Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Kehawatiran Nabi Ternyata Terjadi

kekhawatiran Nabi ternyata terjadi

Kehawatiran Nabi Ternyata Terjadi – Segala puji bagi Allah telah memberikan nikmat sehat kepada kita semua , shalawat serta salam tidak lupa kita ucapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana telah membawa kita dari zaman jahiliah ke zaman yang penuh niscaya.

Sesungguhnya mengesahkan Allah ta’ala dalam beribadah dan berkeyakinan bahwa tidak ada sekutu dengan-Nya, tidak ada sesembahan selain-Nya dan tidak ada yang semisal dengan-Nya adalah kewajiban yang arus ditunaikan oleh seorang hamba-Nya. Bahkan hal tersebut adalah kewajiban yang paling urgen dan utama, itulah agama Allah subhanahu wa ta’ala, yang dengannya diutuslah para rasul, dimulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (Q.S An-Nahl : 36)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.( Q.S Al-Anbiya’ : 25)

Muatan dakwah para rasul tersebut ialah menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah subhanallahu wa ta’ala saja, dan menyingkirkan segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya. Sejak munculnya kesyirikan yang pertama kali di muka bumi sampai  Allah subhanallahu wa ta’ala mengutus penutup para rasul yaitu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Para nabi seluruhnya beragama tauhid, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

الأَ نْبِيَا ءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّ تٍ وَأُمَّهَا تُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Artinya: “Para nabi adalah saudara-saudara tiri, ibu mereka berbeda-beda akan tetapi agama mereka satu”.[1]

Para nabi tersebut benar-benar telah melaksanakan kewajiban ini, yang mana mereka di utus untuk memusnahkan kesyirikan dari penduduk bumi tempat mereka di utus. Maka itulah kewajiban pertama mereka. Sebagaimana telah dilakukan juga oleh panutan dan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mempersaksikan kepada kita di hari Arafah, bahwasannya Rasulullah telah menyampaikan risalah, menunaikan Amanah, dan menasihati umatnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menghilangkan kesusahan dengannya, dengannya Allah membuka hati-hati yang telah buta dan pendengaran yang sudah tuli.

Rasulullah sangat antusias sekali untuk menjaga kita dari hal-hal yang menjerumuskan ke dalam kebinasaan. Manakah kebinasaan yang lebih dahsyat dari kesyirikan ?Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat khawatir terhadap umatnya bila terjatuh dalam kesyirikan, oleh sebab itu Rasulullah memperingatkan umatnya dengan peringatan yang sangat keras darinya. Ada dua sebab yang melatarbelakangi kekhawatiran Nabi terhadap umatnya terjatuh dalam kesyirikan,

Pertama:

Bahwasanya kesyirikan pada kebanyakan umat terdahulu sangat jelas bagi setiap individu yang ada, bisa dimengerti bahwa hal itu adalah syirik, tidak samar bagi setiap orang, sehingga mudah untuk di jauhi. Berbeda dengan kesyirikan yang ada dalam tubuh umat ini, ada yang nampak secara jelas dan ajuga yang samar-samar. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia hati-hatilah dari kesyirikan, karena hal itu lebih tersembunyi dibandingkan semut berwarna hitam”. Ada orang yang menimpali ‘”bagaimana kami berhati-hati wahai Rasulullah?. Rasul menjawab, “ katakanlah:”aku berlindung dari menyekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari hal yang tidak kami ketahui”.[2]

Dikarenakan begitu samarnya urusan kesyirikan ini, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan umatnya yang terjatuh kedalamnya. Maka dari itu keluarlah peringatan tentang seluruh jenis kesyirikan, dan juga memperingatkan dari seluruh motif sebab terjadinya hal itu.

Kedua:

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa umat-umat terdahulu seperti Yahudi dan Nasrani serta Persia yang mana telah di uji dengan perkara bid’ah dalam agama dan terjatuh dalam kesyirikan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir umatnya akan terjatuh di hal yang sama. Maka Rasulullah memperingatkan umatnya agar tidak mengikuti umat terdahulu. Rasulullah bersabda dalam banyak kesempatan, yaitu ; “Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai andaikan mereka memasuki lubang Dhab niscaya kalian akan mengikutinya”. Para sahabat bertanya, ”Apakah Yahudi dan Nasrani Wahai Rasul?. Rasul menjawab, “siapa lagi kalau bukan mereka”.[3]

Dalam waktu yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

أُولَىِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيْهِمْ الْعبْدُ الصَّا لِحُ أَوْالرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنُوا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلكَ الصُّوَرَ أُوْلَىِكَ شِرَارُ الخَلقِ عِنْدَ الله

Artinya: “Mereka umat terdahulu apabila ada seorang lelaki sholeh atau hamba shalih meninggal dunia, mereka langsung membangun tempat peribadatan di atas kuburnya, dan menggambar-gambar orang shalih tersebut. Mereka adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah.”  (HR. Muslim, dll)

Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan untuk dibangun, diduduki dan shalat menghadapnya. Begitu juga Beliau melarang untuk mengkhususkan kuburan dan membangun bangunan di atasnya. Karena umat terdahulu telah terjatuh di dalam kesyirikan, maka dari itu Rasulullah memberikan peringatan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam kesyirikan. Sesungguhnya umat ini akan mengikuti jalan-jalan umat terdahulu sebagaimana yang di isyaratkan oleh nabi dalam hadits yang lain: “Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku meniru kelakuan umat sebelumnya.. sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta “. Ada seorang yang bertanya, ”Wahai Rasulullah apakah seperti Persia dan Romawi? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: ”kalau manusia bukan mereka siapa lagi”.

Maksudnya adalah menerangkan kekhawatiran nabi terhadap umatnya yang akan terjatuh dalam kesyirikan seperti yang dialami oleh umat-umat terdahulu. Dimana mayoritas kesyirikan pada umat terdahulu karena sebab kuburan dan mengibadahi orang shalih, maka Rasulullah memperingatkan umatnya agar tidak terjatuh kedalamnya, bahkan beliau memerintahkan untuk meratakan kuburan, tidak menulis nama di atas kubur dan melaknat orang yang menyembelih kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Umat terdahulu terjatuh dalam berbagai macam kesyirikan. Hasil dari berlebih lebihan terhadap para nabi dan orang-orang shalih, oleh karena itu telah ada peringatan dari nabi jauh-jauh hari mengenai hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَا كُم وَالغُلُوَّ فَاِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبلَكُمْ الْغُلُوِّ فِى الدِّينِ

Artinya: “Hati-hatilah kalian dari berlebih – lebihan dalam agama. Sesungguhnya yang menghancurkan orang -orang sebelum kalian adalah yang berlebih – lebihan dalam agama”. (HR. Ibnu Majah, dll)

Dampak buruk dari kesyirikan adalah pelakunya tidak pernah bersepakat dalam urusan peribadahan mereka dan cenderung bercerai berai yang mana, ada yang menyembah nabi, malaikat, orang-orang shalih, bahkan ada yang menyembah bebatuan, pepohonan, matahari, dan bulan. Sesungguhnya kesyirikan zaman sekerang lebih parah daripada zaman dahulu. Yang mana di zaman sekarang mereka melakukan kesyirikan di setiap keadaan baik disaat lapang maupun sulit sementara dahulu kaum musyrikin melakukan kesyirikan hanya saat lapang sedangkan disaat sulit atau terkena musibah mereka mengikhlaskan dan memurnikan doa serta ibadahnya hanya untuk Allah. Salah satu sifat yang dapat menjerumuskan kita dalam kesyirikan adalah ketika kita mempunyai perasaan was-was, sombong dan mempercayai dajjal adalah tuhan.

Semoga kita semua terhindar dari bahaya kesyirikan yang dimana syirik bisa menyesatkan kita dan menjatuhkan kita ke dalam api neraka, wahai saudara/I ku sampaikan lah satu ayat tentang kebenaran dalam beribadah meski banyak yang belum dakwah ini, dan masih banyak kontra ketika memberitahukan antara yang hak dan yang bathil, namun  yang perlu kita ingat bahwa tugas kita bukan untuk merubah seseorang melainkan hanya menyampaikan kebenaran, ketika kebenaran tidak bisa di terima maka cara yang terbaik adalah mendoakan agar di beri hidayah menuju jalan kebenaran yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan salafush shalih. Dan teruntuk kita semua jangan pernah takut untuk berkata kebenaran.

Semoga Allah subhanahu wa ta ‘ala selalu melindungi kita semua, aamiin ya robbal ‘aalamin, barakallahu fiik…

 

REFERENSI:

Diringkas dari buku “ Syirik zaman dahulu dan sekarang“, Karya : Syaikh Abu Bakar Muhammad zakaria

Peringkas: Marisa Daniati (Pengajar PONPES DQH OKUT)

[1] HR.Bukhari idalam shahihnya : kitab Ahaditsul Anbiya’,  Bab Wadzkur fi kitabi Maryam nomor : 3443. Muslim : kitabuk Fadha’il, Bab Fadhailu ‘Isa ‘alaihissallam, nomor : 2365. Ahmad dalam al-Musnad: 2/406, 427, dan 2/319. Al-Baghawi dalam Syarhus sunnah nomor : 3619. Lafadzh ini mili al-Bukhari.

[2] HR.Ahmad dalam Musnad : 4/402. Hadits ini hasan.

[3] HR Bukhari dengan shahihnya: kitabul Anbiya’ 6/490, nomor:3456. Muslim dengan shahihnya 4/2054: kitabul Ilmi bab Ittiba’ Sunani Yahudi Wan Nashara, nomor: 2669. Lafadz ini milik al -Bukhari.

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.