Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Sakitnya Sakaratul Maut

Sakitnya Sakaratul Maut. Para ulama mengklasifikasikan kiamat menjadi dua bagian, yaitu kiamat sughra dan kiamat kubra. Kiamat kubra atau kiamat besar adalah peristiwa kehancuran alam semesta beserta segenap isinya di akhir zaman, untuk kemudian dibangkitkan da dihadapkan kepada Allah. Kiamat kubra merupakan awal dari proses pengadilan seluruh manusia dan jin di hadapan Allah, yang akan menentukan kehidupan abadi mereka di surga atau di neraka. Adapun kiamat sughra atau kiamat kecil adalah kematian seorang hamba, yang menandai berakhirnya jatah hidupnya di alam dunia. Dia akan memasuki kehidupan baru di alam Barzakh. Kehidupan alam Barzakh merupakan terminal persinggahan pertama menuju akhirat. Jika di alam Barzakh dia selamat dan mendapat nikmat, maka keselematan dan nikmat yang akan dia petik di akhirat jauh lebih besar lagi. Demikian pula, bila di alam Barzakh dia menemui ketakutan dan siksaan, maka ketakutan dan siksaan yang akan dia rasakan di akhirat juga jauh lebih besar.

 

Penyebutan kematian sebagai kiamat kecil, disimpulkan dari beberapa sabda Rasulullah yang menyebut kematian sebagai kiamat. Antara lain dalam hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رِجَالٌ مِنْ الْأَعْرَابِ جُفَاةَ يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَسْأَلُونَهُ مَتَى السَّاعَةُ فَكَانَ يَنْظُرُ إِلَى أَصْغَرِهِمْ فَيَقُولُ إِنْ يَعِشُ هَذَا لَا يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ حَتَّى تَقُومَ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ قَالَ هِشَامٌ يَعْنِي مَوْتَهُمْ

Artinya:

“Dari Aisyah, dia berkata, “Ada beberapa orang Arab badui yang perangainya kasar datang kepada Nabi dan bertanya kepada beliau, “Kapan terjadinya kiamat?” Maka beliau melihat kepada orang yang paling muda usianya di antara mereka, lalu beliau menjawab, “Jika anak ini masih hidup (dalam waktu yang lama), niscaya dia tidak akan memasuki usia tua renta kecuali ‘kiamat’ kalian telah terjadi.” Perawi Hisyam berkata, “Maksudnya beliau adalah kematian mereka.”[1]

 

Saat seorang hamba akan berpisah dengan dunia dan memasuki alam keabadian di akhirat, dia akan mengalami saat-saat kritis yang sangat menyakitkan. Rasa sakit pada masa tersebut melebihi seluruh rasa sakit yang pernah dia alami sebelumnya. Begitu pedihnya, sehingga sulit diungkapkan dengan untaian kata-kata. Kondisi ini sering disebut dengan istilah sakaratul maut. Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dan para ulama lain menjelaskan bahwa istilah sakaratul maut diambil dari kata dasar sakara, yang berarti mabuk atau kehilangan akal. Dalam bahasa Arab, kata sakara paling banyak digunakan untuk makna mabuk karena meminum minuman keras’. Terkadang juga digunakan dengan makna marah, rindu berat, mengantuk, rasa sakit, dan pingsan karena beratnya rasa sakit.” “Pingsan karena beratnya rasa sakit inilah yang dimaksud dengan sakaratul maut. Detik-detik menegangkan saat nyawa akan dikeluarkan oleh malaikat maut dari jasad seorang hamba dinamakan sakaratul maut, karena pada saat itu orang yang mengalaminya berada dalam keadaan setengah sadar dan setengah pingsan, dia tidak berada di alam dunia, pun belum sepenuhnya memasuki alam akhirat.

