Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 4)

andai aku tidak menikah dengannya-bagian 4

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 3) – Silakan klik link (tautan) tersebut untuk membaca pembahasan sebelumnya. dan untuk pembahasan yang lebih awal silakan lihat link nya kami sematkan di bagian bawah artikel ini. sebelum memulai pembahasan ini disini saya (peringkas) ingin menyampaikan bahwa pembahasan ini sangat penting dan bermanfaat bagi para lelaki, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah. hal itulah yang mendorong saya (peringkas) untuk menulis artikel dari buku karya ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah ini. agar dapat menjadi pelajaran dan menambah wawasan terkhusus bagi saya (peringkas) dan juga bagi kaum muslimin, sehingga bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, insyaAllah.

Perasa dan mudah tersinggung

Perasaan wanita lebih besar dari pada akalnya, sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَارَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ بِّالرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai perempuan.” (HR. Bukhari no.304)

Namun besarnya perasaan perempuan inilah yang menjadikan kehidupan ini menjadi selaras dan indah, dimana bila kau melihat sekolah Paud, Play Group dan TK, akan kau dapati kebanyakan gurunya adalah perempuan. Bagaimana bisa? Karena mereka lebih perasa wahai akhi, dan andai kau mengajar di PAUD aku tidak yakin kau bisa bertahan lebih dari sepekan. Atau murid-muridmu yang akan kabur dan mengadukanmu ke pihak yang berwajib.

Merupakan sesuatu yang wajar, bila seorang perempuan itu mudah tersinggung dan marah, tinggal dirimu yang harus pandai-pandai menjaga diri, contohlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabar dan tabah menghadapi emosi dan amarah istri-istrinya.

Dan dirumah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjadi keributan kecil, sehingga Aisyah sempat mengangkat suaranya lebih keras daripada suara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun yang perlu kau ambil pelajaran adalah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapinya.

Jadi bila istrimu sekali-kali mengangkat suaranya (marah) kepadamu, maka jangan disikapi dengan berlebih-lebihan, atau sampai-sampai kau membawa-bawa ayat Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam demi menundukkan istrimu. Lihatlah bagaimana nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil hati Aisyah yang sedang marah kepadanya sambil meminta maaf. Bukan dengan mengeluarkan ayat-ayat atau hadits, padahal beliau itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang padanya telah turun wahyu dari Allah, yang mengangkat suara lebih keras dari beliau dapat menyebabkan amalan hamba gugur, apalagi dirimu.

Maka bercerminlah, bila kau ingin istrimu seperti Aisyah, jadilah seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyikapi istri-istrinya. Bahkan kadang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (tapi ingat, ini bukan ajakan untuk membantah para suami, karena istri harus patuh dan menghormati suami), namun yang ingin aku katakan kepada para suami, kau harus benar-benar pandai mengambil kendali tanpa membesar-besarkan masalah. Perempuan memang seperti itu, dengan kesabaran dan ketulusanmu niscaya mereka akan tunduk dan bersimpuh di hadapanmu.

Penampilan

Perempuan pada umumnya selalu menjaga penampilan dan perilakunya agar mereka selalu terkesan cantik dan menarik perhatian orang. Dan untuk memperindah penampilannya ia akan melakukan banyak usaha.

Suka memperhatikan penampilan atau ingin selalu tampil dengan gaya yang mengesankan dan mencuri perhatian orang lain adalah bawaan perempuan sejak lahirnya. Nalurinya selalu perhatian dengan penampilannya, bukan hanya dirinya tapi juga penampilan anak-anaknya, suaminya, rumahnya dan kendaraanya bahkan apa saja. Ia bisa berjam-jam berada di depan cermin. Ia melakukan perawatan untuk tubuhnya, kulitnya, rambutnya, kukunya, dll.

Belum lagi pakaian, perhiasan dan aksesoris, dia sangat perhatian kepada semuanya secara detail, karena itu sudah menjadi tabiat perempuan.

Jika kau sadari, bahkan sejak kecilpun bayi yang masih merah sudah diajari untuk berpenampilan yang indah dan menarik oleh ibunya. Lihatlah, bayi mungil yang belum tahu apa-apa itu -apalagi belum tahu cara berdandan- sudah dipakaikan anting, kalung dan gelang oleh ibunya. Padahal ia sendiri belum tahun dan tidak minta. Namun itulah perempuan.

