Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Mendidik Wanita; Seberapa Pentingkah?

Mendidik Wanita; Seberapa Pentingkah?

Mendidik Wanita; Seberapa Pentingkah?

Wanita memang mempunyai kedudukan yang sangat unik. Bagaimana tidak? Banyak hal dan peristiwa terjadi, dari yang kecil hingga yang besar, melainkan wanita punya peran dan andil yang sangat dominan. Kiranya hal ini sudah tidak diragukan lagi.

Lihatlah bagaimana Ummul Mukminin; Khodijah radhiallahu ‘anha, istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan penuh yakin dan tetap hati, menghibur suaminya, yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika baru saja beliau mendapat wahyu. Khodijah radhiallahu ‘anha terus saja memberi dukungan dan motivasi kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, dikarenakan beliau merasa khawatir setelah menerima wahyu yang pertama. Di antara perkataan Khodijah radhiallahu ‘anha yang meneguhkan dan membesarkan hati Rosul adalah: “Demi Alloh! Alloh tidak akan menelantarkanmu untuk selamanya. Sungguh, engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahim. Engkau juga menanggung beban orang yang kepayahan. Engkau suka memberi kepada orang yang papa, menjamu tamu, juga menolong kesulitan orang dalam hal yang benar.” Kemudian Khodijah radhiallahu ‘anha membawa Rosul shallallahu ‘alaihi wasallam kepada pamannya, yakni Waroqoh, untuk menanyakan perihal siapa yang datang kepada Rosul shallallahu ‘alaihi wasallam . Dan ternyata itu adalah Jibril, seperti halnya yang terjadi pada Nabi Musa ‘alaihissalam dan lainnya.

Peran seorang wanita, peran seorang istri, memang sangat besar. Khodijah radhiallahu ‘anha dengan besar hati meyakinkan dan menenangkan suaminya. Dan wanita dengan kualitas seperti itu, tentunya bukanlah wanita yang terwujud secara instan. Munculnya wanita dengan kualitas seperti ini, tentunya didahului oleh satu tempaan dan didikan yang tepat, sehingga melahirkan wanita hebat, yang akan mendampingi seorang lelaki yang tangguh, dan melahirkan generasi yang kokoh dan kuat. Didikan seperti ini sudah harus dimulai sedini mungkin. Dan didikan ini adalah didikan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam, yang akan mendatangkan kebaikan di dunia maupun akhirat. Itulah letak pentingnya mendidik wanita.

Apa jadinya, bila wanita tumbuh dalam kualitas yang diragukan? Bagaimanakah sosok dan kepribadian orang yang menjadi suaminya? Generasi macam apakah yang akan dilahirkan oleh wanita yang tak mempunyai tempaan dan didikan yang benar?!

Balasan Mendidik Anak Perempuan

Secara umum, orang tua mempunyai tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak mereka, baik anak lelaki, maupun perempuan. Karena itu adalah satu bentuk upaya menanamkan benih-benih kebaikan dalam diri mereka dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Alloh berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dan karena itu pula, doa yang dipanjatkan oleh hamba-hamba Alloh Yang Maha Pengasih adalah:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Kemudian, karena ada satu anggapan yang keliru mengenai anak perempuan dan kaum wanita, maka seringkali Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam

memberikan penekanan khusus berkenaan dengan bagaimana memperlakukan anak perempuan, dan pahala besar yang menanti mereka yang mau peduli terhadap pendidikan mereka. Karena memang tidak dipungkiri lagi, ini adalah tugas dan beban yang cukup berat yang diemban orang tua dan pihak terkait. Karena itulah, banyak kabar gembira yang datang dari syariat bagi orang yang mau peduli terhadap masalah ini. Di antaranya bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha pernah kedatangan seorang wanita yang datang bersama dua anak putrinya. Ia datang untuk meminta sesuatu. Namun Aisyah radhiallahu ‘anha tak punya apa-apa selain satu butir kurma. Maka Aisyah pun memberikan kurma itu pada wanita tersebut, yang kemudian si wanita tadi membagi kurma tadi untuk kedua putrinya. Ia sendiri tak ikut memakannya. Lalu wanita itu pun beranjak pergi. Lalu Rosululloh masuk kepada Aisyah radhiallahu ‘anha, dan ia menceritakan itu pada Nabi . Maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam

bersabda:

