Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Al-Quran Mematahkan Kesesatan Dan Kebatilan Semua Aliran

al-quran mematahkan semua kesesatan

Al-Quran Mematahkan Kesesatan Dan Kebatilan Semua Aliran – Segala puji bagi Allah, hanya dengan nikmat dan taufiq-Nya, kita semua di berikan kekuatan agar senantiasa melakukan kebaikan. Semoga Allah azza wajalla senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua supaya bisa tetap meniti jalan-Nya yang haq sampai kita diwafatkan oleh Allah azza wajalla.

Aliran-aliran sudah muncul di masa akhir kehidupan generasi pertama Islam, generasi Sahabat alaihi salam. Aliran-aliran tersebut menyalahgunakan nash-nash syariat untuk membenarkan apa yang mereka perbuat dan yakini, baik itu dari teks Al-Quran maupun hadits. Sehingga para Sahabat Nabi yang masih hidup dan ulama-ulama dari generasi tabi’in mengingkari mereka. Setiap orang akan mafhum kedudukan Al-Quran dan Hadits yang signifikan dalam Islam. Maka, tidak mengherankan bila firqah-firqah sesat akan mempergunakan dalil-dalil syar’i yang shahih, selain ra’yu-ra’yu sampah dan hadits-hadits lemah dan palsu. Bagaimana menghadapinya?.

Untuk menjawabnya, kita harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa Al-Quran adalah kitab hidayah menuju jalan yang lurus. Kebenarannya pun tidak diragu-ragukan lagi.

Allah azza wajalla berfirman:

آلم (١) ذلك آلكتب لاريب,فيه، هدى للمتقين (٢)

Artinya: Alif lam mim. Kitab (Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah/2: 1-2).

Karena itu, tidak mungkin suatu ayat mendukung suatu keyakinan yang batil atau aliran yang sesat. Bahkan al-Quran sudah menyanggah kebatilan-kebatilan aliran-aliran tersebut.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, Tafsirual-Qur’anil‘Azhim (1/145), Seorang mubtadi’ mana saja tidak memiliki sandaran apa pun yang shahih dari ayat-ayat al-Qur’an, sebab al-Quran datang untuk memperjelas al-haqdari kebatilan, menerangkan perbedaan antara hidayah dan kesesatan, tidak ada sedikit pun kontradiksi maupun perbedaan antar ayat, sebab al-Qur’an bersumber dari Allah azza wajalla, turun dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.[1]

Hal ini, adanya bantahan al-Quran  terhadap aliran-aliran sesat menunjukkan kesempurnaan Islam dan kesempurnaan  Kitab suci al-Qur’an sebagai sumber hidayah bagi umat Islam.

Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakamirahimahullah berkata dalam Ma’arijul Qabulbi Syarhi Sullamil WushuliIla IlmulUshuli(3/1295): “Sebagaimana ajaran Islam sempurna dalam meneguhkan ajaran-ajarannya, menyempurnakan, menjelaskan dan menerangkannya secara detail, ajaran Islam juga sempurna dalam hal mempertahankan dirinya (dari serangan syubhat dari luar), mematahkan t(ajaran) setiap orang muhlid (atheis), setiap penentang, dan setiap lawannya. Dan (sempurna) dalam membabat setiap kebatilan”.

Allah azza wajalla berfirman:

بل نقذف بالحق على البطل فيد مغه، فإذا هو زاهق‘ ولكم الويل مما تصفون (١٨)

Artinya: “Sebenarnya Kami telah melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap”. (QS. Al-Anbiya/21: 18)

Allah azza wajalla  juga berfirman:

ولا يأتونك بمثل إلا جئنك بآلحق وأحسن تفسيرا

Artinya: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-Furqan/25: 33)

Kandungan al-Qur’an sempurna untuk mematahkan segala bentuk syubhat dari aliran-aliran yang menyimpang dan sesat, dan itu berlaku sampai hari kiamat. Walillahil hamdu walminnah.

