JALAN YANG SELAMAT

Jalan kebenaran yang akan menyampaikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala hakikatnya hanya satu. Allah berfirman,

وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan kata ‘sabil’ (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal, karena kebenaran hanyalah satu.

Oleh karena itu, Allah menyebut “jalan lain” dengan bentuk jamak (jalan-jalan), karena bercabang dan berpencar; seperti firman Allah,

“Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Semakna dengan penjelasan Ibnu Katsir ini diucapkan oleh Ibnul Qayyim. (At-Tanbihat as-Sunniyah hlm. 42)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  membuat garis di hadapan kami sebuah garis lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata,  ‘Ini adalah jalan Allah.’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis-garis di kanan-kirinya kemudian berkata, ‘Ini adalah jalanjalan (lain) di mana di setiap jalan ada syaitan yang menyeru kepadanya.’

Kemudian beliau membaca ayat,

‘.. dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga menceraiberaikan kalian dari jalan Allah.’ (al-An’am: 153)”[ Sahih, HR. Ahmad dan yang lainnya, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah no.17 hlm. 13

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hal ini karena jalan yang menyampaikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala hanya satu, yaitu sebab Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul-Nya dan Allah turunkan kitab-kitab-Nya. Tidaklah seorang pun akan sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan ini. Seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan semua pintunya, maka semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuali melalui jalan ini. Sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan Allah dan akan menyampaikan kepada-Nya.”[ At-Tafsirul Qayyim hlm. 14-15, dinukil dari Sittu ad-Durrar hlm. 53]

Asy-Syatibi rahimahullah berkata, “Ayat di atas adalah nash yang tegas pada permasalahan kita. Sesungguhnya jalan (kebenaran) itu hanya satu, tidak menghendaki adanya keberagaman, berbeda dengan jalan yang bermacam-macam.” (Al-I’tisham, 2/756)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa jalan al-haq hanyalah satu yang bersifat umum di dalam syariat, baik secara global maupun terinci. Sementara itu, ayat-ayat yang mencela perbedaan serta memerintahkan untuk kembali kepada syariat demikian banyak. Semuanya, secara pasti menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan di dalam syariat ini (bahkan) sumbernya hanya satu dan sepakat.”(  Dinukil dari al-Adhwa’u al-Atsariyyah hlm. 155)

Jadi, adanya ayat-ayat yang mencela berpecah-belah itu memperkuat bahwa al-haq (kebenaran) hanyalah satu.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

“…Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itu golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)

“Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 56)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa ulama kami berkata, “Ayat ini memutuskan bahwa antara kebenaran dan kebatilan tidak ada kedudukan yang ketiga, yaitu masalah tauhid. Demikian pula dalam masalah yang serupa, yaitu masalah prinsip yang kebenaran itu hanya ada pada satu pihak.” [Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 8/336}

Dalam sebuah hadits dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan ada sekelompok dari umatku selalu menang di atas kebenaran, tidak bermudarat terhadap mereka orang yang meremehkan mereka hingga datangnya keputusan Allah. Sementara mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Sahih, HR. Muslim no. 4927 dan al-Bukhari meriwayatkan yang semakna dengannya dari sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu no. 7311-7312)

Dari Auf bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Yahudi berpecah menjadi 71 golongan. Satu berada di surga dan 70 di neraka. Nasrani telah berpecah menjadi 72 golongan, 71 berada di neraka dan satu di surga. Demi Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh umatku akan berpecah menjadi 73 golongan, satu berada di surga dan 72 di neraka.”

Para sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Al-Jamaah.” ( Sahih, HR. Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim, dan al-Lalikai. Asy-Syaikh Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus.)

Dalam hadits lain, dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Mereka adalah) siapa saja yang seperti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.” ( Dinyatakan hasan oleh al-Albani. Lihat ash-Shahihah no. 1347, al-Misykah no. 171, dan Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2641. Lihat pula Iftiraqul Ummah, hlm. 17-18)

Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Sabda beliau, ‘kecuali hanya satu,’ memberikan (pengertian) dengan tegas bahwa kebenaran hanya satu dan tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu banyak/beragam kelompok, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak berkata, ‘Kecuali hanya satu’.” (  Al-I’tisham, 2/755)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إن الدين عند الله الإسلام

“Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, tidak akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Dengan demikian, prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan JIL dan para pengikutnya. Sebab, konsekuensi dari pendapat mereka itu adalah bahwa al-haq (kebenaran) tidak hanya satu dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, justru benar atau terpuji. Jika demikian, gugurlah prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Sungguh, ini merupakan pendapat yang menyelisihi kesepakatan orang berakal, terlebih lagi orang yang berilmu. Selain itu, juga menyelisihi dalil al-Qur’an dan al-Hadits.

Di ringkas dari majalah Asy Syariah,ditulis oleh Ustadz Qomar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.