Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Hamzah dan Umar Menyambut Seruan Islam

HAMZAH DAN UMAR MENYAMBUT SERUAN ISLAM

Hamzah dan Umar Menyambut Seruan Islam

Kegerahan kaum musyrikin Quraisy melihat perkembangan dakwah Rasulullah kian menyulut kemurkaan mereka. Dengan berbagai makarnya, mereka ingin memadamkan cahaya Islam. Siksaan serta ancaman kepada kaum Muslimin serta merta selalu mereka hunjamkan. Bahkan masuknya beberapa pembesar Quraisy ke dalam agama Islam, tidak menyurutkan perlakuan buruk mereka terhadap kaum Muslimin.

Saat situasi memuncak penuh kebencian terhadap kaum Muslimin, terutama terhadap Rasulullah, ternyata berkehendak memberikan hidayah kepada Hamzah, yaitu paman Rasulullah Dia merupakan salah satu di antara orang Quraisy yang memiliki temperamen keras.

Ibnu Ishaq’ dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan, budak ‘Abdullah bin Jad’an memberitahukan kepada Hamzah, bahwa Abu Jahl telah memperlakukan Rasulullah dengan perlakuan yang sangat buruk. Mendengar kabar ini, maka dengan kewibawaan kemantapannya, Hamzah segera mendatangi Abu Jahl yang sedang berada di tengah kaumnya. Serta merta Hamzah memukul kepala Abu Jahl dengan busurnya hingga terluka.

Hamzah berseru kepada Abu Jahl,”Apakah engkau menghinanya, sedangkan aku berada di atas agamanya?” Inilah awal terbukanya hati Hamzah untuk menerima Islam.

Begitu mengetahui Hamzah sudah memeluk Islam, saat itulah kaum Quraisy menyadari bahwa Muhammad akan memperoleh kejayaan dan penjagaan. Hamzah yang dikenal sebagai pemberani ini akan menjaga Rasulullah. Mereka pun mengurangi gangguan terhadap Rasulullah 3 Lalu, bagaimanakah dengan ‘Umar bin Khaththab?

Saat masih jahiliyyah, ‘Umar bin Khaththab termasuk salah satu yang sangat memusuhi Islam. Dikenal berwatak keras. Sebagian kaum Muslimin pernah merasakan berbagai penderitaan akibat siksaan dan ancaman yang dilakukannya.

Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq yang mengisahkan peristiwa menjelang keislaman ‘Umar Ibnu Ishaq berkata:

‘Umar bin Khaththab masuk Islam setelah para sahabat yang hijrah ke Habasyah telah berangkat ke daerah tujuan.. Aku diberitahu oleh ‘Abdur-Rahman bin al-Harits bin ‘Abdullah bin ‘lyasy bin Abu Rabi’ah dari ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari bapaknya dari ibunya, yaitu Ummu ‘Abdillah binti Abu Hatsmah, dia berkata: “Demi Allah, sungguh (ketika) kami akan berangkat ke Habasyah, sedangkan saat itu ‘Amir¹ sedang pergi untuk suatu keperluan, tiba-tiba ‘Umar datang menghampiriku sehingga berdiri di dekatku (saat itu dia masih dalam keadaan musyrik, dan kami pernah menerima siksaan darinya.”

Ummu ‘Abdillah menceritakan: “Umar berkata, ‘Apakah kalian akan pergi, wahai Ummu ‘Abdillah?’. Aku menjawab, “Ya, demi Allah, kami akan keluar menuju salah satu bumi di antara bumi-bumi Allah. Karena kalian sudah menyiksa kami dan memaksa kami, sampai Allah memberikan solusi bagi kami.”

Ummu ‘Abdillah melanjutkan kisahnya: “Kemudian Amir datang dengan membawa kebutuhan kami,” lalu aku berkata kepadanya: “Seandainya engkau melihat ‘Umar, kelembutannya, dan kesedihannya karena kepergian kita”.

‘Amir bertanya, “Apakah engkau berharap agar dia memeluk Islam?” Aku menjawab, “Ya.”(Tetapi) ‘Amir justru berkata: “Umar tidak akan memeluk Islam sehingga himarnya masuk Islam”.” ‘Amir mengeluarkan ungkapan seperti ini, karena ia melihat dan merasakan kekerasan, serta kekasaran ‘Umar terhadap Islam dan para penganutnya.

