Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

BILA BERBOHONG JADI BIASA

BOHONG

BILA BERBOHONG JADI BIASA

 

 

            Diantara pendidikan yang harus dilakukan orang tua adalah menanamkan akhlak jujur dalam jiwa anak. Demikian juga membersihkan jiwa anak dari kedustaan atau perilaku berbohong, jangan sampai perilaku berbohong menjadi kebiasaan mereka, sebab kejujuran adalah asas dan intisari segala kebaikan. Sedangkan dusta atau kebohongan adalah asas segala keburukan.

 

Jangan Memberi Pembenaran Dalam Suatu kebohongan

Berbohong adalah perilaku negatif anak yang tidak boleh diremehkan. Bila orang tua mendapati anaknya berbohong, seperti anak mengucapkan kata yang terdengar lucu dan manis namun dia sedang berbohong maka hendaknya orang tua segera meluruskan perilakunya, jangan sampai lemah. Jangan memberikan pembenaran atas kebohongannya, karena sifat dan kebiasaan buruk ini bila tidak diatasi sejak dini akan terbawa hingga dewasa. Anak akan tumbuh menjadi seorang pembohong dan ini akan berimbas negatif terhadap kehidupan masa depannya bahkan akhiratnya.

 

Dalam hadits yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

 

“Sesungguhnya kejujuran akan membawa menuju kebaikan, dan kebaiakan akan menghantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan akan menghantarkan ke neraka. Sesungguhnya seseorang terbiasa berbohong, sampai akhirnya ia benar-benar ditetapkan di sisi Allah sebagai pembohong”. (Muttafaq Alaih)

 

Bila orang tua mengetahui gejala kebohongan, tanganilah dengan bijaksana dan tenang. Cari pemicu dan penyebabnya, kemudian hilangkan.  memojokkan anak untuk mengetahui kebohongannya dengan cara memaksa. Sebaliknya, lakukan pendekatan yang lebih bersahabat sehingga anak nyaman dan cenderung lebih mudah mengakui kesalahannya. Niscaya anak anda akan kembali  menjadi baik, bersih dan jujur dengan ijin Allah.

 

Bagaimana Bila Orang Tua Tahu Anaknya Berbohong

Bila orang tua jeli memperhatikan dan memahami setiap tahapan pertumbuhan anaknya, maka dia akan tahu bila anaknya menyembunyikan sesuatu dengan melihat dari ekspresi wajahnya, pembicaraanya ataupun gesture tubuhnya, karena diantara kejujuran itu adalah tenangnya hati, sebaliknya diantara tanda kedustaan adalah kebimbangan hati dan hal itu  bisa dilihat dari gerak-gerik anak-anak anda wahai para orang tua, dengan perhatian anda akan perubahan anak walaupun kecil akan membantu  anda memadamkan  api kebohongan sebelum menjadi besar dan membahayakan.

Sebagimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam at_Tarmidzi secara Marfu’ dari hadits al-Hasan bin Ali, dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

 

فإن الصدق طمأنينة والكذب ريبة

 

Artinya:

“kejujuran itu ketentraman dan dusta itu keragu-raguan” (Shahih, HR. Tirmidzi dalam sunannya)

 

Jadilah Panutan Untuknya

Anak-anak  adalah peniru yang baik. Mereka meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong. Maka kalau tak ingin anaknya jadi pembohong, janganlah jadi orang tua pembohong. Jadilah teladan dalam kejujuran, karena orang tualah yang palingh sering berada dekat mereka.

Maka ada bebrapa hal yang harus diperhatikan orang tua agar menjadi teladan bagi anak dalam menjauhi kebohongan.

 

  1. Tidak berpura-pura memberikan sesuatu

 

  1. Tidak berdusta walaupun bercanda

 

Dari Ibnu ‘Umar, Rosulullah bersabda,

 

إني لأمزج ولا أقول إلا حقا

 

“Aku juga bercanda namun aku tetap berkata benar”. (Shahih, HR Ahmad)

 

  1. Tidak berdusta walaupun ingin membuat tertawa

Dari Bahz bin hakim,ia berkata bahwa ayahnya hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda:

 

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR Tirmidzi, dll)

 

 

Menanamkan Kejujuran Sejak Dini

Ajarkan  kepada mereka pengertiannya dan perbedaanya dengan kebohongan. Doronglah anak untuk jujur, dengan memberitahukan ganjaran dan dampak positifnya di dunia dan akhirat. Sanjunglah sikap jujur, dan pujilah mereka dengan kebaikan ketika berlaku jujur. Diantara hal yang bisa dilakukan orang tua:

 

  1. Tanamkan nilai ketakwaan kepada Allah

sampaikanlah pada anak, bahwa Allah Maha Melihat apa yang kita lakukan. Sebagaimana Lukmanul Hakim Mengajarkan kepada anaknya bahwa Allah meliputi segala sesuatu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mengisahkan tentang wasiat Lukman kepada anaknya: “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangtkan (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Lukman/31:16).

 

  1. Ajarkan keutamaan perbuatan jujur

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan menghantarkan seseorang ke Surga.” (Muttafaq Alaih)

 

Allah memberitahukan nilai kejujuran, bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang akan menentukan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya. Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.

 

c. Beritahukan kepadanya akibat berbohong

jelaskan pada anak bahwa berbohong adalah perbuatan terlarang dan haram. Dalam sebuah hadits diterangkan tentang jenis ancaman hukum di akhirat bagi pendusta. Sehingga akibat kedustaan atau kebohongan adalah petaka dan neraka.

 

Hindari Memberi Hukuman Yang Terlalu Berat Pada Anak

Jika kita ingin memberikan hukuman kepada anak karena kesalahannya, maka harus  melihat dan mempertimbangkan seberapa besar kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya, sehingga tidak setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman yang berat.

Ajarkan anak-anak bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, dan harus dipertanggung jawabkan. Memang sesekali waktu, anak-anak bisa saja melakukan kesalahan, namun bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka bisa belajar dari kesalahan tersebut. Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya akan belajar untuk menjaga kepercayaan dan berusaha senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.

 

Hargai Setiap Usaha Yang Dilakukan Anak-anak

Disini orang tua harus mampu memotivasi anak untuk melakukan apa yang sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua menditeksi bahwa anaknya mungkin akan berbohong untuk bisa mendapatkan tuntunan orang tuanya,sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Maka hendaklah orang tua memperhatikan bagaimana cara Rasulullah memotivasi umatnya, sebagaimana dalam hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

 

“Seorang yang lancar membaca al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca al-Qur’an dan terbata-bata didalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.” (HR. Mulim)

 

Demikianlah,seharusnya kepribadian asli seorang Muslim adalah pribadi yang jujur dan amanah. Sedangkan berkhianat dan berbohong bukanlah sifat seorang Mu’min. Berkata Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu:

 

“Seorang mu’min dapat terbentuk wataknya berdasarkan watakapasaja kecuali khianat dan dusta.”

 

kita berlindung kepada Allah dari termasuk orang-orang yang suka berbohong. Wa Lillahit Taufiq

 

Sumber :

Majalah As-Sunnah Edisi Khusus No,01-02/THN.XXIII/Ramadhan-Syawal 1440 H/ Mei-Juni 2019 M

Diringkas Oleh: M. Furqon (Koki Dapur Pondok Pesantren Darul-Qur’an Wal-Hadits Oku Timur)

Baca Juga Artikel:

Adab Terhadap Buku

Ujian dari Allah dan Cara Mengatasinya

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.