Tentang para pengaku nabi palsu, Allah azza wajalla berfirman menegaskan tidak adanya nabi apalagi rasul setelah wafatnya Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam. Bacakanlah kepada kelompok yang mengklaim pemimpin mereka adalah nabi atau kepada orang-orang yang mengaku nabi ayat berikut:

ما كان محمد أبآ أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبين

Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”. (QS. Al-Ahzab/33;  40)

Tentang golongan mu’athtilah(yang menafikan sifat-sifat Allah) dan musyabbihah(golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), Allah azza wajalla berfirman dalam al-Qur’an untuk mematahkan syubhat mereka:

ليس كمثله، شىء، وهو السميع البصير

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS.Asy-Syura/42:11)

Allah azza wajalla berfirman:

يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يحيطون به، علما

Artinya: “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaha: 110)

Kewajiban umat adalah mengimani segala yang diberitakan oleh al-Qur’an tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah azza wajalla, tidak mengingkarinya, juga tidak menafikannya. Dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tidak ada unsur menyerupakan Allah azza wajalla dengan makhluk-makhluk-Nya sedikit pun. Sementara pengetahuan manusia tentang Allah azza wajalla hanya sebatas pada apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya shallalahu alaihi wassalam.

Al-Qur’an juga telah mematahkan keyakinan golongan Qadariyah yang mengingkari adanya takdir Allah azza wajalla. Allah azza wajalla berfirman:

من يشإ الله يضلله ومن يشأ يجعله على صرط مستقيم

Artinya: “Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus (QS. Al-An’am/6:39)

Allah azza wajalla berfirman:

إنا كل شىء خلقنه بقدر

Artinya: Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al-Qamar/54: 49)

Di sisi lain, golongan Jabariyyah yang meyakini manusia itu terpaksa dalam seluruh perbuatan dan tindakannya, dalam al-Qur’an Allah azza wajalla berfirman:

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah/2: 286)

Orang-orang yang menolak Aqidah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah azza wajalla di akhirat kelak, terbantahkan dengan firman Allah azza wajalla berikut:

وجوه يومئِذ نا ضرة (٢٢) إلى ربها نا ظرة (٢٣)

Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-Nyalah mereka melihat (QS. Al-Qiyamah/75: 22-23)

Terhadap golongan Rafidhah (Syiah) yang membenci dan mengkafirkan para sahabat Nabi shallalahu  alaihi wassalam, Allah azza wajalla berfirman:

وآلسبقون آلأولون من آلمهجرين وآلأنصار وآلذين آتبعوهم بإحسن رضى آلله عنهم ورضوأ عنه وأعد لهم جنت تجرى تحتها آلأنهر خلدين فيها أبدا، ذلك آلفوزآلعظم (١٠٠)

Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah/9:100)

Terhadap orang-orang yang tidak mencintai Ahli Bait, Allah azza wajalla berfirman:

إنما يريد آلله ليذهب عنكم الرجس أهل آلبيت ويطهركم تطهيرا

Artinya: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab/33: 33)

Terhadap dua golongan tersebut, Al-Qur’an meluruskan dalam firman Allah azza wajalla berikut:

وآلسبقون آلأولون من آلمهجرين وآلأنصار وآلذين آتبعوهم بإحسن رضى آلله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنت تجرى تحتها آلأنهر خلدين فيهآ أبدا، ذلك

Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr/59: 10).

Kepada seluruh pelaku bid’ah secara mutlak, Al-Qur’an mematahkannya dengan firman Allah subhanahu wata’ala:

آليوم أكملت لكم دينكم

Artinya: Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (QS. Al-Maidah/5:3)

Demikian beberapa contoh aliran-aliran yang telah terbantahkan syubhat dan kesesatan mereka oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Hal semakin menguatkan keyakinan umat Islam bahwa hidayah Al-Qur’an akan menjadi sumber keselamatan bagi umat Islam di dunia dan akhirat.[]

Diadaptasi dari Ma’arijul Qabulbi Syarhi Sullamil Wushuli Ila Ilmul Ushulifiat-Tauhid syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami, Dar IbnilJauzi, Cet. 1, Thn.1420H, (3/1295)

 

Referensi :

Dari Majalah As-Sunnah , THN.XIX JUMADIL AKHIR 1437H APRIL 2016 M

Disusun oleh: Lailatul Fadilah (Pengajar ponpes darul qur’an wal hadits oku timur)

[1]Tafsirual-Qur’anul‘Azhim 1/145

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.