Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Biografi Abu Darda’ Radhiyallahu anhu

BIOGRAFI ABU DARDA

Biografi Abu Darda’ Radhiyallahu anhu

Beliau adalah Abu al-Darda’ al-Khazraji al-Ansari, sahabat terkemuka salah satu penghafal Al-Qur’an di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah imam panutan dan ahli hikmah (cendekiawan) umat ini, seorang yang lebih memilih kehidupan akhirat dari dunianya, paling bersemangat untuk belajar dan mengajarkan kebaikan kepada manusia, hingga namanya selalu harum dikenal oleh seluruh kaum muslimin hingga Hari Kiamat.

KEUTAMAAN BELIAU

Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

  1. 1. Beliau adalah satu di antara empat Sahabat yang telah hafal Al-Qur’an di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Telah hafal Al-Qur’an di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tentu itu adalah sebuah keutamaan yang sangat besar yang tidak diberikan kepada semua Sahabat, di mana tatkala itu Al-Qur’an hanya ada di dalam dada-dada sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, belum dibukukan di dalam mushaf, sehingga mengumpulkan seluruh Al-Qur’an dari dada-dada kaum muslimin adalah perkara yang berat. Karenanya, tidak banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang hafal seluruh Al-Qur’an tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Sahabat Anas ibn Malik Radhiyallahu anhu menceritakan, :

ماتَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ولَمْ يَجْمَعِ القُرْآنَ غَيْرُ أرْبَعَةٍ: أبو الدَّرْداءِ، ومُعاذُ بنُ جَبَلٍ، وزَيْدُ بنُ ثابِتٍ، وأَبُو زَيْدٍ

Artinya : “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, maka tidak ada yang telah hafal Al-Qur’an seluruhnya kecuali empat orang. Mereka adalah Abu al-Darda’, Mu’az ibn Jabal, Zaid ibn Sabit, dan Abu Zaid.” [1]

  1. 2. Abu al-Darda’ termasuk Sahabat yang paling bersemangat untuk mengambil ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sahabat Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu mengatakan, “Kekasihku yaitu Abu al-Qasim (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang aku tidak boleh lalai darinya. Beliau berwasiat agar aku selalu berpuasa tiga hari pada setiap bulannya,[2]  dan agar selalu shalat Witir sebelum tidur malam, dan shalat sunah di waktu Duha.” [3]

Abu al-Darda’, mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Wahai Abu al-Darda’, janganlah engkau mengkhususkan pada malam hari Jumat dengan shalat malam dan siang harinya dengan puasa padahal di hari-hari yang lain engkau tidak melakukannya.”[4]

  1. 3. Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu sangat bersemangat mengajari manusia tentang kebaikan.

Abu ‘Abdirrahman al-Sulami menceritakan: Dahulu, ada di antara kami seorang laki-laki yang masih memiliki seorang ibu, suatu saat ia ingin menikahi seorang gadis maka menikahlah dia, namun ternyata sang ibu menyuruhnya untuk menceraikan istrinya tersebut. (Karena bingung) dia pergi untuk bertemu Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu yang berada di negeri Syam, ia menuturkan bahwa ibunya tinggal bersamanya hingga ia menikah, lalu sang ibu menyuruhnya menceraikan istrinya, (dia bertanya), “Apakah aku harus menceraikannya?” Abu al-Darda’ menjawab, “Aku tidak tahu apakah engkau harus menceraikan istrimu ataukah tidak. Hanya, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ

Yang artinya : “Orang tua adalah pintu tengah menuju Surga, (bila engkau ingin) buanglah pintu itu atau jagalah pintu tersebut.” Akhirnya, laki-laki tersebut kembali pulang dan menceraikan istrinya (karena menaati ibunya).[5]

Mi’dan ibn Abi Talhah al-Ya’mari mengatakan: Suatu ketika, Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu bertanya kepadaku, “Di mana tempat tinggalmu?” Aku menjawab, “Aku tinggal sendirian di sebuah desa, jauh dari kota Hims.” Lalu Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu mengatakan, “Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Apabila selama tiga hari di sebuah kampung tidak terdengar di dalamnya seruan azan dan tidak pula ditegakkan shalat berjamaah maka tidak lain itu berarti bahwa setan telah menguasai mereka (lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah). Maka hendaklah engkau berjamaah (bersatu dengan kaum muslim lainnya, Pen.) karena serigala paling senang dengan seekor kambing yang sendirian.”[6]

