Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 3)

andai aku tidak menikah dengannya-bagian 3

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya – Berikut merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, tentang seputar pernikahan yang insyaallah menjadi pelajaran yang sangat bermanfaat bagi yang sudah menikah maupun yang belum menikah, yang bisa dibaca pada link berikut:

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 1)

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 2)

Mengenal Perempuan

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Pernah membeli binatang piaraan di rumah? Seperti seekor kelinci, atau landak mini, atau anak ayam yang warna-warni?

Biasanya -atau mungkin seharusnya- apabila engkau menginginkan agar binatang piaraanmu betah di rumah, tetap hidup sehat, tidak berpenyakitan, serta bisa kau nikmati, maka kau harus mempelajari segala hal tentang hewan piaraanmu tersebut dari A sampai Z.

Mulai makanannya, kebiasaannya, perilakunya, kesukaannya, pantangan-pantangan untuknya, dan lain-lain. Semua itu penting, dan bila kau mengabaikannya maka resikonya binatang puaraanmu tidak akan betah, bahkan bisa jadi mungkin ia akan sakit, mati dan akhirnya meninggalkan luka yang pedih di dalam hati. Seperti yang terjadi pada binatang piaraan anak-anak kecil, yang dibeli karena kelucuannya namun berakhir mengenaskan. Karena yang mereka pikirkan hanya melampiaskan kesenangan mereka tanpa berpikir bagaimana seharusnya binatang itu diperlakukan.

Kalau itu untuk seekor landak mini atau yang semisalnya, maka bagaimana gerangan dengan seorang perempuan yang kau pindahkan dari istananya ke gubukmu, dari kebebasannya ke sangkarmu? Maka tentunya kau memerlukan tenaga ekstra dan pemikiran yang tajam untuk mempelajari tentangnya, dari A sampai Z.

Tak kenal maka tak sayang, mungkin itu ungkapan yang sering didengar. Maka sudah sepantasnya seorang suami atau calon suami mempelajarinya. Karena kau tidak hidup di permukaan rembulan, tidak pula di dalam Daarussalaam surga ‘Adn, kau hidup di muka bumi, bersama makhluk yang sama sepertimu, yang sama-sama memiliki banyak kekurangan dan dosa.

Dari Tulang Rusuk yang Bengkok

Perempuan dicipta dari Adam, dari tulang rusuknya yang bengkok. Dan bahan dasar itu takkan berubah, di manapun dan sampai kapanpun perempuan tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Hal ini menuntut agar para suami memandang kepada kesalahan dan kekurangan yang ada pada diri wania adalah sesuatu yang wajar, karena bahan dasarnya memang sudah begitu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Nasehatilah para perempuan secara baik-baik. Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah yang paling atas. Seandainya kamu meluruskannya, akan mematahkannya. Kalaulah kamu membiarkannya, maka akan selalu bengkok. Nasehatilah para perempuan dengan baik-baik.” (HR. Bukhari no.3331 dan Muslim no.1468)

Dan Allah berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفسٍ۬ وَٲحِدَةٍ۬ وَخَلَقَ مِنهاَ زَوجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً۬ كَثِيرً۬ا وَنِسَآءً۬

“Yang telah menciptakan kalian dari satu diri, dan darinya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa’ :1)

Muqatil bin Sulaiman berkata, “Adam tidur di dalam surga, lalu Allah menciptakan Hawwa’ dari tulang rusuknya dari samping kanannya tanpa merasakan sakit, andai merasakan sakitnya niscaya tidak ada pria yang sayang kepada permpuan selamanya.” (Umdatul Qari 15/213)

Muqatil bin Sulaiman menambahkan, “Ada yang berpendapat bahwa hadits di atas hanya kiasan, yakni memberikan permisalan bagi perempuan dengan tulang rusuk. Dan kebengkokan yang terdapat para perilakunya, karena tulang rusuk memiliki kebengkokan. Dan tidak mungkin dapat mengambil manfaat darinya kecuali dengan berlaku sabar menghadapi kebengkokan para perempuan.” (Umdatul Qari 15/213)

 Berkaitan dengan bahan dasar yang bengkok, dalam riwayat Ahmad, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan yang tepat dalam menyikapi perempuan,

“Berlaku lemah lembutlah dengannya, niscaya kamu akan hidup dengannya.” (HR. Ahmad no.20093, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam shahihul Jami’ no:1944)

Andai Perempuan dari Baja

Allah al Hakim tidak mencipta kecuali dengan ilmu dan hikmahnya yang tiada bertepian. Dan Allah telah menciptakan Hawwa’ dari diri Adam, tidak seperti Adam yang tercipta dari tanah liat, tentu ada maksud dan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Mungkin di antara hikmah-hikmahnya.. Perempuan telah dipersiapkan untuk mengabdi kepada pasangan hidupnya, yang dari tubuhnya dirinya tercipta. Ia telah dipersiapkan untuk menghadapi semua yang berasalkan dari suaminya; amarahnya, omelannya, sindirannya, tuntutannya dan yang lainnya. Ia telah diperuntukkan mengandung benih suami selama sembilan bulan, menyusui dan merawatnya selam dua tahun, lalu membesarkan dan menjaganya hingga dewasa.