مَنْ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ سِتْرًا لَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik pada mereka, maka mereka ini akan menjadi tabir penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Bukhori, Ahmad, dll)

Mengasuh dan mendidik anak perempuan, dalam konteks hadits ini diungkapkan dengan ungkapan ujian. Karena biasanya bahwa banyak orang yang merasa agak kecewa dengan hadirnya anak perempuan, apalagi ketika zaman jahiliyah dulu. Maka itu menjadi ujian bagi orang tua, bagaimana ia menyikapi dan memperlakukannya. Syariat memberikan ujian agar mereka tetap memperlakukan anak perempuan tersebut dengan baik, sehingga dijanjikan balasan yang sangat agung, karena ia telah berbuat baik pada mereka, dan telah berupaya sekuat tenaga untuk sabar dalam mendidik mereka. Balasan ini, seperti diungkapkan Ibnu Hajar rahimahullah, secara zahirnya adalah diperoleh oleh pelakunya bila ia terus mengupayakannya hingga putri-putrinya sudah bisa tercukupi, misalnya sampai ia mempunyai suami.

Dan makna dari berbuat baik pada anak perempuan, bukan hanya sekadar yang berkaitan dengan berbagai kebutuhan yang sifatnya materi saja. Namun maksud dari berbuat baik pada mereka adalah dengan mendidik mereka secara didikan Islam. Dengan mengajarkan dan mendidik mereka di atas jalur yang benar, dan berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga kesucian diri mereka dan jauh dari hal-hal yang diharamkan. Dengan demikian mereka akan terdidik di atas ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan jauh dari apa yang diharamkan. Jadi, berbuat baik bukan hanya dalam hal memberi makan, minum, dan pakaian saja, namun lebih agung dari sekadar hal tersebut; yakni berbuat baik kepada mereka dalam masalah agama dan juga dunia. (dari Fatâwal Islam Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajjid).

Tiga Pilar Dalam Mendidik

Secara garis besar, di sini harus ditempuh berbagai upaya untuk melahirkan generasi yang kuat dan handal, terlebih lagi adalah kaum wanita. Karena seperti disinyalir dalam suatu pernyataan, bahwa “Bila egkau memberi pengajaran kepada seorang lelaki, sungguh engkau telah memberi pengajaran kepada satu individu. Namun bila engkau memberi pengajaran kepada seorang perempuan, berarti engkau telah mengajar satu generasi, atau satu umat.” Karena ialah yang akan melahirkan dan mempersiapkan generasi selanjutnya. Ialah yang akan mendidik dan menempa putra-putrinya hingga tumbuh menjadi seorang yang tangguh. Ialah yang akan turut andil dalam menemani dan memotivasi perjuangan pendamping hidupnya.

Paling tidak, kita bisa memberi penekanan dan perhatian penuh pada tiga pilar dalam mendidik putra-putri kita, termasuk di dalamnya mendidik putri-putri kita. di antaranya adalah:

1.Tetap menjaga kemurnian fitrahnya

Ini sangat mutlak diperlukan, untuk tetap menjaga lurusnya fitrah mereka, sehingga hati mereka tidak dijangkiti berbagai virus yang menjerumuskannya pada kenistaan dan kemaksiatan. Langkah ini harus dikawal sejak dini, agar ia tumbuh dalam cinta ketaatan dan memebenci kemaksiatan. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam

bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap bayi tidak lain kecuali dilahirkan dalam fitrah. Dua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi.” (HR. Bukhori)

Maka dari itu, perlu untuk memupuk dan melestarikan fitrah ini di dalam hati semenjak dini. Yaitu dengan mendidik dan mengenalkan agama ini dengan baik sejak mereka masih kecil. Karena nantinya mereka akan dihadapkan pada banyak hal yang bisa menggoncang stabilitas iman mereka, bila pondasi iman mereka rapuh. Bisa dibayangkan bagaimana pengaruh dari berbagai kemajuan zaman sekarang, yang banyak menjerumuskan generasi muda, tak terkecuali juga para kaum wanita dan juga gadis yang masih belia.

