Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

TAFSIR SURAH AL-BURUJ

TAFSIR AL-BURUJ

 

TAFSIR SURAH AL-BURUJ-Surah Al-Buruj merupakan surah yang ke-85. Al Buruj artinya “Bintang-bintang”. Surah Al-Buruj ter masuk surah Makkiyah yang terdiri dari 22 ayat.

HARI KEBANGKITAN PASTI TERJADI

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ (1)

Artinya:“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,” (Q.S. Al-Buruuj: 1)

 

Penjelasan Ayat

Al-Buruj dalam bahasa Arab bermakna “sesuatu yang tampak”. Dalam bahasa Arab, setiap hal yang tampak dilihat oleh banyak orang banyak disebut istilah Al-buruj. Misalnya, istana dalam bahasa Arab disebut Al-buruj, benteng dalam bahasa Arab juga dapat disebut Al-buruj, dan bintang-bintang dalam bahasa Arab juga disebut buruj. Bahkan, perempuan yang menampakkan kecantikan dan keindahan tubuhnya disebut “perempuan yang bertabarruj”.

Salah satu tafsiran lainnya mengatakan bahwa Al-buruj artinya manazil Al-qamar, yaitu tempat tempat yang dilewati oleh rembulan. Ada pula yang mengatakan Al-buruj adalah Al-qushur atau istana istana sehingga ayat ini bermakna was-samai dzatil qushur ‘demi langit yang memiliki istana-istana’.

Ada juga yang mengatakan Al-buruj artinya an nujum, ‘bintang-bintang’ sehingga ayat ini bermakna was-samaai dzatin nujum, ‘demi langit yang memiliki bintang-bintang’. Inilah yang ditafsirkan Ibnu Katsir Rahimahullah: ” berdasarkan firman Allah Subhanahu Wata’ala :

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا (61)

Artinya: “Mahasuci Allah yang menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” (QS. Al Furqan: 61)

Pada intinya, Allah 3 bersumpah dengan langit karena langit merupakan makhluk-Nya yang paling besar dan luas. Oleh sebab itu, jika dicermati, Allah sering bersumpah dengan langit karena langit merupakan makhluk yang sangat besar yang dapat disaksikan manusia di mana saja.

firman Allah Subhanahu Wata’ala

وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ (2)

Artinya: “dan demi hari yang dijanjikan,” (QS. Al-Buruuj: 2)

 

Penjelasan Ayat

Para ulama telah sepakat bahwa hari yang dijanjikan dalam ayat ini adalah hari kiamat Hal ini karena hari kiamat akan tiba pada waktunya sesuai dengan janji yang ditetapkan Allah .

firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ (3)

Artinya: “demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (Q.S. Al Buruuj: 3)

 

Penjelasan Ayat

Ada banyak pendapat dari para ulama yang berkaitan dengan makna (yang menyaksikan) dan (yang disaksikan). Jika kita membaca buku tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, atau Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari, akan ditemukan penyebutan tentang makna syaahid (yang menyaksikan) yang sangat banyak.

Jika diperhatikan, pendapat para ulama yang berkaitan dengan makna ayat ini akan memperlihatkan adanya penyebutan banyak contoh siapa yang dimaksud dengan ‘yang menyaksikan’. Misalnya, (yang menyaksikan) adalah Muhammad sehingga Allah seakan-akan bersumpah demi Muhammad Salah satu yang menyaksikannya juga adalah Allah sehingga Allah seakan-akan bersumpah dengan diri-Nya sendiri. Bebe rapa yang menyaksikan sumpah Nya juga adalah umat Muhammad.

Demikian juga halnya (yang disaksikan). Ada yang menafsirkan bahwa “yang di saksikan” adalah hari kiamat Ada yang berpendapat artinya hari Jumat. Ada yang berpendapat artinya hari Arafah. Ada pula yang berpendapat artinya Hari an-Nahr (tanggal 10 Dzulhijjah).

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syahid wa masyhud adalah ‘semua yang menyaksikan dan semua yang disaksikan’. Ulama yang berpendapat seperti ini antara lain Asy-Syaukani dan As Sa’di Allah menyebut hal ini karena Surah Al-Buruj berkaitan tentang penyiksaan terhadap kaum mukminin dan mukminat, sedangkan orang orang kafir menyaksikan mereka disiksa dan menikmati penyiksaan itu.