Andai ia tercipta dari baja.. baja yang tak berkarat, yang keras dan kokoh, mungkin dia sudah leleh menghadapi panasnya beban yang dipikulnya tanpa kenal waktu.

Andai ia tercipta dari batu cadas. Mungkin ia telah hancur berkeping-keping, karena bantingan dan pukulan yang sering didapatnya di dalam rumah tangganya. Mungkin kau belum dapat mencernanya, bagaimana baja itu bisa leleh, atau batu itu bisa hancur?

Aku ingin membawamu berlayar. Coba renungkanlah sejenak bagaimana beratnya tugas yang diemban oleh seorang istri apalagi ketika ia menjadi ibu. Jam kerjanya 24 jam, non stop! Harus selalu ready, kapanpun dan dimanapun. Andai manusia memiliki waktu 25 jam dalam sehari semalam, niscaya itulah jam kerja seorang istri apalagi ibu. Di pagi hari dia harus bangun terlebih dahulu, demi berkhidmat pada suami. Mulai memasak air, menyeduh teh atau kopi untuk sang suami. Kemudian dia harus menyiapkan sarapan bagi sang suami yang telah menikahinya, walau hanya berupa suatu hidangan sederhana.

Dia juga dituntung untuk mempersiapkan pakaian dan segala keperluan suami yang henda pergi bekerja -yang kadang kala sebagian suami sembrono meletakkan perlengkapannya lalu biasanya istri yang akan menjadi sasaran amarah suami- bila ada sesuatu yang diperlukannya tidak didapatnya. Suami yang pada dasarnya punya usia jauh lebih matang ketimbang anak-anaknya pun tak luput dari sikap manja terhadap sang istri.

Bila ia memiliki anak, maka ia akan lebih disibukkan lagi dengan berbagai urusan anaknya -yang kebanyakan dari suami tidak mau tahu dengan hal itu- mulai dari mengurus mandi mereka, air panas, handuk, dan kadang harus membujuk si kecil untuk mau sikat gigi. Ia juga harus menyiapkan pakian, tas peralatan sekolah, sepatu dan kaus kaki -yang kadang kala anak-anak tidak meletakkannya di tempat yang semestinya.

Selesai urusan kamar mandi, ia lanjutkan urusan yang lain. Mengenakan pakaian anak-anak, menyisir rambut mereka, memasangkan sepatu, menyuapi si kecil yang masih sering rewel soal makan. Belum lagi yang kadang terjadi seringkali suami meminta sesuatu secara mendadak, yang akhirnya membuat sang istri agak gugup karena kekasihnya harus lebih diutamakan dari anak-anak.

Ditambah lagi dengan keributan dan permintaan anak-anaknya, kemudian mengurus anaknya yang kecil setelah kakaknya sekolah, merapikan rumah yang bak kapal pecah setelah ditinggal mereka semua. Setelah kepergian anak-anak dan suaminya, biasanya ia sibuk memasak, mencuci dan menjemur lalu -yang paling berat- menyetrika pakaian, atau melakukan pekerjaan rumah lainnya. Dan begitu seterusnya tugas-tugas seorang istri dan ibu yang (penulis) sebutkan. Bisa kau bayangkan ia adalah makhluk yang lemah secara fisik, tapi ia tercipta dari tulang rusuk yang dengannya ia dapat menahan beban yang diterima dari suaminya, dengan hati yang lapang dan jiwa yang menerima.

Dan perlu kau ingat pula -di balik beban dan kelemahan dirinya- ia tetap berkewajiban melayanimu sebagai suaminya, mendengarkan keluhan-keluhan dan omelanmu, karena mungkin ada bnayak pekerjaan yang mungkin tidak dapat disempurnakan olehnya. Dalam perkhidmatannya di rumah tangganya kadang masih ada saja kekurangannya, maka ingatlah bahwa ia telah banyak berbuat baik untukmu.

Dan andai dirimu diharuskan membayar untuk semua profesi yang ditekuni oleh istrimu sebagai ibu rumah tangga, niscaya dirimu akan bingung mempersiapkannya.

