Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

PERANG BADAR KUBRA PERTEMPURAN PERTAMA YANG MENENTUKAN

Perang Yang Menentukan fix

 

Perang Badar Kubra Pertempuran Islam Pertama Yang Menentukan-Peperangan adalah sesuatu yang menyakitkan, karena akan ada banyak hal yang tidak menyenangkan di dalamnya.  Banyak hal yang harus dikorbankan, harta,keluarga bahkan jiwa.  Perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi tak akan terelakan lagi.  Berpisah jarak maupun maut yang memisahkan.  Namun, ketika hal ini sudah tak dapat dielakan lagi, dan panggilannya pun telah datang,  maka tidak ada pilihan lain lagi, Karena surge adalah jaminan bagi setiap orang yang menjemput ajalnya  dengan syahid.

Perang Badar adalah peperangan yang sengit yang terjadi antara kaum muslimin dan kaum kafir quraisy, sebuah peperangan yang tidak disangkakan keberadaannya.  Tatkala kaum musliimin mendapat tekanan dan penyiksaan secara terus menerus hingga Allah pun memerintahkan untuk berhijrah, yang mana hal yang berat untuk dilakukan karena harus meninggalkan kampung halaman tercinta dan juga saudara, bahkan harta yang terpaksa harus ditinggal di tempat tinggalnya semula.  Namun kebengisan dan kemungkaran yang dilakukan tidak pernah berhenti, hingga akhirnya Allahpun menurunkan izin dan perintah untuk melakukan perlawanan atas perlakuan kaum kafir quraisy yang tidak berhenti berhenti untuk menindas kaum muslimin.

Untuk melakukan perlawanan kepada kaum kafir quraisy tersebut, Strategipun dirancang oleh Rosulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, Beliau pun memutuskan untuk menyerang balik penindasan mereka melalui cara yang sangat bijak yakni dengan membentangkan sayap kekuasaan mereka terhadap jalur perdagangan kaum kafir quaraisy dari Makkah menuju kawasan Syam dengan mengadakan perjanjian-perjanjian persekutuan dan mengirim delegasi-delegasi menuju jalur tersebut.

Rosulullah Shallalahu Alaihi Wasallam memilih cara untuk memperkuat ekonomi dan melumpuhkan ekonomi kaum kafir quraisy, dengan tujuan menghentikan kesewenangan mereka kepada kaum muslimin dan menyadarkan mereka akan kelaliman yang senantiasa mereka perbuat terhadap kaum muslimin.  Sehinga kaum muslimin mendapatkan kebebasan dalam menjalankan keyakinannya.

Hingga akhirnya peperangan pun tak bisa dielakan.  Tak kala Rosulullah Shallalahu Alaihi Wasallam  menghentikan kafilah Quraisy yang melewati jalur yang telah dikuasai oleh pasukan muslim, terjadilah bentrokam yang sangat sengit,  sebuah peperangan yang tidak pernah diduga keberadaanya.

Dalam hal ini, beliau tidak memberikan perintah tegas kepada siapaun  untuk ikut serta, akan tetapi menyerahkan pilihan kepada keinginan mutlak mereka, karena beliau sendiri tidak pernah mengira akan terjadi benturan dengan pasukan Makkah yang sengit di Badar.  Oleh karena itulah, banyak diantara para sahabat yang tinggal Madinah tidak ikut berperang.  Karena mengira kepergian Rosulullah Shallalahu Alaihi Wasallam kali ini tidak ubahnya seperti apa yang mereka alami pada pertempuran terdahulu.

Rasulullah bersiap-siap untuk bertolak sementara ikut serta bersama beliau 313 orang laki-laki, 82 orang diantaranya dari kalangan Muhajirin dan 61 orang dari suku Aus serta 170 orang dari suku Khazraj.