 

Rasa sakit pada saat menghadapi sakaratul maut ini disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

كَلَّاۤ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِىَۙ‏ ٢٦

وَقِيلَ مَن رَاقٍۙ‏ ٢٧

وَّظَنَّ اَنَّهُ الفِرَاقُۙ‏ ٢٨

وَالتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ‏ ٢٩

اِلٰى رَبِّكَ يَومَئِذِ اۨلمَسَاقُ‏٣٠

Artinya:

“Sekali-kali tidak, apabila nafas seseorang telah mendesak sampai kerongkongan. Dan dikatakan kepadanya ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’ Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan). Kepada Rabbmulah pada hari itu engkau dihalau.”[2]

 

Begitu sakitnya saat-saat menentukan ini, sehingga Rasulullah sendiri sempat pingsan dan harus mengompres wajah beliau dengan selembar kain dan air dingin. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih:

عَنِ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ صَحِيحٌ لَنْ يُقْبَضَ نَبِيُّ قَطُّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخَيَّرُ. فَلَمَّا نَزَلَ بِهِ وَرَأْسُهُ عَلَى فَخِذِي غُشِيَ عَلَيْهِ سَاعَةً ثُمَّ أَفَاقَ، فَأَشْخَصَ بَصَرَهُ إِلَى السَّقْفِ ثُمَّ قَالَ: اللّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى قُلْتُ: إِذًا لَا يَخْتَارُنَا. وَعَلِمْتُ أَنَّهُ الحَدِيثُ الَّذِي كَانَ يُحَدِّتُنَا وَهُوَ صَحِيحٌ، قَالَتْ: فَكانَتْ تِلْكَ آخِرَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا اللهُم الرفيق الأعلى

Artinya:

“Dari Aisyah, dia berkata, “Saat Rasulullah masih sehat, beliau pernah bersabda Tidaklah ada seorang Nabi pun yang diwafatkan, melainkan kepadanya telah diperlihatkan tempatnya kelak di surga, kemudian dia diberi kesempatan memilih (untuk hidup di dunia lebih lama lagi atau diwafatkan untuk mendapatkan tempatnya di surga)”. Ketika beliau mengalami detik-detik terakhir hidup beliau dan kepala beliau berada di atas paha saya, beliau pingsan beberapa saat. Setelah itu beliau tersadar kembali dan memandang ke arah atap rumah, seraya bersabda, “Ya Allah, (aku memilih) Ar-Rafiq Al-A’la.”[3]

 

Dari Aisyah . dia berkata, “Saat itu Rasulullah mengalami detik-detik terakhir kehidupan beliau. Di hadapan beliau disiapkan sebuah wadah kayu berisi air. Beliau memasukkan kedua tangan beliau ke dalam air, kemudian mengusapkan keduanya ke wajah beliau. Beliau bersabda ‘La Ilaha Illallah. Sesungguhnya kematian itu mempunyai saat-saat yang menghilangkan akal (sakaratul maut).” Beliau lantas menegakkan salah satu tangan beliau dan berkata, “(Aku memilih) bersama Ar-Rafiq Al-A’la.” Beliau lantas wafat dan tangan beliau pun kembali terkulai lemah.” Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Saya menyaksikan sendiri ketika Rasulullah mengalami detik-detik terakhir kehidupan beliau. Di hadapan beliau disiapkan sebuah wadah berisi air. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam air, kemudian mengusapkannya ke wajah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam, sembari bersabda:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

Artinya:

“Ya Allah, berilah pertolongan kepada saya dalam menghadapi beratnya sakaratul maut.”[4]

 

Sungguh kondisi yang sangat kritis dan menyakitkan. Pada saat itu godaan setan mencapai puncaknya. Setan akan mencurahkan seluruh kemampuannya untuk menjerumuskan manusia agar tersesat dari jalan Allah, mati di atas kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan. Rasulullah bahkan mengungkapkan besarnya tipudaya setan dengan istilah ‘kerasukan setan’. Beliau juga mengajarkan doa agar dimudahkan oleh Allah pada saat sakaratul maut, dan tidak tergoda oleh tipudaya setan. Imam Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari Syaddad bin Aus, dia berkata, “Kematian itu adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan pintu akhirat bagi orang yang beriman, la lebih menyakitkan dari daging yang dikoyak gergaji, sayatan gunting, atau direbus dalam panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya seluruh penghuni dunia tidak akan pernah nyaman hidupnya dan tidak pernah nyenyak tidurnya.”