Andai ia tercipta dari baja, mungkin ia tidak akan setahan sekarang menghadapimu. Maka dimanakah penghargaan dan kasihmu untuknya? Hawwa’ tercipta dari Adam, agar kedua makhluk ini saling berbagi cinta dan kasih, berbagi suka dan duka. Sebagaimana rasa sakit yang diderita istri adalah sakit untuk suami. Duka di wajah istri pada hakikatnya adalah luka di hati suami. Dan semua itu pertanda bahwa, tidaklah mudah bagi suami untuk hidup tanpa tulang rusuknya.

Engkau bersamanya adalah ibarat dua tubuh dengan satu ruh, dirimu tidak akan dapat meluruskan kebengkokan di diri mereka kecuali bila kau bersabar dan tabah menghadapinya dengan meyirami tamanmu dengan air kasih sayang, menyiangnyainya dari semua yang merusak dan menyakiti bunga-bunga di taman cintamu.

Pencemburu

Sifat cemburu adalah sifat yang mulia, akhlak yang luhur dan sikap yang terpuji, bahkan dikatakan, “Bila sifat cemburu telah pergi dari qolbu maka cintapun akan berlalu, bahkan agamanya akan pergi berlalu.” Perempuan adalah insan yang sangat pencemburu sampai ke tingkatan yang maksimal. Dan begitu pula lelaki, iapun pencemburu. Karena cemburu adalah sifat terpuji, namun ada perbedaan yan cukup signifikan antara cemburu kaum lelaki dan kaum perempuan.

Kecemburuan kaum lelaki biasanya untuk urusan yang berkaitan dengan kehormatan; dia cemburu terhadap adik perempuannya, kakanya, ibundanya, putri-putrinya bibinya tantakala mereka melakukan perbuatan yang mencoreng kehormatan. Adapun kaum perempuan biasanya -meski tidak semuanya- kecemburuannya bersumber dari perasaan iri atau hasad dan tidak mau berbagi.

Di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun ada kecemburuan, dan itu adalah hal yang wajar yang seharusnya seorang suami menyikapi kecemuruan itu dengan lapang dada sambil memberikan arahan yang baik. Tentunya hadits berikut telah masyhur di kalangan yang sudah ngaji.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa pada suatu ketika Nabi di rumah salah seorang istri beliau. Tiba-tiba ada salah satu istri beliau mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, sang istri memukul tangan pelayang pembawa makanan tersebut sehingga jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Menyaksikan peristiwa tersebut -yang terjadi di hadapan tamu-tamu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau tidak marah bahkan beliau langsung mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, dan menyuguhkannya kepada para sahabat, sambil berkata: “Ibu kalian sedang cemburu.”

Lalu Nabi menahan pelayan tersebut, dan beliau memberikan padanya mangkuk milik istri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemilik mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah istri yang sedang bersama beliau. (HR. Bukhari no.5225 dan dalam riwayat Ahmad no.12027 dijelaskan bahwa perempuan itu adalah A’isyah).

Subhanallah, lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapi kejadian tersebut, tanpa menghardik ataupun memberikan arahan kepadanya di dalam kamar. Karena perasaan cemburu seorang wanita dapat diibaratkan gelombang air laut yang naik tinggi, secara cepat ia akan turun dengan sendirinya. Yang dibutuhkan hanya bersabar dan membiarkan ombak itu berlalu.

Jadi pada hakikatnya kecemburuan para perempuan itu wajar-wajar saja, namun ketika sudah tidak wajar sang suami sebagai pemimpin wajib memberikan bimbingan dengan cara yang halus, sambil menanti waktu yang tepat untuk melakukannya. Misalnya seperti kecemburuan istri kepada ibu mertua dikarenakan suaminya terlalu berbakti kepadanya, atau kecemburuannya kepada adik dan kakak suami. Maka hendaklah suami berlapang dada menghadapi semua itu dan berupaya memperbaiki secara perlahan dan sabar, karena itu sudah sifatnya. Gejolak yang terjadi di dalam hati perempuan kadang sulit dibedakan antara hasad dengan cemburu. Tapi intinya kau harus bersabar dan berlemah lembut dengan menundukkannya, dengan membuka pintu maaf dan memohon maaf kepadanya.

Kesimpulan: Tidak ada yang sempurna pada seseorang yang sudah menikah, tugas kita adalah melengkapi kekurangan-kekurangan pasangan dengan kebijaksanaan dan kelembutan, insyaallah akan tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah.

Bersambung ke bagian selanjutnya, insyaallah.

 

Diringkas dari buku: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya

Penulis: Ustadz Dr. Syafiq bin Riza Basalamah

Diringkas Oleh: Fauzan Alexander (Staf Ponpes Darul-Quran Wal-Hadits OKU Timur)

 

Baca juga:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.