Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Biografi Thufail Bin Amr Ad-Dausi

Biografi

 

Biografi Thufail Bin Amr Ad-Dausi

 

 

Di era perkembangan zaman yang dikuasai oleh gadjet, dan dunia fantasy, hingga bermunculan para  tokoh-tokoh yang tidak nyata sehingga sebagai seoarang muslim banyak yang kehilangan identitas karena kebingungan sosok mana yang harus dikuti hingga akhirnya tokoh-tokoh superhero dan para artis k-pop lah yang dijadikan acuan dalam setiap langkah hidupnya.  Oleh karena itu para orang tua perlu sekali untuk memperkenalkan para tokoh sahabat-sahabat Nabi yang memiliki karakter-karakter islami, yang meneladani Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga putra putri kitapun akan mengikuti karakter-karakter positif tersebut.  Berikut ini adalah salah satu sahabat Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam yang bernama Thufail Bin Amr Ad-Dausi.

Di Bumi Daus ia dibesarkan dalam keluarga yang mulia dan terhormat.  Ia dikarunia bakat sebagai penyair,  hingga nama dan kemahirannya termasyur dikalangan banyak suku.  Saat tiba pasar Ukaz, tempat berkumpul dan berhimpunnya manusia, untuk mendengar dan menyaksikan para penyair  Arab yang datang berkunjung dari selutuh pelosok serta untuk menonjolkan dan membanggakan penyair masing-masing, Thufail mengambil kedudukan di barisan terkemuka.

Suatu ketika, ia berkunjung ke kota suci itu saat Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam telah memulai dakwah beliau secara terang terangan.  Orang-orang quraisy khawatir bila Thufail menemuinya dan masuk islam, lalu menggunakan bakatnya sebagai penyair untuk membela islam. Sehingga akan jadi bencana besar bagi quraisy dan berhala-berhala mereka.

Untuk mencegah hal itu,  mereka menyambut kedatangannya dengan menyediakan segala bentuk kesenangan dan kemewahan untuk melayaninya sebagai tamu, lalu selalu mengingatkannya agar tidak bertemu dengan Rosulullah Shallalahualaihi wasallam dengan ungkapan, “Muhammad memiliki ucapan laksana sihir, hingga dapat mencerai beraikan anak dari ayah, seorang dari saudaranya, serta seorang suami dari istrinya.  Kami ini cemas terhadap dirimu dan kaummu dari kejahatannya.  Karena itu, janganlah engkau berbicara dengannya  atau mendengarkan ucapannya.”

Hingga akhirnya kaum Quraisy itu selalu membuntuti Thufail agar ia tidak akan menemui Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam dan mendengarkan ucapannya.  Ketika Thufail pergi ke ka’bah, ia menutup telinganya dengan kapas agar bila Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam berkata, ia tidak mendengar perkataanya.  Kebetulan waktu itu Thuafail mendapati Rosulullah tengah shalat di Ka’bah,  ia berdiri di dekatnya dan Takdir Allah Subahanahu Wata’al menghendaki agar ia mendengarkan sebagian dari yang dibacanya dan terdengarlah olehnya perkataan yang baik.

Thufail berbisik kepada dirinya sendiri, “ celakalah ibuku kehilangana driku.  Demi Allah, aku ini seorang yang yang pandai dan seorang penyair.  Aku mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk.  Apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang diucapkan laki-laki itu?  Jika ucapannya itu baik, aku akan menerimanya dan bila buruk, aku akan meninggalkannya”.  Ia menunggunya hingga Rosulullah berpaling hendak ke rumahnya,  lalu mengilkutinya hingga masuk rumahnya. Thufail mengejar dan berkata kepada Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam.  Wahai Muhammad, kaummu telah mengatakan ini dan itu tentang dirimu kepadaku,  Demi Allah mereka selalu menakut-nakuti diriku terhadap urusannmu, hingga aku menutupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu,  tetapi Allah menghendakiku untuk mendengar perkataanmu. Dan terdengarlah perkataan yang baik.  karena itu jelaskanlah padaku apa yang menjadi urusannmu.

Rosulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam pun menawarkan islam kepadanya dan membacakan Al-Quran.  Demi Allah ia tidak pernah mendengar satu ucapan pun yang lebih baik atau satu urusan yang lebih benar daripada itu.  Akhirnya Thufail masuk islam dengan mengucapkan syahadat yang benar.

Thufail lalu berkata,  “Wahai Rosulullah,  aku ini seorang yang ditaati oleh kaumku dan sekarang aku akan kembali kepada mereka,  serta akan meyeru mereka kepada islam.  Untuk itu berdoalah kepada Allah agar aku diberinya suatu tanda yang akan menjadi bukti bagiku tentang urusan yang kudakwahkan kepada mereka.”  Rosulullah berdoa “ Ya Allah, karuniakanlah suatu tanda baginya”.