 

Kematian akan menghadang setiap insan. Proses dicabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut. Imam Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dari Syaddad bin Aus, dia berkata, “Kematian itu adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan pintu bagi orang yang beriman. Ia lebih menyakitkan dari daging yang dikoyak gergaji, sayatan gunting, atau direbus dalam panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya niscaya seluruh penghuni dunia tidak akan pernah nyaman hidupnya dan tidak pernah nyenyak tidurnya.”

 

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَجَاءَتْ سَكْرَة الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَجِيدُ

Artinya:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kalian selalu lari darinya.”[5]

 

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan selama proses kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) pada ayat di atas adalah perkara akhirat. Sehingga manusia sadar, yakin, dan mengetahuinya. Ada juga yang berpendapat al-haq di sini adalah hakikat keimanan, sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian!”

 

Syaikh Sa’di menjelaskan Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadaan orang yang tengah dicabut nyawanya. Yaitu ketika ruh telah sampai pada tarâqi (tulang-tulang yang meliputi ujung leher atau kerongkongan), maka pada itulah penderitaan mulai berat. Dia berusaha dengan segala cara yang menurutnya dapat menghilangkan rasa sakit atau membuatnya nyaman. Karena itu Allah berfirman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan Artinya siapa yang akan meruqyahmu dengan jampi-jampi? Pasalnya, yang bersangkutan telah kehilangan segala cara terapi umum yang rasional, sehingga menjadi sangat bergantung pada terapi ilahi. Namun jika qadha dan qadar telah datang, maka ia tidak dapat ditolak. Dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia.

 

“Dan tertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”, maksudnya semua kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Kesakitan bertambah berat, penderitaan semakin sulit, nyawa sebentar lagi keluar dari badan yang telah ia huni sekian lama. Kamudian dia dihalau menuju Allah Ta’ala untuk mendapat atas amalannya dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan pada beberapa ayat ini mendorong hati untuk bergegas mencari keselamatann dan menahannya dari perkara yang membinasakannya. Namun orang yang keras kepala, dia tidak akan mendapatkan manfaat darinya, tetap berbuat sesat, kufur, dan menentang,” Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah dia menceritakan saat-saat terakhir kehidupan Nabi bahwa di hadapan beliau ada satu bejana kecil dari kulit berisi air. Beliau memasukkan tangan ke bejana itu lalu membasuh mukanya seraya bersabda: “Laa ilaaha illallaah. Sesungguhnya kematian itu memiliki sakaratul maut.” Lalu beliau menegakkan tangannya sambil berkata: “Menuju Rafiqil Ala.” Sampai akhirnya beliau meninggal dan tangannya melemas,”

 

Penderitaan selama proses pencabutan nyawa akan dialami oleh setiap makhluk. Firman Allah: “Setiap jiwa merasakan mati.” (Ali ‘Imran [3]: 185). Sabda Nabi, “Sesungguhnya kematian itu ada kepedihannya.” Namun dengan tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatanginya untuk mengambil nyawanya berpenampilan sangat baik, mengesankan, lagi menggembirakan.                 

Referensi:

Abu Fatiah Al Adnanaii. 2016. Misteri Alam Barzakh. Surakarta: Granada

 

Diringkas oleh:

Shofwah Ummu Zubair (Pengajar Ponpes Darul Quran Wal Hadits OKU Timur)

[1] HR Bukhari no. 6030 dan Muslim no. 5248

[2] QS: Al-Qiyamah [75]: 26-30

[3] HR. Bukhari no. 4083 dan Muslim no. 4476

[4] HR. Tirmidzi no. 900, Ibnu Majah no. 1612, dan Ahmad no. 23220

[5] QS: Qaf [50]: 19

Baca juga :

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.