Mereka tidak menggalang kekuatan besar untuk keberangkatan ini dan juga tidak mengambil persiapan yang matang , sehingga mereka tidak memiliki selain satu atau dua ekor kuda; satu kuda ditunggangi oleh Zubair bin Awwam dan satu lagi oleh Miqdad Al-Aswad Al-Kindi.  Mereka juga hanya memiliki 70 ekor unta yang masing-masing unta ditunggangi oleh dua hingga tiga orang secara bergantian.    Sementara Rosulullah Shallalahu Alaihi Wasallam sendiri beserta Ali dan Martsad bin Abi Martsad Al-Ghanawi menunggang seekor unta secara bergantian.

Panji komando kali ini diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Qurasyi Al-Abdari dan ia berwarna putih. Selanjutnya membagi pasukannya menjadi dua batalyon:

  1. Batalyon Al-Muhajirin, benderanya diserahkan kepada Ali Bin Thalib. Bendera ini dinamai dengan Uqab.
  2. Batalyon Anshar, benderanya diserahkan kepada Sa’ad bi Mu’adz (keduanya berwarna hitam)

Rasulullah pun bergerak bersama pasukan yang tidak memiliki persiapan ini, lalu keluar dari arah celah Madinah dan berlalu melewati jalan utama yang mengarah ke Mekkah hingga akhirnya  sampai ke sumur Ar-Rauha.  Dan tatkala berangkat dari sana ,  beliau memposisikan jalan menuju Makkah di sebelah kirinya dan berbelok kearah kanan yang menuju An-Naziyah

Adapun berita tentang Kafilah Quraisy,  Abu Sufyan yang berindak sebagai penanggung jawabnya bergerak ekstra hati hati dan penuh kewaspadaan sebab dia mengetahui dengan pasti bahwa jalan menuju Makkah amat rawan.  Iapun senantiasa mencari informasi hingga akhirnya ia tahu bahwa bahwa pasukan Muhammad tengah menuju tempatnya, hingga akhirnya ia mempekerjakan Dhamdham untuk menyeru kaum kafir quraisy untuk bergabung dengannya.  Ia berteriak dari atas untanya yang ia buat terpotong hidungnya, posisi kantung pelanannya acak-acakan dan bajunya tercabik cabik.

Akhirnya mereka beramai ramai berangkat hingga tidak ada satu orang pun dari kalangan mereka yang tinggal kecuali Abu Lahab,  dia memilih untuk mengirim wakilnya yang kebetulan berhutang kepadanya.  Mereka mengumpulkan semua kabilah Arab yang berada di sekitar mereka dan tidak ada seorang pun dari bani Quraisy yang tidak ikut selain Bani Adi dimana tidak seorangpun dari mereka yang ikut serta.

Pasukan Makkah ini berkekuatan sekitar 1300 tentara pada permulaan perjalanannya, bersamanya ada 100 kuda dan 600 perisai serta unta yang banyak sekali sehingga tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat.  Komandan mereka dipegang oleh Abu Jahal  bin Hisyam sementara yang bertindak sebagai penyuplai makanan adalah Sembilan pemuka quraisy, dalam sehari mereka menyembelih sembilan ekor unta dan hari berikutnya sepuluh ekor unta.

Ketika itu keluarlah mereka dari rumah-rumah mereka dalam kondisi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

بَطَرًا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Artinya: “Dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah.” (QS. Al-Anfal: 47)

Mereka menyongsong persis seperti sabda Rosulullah Shallalahu Alaihi Wasallam “dengan tindakan mereka mengasah besi, berarti mereka telah memerangi Allah dan RasulNya.”

Mereka bergerak ke arah utara menuju Badar.  Setibanya disana mereka menerima surat baru,  dari Abu Sufyan yang berisi, “ sesungguhnya kalian keluar hanya untuk menyelamatkan harta-harta kalian saja,  dan Allah telah menyelamatkannya, karena itu pulanglah kembali.”