Allah Subhanahu Wata’ala dalam kitabnya telah memuji:

ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

 

Artinya:

Mereka mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal..”. (QS. Az-Zumar: 18)

 

Sekarang kita bertemu dengan seorang yang dipuji itu dan ia merupakan suatu gambaran yang tepat mengenai fitrah yang cerdas.  Saat mendengar beberapa ayat mengenai petunjuk  dan kebaikan yang diturunkan Allah ke dalam hati rasulnya,  seluruh pendengaran dan hatinya terbuka dan akhirnya mengulurkan tangannya untuk berbaiat dan masuk islam.  Tidak sebatas ini saja, ia langsung bersedia membebani diri dengan tanggung jawab menyeru kaumnya dan keluarganya kepada Agama yang benar dan jalan yang lurus ini. Saat tiba di rumah dan kampung halamannya,  ia langsung menjumpai ayahnya dan menjelaskan kepadanya tentang akidah dan hajat dalam hatinya.  Ia langsung mengajak ayahnya masuk islam setelah menceritakan perihal rasul yang menyeru kepada Agama Allah Subahanahu wata’la.  Ayahnya masuk islam sektika itu juga.  Selanjutnya Thufail beralih kepada ibunya, maka ibunyapun masuk islam.  Setelah ibunya ia berdakwah kepada istrinya yang juga menerima islam. Ketika hatinya telah tenang karena islam telah meliputi rumahnya,  iapun berpindah kepada kerabat dekat,  bahkan kepada seluruh penduduk Daus.  Namun, tidak ada seorang pun diantara mereka yang memenuhi seruannya dan memeluk islam kecuali Abu Hurairah.

Kaumnnya justru menghina dan mengucilkannya, hingga ia akhirnya ia pergi ke kepada Rasulullah untuk mengadukan kondisinya.  Ia pergi karena sudah mulai tidak tahan dengan perlakuan kaumnya terhadap ia dan dakwahnya.  Ketika tiba di Mekah, ia bergegas ke rumah Rasul dengan membawa kerinduan di hati.  Ia berkata kepada Nabi  “Wahai Rasulullah, aku tidak kuasa lagi menghadapi perzinahan dan riba yang merajalela di Daus.  Karena itu , berdoalah kepada Allah Subahanahu wata’la agar Allah Subahanahu wata’la menghancurkan Daus.”

Tetapi betapa terharunya Thufail ketika melihat Rasulullah mengangkatkan kedua tangan ke langit sembari berdoa “ Ya Allah, tunjukilah orang-orang Daus, dan datangkanlah mereka kesini sebagai muslim.” Setelah beliau memalingkan pandangan kepada Thufail sembari bersabda” kembalilah kepada kaummu dan berdakwahlah dengan lemah lembut”

Peristiwa yang ia saksikan memenuhi jiwanya dengan keharuan dan mengisi kalbunya dengan kepuasan.  Ia lalu memuji Allah dengan pujaan setingi-tingginya, yang telah menjadikan Rasul sebagai insan pengasih ini sebagai guru dan pembimbingnya, menjadikan islam sebagai agama dan tempat berlindungnya.  Ia segera bangkit dan kembali ke kampung halaman dan ke kaumnya.  Disana ia senantiasa mengajak mereka kepada islam secara lembut seperti yang diwasiatkan oleh Rosulullah shalahualaihi wasallam.

Selama ia berada di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah telah kembali ke Madinah dan telah terjadi perang Badar, Uhud, dan khandaq.  Ketika Rosulullah sedang berada di Khaibar, setelah kota itu dibukakan oleh Allah Subahanahu wata’la untuk kaum muslimin, tiba-tiba satu rombongan besar yang terdiri dari  delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah shalallahualaihi wasallam.  sambil membaca Tahllil dan takbir, Mereka lalu duduk dihadapan beliau lalu berbaiat secara bergantian.

Thufail melanjutkan aktivitas bersama jamaah yang telah beriman.  Ketika saat pembebasan Mekkah tiba, iapun memasukinya bersama sepuluh ribu orang, yang tidak pernah membusungkan dada, tetapi justru menundukan kepala sebagai wujud kekhusuan dan kehinaan diri dihadapan Allah Subahanahu wata’la,  meereka mensyukuri nikmat Allah Subahanahu wata’la yang telah membalas usaha mereka dengan kemenangan yang dekat dan pertolongan Allah Subahanahu wata’la yang nyata.

Thuafail melihat Rasululah shalallahualaihi wasallam menghancurkan berhala-berhala di ka’bah dan membersihkan kotoran-kotoran dan najis yang telah lama berkarat dengan tangan beliau.  Putra Daus itu teringat akan berhala milik Amr bin Yamamah.  Amr waktu itu sering memuji berhala itu bila sedang menginap di rumahnya sebagai tamu.  Ia berlutut dihadapanya merendahkan diri dan memohon kepadanya.  Kini tiba waktunya bagi Thufail untuk menghapus dan melebur dosa-dosanya waktu itu.  Saat itu juga ia menghampiri Rasululah shalallahualaihi wasallam dan meminta izin untuk pergi membakar berhala milik Amr bin Umamah yang biasa disebut dzul Kaffain (berhala bertelapak tangan dua).  Lau ia melantunkan syair