Dan Qais ibn Kasir pernah menceritakan: Suatu ketika, datanglah seorang laki-laki dari kota Madinah ingin bertemu dengan Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu yang berada di Damaskus. Setelah bertemu, Abu al-Darda’ bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu datang kemari, wahai saudaraku?” la menjawab, “Karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkaulah yang telah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu melanjutkan, “Apakah engkau datang untuk urusan perdagangan?” la menjawab, “Tidak.” Abu al-Darda’ meneruskan, “Apakah engkau ingin bertemu denganku karena ada keperluan tertentu?” la menjawab, “Tidak.” Abu al-Darda’ mengatakan, “Apakah engkau datang untuk tujuan mencari suatu hadits?” la menjawab, “Benar.” Lalu beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Yang artinya : “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan tempuhkan jalan menuju Surga, dan sungguh para malaikat mereka meletakkan sayap-sayapnya karena rida dengan para penuntut ilmu, dan sungguh orang yang berilmu akan didoakan kebaikan oleh semua penduduk langit dan penduduk bumi, sampaipun ikan di lautan, dan keutamaan penuntut ilmu dibandingkan dengan seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan (sinar) bulan di malam purnama atas seluruh bintang-gemintang. Dan sungguh para ulama adalah ahli waris para nabi, sedang para nabi mereka tidak meninggalkan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu; siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak.”[7]

  1. 4. Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu adalah seorang yang ahli zuhud “. dan sangat mengharapkan akhirat.

Abu Juhaifah Wahb ibn Abdillah menceritakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu dengan Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu. Suatu ketika, Salman berziarah kepada Abu al-Darda’; maka ia melihat istri Abu al-Darda’ terlihat lusuh dan kumuh, lalu Salman bertanya kepadanya, “Ada apa gerangan denganmu?” Istri Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu menjawab, “Sesungguhnya saudaramu, Abu al-Darda’, adalah seorang yang tidak butuh terhadap dunia (seorang wanita) ia selalu puasa di siang hari dan shalat malam di malam harinya.” Lalu datanglah Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu setelah ia menyiapkan makanan untuk tamunya, dia mengatakan, “Makanlah karena aku sekarang sedang puasa.” Maka Salman mengatakan, “Tidak, aku tidak akan makan sampai engkau juga ikut makan bersamaku.” Abu al-Darda’ pun ikut makan bersama. Pada waktu malam telah tiba, Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu hendak melakukan kebiasaannya shalat malam, maka Salman mengatakan, “Tidurlah terlebih dahulu.” Maka Abu al-Darda’ pun tidur. Namun, ia pun segera terbangun dan hendak shalat malam, maka Salman mengatakan, “Tidurlah lagi terlebih dahulu.” Hingga tatkala telah di akhir malam maka berkatalah Salman kepada Abu al-Darda’, “Nah, sekarang bangunlah dan shalatlah.” Salman mengatakan:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

Yang artinya : “Sungguhnya Rabbmu memiliki hak, dan dirimu juga memiliki hak (untuk istirahat) dan istrimu juga memiliki hak, maka berikanlah kepada masing-masing apa yang menjadi haknya.” Lalu ia Radhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan perkataan Salman.[8]

Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus sebagai seorang rasul sedang aku adalah seorang pedagang. Aku ingin menggabungkan ibadah dan perdagangan, namun keduanya tidak dapat bersatu, maka aku tinggalkan perdaganganku dan aku memilih ibadah, dan demi Zat yang jiwa Abu al-Darda’ di tangan-Nya, aku tidak menginginkan meskipun aku memiliki sebuah kedai yang berada di pintu masjid hingga aku tidak terluputkan dari shalat dan aku mendapatkan laba setiap hari 40 dinar dan semuanya aku sedekahkan di jalan Allah Azza wa Jalla. Tatkala dikatakan kepadanya, “Apa yang tidak Anda senangi dari hal tersebut?” Beliau menjawab, “Karena beratnya hisab (hari penghitungan amal) kelak.”[9]

Yaitu kelak pada Hari Kiamat, tatkala Rabbku mengadiliku atas harta tersebut, dan Allah Azza wa Jalla akan bertanya kepadaku dengan dua pertanyaan: ‘Dari mana engkau mendapatkan harta tersebut?” dan “Kemana engkau belanjakan harta tersebut”. Karena, harta yang kita miliki yang halalnya adalah hisab (akan ada perhitungan) dan haramnya adalah azab (siksa).

Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu juga mengatakan, “Aku tidak merasa senang bila aku berada di tangga di pintu masjid, aku melakukan jual beli, dan aku mendapatkan laba setiap harinya 100 dinar, meski aku bisa mengikuti shalat jamaah seluruhnya di masjid. Aku tidak mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla tidak menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, namun aku senang untuk termasuk orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.”[10]

KISAH BERPULANGNYA BELIAU RADHIYALLAHU ANHU MENGHADAP ALLAH AZZA WA JALLA

Syumaith bin Ajlan rahimahullah berkata, “Tatkala Abu Darda` Radhiyallahu anhu hendak meninggal dunia, beliau merasa gelisah. Ummu darda` Radhiyallahu anha berkata kepadanya, ‘(Wahai Abu Darda`), bukankah engkau pernah memberitahuku bahwa engkau mencintai kematian?’ Abu Darda` Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Demi Allah, benar’, akan tetapi tatkala aku yakin akan meninggal dunia, aku menjadi benci kepada kematian, kemudian Abu Darda` Radhiyallahu anhu menangis dan mengatakan, ‘Sekarang adalah detik-detik akhir hidupku di dunia ini. Bimbinglah aku mengucapkan lâ ilâha illallâh.’ Akhirnya Abu Darda` Radhiyallahu anhu senantiasa mengucapkan kalimat itu hingga meninggal dunia.” Beliau wafat dua tahun sebelum pembunuhan Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu . Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat setelah perang Siffin. Ada yang mengatakan tahun 23 atau 24 H. di kota Dimasyq dan ada juga yang mengatakan tahun 38 atau 39. Akan tetapi, yang masyhur dari kebanyakan para ahli ilmu adalah beliau wafat pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu anhu.[11]

