Mengungkap Kebenaran Sejarah Maulid Rasulullaah Shallalalahu ‘alaihi Wasallam

Dewasa ini sudah menjadi suatu kebiasaan dan kewajiban bagi sebagan umat isalam di dunia khususnya daerah indonesia yaitu merayakan hari kelahiran Nabi besar Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam. Kali ini penulis akan memaparkan hakikatnya kecintaan kita sebagai umat muslim dan percaya akan Nabi Muhammad sebagai Khatimul Anbiya. Orang yang memperhatikan sejarah nabi serta sejarah para sahabat dan para atba’ tabiin bahkan hingga generasi sesudah tahun 350 H, tidak akan mendapatkan seorangpun dari umat islam yang mengadakan mauludan atau perayaan maulid nabi, atau memerintahkannya, atau bahkan membicarakannya. Imam Al-Hafidz AsySyakawi asy– syafi’ dalam fatawanya berkata : “ perayaan maulid tidak dinukil dari seorangpun dari salaf shalih di tiga zaman yang utama. Akan tetapi stelah itu.” (mengutip dari Subuhul Huda war-Rasyad (1/439), karya al-shalihi, Cetakan Kementrian Waqaf Mesir).

Kewajiban Mencintai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Cinta kepada Nabi adalah ibadah yang agung, dan merupakan salah satu pokok agama dan pilar iman. Rasulullah bersabda :

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Demi Dzat dan yang jiwaku berada dalam tangannya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari pada dirinya, hartanya, dan anaknya serta manusia seluruhnya” (HR.Al-Bukhari)

Mengapa harus cinta Nabi shallallaahu ‘alaihi wassalam?

Yang menjadi alasan mengapa harus cinta Nabi adalah :

  1. Sebagai realisasi keinginan Allah dan cinta kepada-Nya.

Makhluk yang paling dicintai oleh Allah adalah Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah menjadikannya Al-Khalil, memujinya dengan pujian yang tidak diberikan kepada selain beliau. Konsekuensinya adalah setiap muslim wajib mencintai apa yang dicintai oleh Allah, dan bahkan ini termasuk kesempurnaan cinta kepada Allah.

  1. Konsekuensi iman

Rasulullaah shallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan konsekuensi iman adalah mencintai Nabi, memuliakan dan mengagungkannya.

  1. Keistimewaan Nabi adalah manusia yang paling mulia, paling bersih, paling dermawan dan paling agung dalam segala hal. Tetntunya keistimewaan ini menjadi alasan bagi kita untuk menjadikan Nabi sebagai manusia yang paling kita cintai.

  2. Besarnya cinta Nabi kepada umatnya.

  3. Kesugguhan dan jasa besar Nabi dalam berdakwah.

Seorang muslim hendaknya mengetahui betapa besarnya jasa dan pengorbanan Nabi dalam berdakwah, mengajak umatnya, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya terang. Diantara cara merealisasikan cinta kepada Beliau adalah sebaai berikut:

  1. Mendahulukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wassalam atas siapapun.

  2. Beradab dan bersopan santun bersama beliau.

Hal ni diwujudkan dengan hal-hal sebagai berikut. Yatu dijelaskan dalam firman-Nya :

انَّ اللّه وَمَلَئكتَهُ يُصَلّوْنَ عَلَى النَّبِي يَااَيُّهَالّذيْنَ اَمَنُوا صَلّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُ تَسليْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman ! bershalawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS.Al-Ahzab : 56)

  1. Membenarkan berita yang disampaikan Rasulullaah

Ini termasuk pondasi iman dan pilarnya, bukti dalam masalah ini adalah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di pagi hari setelah Isra’ Mi’raj sehingga ia digelari As-Shiddiq.

  1. Mengikuti beliau, taat dan mengambil petunjuk beliau.

Mentaati Rasulullaah merupakan ekspresi yang hidup dan jujur tentang cinta nabi shallallaahu ‘alaihi wassalam

  1. Membela Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menolongnya merupakan tanda kecintaan dan penghormatan terhadap beliau.

