Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Hijrah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Ke Madinah

HIJRAH NABI KE MADINAH

 

Hijrah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Ke Madinah-Tatkala keputusan keji untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam telah disepakati, turunlah malaikat Jibril membawa wahyu Rabbnya, memberitahukan kepada beliau perihal persekongkolan kaum Quraisy tersebut dan izin Allah Subhanahu Wata’ala kepada beliau untuk pergi berhijrah meninggalkan Makkah.  Kemudian menentukan momen hijrah tersebut seraya berkata, “Malam ini, kamu jangan berbaring di tempat tidur yang biasanya.”

Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bertolak ke kediaman Abu Bakar di tengah terik matahari untuk bersama-sama menyepakati tahapan hijrah.  Aisyah berkata ‘’Ketika kami sedang duduk di kediaman Abu Bakar pada siang hari nan terik,  tiba-tiba ada seseorang berkata kepadanya ‘ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam! datang dengan menutup wajah  dengan kain diwaktu yang tidak biasanya mengunjungi kami.’

Abu bakar Radhiyallahu Anhu berkata, ’Ayah dan ibuku sebagai tebusan untuknya!  Demi Allah! Beliau tidak datang diwaktu waktu seperti ini kecuali ada hal yang penting”

Aisyah Radhiyallahu Anha melanjutkan” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam datang dan meminta izin masuk.  Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Abu Bakar.’ Keluarkan orang-orang yang berada di sisimu!

Abu Bakar Radhiyallahu Anhu menjawab ’ Mereka tidak lain adalah keluargamu wahai  Rasulullah! ”Beliau berkata lagi ‘sesungguhnya aku telah diizinkan untuk pergi (berhijra).’ Abu Bakar berkata.’ Engkau minta aku menemanimu, Wahai Rasulullah?

Beliau menjawab.’ Ya

Dan setelah disepakati rencana berhijrah tersebut.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam pulang ke rumahnya menunggu datangnya malam.

Blokade terhadap kediaman Rosulullah

Para penjahat kelas kakap Quraisy,  menggunakan waktu siang untuk mereka mempersiapkan diri guna melaksanakan rencana yang telah digariskan berdasarkan kesepakatan parlemen Makkah “Darrun Nadwah”  pada pagi harinya.

Untuk eksekusi tersebut dipilihlah sebelas orang pemuka mereka yaitu:

  1. Abu Jahal Bin Hisyam
  2. Alhakam bin Abi Al-Ash
  3. Uqbah bin Abi Mu’aith
  4. An-Nadhar bin Al-Harits
  5. Umayyah bin Khalaf
  6. Zamah bin Al-Aswad
  7. Thu’aimah bin Adi
  8. Abu Lahab
  9. Ubay Bin khalaf
  10. Nubaih Bin Al-hajjaj
  11. Dan Munabbih bin al-Hajjaj

Ibnu Ishak berkata.” Tatkala malam telah gelap, merekapun berkumpul di  pintu rumah beliau untuk menintai kapan beliau bangun sehingga dapat menyergapnya” [1]

Kebiasaan yang selalu dilakukan Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah tidur dipermulaan malam dan keluar menuju Masjidil Haram setelah pertengahan atau dua pertiganya untuk shalat disana.

Mereka percaya dan yakin benar bahwa persekongkolan keji kali ini akan membuahkan hasil.  Hal ini membuat Abu Jahal berdiri tegak dengan penuh kesombongan dan keangkuhan. Dia berkata kepada para rekannya yang ikut memblokade dengan nada mengejek dan merendahkan,” sesungguhnya  Muhammad mengklaim bahwa jika kalian mengikuti ajarannya, niscaya kalian akan menjadi raja bangsa Arab dan non Arab sekaligus,  kemudian kalian akan dibangkitkan setelah mati, lalu diciptakan bagi kalian surga-surga seperti suasana kebun-kebun di negeri urdun (Yordania). Jika kalian tidak mau melakukannya maka dia akan menyembelih kalian,  kemudian kalian dibangkitkan setelah mati, lalu dijadikan bagi kalian neraka yang akan membalas kalian”[2]

Waktu pelaksanaan persengkokolan tersebut adalah setelah pertengahan malam saat beliau biasa keluar dari rumah.  Mereka melewati malam tersebut dengan penuh kewaspadaan seraya menunggu pukul 00.00.  akan tetapi, Allah Subhanahu Wata’ala maha kuasa akan segala sesuatu, ditangan-Nyalah urusan langit dan bumi, Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.  Dialah yang maha melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi dari (azab)Nya.

