Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Penyakit Riya’ Dan Obatnya (Bagian 1)

penyakit riya dan obatnya

Penyakit Riya’ Dan Obatnya (Bagian 1) –  Segala puji hanya milik Allah rabb alam semesta, barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad, shalawat juga untuk para keluarga dan para sahabat beliau.

Penyakit yang paling besar yang menimpa hati secara umum adalah penyakit kesyirikan. Wal’iyadubillah karena syirik merupakan salah satu sebab segala keburukan ditimpakan ke dalam hati, dan setiap musibah masuk ke dalamnya, setiap yang dapat mengunci hati terjadi atasnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

كَذَالِكَ يَطْبَعُ اللهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang kafir.” [1]

Orang-orang musyrik selalu takut yang cemaskan, takut terhadap segala sesuatu, selalu gelisah ketika akan berpergian, bawaannya takut dan cemas, walaupun kelihatannya begitu tenang tapi pada dasarnya mereka adalah takut dan cemas.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

سَنُلْقِى فِى قُلُوبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِـمَآ أَشْرَكُوا بِاللهِ مَا لَـمْ يُنَزِّلِ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا وَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِـمِيْنَ

Artinya: “Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu.” [2]

Orang Musyrik Bingung Dan Cemas

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قُلْ أَنَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ كَٱلَّذِى ٱسْتَهْوَتْهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِى ٱلْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُۥٓ أَصْحَٰبٌ يَدْعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلْهُدَى ٱئْتِنَاۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kita akan memohon kepada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kita, dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di bumi, dalam keadaan kebingungan.” Kawan-kawannya mengajaknya ke jalan yang lurus (dengan mengatakan), “Ikutilah kami.” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya); dan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.” [3]

Orang-orang musyrik mereka itu merasa ketakutan dalam segala hal, takut terhadap sesembahannya, terhadap berhalanya ia menyangka bahwa berhalanya dapat menbahayakannya, bahkan ia menyangka bahwa berhalanya dapat membahayakan yang lain, tidakkah kita perhatikan perkataan mereka terhadap Nabi Nuh,

إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍۗ

Artinya: “Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” [4]

Orang-orang musyrik takut terhadap jin padahal ia berlindung dan beristighatsah kepadanya!

Orang musyik takut terhadap manusia!

Orang musyrik takut terhadap segala sesuatu walaupun secara dhahirnya pemberani!

Adapun orang mukmin maka hati mereka terasa tenang, hatinya kokoh, mengetahui dengan ilmu secara sempurna. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” [5]

Orang mukmin itu hatinya begitu tenang, damai tidak gelisah mengetahui secara sempurna bahwa tidaklah yang menimpanya melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah baginya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” [6]

Obat penyakit syirik ini adalah tauhid dan ikhlas dalam ibadah hanya kepada Allah saja:

Sujud hanya untuk Allah saja, tunduk hanya kepada Allah, Takut hanya kepada Allah, berharap hanya kepada-Nya, berdoa hanya kepadanya, Dialah Allah harapan kita, Dia yang memberikan kesembuhan, Dia yang menghidupkan, Dia yang mematikan! KepadaNya kembali segala urusan, ditanganNya perbendaharaan

segala sesuatu, yang menakdirkan takdir-takdir segala ciptaan-Nya, Dialah yang menentukan ajal setiap makhluk, yang meluaskan rizki hamba-hamba-Nya, menyempitkan siapa yang dikehendaki, memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki, meninggikan dan merendahkan siapa yang dikehendaki, menyulitkan dan meluaskan, tidak tawaf kecuali di rumah-Nya yaitu ka’bah, tidak menyembelih kecuali menyebutkan nama-Nya, amal tidak diterima kecuali ditunjukan hanya kepada-Nya, bagi-Nya hukum-hukum, bagi-Nya kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Oleh karena itu hati orang mukmin terasa tenang, tenang hatinya karena ia mengetahui dari mana datang kebaikan dan bagaimana keburukan tertolak.

Tenang hatinya tatkala mengetahui Rabbnya maka terjadi dalam hati rasa tenang sesuai dengan pengetahuan ia terhadap Rabbnya, dan terjadi dalam dirinya ketenangan sesuai dengan kadar keimanan, sehingga dalam hatinya merasakan ketenangan disertai keyakinan. Adapun orang-orang musyrik mereka gelisah terhadap tuhan-tuhan mereka.

Tidakkah kamu perhatikan perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam:

يَا قَومِ إِن كَانَ كَبُـرَ عَلَيكُمْ مَّقَامِي وَتَذْكِيـرِي بِآيَاتِ اللهِ فَعَلى اللهِ تَوَكَّلِتُ فَأَجِمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُـمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيكُمْ غُمَّةً ثُـمَّ اقْضُوا إِلَـيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ

Artinya: “Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanmu dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi.” [7]

Pembaca sekalian,,

Tidakkah kamu perhatikan perkataan kekasih Allah Nabi Ibrahim ‘alaihi wasallam:

وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَن يَشَاءَ رَبِّـي شَيئًا

Artinya: “Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu.” [8]

Dan juga firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ

Artinya: “Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” [9]

Tidakkah kamu perhatikan seorang wanita yang lemah, seorang wanita yang suaminya adalah orang yang zhalim seorang yang diketahui sejarahnya, ia adalah seorang wanita istri Fir’aun, seorang yang beriman dan berkata: “Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” [10] Lalu Allah menyelamatkannya dan tidak terpengaruh dalam hatinya ke sombongan dan kelaliman.

Begitu juga perkataan orang-orang ahlul iman, bahkan perkataan sebaik-baik manusia Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan perkataan sahabat-sahabatnya tatkala manusia berkata kepada mereka.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَـمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْـمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (173) فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةِ مِّنَ اللهِ وَفَضِلٍ لَّـمْ يَـمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang Ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Maka mereka Kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” [11]

Demikianlah bagaimana keteguhan hati dan ketenangan hati orang-orang beriman dalam segala hal.

Wallahu a’lam. Bersambung insyaallah…

 

MARAJI’:

  1. Al Qur’an
  2. Hadits Digital
  3. Obat Penawar Hati karya Mustofa Al ‘Adawi

 

[1] Q.S Al A’raf: 101

[2] Q.S Al Imran: 151

[3] Q.S Al An’am: 71

[4] Q.S Hud: 54

[5] Q.S Al An’an: 17

[6] Q.S At Taubah: 51

[7] Q.S Yunus: 71

[8] Q.S Al An’am: 80

[9] Q.S Al An’am: 81

[10] Allah abadikan di dalam surah At Tahrim: 11

[11] Q.S Al Imran: 173-174

 

Oleh : Abu Fahman Nafis Al Faruq

(Staf Pengajar di Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.