Para kaum salaf yang sholih, mereka sangat perhatian dengan pendidikan anak-anak mereka semenjak mereka masih kecil. Dan mereka memilihkan pengajar yang bagus dan sholih untuk memberi pengajaran dan pendidikan kepada putra-putri mereka. Ini merupakan upaya untuk tetap menjaga fitrah mereka tetap lurus dan bening, dan dikuatkan dengan tempaan ajaran yang bersumber dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

2.Memberikan pengajaran dan pendidikan yang tepat

Ini adalah langkah untuk memberikan pencerahan dan pedoman, agar mereka bisa mengarungi hidup dengan benar, tidak diombang-ambingkan arus yang tak menentu. Mereka akan mengenal lebih jauh, apa sebenarnya tugas utama yang harus ia jalankan di muka bumi ini. Ia akan diarahkan untuk lebih mendalami ajaran agama dalam rangka untuk bisa mempraktikkannya dalam keseharian.

Karena itulah, para shohabiyyat (sahabat Nabi dari kalangan wanita), meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengkhususkan hari tertentu, agar mereka mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari Nabi. Dan Nabi pun memberikan waktu khusus untuk memberi pengajaran dan nasihat kepada mereka.

Dengan bekal pengajaran yang tepat ini, baik yang berguna dalam urusan agama mereka maupun urusan dunia mereka, maka mereka akan lebih siap dalam mengarungi kehidupan dengan berbagai problematikanya. Namun bila tidak demikian, ia akan menjadi korban dari gemerlapnya tipu dunia.

3.Selalu memberi dorongan dan motivasi

Motivasi dan dorongan selalu diperlukan bagi tiap individu, tidak luput juga kaum wanita. Terlebih lagi banyak hal yang mungkin lebih membuat kaum wanita menjadi bosan, kecewa, atau frustasi. Maka di sinilah letak pentingnya motivasi yang diberikan kepada mereka. Pihak orang tua dan pendidik sangat perlu untuk memberi motivasi yang membangun kepada mereka. Agar mereka tidak merasa cepat bosan dan frustasi. Dan motivasi yang terbesar tentunya adalah dengan melihat pada ajaran-ajaran Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa menggelorakan semangat untuk selalu tetap berada di jalan yang diridhai-Nya. Juga dengan banyak menelaah perjalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , para sahabat, dan kaum salaf yang sholih, karena banyak mutiara yang bertebaran dalam kehidupan mereka.

Bilamana kaum wanita merasa berat dengan cobaan hidup di zaman ini, ambillah motivasi dari mutiara Al-Quran dan As-Sunnah, niscaya ia akan semangat kembali. Sebagai contoh lihatlah sabda Rosul, yang menjanjikan pahala besar bagi yang mau tetap istiqomah di jalan kebenaran, meski banyak godaan yang menghalang. Beliau bersabda: “Sungguh, di belakang kalian akan muncul hari-hari; di mana bersabar ketika itu seperti halnya memegang bara api. Orang yang mau beramal (dengan kebenaran) di hari-hari itu, seperti halnya pahala 50 orang yang mengamalkan seperti amalan orang tersebut. (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Abu Daud, dan ia menambahkan: “Ada yang bertanya: Wahai Rosululloh, pahala 50 orang dari kalangan kami (sahabat), atau dari kalangan mereka?’ Rosul menjawab: ‘Pahala 50 orang dari kalangan kalian.’” ketika itu.

Kiranya, masih banyak arahan ajaran agama ini yang menekankan begitu pentingnya pendidikan terhadap anak, termasuk juga mendidik kaum perempuan. Namun dengan yang sedikit ini, mudah-mudahan kita bisa lebih baik lagi dalam memberikan bimbingan dan pendidikan kepada anak-anak kita, terutama lagi untuk putri-putri kita. dengan harapan, agar mereka bisa istiqamah berjalan di atas jalan yang diridhai-Nya. Amin.

Sumber : Majalah Lentera Qolbu Tahun ke 2 Edisi ke 6

 

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.