Dalam riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab sirah beliau membawakan perkataan Ummu Abdillah: “Kemudian (dia) mendo’akan ‘semoga Allah menemani perjalanan kalian, dan aku melihat kelemah-lembutan ‘Umar yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Kemudian Umar pergi. Dan menurutku, yang membuatnya sedih ialah kepergian kami”.”

Setelah membawakan riwayat ini, Syaikh al-Albani A berkata: “Riwayat ini membantah anggapan orang yang mengatakan bahwa Umar masuk Islam pada urutan ke empat puluh, karena kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah lebih dari delapan puluh orang”.”

Dalam riwayat ini ter dapat bukti bahwa fithrah yang salim (selamat) yang terdapat dalam diri ‘Umar tertutup tabir jahiliyyah, hingga tiba waktunya tabir jahiliyyah itu tersingkap, dan ia pun masuk Islam. Kekerasan ‘Umar bin Khaththab ini berubah, dari kekerasan dalam kebathilan berubah menjadi ketegasan dalam al haq.

Keterkaitan dengan pernyataan keislamannya, Ibnu ‘Umar menceritakan: “Saat ‘Umar masuk Islam, ia pun berseru: ‘Siapakan orang Quraisy yang paling cepat untuk menyebarluaskan berita?’.” Maka dijawab: “Jamil bin Ma’mar al-Jumahi,” maka ‘Umar bin Khaththab pun mendatangi Jamil. Selanjutnya ‘Abdullah bin ‘Umar.

menceritakan: “Aku mengikuti langkahnya dan memperhatikan apa yang dikerjakannya. Saat itu aku masih kanak-kanak dan sudah memahami semua yang aku lihat. Ketika sampai di rumah Jamil, ia berseru: “Wahai, Jamil! Tahukah engkau bahwa aku telah masuk Islam. Aku telah masuk ke dalam agama yang dibawa Muhammad?!”.

‘Abdullah berkata: “Demi Allah, ‘Umar tidak sempat mengulangi perkataannya itu. Orang itu sudah berdiri menarik selendangnya dan diikuti oleh Umar. Saya juga mengikutinya. Ketika sudah berdiri di depan masjid, ia pun berteriak sekeras-kerasnya. Sementara itu, orang-orang kafir Quraisy sedang melakukan pertemuan di sekitar Ka’bah, Jamil berseru: ‘Wahai, orang-orang Quraisy! Ketahuilah, sesungguhnya Ibnul-Khatthab telah murtad”,”

Adapun ‘Umar yang berada di belakangnya segera menyahut: “Dia bohong. Namun (yang benar) aku telah masuk Islam. Aku bersaksi lâ ilâha illallah dan Muhammad itu utusan Allah”.

Begitu mendengar ucapan ini, maka orang-orang Quraisy pun bangkit menyerangnya. Dan Umar terus melakukan perlawanan sampai matahari tegak di atas mereka. ‘Umar sudah merasa letih dan lelah. Tetapi mereka terus melakukan penyerangan kepadanya. Saat kondisi kritis seperti ini, ada orang tua dari kaum Quraisy berkata: “Ada apa kalian?”

Mereka menjawab, “”Umar telah murtad.” Orang tua itu pun berseru: “Memangnya kenapa? (Dia) adalah orang yang telah menentukan pilihan untuk dirinya. Apa keinginan kalian? Apakah kalian mengira Bani ‘Adiy akan membiarkan kalian berbuat seperti ini? Tinggalkan orang ini!”

Ibnu Umar berkata: “Demi Allah! Sungguh, seakan-akan mereka itu ibarat baju yang dilepaskan dari badan Umar Lalu setelah hijrah ke Madinah, aku bertanya kepada bapakku: ‘Wahai, bapakku. Siapa gerangan seseorang yang mengusir kaum Quraisy darimu saat engkau masuk Islam dan mereka sedang menyerangmu?’ ‘Umar menjawab, “Wahai, anakku! Orang itu adalah al-‘Ash bin Wa’il as-Sahmiy”.”

