Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Tahapan Kedua Dakwah Rasulullah

tahapan kedua dakwah rasulullah

Tahapan Kedua Dakwah Rasulullah – Selama tiga tahun Rasulullah menyebarkan wahyu dari Allah Subhanahuwata’ala, berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi, tibalah saatnya Allah subhanahuwataala memerintahkan beliau untuk melakukan dakwah secara terang terangan, sehubungan  dengan hal ini ayat pertama yang turun adalah:

وأنذر عشيرتك الأقربين

Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (Asy syu’ara : 214)

Sebelumnya terdapat alur cerita  yang menyinggung kisah  Musa alaihissalam dari permulaan kenabian hingga hijrahnya bersama Bani Israil, lolosnya mereka dari kejaran Firaun dan kaumnya serta tenggelamnya Fir’aun bersama kaumnya, kisah ini mengandung semua tahapan yang dilalui Musa Alaihisalam dalam dakwahnya terhadap Firaun dan kaumnya agar menyembah Allah.

Seakan-akan rincian ini semata-mata dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah  untuk berdakwah kepada Allah secara terang-terangan agar di hadapan beliau dan para sahabatnya terdapat contoh atas pendustaan dan penindasan yang akan mereka alami nantinya manakala mereka melakukan dakwah tersebut secara terang-terangan.  Demikian pula agar mereka mengetahui resiko dari hal itu semenjak awal memulai dakwah mereka tersebut.

Selain itu,  surat tersebut (Asy Syuara) juga berbicara mengenai nasib yang dialami oleh para Pendusta para Rasul,  di antaranya sebagaimana yang dialami oleh kaum Nabi Nuh,  kaum Ad dan Tsamud, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Luth dan kaum-kaum lainnya semua itu dimaksudkan agar mereka yang akan melakukan pendustaan menyadari apa yang akan terjadi terhadap mereka dan siksaan Allah yang akan mereka alami bila terus melakukan pendustaan.  Sebaliknya,  agar kaum mukminin mengetahui bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.

Setelah turunnya ayat tersebut,  Rasulullah mengundang para kerabat terdekatnya, Bani Hansyim. Mereka pun datang memenuhi  undangan itu disertai beberapa orang dari bani Al Muthalib Bin Abdi Manaf.  Mereka semua berjumlah sekitar 45 orang laki-laki.  Namun tat kala Rasulullah  akan berbicara,  tiba-tiba Abu Lahab memotongnya Seraya berkata, “ Mereka itu adalah paman paman mu dan para sepupumu.  bicaralah dan tinggalkanlah menganut agama baru.  Ketahuilah!  bahwa kaummu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab.  aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu.   cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu.   bagi mereka,  jika engkau bersikeras melakukan apa yang kau lakukan sekarang,  adalah lebih mudah ketimbang bila seluruh  warga Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu.   aku tidak pernah melihat ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih jelek dari apa yang kau bawa ini. “ Rasulullah hanya diam dan tidak berbicara pada pertemuan itu.

Sekali waktu beliau mengundang mereka lagi, lantas berbicara “Alhamdulillah, aku memujiNya,  meminta pertolongan,  beriman serta bertawakal kepadaNya.   Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu baginya .“ 

Selanjutnya beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri.  Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali dia!  Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang datang kepada kalian secara khusus,  dan kepada manusia secara umum.  Demi Allah!  sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur.   Sungguh kalian akan dihisab ( dimintai pertanggungjawaban)  terhadap apa yang kalian lakukan.  sungguh sesungguhnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang kekal.”

Kemudian Abu Thalib berkomentar “Alangkah senangnya kami membantumu,  menerima nasihatmu,  dan sangat membenarkan kata-katamu.   Mereka yang merupakan suku-suku dari pihak Bapakmu telah berkumpul.  Sesungguhnya  aku hanya salah seorang dari mereka,  namun aku adalah orang yang paling cepat merespon apa yang kau inginkan.   oleh karena itu,  teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah!   aku aku akan senantiasa melindungi dan membela hanya saja diriku tidak mempunyai cukup keberanian kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muthalib.”

Ketika itu Abu Lahab berkata, “ demi Allah! ini  benar benar merupakan  aib yang besar. Ayo cegahlah dia sebelum orang lain yang turun tangan mencegahnya!”

Abu Thalib menjawab , “Demi Allah! sungguh selama kami masih hidup kami akan membelanya.’

Setelah Nabi merasa yakin dengan janji pamannya,  Abu Tholib, yang akan melindunginya dalam tugasnya menyampaikan wahyu Rabbnya,  suatu hari beliau  berdiri di atas bukit Shafa Seraya berteriak “Ya Shabahah!” ( seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul waktu pagi dan biasa digunakan untuk perang)  lalu berkumpullah suku suku Quraisy.   kemudian nabi mengajak mereka untuk bertauhid kepada Allah,  beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari akhir.