Allah Shallallahu Alaihi Wasallam berfirman,

أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

“Apakah patun (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” (QS. Az-Zukhruf:18)

Jadi selama masih dalam koridor yang diperbolehkan oleh syariat, maka suami seharusnya membiarkan itu mengalir. Selama istri dan anakmu tidak menampakkan perhiasannya kecuali kepada mereka yang memang boleh memandangnya.

Namun perlu kau sampaikan juga pada istrimu, bahwa perempuan yang menarik tentu yang memiliki kecantikan alami dilengkapi juga dengan tingkah lakunya yang terpuji. Cara ia berpakaian dan berbicara dipadukan dengan iman dan takwa kepada sang Pencipta bisa menghasilkan kecantikan yang tak pudah, sehingga membuat hati suami terpaut tanpa ingin menoleh kepada yang lainnya.

Dan jangan berlebih-lebihan dalam berpenampilan, karena sebaik-baiknya perkara adalah yang sedang-sedang saja. Dan jangan pula ada rasa sombong di dalam hati ketika berpenampilan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sikap sombong.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dan pada akhirnya ingatlah firman Allah, bahwa penampilan terbaik seseorang adalah yang dibungkus takwa kepada Sang Pencipta,

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf:26)

Setelah mengenal sifat-sifat perempuan, maka tiada jalan bagi suami kecuali menyesuaikan diri dengan mereka.

Menyiram Bunga yang Layu

Taman bunga yang indah harus senantiasa dirawat dan diperhatikan, dijauhkan dari serangga-serangga yang mengganggu, disirami dengan rutin tanpa lupa memberikan pupuk terhadapnya. Berikut ini adalah beberapa kiat untuk mengembalikan keharmonisan rumah tangga dan mempertahankannya, semoga Allah memberikan hidayah dan membimbing untuk kita semua.

Setengah isi, setengah kosong – Andai aku tidak menikah dengannya

Bercerminlah, betapa hebatnya dirimu, betapa tampannya parasmu, tapi tetap kau memiliki kekurangan sebagai manusia yang tidak diciptakan tanpa kekurangan. Begitu pula istrimu, dia bukan bidadari sebagaimana dirimu juga bukan malaikat. Namun demi berlangsungnya koalisi yang terjadi antara dua sejoli, adalah dengan melihat kepada kekurangan diri dan memperhatikan kelebihan istri. Dengan cara seperti itu, niscaya dengan ijin Allah bahtera yang kau nahkodai akan sampai ke daratan cinta dan kebahagiaan bersama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

 “janganlah seorang laki-laki beriman membenci seorang perempuan beriman. Kalaulah ada sikap yang ia tidak sukai dari perempuan tersebut, (mesti) ada pula sikap lain dari perempuan tersebut yang ia sukai.” (HR. Muslim no.1469)

Hadits di atas benar-benar obat mujarab dalam bergaul dengan siapa saja, apalagi dengan istri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan sebuah etika yang indah nun luhur bagi setiap muslim, dimana semua memiliki kekurangan. Namun janganlah melihat kepada kekurangannya, tapi lihatlah kepada kelebihannya.

Dan pasti ada kekurangan dalam diri istrimu, yang karenanya engkau meminangnya di antara jutaan perempuan di negeri ini. Jadi kacamata yang dipakai dalam memandang adalah setengah isi dan setengah kosong.

Bila kau mendapati gelas istrimu setengahnya isi dan setengahnya kosong, lihatlah bahwa gelasmu juga isinya hanya setengah, maka tuangkanlah isi gelasmu ke gelasnya kemudian nikmatilah isi telas itu dengannya bersama-sama.

Saling melengkapi, itulah yang kau inginkan. Jadi perlu adanya saling menyempurnakan dan bukan saling mengurangi, yang akan menyebabkan kedua gelas itu beradu, lalu pecah dan semua isinya habis, sehingga yang tersisa hanya penyesalan belaka.

