Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Perbedaan Antara Nabi dan Rasul

PERBEDAAN NABI DAN RASUL'

PERBEDAAN ANTARA NABI DAN RASUL

Perlu diketahui bahwa ada istilah Rasul dan juga Nabi, tetapi apakah makna keduanya sama?

Jawabnya adalah: bahwa setiap Nabi yang disebut di dalam al-Qur’an berarti juga Rasul. Artinya, setiap kali ditemukan dalam al-Qur’an istilah Nabi, maka itu artinya Rasul.  Namun pengertian antara dua istilah ini berbeda.

Dan definisi yang tepat dalam hal ini bahwa Nabi adalah seseorang yang diberi wahyu berupa syari’at dan diperintahkan untuk mengamalkannya, tetapi tidak diperintahkan untuk mendakwahkan (menyampaikan)nya. Seorang Nabi artinya seorang yang diberi kabar namun tidak diperintahkan untuk berdakwah. Seperti Nabi Adam ‘alahissalam bapak seluruh manusia, ia adalah seorang Nabi yang dibebani (syari’at) tetapi ia bukan seorang Rasul, karena Rasul yang pertama adalah Nuh ‘alahissalam. Adapun Adam,ia adalah seorang Nabi sebagiaman telah shahih dari Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam.

Jika seseorang bertanya:  ‘’Mengapa ia tidak diutus (tidak dijadikan Rasul)?’’ maka jawabnya,karena manusia ketika itu adalah umat yang satu, jumlahnya sedikit dan tidak berselisih. dunia belum meluas karena manusia belum menyebar. Ketika itu mereka masih bersatu, sehingga Allah mencukupkan mereka dengan mencontohkan dan mengikuti bapak mereka dalam beribadah. Kemudian ketika terjadi perselisihan dan manusia tersebar di mana-mana, maka saat itulah dibutuhkan para Rasul, sebgaimana Allah Ta’ala berfirman:

كان النّاس أمّةً واحدةً فبعث الله النبيّي مبشرين و منذرين

Artinya: ‘’Manusia itu adalah umat yang satu  (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan’’. (QS. Al-Baqoroh: 213)

Jika seseorang bertanya, ‘’Apa gunanya Nabi setelah Adam ‘alahissalam jika tidak diperintahkan  untuk berdakwah (menyampaikan)? Kita katakan bahwa faedahnya untuk mengingatkan manusia akan syari’at yang telah mereka lupakan, dan pada saat itu berpalingnya manusia belum sampai pada tahap puncak sehingga mereka belum membutuhkan seorang Rasul (yang wajib menyampaikan risalah). Hanya cukup dengan Nabi yang mengingatkan mereka akan syari’at yang  sudah ada.

Allah Ta’ala berfirman:

إنّا أنزلنا التّوراة فيها هدى ونور يحكم بها النييون الذين أسلموا للذين هادوا

Artinya: ‘’Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab taurat, didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah.’’ (QS. Al-Maidah: 44)

Inilah faedah dari seseorang Nabi. Ini adalah penjelasan yang kuat untuk pertanyaan, ‘’Apa faedah dari seorang Nabi tanpa dibebani risalah? Dan jawabannya seperti yang disebutkan. Oleh kareana itu terdapat sebuah hadist, akan tetapi derajatnya dha’if,

علماء أمّتي كأنبياء بني إسرائيل

Artinya: ‘’Ulamanya umatku bagaikan para Nabi bani Israil.’’ (hadist ini dicantumkan oleh Isma’il bin Muhammad al-Ajluni al-Jarrahi)

Makna hadist ini benar, tetapi penyandaran sanadnya kepada Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam itu lemah.

Nabi idris datang setelah Nuh ‘alahissalam

Rasul pertama adalah Nuh ‘alahissalam , dan Rasul terakhir adalah Muhammad . dan ketahuilah bahwa Anda akan dapati dalam sebagian tarikh (sejarah) bahwa keberdaan Nabi Idris ‘alahissalam sebelum Nabi Nuh ‘alahissalam, dan ada pula yang lainnya seperti  syits. Pertanyaan-pertanyaan  seperti ini adalah kedustaan dan tidak benar. Secara pasti idris termasuk Rasul kalangan Bani Isra’il, karena namanya selalu disebut ketika diceritakannya kisah mereka. Tetapi kita harus benar-benar meyakini bahwa datangnya bukan sebelum  Nuh ‘alahis salam, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إنّا أو حينا إليك كما أوحينا إلى نوح و النبيّين من بعده

Artinya: ‘’Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi setelahnya.’’ (QS. An-Nisaa: 163)

Allah mengutus meredka dan mereka adalah puncak (para nabi) dan menjadikan pada keturunan keduanya kenabian dan kitab. Maka barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Idris ‘alahissalam datang sebelum nabi Nuh ‘alahissalam maka dia telah mendustakan al-Qur’an dan dia harus bertaubat kepada Allah dari keyakinan yang salah ini.