Sejarah Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Orang yang memeperhatikan sejarah nabi serta sejarah para sahabat dan para atba’ tabiin bahkan hingga generasi sesudah tahun 350 H, tidak akan mendapatkan seorangpun dari umat islam yang mengadakan mauludan atau perayaan maulid nabi, atau memerintahkannya, atau bahkan membicarakannya. Imam Al-Hafidz AsySyakawi asy– syafi’ dalam fatawanya berkata : “ perayaan maulid tidak dinukil dari seorangpun dari salaf shalih di tiga zaman yang utama. Akan tetapi stelah itu.” (mengutip dari Subuhul Huda war-Rasyad (1/439), karya al-shalihi, Cetakan Kementrian Waqaf Mesir).

Jadi pertanyaannya sejak kapankah perayaan mauld ini ada ? Apakah diadakan oleh para ulama, atau para raja, atau para khulafa’ ahlussunnah yang dipercaya agamanya? Ataukah dari orang-orang yang menyimpang ?

Pertanyaan ini dijawab oleh para ulama islam, di antaranya oleh Syaikhul Azhar Syaikh Athiyah Shaqr : “para sejarawan tidak mengetahui seorangpun yang merayakan maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebelum dinasti Fathmiyyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Hasan As-Sandubi :”mereka merayakan maulid Nabi di Mesir dengan pesta yang besar mereka membuat kue dalam jumlah yang besar dan membagi-bagikannya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qalqaasandi dalam kitabnya Shubhul A’sya.”

Tiga kurun waktu yang mulia dan utama berlalu, namun tidak ada seorangpun dari para sahabat nabi, dan para tabi’in yang melakukan maulid nab, padahal mereka yang yang paling menegerti tentang sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wassalam. Sampai akhirnya muncullah Banu Ubaid Al-qaddah yang menamakan dirinya sebagai Fathimiyyin, mengaku sebagai keturunan Ftaimah dan Ali bin Abi Thalib secara dusta.

MAULID NABI PERTAMA :

Berikut ini adalah kesaksian para ulama bahwa pelopor Maulid Nabi adalah kaum Syi’ah kebatinan Banu Ubaid Fathimiyyah ;

  1. Taqiyyudin al-Maqrizi Syafi’i al-Mishri (766-845 H).

Dalam kitab Ak-Khuttath berkata : “menyebut hari-hari dimana para khalifah Fathimiyyah menjadikannya sebaga hari raya dan musim perayaan, pesta besar bag rakyat dan banyak kenkmatan didalamnya untk mereka.” Lalu dia mengatakan : adalah para khalifah Fathmiyyah disepanjang tahun memilki hari raya dan hari-har besar, yaitu ; hari Raya Tahun Baru, Hari Raya Asyura, Hari Raya Maulid Nabi, hari raya maulid Ali bin abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, Maulid Fatimah, MAULID Khalih al-hadir(yang sedang berkuasa), malam awal rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Ramadhan, Ghurah (awal)ramadhan. (al-Mawaizh wal-l’tibar bi dzikril –khuttaht wal Atsar :1490).

  1. Mufti dhiyyar al-Mishriyyah yang duluSyakh Muhhammad ibn Bukhait al-Muthi. Berkata : “sesungguhnya orang pertama yang mengadakan mauludan di Kairo adalah para khalifah Fathimiyyah, yang pertama sekali dari mereka adalah al-Muiz Lidinillah (pada tahun 362 H ).

  2. Syaikh Ali Mahfudz salah seorang ulama mesir berkata : “ di katakan bahwa yang peertama kali mengadakan mauludan di Kairo adalah para Khalifah Fathmiyyah di abad ke-4. Mereka mebuat bid’ah 6 maulid: maulid nabi, maulid imam alai, maulid sayydah Fatimah Al-Zahra, maulid Hasan dan maulid husen, dan mauld khalifah al-hadhr (yang ada) (al-ibda’ fii madhoor al-ibtida :251).