Dia telah menetapkan janji yang telah difirmankan-Nya kepada Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam setelah itu yang berbunyi:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

Artinya:

Dan ingatlah ketika orang-orang kafir quraisy memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu.  Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu day itu.  Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal :30)

 

Rasulullah meninggalkan rumahnya

Sekalipun persiapan yang dilakukan oleh kaum Quraisy untuk melaksanakan rencana keji tersebut sedemikian rapinya,  namun mereka tetap mengalami kegagalan total.  Pada malam itu Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Ali bin thalib,”Tidurlah di tempat tidurku, berselimutlah dengan Burdah hijau yang berasal dari Hadramaut, milik ku ini.  Gunakanlah untuk tidurmu.  Niscaya tidak ada sesuatupun dari perbuatan mereka yang tidak engkau suka akan menimpamu.”

Bila tidur Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam selalu memakai burdahnya tersebut.[3] malam itu, Ali Bin Abi Thalib  tidur di ranjang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Semetara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah berhasil keluar dan menembus barisan-barisan mereka.  Beliau memungut segenggam tanah dari Al-Batha, lalu menaburkannya di atas kepala mereka.  Ketika itu Allah Subahanahu Wata’ala mencabut pandangan mereka untuk sementara sehingga tidak dapat melihat beliau, sedangkan beliau membaca firman-Nya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

Artinya:

Dan kami adakan dihadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula) dan kami tutup mata merekasehinga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin : 9)

 

Tidak ada seorangpun yang terlewatkan.  Semua beliau taburi tanah dikepalanya.  Lantas beliau berlalu menuju kediaman Abu Bakar.  Kemudian keduanya keluar melalui pintu kecil dibelakang rumah abu bakar pada malam hari hingga sampai gua Tsur yang lokasinya di arah menuju Yaman.[4]

Para pemblokade tetap menunggu hingga pukul 00.00 dan menjelang tiba waktu tersebut, tanda-tanda kesia-siaan dan kegagalan sudah nampak bagi mereka.  Seorang laki-laki yang tidak ikut serta dalam pemblokadean tersebut datang dan melihat mereka sedang berdiri di depan pintu rumah beliau.  Lalu menanyai mereka “Apa  gerangan yang kalian tunggu?”

Mereka menjawab “Muhammad”

Dia berkata,”Sungguh telah sia-sia dan merugilan kalian, demi Allah dia telah melewati kalian dan menaburkan tanah di atas kepala kepala kalian, lalu pergi menyelesaikan urusannya.”

Mereka berkata” Demi Allah kami tidak melihatnya!” sambil mengibaskan-ngibaskan tanah yang menempel di kepala-kepala mereka.

Akan tetapi mereka penasaran dan menintip dari celah pintu lalu melihat Ali.  Mereka berkata “Demi Allah sesungguhnya ini adalah Muhammad yang sedang tidur dan sedang memakai Burdahnya.”

Mereka pun masih tetap menunggu hingga pagi menjelang.  Kemudian Ali bangun dari tempat tidur.  Melihat hal ini, mereka langsung menangkap Ali lalu menanyai perihal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.  Dia menjawab, aku tidak mengetahui tentangnya,”[5]

 

Perjalanan menuju Gua Hira

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam meninggalkan rumah beliau pada tanggal 27 shafar tahun 14 kenabian, bertepatan dengan tanggal 12/13 september tahun 622 M,[6] lalu beliau menuju kediaman Abu Bakar rekan setianya,-dan dia adalah orang yang paling beliau percaya untuk menemaninya di perjalanan dan untuk menjaga hartanya-.  Kemudian keduanya meninggalkan rumah Abu Bakar tersebut, lantas bersama-sama meninggalkan Makkah secepatnya sebelum fajar menyingsing.

Nabi mengetahui bahwa orang-orang Quraisy akan berusaha keras mengejarnya dan jalan yang pertama kali akan disisir adalah jalan utama kota Makkah yang menuju ke arah utara.  Oleh karena itu, beliau memilih jalan yang berlawanan arah, yaitu jalan yang terletak diselatan Makkah, yang menuju ke arah Yaman.   beliau menempuh jalan ini sepanjang 5 mil, hingga akhirnya sampai ke sebuah bukit yang dikenal dengan bukit Tsur, sebuah bukit yang tinggi, jalannya terjal, sulit didaki  dan banyak bebatuan.  Kondisi ini membuat kaki Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lecet (karena tanpa alas).  Ada riwayat yang menyebutkan, bahkan ketika berjalan di jalur tersebut, beliau bertumpu pada ujung-ujung kakinya agar jejak langkahnya tidak tampak, karenanya kedua kaki beliau menjadi lecet.  Apapun yang sebenarnya terjadi yang jelas, beliau kemudian harus digendong oelh Abu Bakar ketika mencapai bukit.  Dan Abu Bakar mulai memeganginya dengan kencang hingga akhirnya sampai ke sebuah gua di puncak bukit yang kemudian hari di kenal oleh sejarah dengan nama Gua tsur.[7]