Tingkatan manusia yang paling tinggi dan ulul ‘azmi

Para Rasul ashshalatu wassalamu ‘alahim adalah tingkatan manusia yang paling tinggi yang elah Allah anugerahkan kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

ومن يطع الله و الرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النّبيّين و الصّدّيقين و الشهداء و الصالحين

Artinya: ‘’Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan rasul-Nya,mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahkan nikmat Allah, yaitu para Nabi,para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang shalih.’’ (QS. An-Nisaa: 69)

Empat golongan inilah yang kedudukannya paling tinggi. Para Nabi yang berarti para Rasul, merekalah orang-orang yangb paling utama diantara para Nabi. Kemudian,Rasul  yangb paling utama itu ada lima, merekalah yang di istilahkan dengan ulul ‘azmi. Mereka yang disebutkan didalam al-qur’an di dua tempat, yaitu terdapat didalam surat al-ahzab dan asy-Syuuraa.  Adapun didalam surat al-ahzaab, Allah Ta’ala berfirman:

وإذ أخذنا من النّبيّين ميثاقهم و منك ومن نوح و إبراهيم و موسى و عيسى ابن مريم

Artinya: ‘’Dan ingatlah ketika kami mengambil perjanjian dan para Nabi dan dari kamu sendiri, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam’’. (QS. Al-Ahzab:  7)

Adapun didalam surat Asy-Syuuraa Allah Ta’ala telah berfirman:

شرع لكم من الدين ما وصّى به نوحا والذي أوحينا إليك وما وصّينا به إبراهيم و موسى و عيسى أن أقيمو الدين

Artinya: ‘’Dia telah mensyari’atkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan- Nya  kepada Nuh dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim,Musa dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama’’. ( QS. Asy-Syuuraa: 13)

Subhanallah, inilah wasiat dari Allah Ta’ala kepada Manusia yang pertama dan terakhir,

أن أقيموا الدّين ولا تتفرّقوا فيه

Artinya: ‘’Yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.’’ (QS. Asy-Syuuraa: 13)

Yaitu wasiat untuk menegakkan agama dan tidak berpecah belah didalamnya .

Dan Rasul yang paling Mulia adalah Muhammad shallahhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنا سيّد ولد آدم

Artinya: ‘’Aku adalah pemuka anak Adam…’’ (HR. Muslim, kitab al-faadhaa-il, bab tafadhdhulu nabiyyinaa shallahhu ‘alaihi wa sallam ‘alaa Jamii’il khalaa-iq (no.2278)

Dan ketika beliau telah bertemu dengan para Rasul pada saat Isra’, beliaulah yang menjadi imam mereka dalam sholat.  Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang merupakan imamnya orang-orang yang lurus (Haniif) pun shalat dibelakang beliau shallahhu ‘alaihi wa sallam, dan telah diketahui bersama bahwa tidak dipersilahkan untuk menjadi imam shalat kecuali orang yang paling utama. Dan Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam paling utama diantara Ulul ‘Azmi.

Kemudian, Nabi Ibrahim termasuk al-khalil ‘alissalam memiliki tingkatan setelah Rasulullah shallahhu ‘alaihi wa sallam yang Allah berfirman tentangnya,

واتّخذ الله إبراهيم خليل

Artinya: ‘’ Dan Allah mengambil Ibarahim menjadi kesayangannya,’’ (QS.An-Nisaa:  125)

Yang Allah Ta’ala uji dengan cobaan yang tidak akan ada seorang pun yang sabar menghadapinya kecuali para Ulul ‘Azmi. Masyaa Allah

Semoga dengan adanya ringkasan artikel ini lebih bisa memahami perbedaan antara Nabi dan Rasul. Dan juga bisa mengambil hikmah dari artikel tersebut baik peringkas dan pembacanya aamiin

Barokallahufiikum….

Referensi:

Kitab Syarah Hadist Arba’in karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

Peringkas: Nensi Lestari (Ummu Salma Atikah Hasna) pengajar ponpe Darul Qur’an wal Hadist OKU Timur)

Baca juga artikel:

100 Persen Gaji Suami Apakah Harus DIberikan Kepada Istri?

Semangat Untuk Cemburu Karena Allah

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.