Dengan kekerasan dan permusuhannya terhadap kaum Muslimin, mengapa kemudian ia berbalik menjadi penganutnya? Bahkan kemudian hari menjadi pembelanya?

Inilah di antara doa Rasulullah yang dikabulkan Allah k Salah satu yang menjadi penyebab ‘Umar bin Khaththab masuk Islam. ialah karena doa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْل أَوْ بِعُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ

Artinya: “Ya, Allah. Muliakanlah Islam dengan salah satu di antara dua lelaki yang lebih Engkau sukai, (yaitu) dengan Abu Jahl atau dengan Umar bin Khaththab.” (shahih, HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Sementara itu, terdapat sebuah kisah yang masyhur di tengah kaum Muslimin berkaitan dengan faktor-faktor yang telah menggugah ‘Umar bin Khaththab masuk Islam. Kisah itu berawal saat ia sedang dalam perjalanan menuju Muhammad untuk menyiksanya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang mengetahui maksud ‘Umar. Orang ini heran terhadap ‘Umar yang tidak mengetahui keislaman saudara perempuannya dan suaminya. Mendengar kabar ini, ‘Umar #pun marah dan kemudian merubah tujuannya. Dia pun bergegas menuju rumah saudarinya. Kemudian terjadilah dialog. ‘Umar bin Khaththab meminta apa yang sedang dibaca oleh adiknya. Adiknya pun memberikannya setelah meminta ‘Umar untuk mandi. Dia pun mandi, kemudian bacaan itu pun diberikan, dan ia pun membacanya.

Kisah ini tidak dibawakan dengan sanad shahih yang bisa diterima oleh para ulama ahli hadits. Kisah ini didha’ifkan oleh Washiyullah, Hammam, Abu Shu’ailik dan lain-lain.”

Doa Rasulullah itu terpancar pada hari kemudian. Keislaman ‘Umar menjadi salah satu penyebab kejayaan Islam pada masa awal perjalanan dakwah Islam.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau Radhiyallahu Anhu berkata:

مَا زِلْنَا أَعرَّةً مُنْذُ أَسْلَمَ عُمَرُ

Artinya: “Sejak ‘Umar bin Khaththab masuk Islam, kami senantiasa memiliki “izzah (rasa bangga).” (HR. Bukhari)

Begitu pula dengan para sahabat, ada yang semakin mantap dan kuat memeluk Islam setelah ‘Umar masuk dalam barisan Islam, sebagaimana riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang perkataan Sa’id bin Zaid suami dari saudari Umar yaitu Fathimah.

Khaththab agar masuk Islam. Bahkan beliau telah mensinyalir, bahwasanya sebaik-baik manusia pada masa jahiliyah merupakan manusia terbaik dalam Islam jika mereka memahami.10

Oleh karena itu, hendaklah para dai tidak n mengabaikan hal semacam ini. Para dai harus n memiliki semangat untuk berdakwah kepada tokoh- t tokoh yang kuat dan berpengaruh di masyarakat. Karena jika tokoh-tokoh itu masuk Islam, ia akan sangat membantu menghapus keragu-raguan orang yang mendengar dan mengikuti perintah mereka. Bukankah Al-Qur’an telah menceritakan pembicaraan orang-orang kafir yang disesatkan oleh teman dan para tokohnya? Ini merupakan fakta yang terjadi di n setiap tempat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَلَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاً وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا : رَبَّنَا وَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنَا كَبِيرًا

Artinya: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin- pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. al-Ahzab/33: 66-68).

 

Meski demikian, hendaklah dakwah itu tidak hanya terbatas kepada tokoh-tokoh atau pribadi- pribadi orang kafir musyrik saja, tetapi juga harus meluruskan anggapan-anggapan yang menyimpang terhadap Islam.

 

Referensi : Majalah As-sunnah Menebar Dakwah Salafiyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah Edisi 04 Tahun Ke-8 1433/2012

Diringkas Oleh : Anggi Abu Rayyan (Sarpras)

Baca juga artikel:

Masuk Pondok Ngapain? Pasti Cuman Belajar Agama

Semuanya Butuh Ilmu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.