SEPULUH KARAKTER PENDIDIK SUKSES (BAGIAN I)

sepuluh-karakter-pendidik-sukses

Kesempurnaan sifat pendidik hanya milik para Rasul, namun demikian kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk meraih dan memiliki sifat-sifat pendidik seperti itu. Sebab nantinya kita juga menjadi fokus keteladanan bagi generasi yang baru. Paling tidak sebagai fokus teladan pendidik bagi anak-anak sendiri.

Anak mengamati kita selaku pendidik dan pembimbing, maka kita adalah contoh nyata yang dapat mereka saksikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu supaya menjadi pendidik sejati, yang sukses dunia-akhirat, kita harus memiliki sepuluh karakter yang menjadi faktor utama pendukung berhasilnya pembinaan anak sejak dini. Perhatikanlah penjelasan berikut.

  1. Ikhlas

Rawat dan didiklah anak dengan ketulusan hati dan niat yang ikhlas, semata-mata mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu Wataala.

Canangkan niat demi Allah semata pada seluruh aktivitas edukatif (pendidikan dan pengajaran) anak kita baik berupa perintah, larangan, nasihat, pengawasan, maupun hukuman.

Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan termasuk fondasi keimanan dan merupakan keharusan dalam Islam.

Allah tidak akan menerima suatu amal Shalih tanpa ada keikhlasan dalam jiwa pelakunya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya :

وما أمرو ا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقموا الصلوٰة ويؤتوا الزكوٰة وذلك دين القيمة ﴿٥﴾  

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena ( menjalankan ) agama, dan juga agar menjalankan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus ( benar ).” ( QS. Al-Bayyinah [98] )

Ingatlah hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

إنما الأعمال با النيات ، وإنما لكل امرء مانوى

Artinya:

“ Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat , dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan.” (HR Bukhari dalam Shahih nya)

Ya, benar, kita akan memperoleh hasil kerja menurut kadar niat yang terpatri dalam hati atau jiwa. Semakin tinggi tingkat ketulusan dan keikhlasan diri kita, semakin besarlah balasannya di akhirat dan semakin tinggilah martabat kita disisi Allah kelak.

Niat yang ikhlas, selain mendatangkan keridhaan dan pahala Allah, akan meneguhkan hati kita pada saat ujian menimpa. Dengan bersikap demikian hati kita akan tetap lapang, bagaimana pun hasil yang diraih setelah berusaha maksimal dan senantiasa berdoa.

  1. Bertakwa

Ini adalah sifat terpenting yang harus dimiliki pendidik.

Yaitu takwa yang didefinisikan para ulama dengan :

أن لا يراك الله حيث نهاك ولا يفقد ك حيث أمرك.

Menjaga agar Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia perintahkan.”

Maksudnya, mengerjakan segala yang Dia perintahkan dan menjauhi segala yang Dia larang.

Atau sebagaimana yang dikatakan ulama lain:

اتقاء عذاب الله بصالح العمل والخشية منه في السر والعلن .

Menjaga diri dari azab Allah dengan beramal Shalih serta merasa takut kepada-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”

Yakni menjaga diri dari azab Allah Subhanahu Wata’ala dengan selalu merasa berada dalam pengawasan-Nya, dan teguh menapaki jalan yang telah Dia gariskan baik ketika sendiri maupun ketika berada di hadapan orang lain.

Hiasilah diri Anda dengan ketakwaan. Sebab ,pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam tarbiah anak, berdasarkan iman dan Islam.

Jika pendidik tidak menghiasi diri dengan takwa, baik dalam perilaku, ucapan, dan pergaulan maka ini menjadi malapetaka besar bagi dirinya serta anak didiknya, bahkan menjadi musibah dalam dunia pendidikan. seperti pepatah “ guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Atas dasar itu, hiasilah diri sendiri dengan ketakwaan!

Dan ingatlah janji Allah, bahwa Dia akan memudahkan urusan orang yang bertakwa, memberi jalan keluar baginya, dan memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Allah Subhanahu Wataala berfirman:

ومن يتق الله يجعل له مخرج﴿٢﴾ ويرزقه من حيث لا يحتسب….﴿٣﴾ ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا ﴿٤﴾

“… Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang disangka-sangkanya…” ( QS.AthThalaq [65]: 2-3  “…dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS.Ath-Thalaq [65]:4 )

Anak yang Shalih adalah rezeki. Semoga dengan sebab ketakwaan Anda, sebagai orang tua sekaligus pendidik, Allah Subhanahu Wataala berkenan memberikan jalan keluar dan memberikan rezeki yang baik kepada Anda.

  1. Berilmu

Suatu keharusan bagi pendidik antara lain berbekal ilmu yang memadai. Pendidik harus mengetahui konsep-konsep dasar pendidikan menurut Islam. Mengetahui halal haram, prinsip-prinsip etika Islam, serta memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syariat Islam.