Dan bila engkau merasa ada sikap istrimu yang menyakiti hati, jangan terburu-buru bertindah. Karena bisa jadi yang kamu benci mengandung banyak kebaikan sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

 “Dan pergaulilah mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’:19)

Manjakan Istrimu Dengan Kata-Kata Indah

Biasanya, tatkala layar baru dikibarkan dan kapal akan berlayar, nahkoda dan awak kapalnya akan menebar senyum kegembiraan seraya melambaikan tangan kepada orang-orang yang dtinggalnya. Namun setelah berhari-hari di tengah laut suasana mulai berubah; suhu udara memanas, ombak yang bergulung-gulung menghantam kapa, senyum mulai hilang dari bibir, kerut di kening berlipat-lipat, kata-kata yang kasar sesekali terlontarkan, sehingga menambah ketidaknyamanan berada di atas kapal.

Begitulah gambaran pengantin baru; rumah senantiasa berisi bunga-bunga cinta, sapaan mesra kerap dilontarkan oleh suami kepada permaisuri, panggilan sayang dan cinta terpantulkan dari dinding-dinding dan memperindah bilik-bilik istana, tamannya berisikan bunga-bunga yagn harum semerbak dengan warna-warni yang menawan hati.

Namun setelah berlalu beberapa masa, cat indah di dindingnya mulai mengelupas, taman bunganya mulai layu dan berganti dengan rumput-rumput liar yang mengganggu, sapaan mesra telah berubah dengan panggilan yang penuh sindiran dan hinaan. Padahal suami bila di luar rumah dapat membungkus kekesalannya dengan senyum dan menghias di bibir dan dengan kata-kata yang indah penuh penghormatan. Sejatinya istri lebih berhak mendapatkan kata-kata yang indah berbungkus cinta dan kasih sayang. Istri lebih layak mendapatkan keromantisan, karena dia adalah pendamping kita yang dari pagi sampai pagi kembali bersama kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكلمة الطيبة صدقة

 “Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari no.2989 dan Muslim no.1009)

Kepada siapa sedekah itu harus diberikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jawaban:

“Sebaik-baik sedekah adalah yang meninggalkan kecukupan dan mulailah dari yang di bawah tanggung jawabmu.” (HR. Bukhari no.1429 dan Muslim no.1034)

Dan istri adalah di bawah tanggung jawab suami, jangan menebar sedekah (perkataan yang baik) di luar rumah, sedangkan di rumah sendiri kekeringan dan kelaparan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memanjakan istrinya dengan kata-kata yang indah, sebagaimana isi rumah beliau semuanya indah.

Menurut para ulama’ panggilan dengan menyingkat nama adalah termasuk dari ungkapan memanjakan. Beliau juga memanggil ‘Aisyah dengan menyematkan gelar yang indah, yaitu “Humaira” yang maknana wahai perempuan berkulit putih kemerah-merahan.

Dan beliau juga memanggil istrinya dengan panggilan yang membuat hati sejuk, yaitu panggilan “wahai Muwaffaqah” (perempuan yang diberi taufiq) untuk ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Kalau nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja begitu romantisnya dalam memanggil istrinya, maka selayaknya kita mencontoh beliau, demi mengembalikan hari-hari indah di dalam rumah tangga kita.

Dan berusahalah untuk mengatur lisan, merajut kata-kata yang elok, karena perempuan memiliki hati yang halus sehalus sutra, ia perasa, suka dengan pujian. Maka sanjungan kepadanya adalah air segar untuk bunga mawar di dalam qalbu, maka jangan bakhil kepadanya. Panggil dia dengan; sayang, cinta, cantik, ayu, elok.. atau apa saja yang indah. Jangan kau panggil dia dengan si Gendut, si Gembrot, si Malas, tukang makan, karena semua itu hanya akan menoreh luka di hati dan menenggelamkan sampan yang berlayar.

Perempuan sebagai insan yang memiliki ruh, dia memerlukan pujian dan sanjungan. Jika dia tidak mendapatkannya di dalam rumahnya, maka kekosongan itu akan diisi oleh selainmu, atau kalau tidak, ia akan layu dan mati kehausan.

 

Bersambung ke bagian selanjutnya : Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 5), insyaAllah.

 

Diringkas dari buku: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya

Penulis: Ustadz Dr. Syafiq bin Riza Basalamah

Diringkas Oleh: Fauzan Alexander (Staf Ponpes Darul-Quran Wal-Hadits OKU Timur)

 

Baca juga:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.