  3. DR. Hasan Ibrahim Hasan (mantan rektor universitas As-Syuth) dan DR. Thaha Ahad Syaraf. Dia mengatakan “ sesungguhnya al-Muiz ikut bersama-sama rakyatnya merayakan tahun baru Hijriyyah, maulid nabi, malam rajab, pertengahan rajab, awal Sya’ban dan nisfu sya’ban dan musim awal ramadhan agar tidak membangkitkan perasaan benci dihat ahli sunnah dan mendekatkan jarak perbedaan anatara sunnah dan syia’ah . al-Muiz menjadikan perayaan-perayaan ini sebagai sarana untuk menyebakan madzhab ismaliyyah.

SIAPA ITU BANU UBAID ?

Banu ubaid yang mengaku sebagai keturunan fathmiyyun dan tidak diakui oleh para ulama seagai keturunan ahlul bait, bhakan mereka mengingkari dan menghulumi mereka sebagai zindik sesak.

  1. Al-Qadhy Abu Bakar al-Baqilany: “ mereka adalah kaum yang menampakan penolakan kepada khalifah abu bakar dan umar dan menyembunyikan kekufrab murni.” (dari ibnu Kastir dalam al-bidayyah wan nihaayah : 11/387). “

  2. Ibnu katsir As-yafi’i ad-Dimisyqi (774 H). Dia berkata : “yang menjadi raja dari mereka pertama kali adalah al-Mahdi, dia seorang tukang besi Salimiyyah. Dia adalah seorang Yahudi yang masuk ke negriMagrb dan menyebut drnya dengan Ubaidillah. Dia mengaku sebagai Syarif Alawi Fathimi (orang mulia keturunan Ali dan fatimah, kalau di indonsia debt habb). Dia mengaku sebagai imam al-Mahdi. Kedustaan al-Kaddzab in ternyata laris dikalangan orang-oarang bodoh di Maghrb, akhirnya ia punya negara dan memebangun kota yang dsaebut al-aahdiyyah. Ia menjadi yang dita’ati ia yang menampakan penolakannya kepada (khulafaur Rasyidin) dan menyembunyikan kekufuran murni. Ia diganti oleh putranya al-Qaim Muhammad, kemudian putranya al-manshur Ismail, kemudan putranya al-Muiz. Ini adalah petaka bag islam sejak awal kerajaan mereka hingga akhirnya yaitu Dzulhijjah tahun 299 H hingga 567 H.

MENGAPA MEREKA MEMBUAT PERAYAAN MAULID ?

Minimal ada alasan yag melatar belakangi pengadaan acara maulidan :

  1. Untuk meyakinkan masyarakat bahwa nasab mereka benar-benar berasal dari ahlul bait.

  2. Memikat hati rakyat, karena mereka menghamburkan uang dan makanan serat hbran di hati itu untuk masyarakat , sehingga mereka selalu enunggu perayaan tersebut, terus menjadi akidah dihati mereka. Begitu cerdiknya dan licknya bani ubaid ini, mereka mengetahu bahwa orang mesir sangat menyukai denganpesta malam, dan hal ini dilakukan untuk memaskan perasaan orang-orang mMesir secara keagamaan dan untuk membesarkan gerakan tasawwuf.

  3. Menyibukkan masyarakat sehingga tdak memiliki kesempatan untuk mengoreksi penguasa. Dan tjuan politik melalui acara maulidan masih terus berlangsung hngga hari ini, maka tidak heran setiap acara ni selalu dihadiri oleh kedutaan Amerika. Yang menanam benih akidah syia’ah dan rofidhoh adalah orang Yhudi Abdullah bn saba’ dan yang mempelopori maulid adalah kaum Ubaidiyyah anak keturunan Yahudi Ubaidillah bn Maimun al-Qaddah.

Referensi :

  • Al-Qur’anul Kariim
  • Ringkasan dari Majalah Qiblati “Gebyar Maulid Nabi “, Edisi 06 tahun IV 03-1430 H/ 03 – 2009

Penyusun : (ummu zulfa ) Ayusa Al Adawiyah S.Pd. I

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*