Mengapa demikian? Karena dengan mengetahui semua itu, pendidik menjadi seorang alim yang bijak, dan meletakkan segala sesuatu pada tempat nya, mampu bersikap proporsional dalam memberi materi pengajaran, bisa mendidik anak dengan pokok-pokok persyaratannya. Mendidik dan memperbaiki karakter anak dengan berpijak pada dasar-dasar yang kokoh. Mendidik dan mengarahkan anak didik dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan as-Sunnah.  Memberikan contoh yang baik kepada mereka dengan keteladanan agung dari nabi dan para sahabat.

Sebaliknya, jika pendidik tidak mengetahui semua itu, lebih-lebih tentang konsep dasar pendidikan Islam, maka anak akan dilanda kemelut spiritual, moral, mental, juga sosial. Anak tersebut pun menjadi manusia tidak berharga dan diragukan eksistensinya dalam segala aspek kehidupan.

Sebab, bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki sesuatu dapat memberikan sesuatu kepada orang lain ?

Mungkinkah, sebuah lampu pijar yang tidak berminyak dapat menerangi area sekitarnya yang gelap?

Betapa banyak orang tua yang berbuat aniaya terhadap anak-anaknya disebabkan mereka tak paham pokok-pokok pendidikan yang islami?

Betapa banyak anak yang terjerumus dalam kesengsaraan karena pendidik tidak mengetahui ilmu syariat?

Tidak diragukan lagi, tanggung jawab seorang pendidik amat besar disisi Allah kelak, yaitu pada hari ketika harta benda dan anak-anak tidak dapat menolong kita sama sekali. Dia Subhanahu Wataala berfirman:

وقفوهم إنهم مسؤلون  ﴿٢٤  

“Tahanlah mereka ( di tempat pemberhentian ),sesungguhnya mereka akan ditanya.”  (Qs. Ash-shafaat [37]:24)

Maka itu, untuk mendidik generasi muslim, pendidik harus membekali diri dengan segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan metode-metode pendidikan yang sesuai.

  1. Bertanggung jawab

Milikilah tanggung jawab besar dalam pendidikan anak, baik aspek keimanan maupun tingkah laku kesehariannya, yakni dalam pembentukan karakter anak dari sisi jasmaninya maupun rohaninya, dan dalam mempersiapkan kepribadian anak dari sisi mental maupun sosialnya.

Karena, rasa tanggung jawab dalam jiwa pendidik ini senantiasa mendorong dirinya untuk berupaya menyeluruh dalam mengawasi dan memperhatikan perilaku anak didik, mengarahkan dan mengikuti perkembangan pribadinya, serta membiasakan dan melatih amal Shalih nya.

Sebaliknya, jika rasa tanggung jawab ini pudar dari jiwa orang tua sebagai pendidik pertama dan utama, sehingga ia melalaikan dan mengabaikan tugas pengawasannya, maka secara bertahap anak akan terjerumus dalam kerusakan. Dan jika kelalaian itu berlangsung itu berlangsung terus-menerus, maka dampaknya menjadi ancaman yang sangat membahayakan. Kerusakan fisik maupun mental anak akan semakin parah, dan akan menjadi teramat sulit untuk memperbaikinya. Orang tua pun menyesal, jika hal tersebut benar-benar terjadi, tetapi sesal kemudian tiadalah berguna.

  1. Sabar dan Tabah

Dua sifat ini mutlak dibutuhkan oleh setiap pendidik. Sebab dalam proses pendidikan banyak tantangan dan ujian. Baik tantangan itu berasal dari diri kita sendiri, anak didik, maupun dari luar lingkungan.

Kita sebagai orang tua harus mampu mendidik anak dengan sebaik-baiknya, yaitu disela-sela sekian tugas dan tanggung jawab kita yang lain. Kita dihadapkan kepada berbagai macam karakter anak, ulah dan tingkah mereka, yang menuntut kesabaran ekstra. Belum ditambah dengan faktor luar, baik lingkungan sekitar, kawan bergaul, media massa, dan pengaruh personal lainnya.

Menghadapi semua tantangan serta ujian tersebut, kita tidak boleh menanggalkan ketabahan dan kesabaran. Dua sifat ini harus dipelihara, jangan sampai luput walaupun sekejap. Jika tidak demikian, niscaya ancaman kegagalan terpampang di depan mata Anda.

Dari sini dapat kita lihat dengan jelas di antara hikmah pujian Rasulullah Subhanahu Wataala kepada Asyaj Abdul Qais:

إن  فيك لخصلتين يحبهما الله تعالى : الحلم والأناة

“ Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang disukai Allah, yaitu ketabahan dan ketelitian.” (HR Muslim)

 

Referensi : Buku Mencetak Generasi Rabbani karya Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan. Hal 47 PUSTAKA IMAM ASY-SYAFI’I.

baca artikel lainnya:

Etika Pergaulan Seorang Muslim Maupun Muslimah

Hinanya Profesi Pengemis

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.