Tatkala menerima surat tersebut, maka mererka bermaksud pulang kembali, tetapi Abu Jahal, sang tahgit Quraisy berdiri dengan penuh kesombongan dan kecongkakan seraya berkata, ”Demi Allah, kita tidak akan pulang hingga mengambil alih Badar,  lalu tinggal disana selama tiga hari sambil menyembelih unta, makan-makan dan meminum arak dengan diiringi nyanyian biduanita sehingga bangsa Arab mendengar tentang keberadaan, perjalanan dan berkumpulnya kita.  Sehingga mereka selamanya segan terhadap kita.

Akan tetapi sekaipun Abu Jahal telah bersikap demikian,  namun Al-Akhnas bin Syariq memberikan isyarat agar pasukan kembali  saja  namun mereka tidak menaatinya. Akhirnya dia dengan Bani Zuhrah tetap memutuskan kembali, – dia kebetulan sebagai sekutu mereka sekaligus pemimpin mereka dalam pasukan ini. Maka tidak ada satupun dari bani Zuhrah yang jumlahnya 300 orang yang ikut serta ke badar.

Bani Hasyim rupanya ingin kembali juga namun Abu Jahal bersikeras terhadap mereka seraya berkata ,”kelompok ini tidak boleh memisahkan diri dari kita hingga kembali nanti.” Pasukan makkah akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Badar dengan kekuatan  1000 tentara.

Sementara itu, intelejen pasukan Madinah sudah menyampaikan berita tentang kafilah dan pasukan perang quraisy kepada Rasulullah itu masih dalam perjalanan di sekitar lembah Dzafiran. setelah menyampaikan itu beliau dapat memastikan bahwa tidak ada lagi celah untuk menghindari pertempuran berdarah,  tapi sebaliknya , yakni kemestian untuk terus melangkahkan kaki dilandasi keberanian, heroisme dan kepahlawanan sesuatu yang tidak dapat disangkal lagi , bahwa andaikata pasukan Makkah dibiarkan terus merangsek ke sekitar posisi kawasan itu, maka hal itu akan dapat memperkokoh posisi Quraisy secara militer,  membentangkan sayap kekuasaanya sekaligus melemahkan persatuan kaum muslimin dan menimbulkan rasa takut mereka bahkan barangkali setelah itu gerakan islam hanya  tinggal jasad tanpa ruh.  Hal ini akan membuat setiap orang yang memiliki rasa iri dan sakit hati terhadap islam di kawasan ini semakin berani.

Kemudian apakah kaum muslimin akan bisa menjamin bahwa pasukan Makkah akan berhenti dan tidak meneruskan perjalanannya menuju Madinah, sehingga berakibat peperangan melebar hingga ke pinggiran kota dan untuk selanjutnya mereka menghabisi kaum muslimin di perkampungan. Maka hal ini akan menjadi preseden paling buruk terhadap citra dan nama baik kaum muslimin.

Mengingat perkembangan yang demikian gawat dan darurat,  maka Rasululah pun mengadakan rapat mejelis militer tingkat tinggi.  Ketika itulah ada sekelompok  orang yang hatinya menjadi  ciut dan takut menghadapi pertarungan berdarah nantinya.  Maka inilah yang disebutkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmannya,

كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُون يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ

Artinya: “Sebagaimana Rabbmu ,menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran,  padahal sebagian dari orang orang beriman itu tidak menyukainya.  Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang)  seolah-olah mereka dihalau kepada kematian,  sedang mereka melihat sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal; 5-6)

Sedangkan sikap dari para komandan perang, baik Abu Bakar ash-Shidiq maupun Umar bin Khattab maka mereka berdua  berbicara dengan ungkapam yang baik.  Selanjutnya al-Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata.” Wahai Rasulullah, teruslah maju berdasarkan apa yang telah ditampakan oleh Allah padamu.  Kami akan selalu bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan oleh bani Israil kepada Musa,”  Pergilah bersama Rabbmu,  dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kamu hanya duduk menantimu disini.  “Akan tetapi  pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah,  sesungguhnya kami akan berperang bersama kamu berdua.”  Maka Rasululah mengatakan sesuatu yang baik dan berdoa agar dia mendapat kebaikan itu.