Dalam tiga ayat pertama ini, Allah bersumpah dengan empat hal: pertama dengan langit, kedua dengan hari kiamat, ketiga dengan yang menyaksikan, dan keempat dengan yang dipersaksikan. Allah tidak menyebut bersumpah untuk apa. Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah bersumpah untuk menekankan hari kebangkitan akan tiba Allah seakan-akan berkata: “Sungguh kalian akan dibangkitkan” Apalagi, surah ini merupakan surah Makkiyah yang diturunkan pada fase Mekkah ketika Nabi mendakwahi orang-orang kaum musyrikin Arab yang mengingkari hari kiamat.

firman Allah Subhanahu Wata’ala:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya: “Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah Muhammad), ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, Kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan’. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Q.S. At-Taghabun: 7)

Orang-orang kafir menyangka mereka tidak akan dibangkitkan karena tulang-tulang sudah hancur dan bersatu dengan tanah ketika mereka mati kelak. Padahal, mereka akan dibangkitkan, lalu dikabarkan kepada mereka tentang semua perbuatan mereka selama hidup di dunia.

COBAAN-COBAAN BAGI ORANG BERIMAN

Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4)

Artinya: “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit,” (QS. Al-Buruuj: 4)

 

Penjelasan Ayat

“Terlaknatlah atau binasalah orang-orang yang membuat parit”. Inti ayat ini menceritakan kaum mukminin dan mukminat yang menolak untuk keluar dari agama Allah meskipun dipaksa. Mereka tetap bertahan dan rela mati demi mempertahankan agama Allah Akhirnya, mereka pun dimasukkan ke dalam parit, lalu dibakar hidup-hidup Lalu, siapakah mereka?

Ada beberapa pendapat di kalangan ulama Sebagian ulama mengatakan mereka adalah ahli kitab yang tinggal di Persia. Raja mereka ingin meng halalkan pernikahan sesama mahram seperti lelaki dengan bibinya atau lelaki dengan adiknya. Hal ini bermula ketika ada seorang raja yang mabuk, lalu ia menggauli saudari perempuannya sendiri. Tatkala sadar dari mabuk nya, ia bingung terhadap perbuatannya Maka, saudarinya berkata, “Sam paikanlah kepada rakyat bahwa menikah dengan saudari sendiri telah dihalalkan Akan tetapi, para ahli kitab menentang kebijakan sang raja. Akhirnya, raja pun murka dan membuat parit, kemudian membakar hidup hidup mereka yang menentangnya. Sejak saat itulah, raja-raja Persia meng halalkan pernikahan sesama mahram. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Ishaq dalam kitab sirahnya menyebutkan bahwa yang dibunuh adalah kaum Nasrani Yaman. Pada suatu ketika, ada seseorang yang bernama Dzu Nawas berpindah agama dari Nasrani ke Yahudi. Lalu, ia memaksa penduduk Yaman yang beragama Nasrani untuk memeluk agamaYahudi. Namun, penduduk Yaman menolak. Akhirnya, Dzu Nawas menggali marit dan membunuh mereka yang berjumlah sekitar 20 ribu orang.

Inilah salah satu tafsiran tentang makna firman Allah pada ayat ini. Terlaknatlah orang-orang yang membuat parit dengan tujuan untuk menyiksa orang-orang beriman. Muqotil berpendapat bahwa parit-parit yang dijadikan lokasi untuk membakar orang-orang yang beriman ada tiga parit, yaitu di Yaman, Irak, dan di Syam.

firman Allah Subhanahu Wata’ala

النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5)

Artinya: “yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,” (Q.S. Al-Buruuj: 5)

Penjelasan Ayat

Parit tersebut bukanlah parit-parit yang kosong, melainkan berisi api yang membara. Lalu, orang-orang beriman tersebut dilemparkan ke dalamnya. Api di parit itu tidak pernah mati karena terus disediakan kayu bakarnya.

firman Allah Subhanahu Wata’ala:

إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6)

Artinya: “ketika mereka duduk di sekitarnya,” (QS. Al-Buruuj: 6)

Penjelasan Ayat

Perbuatan yang dilakukan raja dan pasukannya merupakan kejahatan yang sangat keji. Mereka telah mengumpulkan bermacam-macam kemungkaran.