Imam Al Bukhari telah meriwayatkan satu sisi dari kisah ini,  Yaitu hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas,  dia berkata,

“Tak kala turun ayat ‘dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.(Asy syua’ara 214) Nabi naik ke atas bukit Safa,  lalu menyeru, ‘Wahai Bani fihr!  wahai Bani Adi!  seruan ini diarahkan kepada marga-marga Quraisy kemudian tak Berapa lama mereka pun berkumpul.   karena Begitu pentingnya panggilan ini,  seseorang yang tidak bisa keluar memenuhinya, Mengirimkan utusan mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi? maka tak terkecuali Abu Lahab pun berkumpul juga Kemudian beliau berbicara “Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan berkuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian,  apakah  Apakah kali aku mem memper mempercayaku?’

Mereka menjawab.  ‘Ya! Kami  tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran

Beliau  berkata. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan azab yang amat Pedih’

Abu Lahab Menanggapi,  Celakalah engkau sepanjang hari ini!  Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?”

Maka ketika itu turunlah ayat:

تبت يدا أبي لهب وتب

Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab…” (QS. Al-masad ayat: 1).

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan satu sisi lain dari kisah tersebut,  yaitu riwayat  dari Abu Hurairah dia berkata,

Tak kala ayat turun Rasulullah mendakwahi mereka.  sesekali bersikap bersifat umum,  dan sesekali bersifat khusus, Beliau berkata ‘  Wahai kaum Quraisy! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Kaab! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.    Wahai Fatimah binti Muhammad Selamatkanlah dirimu dirimu dari api neraka! Demi Allah! Sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu pun pun untuk menyelamatkan kalian dari azab Allah yang hanya saja kalian memiliki ikatan kerabat denganku yang senantiasa akan aku sambung.”

Teriakan yang keras ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah,  yang optimal Di mana Rasulullah telah menjelaskan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut adalah bentuk efektivitas semua hubungan antara dirinya dan mereka. Demikian pula,  bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudayakan oleh orang-orang Arab akan meleleh didalam panasnya peringatan yang akan datang dari Allah tersebut

Teriakan lantang yang diberikan oleh Rasulullah tersebut masih terasa gaungnya di seluruh penjuru Mekah puncaknya saat turun firman Allah Ta’ala:

فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Maka Sampaikanlah oleh dirimu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik (QS. Al-Hijr: 94)

Lalu Rasulullah melakukan dakwah Islam secara terang-terangan di tempat berkumpul dan bertemunya kaum musyrikin.   beliau membacakan kitabullah kepada mereka dan menyampaikan ajakan yang selalu disampaikan oleh para rasul terdahulu kepada kaum mereka “Hai kaumku!  sembahlah Allah.  kalian tidak memiliki Tuhan selainnya”  Ia juga Mulai memamerkan praktik ibadahnya kepada Allah di depan mata mereka:  melakukannya di halaman Ka’bah pada siang hari secara terang-terangan dan disaksikan halayak ramai.

Dakwah yang beliau lakukan tersebut semakin mendapatkan sambutan sehingga banyak orang yang masuk kedalam agama Allah satu persatu.  Namun kemudian antara mereka yang memeluk Islam dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadi gap: saling membenci dan saling menjauhi.   melihat hal ini,  kaum Quraisy merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitkan mereka.

Sepanjang hari-hari tersebut, ada hal lain yang membuat kaum Quraisy gundah gulana,  yaitu hanya berselang beberapa hari atau bulan saja dakwah jahriyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa) mendekati musim haji.   dalam hal ini,  kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi bangsa bangsa Arab akan datang ke negeri mereka.   oleh karena itu,  mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang nantinya (secara sepakat)  mereka sampaikan kepada generasi tersebut perihal Muhammad agar dakwah yang disiarkannya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jiwa-jiwa delegasi bangsa-bangsa Arab tersebut.  Maka berkumpullah mereka di rumah Al Walid Bin Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan disepakati bersama tersebut.  Lalu Al Walid berkata “ Bersepakatlah mengenai perihal Muhammad dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga membuat sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain sebagian lain mementahkan pendapat sebagian yang lain”

Mereka berkata kepadanya ”Katakan kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan!”