Tiga orang tersebut berasal dari kalangan Muhajirin, sedang mereka minoritas di dalam pasukan.  Oleh karena itu,  Rasulullah ingin melihat bagaimana pendapat para komandan dari kaum anshar,  sebab mereka merupakan pihak mayoritas  di dalam pasukan dan beban pertempuran akan berada di pundak mereka.   Padahal,  berdasarkan isi teks bai’at al-Aqobah,  mereka tidak diharuskan berperang di luar negeri mereka.  Dari itu setelah mendengarkan ucapan tiga komandan tadi,   beliau berkata .”wahai manusia, berikan pendapat kalian kepadaku.”  Sebenarnya yang beliau bidik adalah kaum anshar,  untung saja sang komandan kaum anshar yang juga pembawa panji, Sa’ad bin Muaadz memahami hal itu.  Dia berkata, “Demi Allah, seakan engaku mengingnkan kami wahai Rasulullah.’

Beiau menjawab “benar

Maka berkatalah Sa’ad “Sungguh kami telah beriman kepadamu, lalu membenarkanmu.  Kami juga telah bersaksi bahwa wahyu yang engkau bawa adalah haq dan unuk itu kami telah memberikan janji-janji setia dan kesepakatan-kesepakatan kami tersebut untuk senantiasan mendengar dan taat kepadamu.  Karena itu, teruskan langkahmu sesuai dengan yang engkau inginkan wahai Rasulullah! Demi dzat yang mengutusmu dengan haq (kebenaran), andaikata engkau menawarkan laut ini pada kami,  lalu engkau mengarunginya,  niscaya kamipun akan mengarunginya bersamamu,  tidak seorangpun dari kami yang ketinggalan dan kamipun tidak akan merasa segan jika engkau mengajak kami bertemu musuh esok hari.  Sesungguhnya kami adalah orang yang tegar di dalam peperangan dan tangguh di dalam pertempuran.  Semoga saja, Allah menampakan kepadamu dari kami hal yang membuatmu senang.  Maka, berangkatlah bersama kami dengan keberkahan Allah.”

Ucapan saad ini membuat senang Rasulullah dan menjadikannya bertambah semangat.  Kemudian ia berkata:

سيروا وابشروا , فان ا الله قد وعدنى إحدى الطاءفتين, والله لكأني الآن انظرر إلي مصارع القوم

Berjalanlah kalian dan bergembiralah karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku kemenangan atas salah satu dari dua kelompok.  Demi Allah seakan aku tengah menyaksika kematian musuh.

Kemudian Rasulullah berangkat dari dzafiran menuju dekat badar.   Di tempat tersebut,  beliau melakukan sendiri patroli pemantauan dengan Abu Bakar ash-Shidiq.  Tatkala keduanya sedang berjalan-jalan di seputar kamp Militer Makkah tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang tua dari bangsa Arab.  Dan dari orang tua inilah beliau mendapatkan informasi penting tentang pasukan makkah.

Pada petang hari itu juga beliau mengutus kembali para intelejennya untuk mendapatkan informasi tentang musuh.  Yang melakukan tugas ini adalah tiga orang komandan dari kalangan Muhajirin, yaitu Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash bersama beberapa orang sahabt yang lain.  Merekapun menuju sumber air Badar.  Disana mereka menjumpai dua orang budak yang sedang mnewgambil air untuk pasuka Makah, hingga akhirnya pasukan Rasulullah dapat mengetahui kekuatan besar yang ada di hadapannya.  Pasukan muslimpun akan menghadapi pertempuran besar dan akan kami lanjutkan dibagian selanjutnya.

 

Referensi            : Sirah Nabawiah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad

Penulis                 : Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

Diringkas oleh    : Iis Rosmi Rojibah S.S. (pengajar di Ponpes Darul Qur’an Wal-Hadist)

Baca juga artikel:

Antisipasi Bullying, Ponpes DQH Terapkan Denda Fantastis

Kajian Kitab Syarhus Sunnah: Zakat Wajib Dikeluarkan

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.