  1. Mereka kafir kepada Allah
  2. Mereka memusuhi wali-wali Allah,
  3. Mereka membunuh dan membakar para wali Allah,
  4. mereka menikmati penyiksaan terhadap orang-orang beriman yang dibakar hidup-hidup.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kaum mukminin yang disiksa itu diikat dalam kondisi duduk agar mereka makin tersiksa tatkala dibakar.

firman Allah Subhanahu Wata’ala

وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7)

Artinya: “sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orangorang yang beriman.” (QS. Al-Buruuj: 7)

Penjelasan Ayat:

Pada ayat ketiga telah dijelaskan bahwa sebagian ulama menafsirkan kata syahid dengan ‘orang-orang yang menyaksikan kaum mukmin dibakar dan mereka menikmati pemandangan itu’. Untuk merekalah, Allah bersumpah karena perbuatan mereka yang sangat sadis.

Perbuatan sadis itu diperlihatkan ketika sang rahib digergaji kepalanya dari atas sampai ke bawah, sang pemuda yang dipanah, dan orang-orang mukmin dibakar hidup-hidup. Semua itu bukanlah perbuatan yang ringan. Oleh karena itu, Allah bersumpah dengan mereka.

firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8)

Artinya: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, tetapi karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji,”  (QS. Al-Buruuj: 8)

Penjelasan Ayat:

Orang-orang mukmin itu disiksa bukan karena melakukan keburukan yang membuat raja murka, tetapi karena keimanan mereka kepada Allah .

Demikianlah sunnatullah yang akan terus terjadi di alam semesta ini. Orang-orang yang berbuat baik selalu dimusuhi. Mereka akan dimusuhi oleh orang-orang buruk, yang ber lawanan dengan kebaikan tersebut. Oleh karena itu, kita menyaksikan wanita-wanita berjilbab dimusuhi oleh wanita-wanita yang tidak berjilbab karena mereka tidak suka. dengan syariat jilbab ini. Mereka ingin semua. wanita membuka aurat seperti dirinya. Orang orang yang rajin ke masjid akan dimusuhi oleh orang yang tidak rajin ke masjid dan banyak contoh lainnya.

Semua ini akan terus berlaku hingga hari kiamat. Ahlul haq akan selalu dimusuhi oleh ahlul bathil hanya karena para ahlul haq itu menyembah dan menauhidkan Allah 3 Hal ini seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth. Kaum Nabi Luth yang melaksanakan praktik homoseksual memusuhi orang-orang yang tidak mempraktekkan homoseksual seperti Nabi Luth dan pengikutnya Allah berfirman dengan menceritakan perkataan mereka terhadap Nabi Luth dan pengikutnya.

firman Allah Subhanahu Wata’ala:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (56)

Artinya: “Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, ‘Usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci.” (Q.S. An-Naml: 56)

Orang yang tidak melaksanakan praktik homoseksual dikatakan sok suci oleh mereka yang melaksanakan praktik homoseksual. Oleh karena itu, kita jangan berpikir beragama itu akan mulus atau lancar saja. Musuh akan selalu ada bagi mereka yang terus berbuat kebaikan. Orang-orang yang selalu berbuat kebaikan sesungguhnya bermusuhan dengan orang orang yang tidak suka dengan kebaikan. Oleh karena itu, orang-orang yang suka melakukan kemaksiatan dan keburukan ingin agar orang sekitarnya mengikuti jejak mereka untuk memusuhi orang-orang baik.

Demikianlah tafsir ringkas dari surah al-Buruj dari ayat 1 sampai ke-8. in syaa Allah bersambung pada artikel berikutnya.

REFERENSI:

Dari kitab Tafsir Juz Amma karya Ustadz Firanda Andirja Hafizahullah.

Diringkas oleh: Nurul Latifah Ummu Luqman

Baca juga artikel:

Tatayyum Merupakan Puncak Tingkatan Cinta

Doa Ketika Ditimpa Kesedihan

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.