Beberapa nasihat berharga dan petuah mulia Abu al-Darda’ Radhiyallahu anhu adalah:

  1. Beliau mengatakan, Seandainya kalian tahu apa yang akan kalian saksikan setelah kematian, tentu akan hilang nafsu makan kalian, dan tidak terasa segar minum kalian. Kalian tidak akan merasa nyaman masuk ke dalam rumah lalu berteduh di dalam rumah, dan tentu kalian akan keluar di tempat yang tinggi dan memukul-mukul dada-dada kalian, kalian akan menangisi diri seraya mengatakan “Duh, seandainya aku adalah sebatang pohon yang ditebang dan dimakan (hingga habis)”[12]
  2. Beliau juga mengatakan, “Barangsiapa banyak mengingat kematian maka akan sedikit rasa gembiranya dan menipis sifat dengkinya.”[13]
  3. Beliau mengatakan, “Sesuatu yang paling aku takutkan kelak pada Hari Kiamat adalah bila di katakan kepadaku ‘Apakah engkau orang yang berilmu atau orang yang bodoh?’, bila aku menjawab ‘Aku adalah orang yang mengetahui’, maka setiap ayat yang berisi perintah dan larangan akan menggugatku, seakan-akan ayat perintah mengatakan ‘Apakah engkau telah menjalankan perintah?’ dan seakan-akan ayat larangan mengatakan, ‘Apakah engkau telah menjauhi larangan?’. Maka aku berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari setiap ilmu yang tidak bermanfaat dan jiwa yang selalu tidak merasa puas, dan doa yang tidak terkabulkan.”[14]
  4. Beliau juga mengatakan, “Wahai anak Adam, injak-lah bumi ini dengan kakimu, karena dalam waktu yang dekat engkau pun pasti akan menemui kuburmu. Wahai anak Adam, engkau hanyalah melewati beberapa hari saja, setiap kali lewat satu hari berarti telah hilang sebagian jatah harimu. Wahai anak Adam, setiap saat umurmu berkurang semenjak engkau dilahirkan oleh ibumu.”[15]
  5. Berkata Ummu al-Darda’ Radhiyallahu anhuا (istri beliau), “Tatkala Abu al-Darda’ hendak meninggal dunia, beliau mengatakan, ‘Siapakah yang telah beramal untuk menyambut semisal hari ini…? Siapakah yang telah beramal untuk menyambut semisal detik-detik ini…? Dan siapakah yang telah beramal untuk mempersiapkan tempat peristirahatan ini…?’ Lalu beliau membaca ayat Allah Radhiyallahu anhu:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ

Yang artinya : “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya.”[16]

Semoga Allah Azza wa Jalla meridai Abu al-Darda’. Dan semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan kepada kita rezeki berupa tobat yang sesungguhnya sebelum kematian menjemput kita. Amiin

Sumber                : Majalah Al-Furqon No.143 Ed 07 Th. Ke-13_1435 H

Penulis                 : Ustadz Abu Faiz Sholahuddin Bin Mudasim  حفظه الله

Diringkas oleh    : Jeffri Pamungkas Setiawan, S.Pd.

[1] HR al-Bukhari: 5004

[2] Yaitu puasa Ayyamul Bid pada setiap tanggal 13, 14, 15 Bulan Hijriah

[3] HR Muslim: 722

[4] HR Ahmad 6/444. Hadits ini shahih li ghairihi (lihat al-Mausu’ah al-Haditsiyyah).

[5] HR Ahmad 6/445. Hadits ini hasan (lihat al-Mausu’ah al-Haditsiyyah)

[6] HR Ahmad 5 196, al-Hakim 1/330, dan dinilai hasan oleh al-Albani

[7] HR al-Tirmizi: 2682, Abu Dawud: 3641

[8] HR al-Bukhari: 1867

[9] Lihat Hilyah al-Auliya’ 1/209.

[10] Lihat Hilyah al-Auliya’  1/210

[11] Usudul Ghabah 4/18-19, no. 4136

[12] Lihat al-Zuhd li al-Imam Ahmad: 171.

[13] Lihat Hilyah al-Auliya 1/220.

[14] Sifat al-Safwah 1/32

[15] Al-Sahabah: 466.

[16]  (QS al An’am [6]: 110).

Baca juga artikel:

Baca juga artikel:

Nikmat Kehidupan

Ummi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.