Ketika mereka berdua di dalam gua

Begitu tiba di gua, Abu Bakar berkata, “ Demi Allah engkau jangan masuk dulu sebelum aku masuk; jika ada sesuatu di dalamnya, maka biarlah hanya aku yang mengalaminya.  Kemudian dia masuk untuk menyapunya.  Dan didapatinya disisi gua tersebut ada beberapa lubang, maka diapun menyobek kainnya dan menyumbatnya tetapi masih tinggal dua lubang lagi, lantas ditutupinya dengan kedua kakinya.  Kemudian dia berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam “Masuklah” Rasulullahpun masuk dan merebahkan kepalanya dipangkuan lalu tertidur.  Sementara kaki Abu Bakar yang digunakan untuk menyumbat lubang disengat  (binatang berbisa) namun ia tidak bergeming sedikitpun karena khawatir membangunkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam kondisi ini membuat air matanya menetes dan membasahi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.  Lalu beliau berkata kepanya, “Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?”

“Ayah ibuku menjadi tebusanmu, wahai rasulullah! Aku telah disengat,” jawabnya

Lantas Rasulullah meludah kecil ke arah bekas sengatan tersebut sehingga apa yang dirasakannya hilang sama sekali.[8]

Keduanya tinggal di dalam gua tersebut selama tiga malam; malam jumat, malam sabtu dan malam ahad.[9]  Sementara pada malam-malam tersebut, Abdullah, putra Abu Bakar mendampingi mereka pada malam hari.

Aisyar bertutur,”Dia (Abdullah) adalah anak yang sudah menginjak usia baligh, cerdas dan cepat faham.  Dia berjalan meninggalkan keduanya menjelang shubuh sehingga pagi harinya bisa berada di Makkah bersama orang-orang quraisy, seakan malam harinya dia menginap di Makkah.  Semua perintah yang diinstruksikan keduanya kepadanya dapat dicernanya dengan baik.  Lantas ia membawa berita tentang hal itu kepada mereka berdua,  ketika hari mulai gelap.  Sementara Amir Bin Fuhairah, budak Abu Bakar mengembalakan kambing perah untuk keduanya,  dan mengistirahatkannya untuk sesaat di malam hari sehingga keduanya dapat minum dari perahan susu kambing tersebut.  Kemudian ketika tiba waktu shubuh Amir Bin Fuhairah menyeru kambing-kambing gembalanya (untuk pergi).  Dia melakukan itu selama tiga malam tersebut.[10]

Setelah Abdullah bin Abu Bakar pulang ke Makkah, Amir Bin Fuhairah selalu menggiring kambingnya mengikuti jejaknya agar terhapus. [11]

Demikianlah perjalanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tatkala berhijrah sesuai perintah Allah Subhanahu Wata’ala melalui Jibril, dan perjalanannya tidak berakhir di Gua Tsur namun beliau masih harus menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya sampai di negeri Madinatur Rasul yang kemudian di ungkapkan dengan Madinah.  Perjalanan Hijrah akan disambung kembali dibagian kedua Insya Allah.

 

Referensi :

Sirah Nabawiah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

Diringkas oleh    : Iis Rosmi Rojibah S.S. (pengajar di Ponpes Darul Qur’an Wal-Hadist)

[1] Zad al-Ma’ad, loc.cit

[2] Ibid, hal.483.

[3] Ibid, hal 482, 483.

[4] Ibid, jal 483: Zad Al-Ma’ad, op.cit,.2/52

[5] Ibid.

[6] Lihat Rahmah li al-Alamin,op.cit., 1/95. Bulan Shafar ini masuk pada tahun 14 dari kenabian bila kita menganggap bahwa permulaan tahun-tahun terhitung dari bulan Muharram.  Namun jika kita mulai tahun-tahun tersebut sejak Allah memuliakan NabiNya dengan kenabian,  maka dapat dipastikan bulan shafar ini masuk pada tahun ke-13.  Kebanyakan para penulis versi yang ini atau yang itu.  Seringkali terjadi kegamangan di dalam menentukan runtut kejadian tersebut sehingga keliru.  Meningat hal itu, maka kami memilih permulaan tahun-tahun itu dari bulan Muharram.

[7] Mukatmar Sirah ar-Rasul,po,cit.,hal.167.

[8] Diriwayatkan dari Rajin dari Umar bin Al-Khatab didalamnya terdapat kalimat”kemudian racun tersebut terasa kembali menjelang dia wafat dan menjadi sebab kewafatannya.” Lihat Misykah al-Mashabih, Bab Manaqib Abi bakar, 2/556.

[9] Lihat Fath Al-Bari, op.cit., 7/336

[10] Shahih Al-Bukhari, op.cit.,1/553,554.

[11] Ibnu Hisyam, op., hal.486.

Baca juga artikel:

Hukum Saham Dalam Islam

Cintamu Untuk Siapa?

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.