Lalu dia berkata, “Justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian dan aku sebagai pendengar”

Mereka berkata kepadanya, “Kita katakan dia adalah seorang dukun”

Al-Walid menjawab, “Tidak! Demi Allah Dia bukanlah seorang dukun.   kita telah menyaksikan bagaimana praktek para dukun.  sedangkan yang dikatakannya bukan seperti komat-kamit ataupun sajak mantra-mantra para dukun”

Mereka berkata lagi, “Kita katakan saja, dia orang gila..”

Dia menjawab ”Tidak! Demi Allah dia bukan orang gila.   kita telah mengetahui gila dan telah mengenalnya sedangkan yang dikatakannya bukan dalam kategori tertekan,  kerasukan ataupun was-was sebagaimana kondisi orang gila lainnya”

Mereka berkata lagi, ”Kalau begitu kita katakan saja Dia adalah orang penyair”

Dia menjawab, “Dia bukan seorang penyair kita mengenal semua bentuk syair; razaz, hajaz, qoridh , maqbudh, dan mabsuthnya,.Sedangkan yang dikatakannya bukanlah syair,”

Mereka Kemudian berkata”  kalau begitu,  Itu apa yang harus kita lakukan saat kita katakan?

Dia menjawab “  Demi Allah! Sesungguhnya ucapan dikatakan Itu Amatlah manis dan indah.   akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang.  Tidaklah kalian menuduhnya dengan salah satu dari hal tersebut melainkan akan diketahui kebatilannya.   Sesungguhnya, Pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dia seorang tukang sihir yang membawa satu ucapan berupa sihir,  yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya,  saudara istri dan keluarganya.  mereka selalu menjadi terpisah darinya lantaran hal itu.”

Sebagian riwayat menyebutkan,  bahwa tak kala Al-Walid menolak semua pendapat yang mereka Kemukakan kepadanya,  mereka berkata kepadanya “  Kemukakan kepada kami pendapatmu yang tidak ada celanya”

Lalu dia berkata kepada mereka.  ” Beri aku kesempatan barang sejenak untuk memikirkan hal itu lantas awal berpikir dan menguras otaknya hingga dia dapat menyampaikan kepada mereka pendapatnya tersebut sebagaimana yang disebut diatas.

Dan mengenai Al Walid ini Allah menurunkan 16 ayat yang merupakan bagian dari surat Al-Muddatstsir yaitu dari ayat 11 hingga ayat 26 diantara Ayat tersebut terdapat gambaran bagaimana di berpikir keras sebagaimana dalam firman-nya

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan apa yang ditetapkannya Celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan kemudian Celakalah ah dia! Bagaimana dia menetapkan kemudian yang memikirkan sesuatu yang bermassa muka dan kemudian ia berpaling dari kebenaran dan menyombongkan diri lalu dia berkata Alquran ini tidak hanya tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang dahulu ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”

Setelah majelis menyepakati keputusan tersebut,  mereka mulai menerapkannya dengan cara duduk-duduk di jalan jalan yang dilalui orang hingga delegasi Arab datang pada musim haji.  Setiap ada orang yang lewat,  mereka memperingatkan mereka dan mereka singgung dihadapannya perihal Rasulullah.

Sedangkan yang dilakukan oleh Rasulullah manakala musim haji telah datang adalah membuntuti jamaah-jamaah yang datang hingga sampai ke tempat-tempat mereka berkemah,  di pasar ukaz. Majannah, dan dul majaz.   Beliau mengajak mereka untuk menyembah Allah, sedangkan Abu Lahab selalu membuntuti di belakang beliau memotong setiap ajakan beliau dengan berbalik mengatakan kepada mereka “ jangan kalian patuhi dia karena dia adalah seorang pembawa agama baru lagi pendusta”

Kenyataannya, justru dari Musim itulah perihal Rasulullah menjadi pusat perhatian delegasi bangsa-bangsa Arab sehingga namanya menjadi buah bibir orang di seantero negeri Arab.

Demikianlah tahapan kedua dakwah Rasululah  dalam berdakwah, yakni berdakwah dengan cara terang-terangan artinya secara langnsung, meskipun sebagaimana di sebutkan dalam surat Asy-Syuara, dan dikisahkan dalam kisah perjalanan dakwah Nabi Musa, bahwa akan banyak tantangan yang akan beliau hadapi, namun beliau tetap melaksanakan dakwah tersebut, sebagai bentuk ketaatan beliau karena beliau pun memiliki keyakinan bahwa semua janji Allah subhanahuwata’la adalah benar adanya dan sesuai dengan sifat beliau yakni tablig yang artinya menyampaikan.

Referensi :

Sirah Nabawiah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad

Penulis : Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

Diringkas oleh : Iis Rosmi Rojibah S.S. (pengajar di Ponpes Darul Qur’an Wal-Hadist)

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.