsilah ash-shahihah,2/523.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban an al-Hakim. Al-Hakim berkata “shahih berdasarkan syarat bukhari dan muslim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.” Al-Albani berkata, “Ia seperti yang mereka berdua katakan.”As-Silsilah ash-Shahihah, 2/437.

[3] Tafsir al-Karim ar-Rahman fi tafsir kalam al-Mannan, karya Abdurrahman as-Sa’di, 2/308.

[4] I’dad al-Muallimin, D. Abdullah Abdul Hamid Mahmud, Hal. 181.

[5] Diriwayatkan oleh Muslim didalam kitab al-Jannah wa Shifatu Nai’imiha, Abu Dawud di dalam kitab al-Adab, Ibnu Majah dalam kitab az-Zuhd.

[6] Satu qirad dari uang dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seperempat dari seperenam dinar, yakni seperdua puluh empat dinar.Ed.T.

[7] Diriwayatkan oleh bukhari.

[8] I’dadAl-Mu’alimin, karya Abdullah Abdul Hamid Mahmd, hal. 189.

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.