Wahai dzul kaffaain, aku bukan hambamu

Kami lebih dulu lahir daripada dirimu

Aku membawa api untuk mengisi perutmu

Thuafail melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah shalallahualaihi wasallam bermakmum kepada beliau, serta belajar dan berperang dalam rombongan beliau.  Ketiak Rasulullah naik ke Ar-Rafiqul Al-A’la,  beliau berpendapat bahwa dengan wafatnya Rasulullah shalallahualaihi wasallam tersebut,  tanggung jawabnya sebagai seorang muslim belum selesai, bahkan bahkan bisa dikatakan baru dimulai.  Ketika  pertempuran melawan orang-orang mustad berkobar, Thufail menyingsingkan bajunya dan terjun menghadapi pahit getirnnya pertempuran dengan semangat dan kegairahan seorang yang rindu menemui kesyahidan.  Ia selalu ikut dalam setiap perang melawan orang-orang murtad tersebut.

Pada pertempuran Yamamah,  ia berangkat bersama kaum muslimin dengan membawa putranya, Amr bin Thufail.  Saat perang baru dimulai, ia berwasiat kepada putranya agar perang matia-matian menghadapi tentara Musailamah Al-Kadzab hingga mendapatkan kesyahidan.  Ia juga berpesan kepada putranya bahwa menurut firasatnya, ia akan menemui ajalnya.

Setelah ia menyipakan pedang dan terjun ke medan pertempuan dengan semangat berkorban yang tinggi dan rela mati.  Bukan hanya mempertahankan nyawa dengan pedangnya, tetapi pedangnya dipertahankan dengan pedangnya.  Ketika ia gugur dan tubuhnya jatuh tersungkur, pedangnya masih teracung dan siapa untuk ditebaskan oleh tangannya yang sebelah yang tidak mengalami cedera apa-apa.

Dalam pertempuran itu Thuafail Ad Dausi gugur syahid dan jasadnya tersungkur oleh tusukan senjata, sedangkan sinar matanya seperti hendak memberi isyarat kepada putranya yang tidak dilihatnya ditengah-tengah kerumunan.  Isyarat itu ialah agar ia tetapa waspada dan tetap bertahan dan jangan sampai gugur.  Tetapi ternyata putranya tidak ingin ketinggalan lalu memnyusul ayah handanya beberapa saat setelahnya.  Di pertempuran Yarmuk di Syiria,  ketiak Amr bi Thufail ikut ambil bagian sebagai pejuang, disanalah ia memenuhi janjinya, gugur syahid.

Saat Amr bin Thufail hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir,  ia mengulurkan dan membentangkan telapak tangan kanannya seperti hendak menjawab dan menjabat tangan seseorang, siapakah yang tahu waktu itu ia bersalaman dengan roh ayahnya?

Demikianlah kisah salah satu sahabat Rasulullah shalallahualaihi wasallam yang memiliki kecerdasan dalam bersyair dan kemudian hidayah menghampirinya meskipun semua orang berusaha untuk mengahalanginya.  Kemuadian ia menggunakan kecerdasannya tersebut untuk berdakwah di kaumnya.  Meskipun ia adalah seorang penyair yang sangat terkemuka, dibawah naungan islam, ia kemudian menjadi seorng ksatria yang sangat tangguh dan mengajak putranya untuk sama-sama berjuang dalam agamanya,  ia sennatiasa berjuang untuk islam hingga saat Rasulullah shalallahualaihi wasallam telah meninggalpun semangatnya semakin berkobar dan akhirnya ia pun menemuai syahidnya dalam pertempuran melawan para murtad dalam pertempuran Yamamah.  Demikian putranyapun menemui ajalnya dalam pertempuran Yarmuk.

Teladan yang dapat diambil dari kisah diatas adalah,  bahwa setiap kecerdasan dan potensi yang kita miliki adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala dan harus digunakan dan dimanfaatkan untuk membela kepentingan agama Allah Subhanahu wata’ala. Yang kedua adalah,  kita harus bersabar saat berdakwah, kemudian berdakwah dengan lemah lembut, apapunyang terjadi janganlah kita berdoa untuk keburukan mereka, sebagaimana Roaulullah shalallahualaihi wasallam tunjukan kepada Thufail bahwa kaumnya akan datang kepadanya dan memeluk agama Islam.  Yang ketiga adalah,  Saat Allah Subhanahu wata’ala hendak menunjukan jalan kepada seseorang maka Allah Subhanahu wata’ala akan menunjukan dengan kekuasaanya.

Demikian biografi Thufail  salah sahabat dari enam puluh sahabat Rosulullah shalallahualaihi wasallam,  sebuah teladan untuk diteladani oleh penulis dan mudah-mudahan bisa diteladanai oleh yang lainya.

REFERENSI:

Oleh : Iis Rosmi Rojibah (pengajar Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Hadist)

Diringkas dari Biografi 60 Sahabat Rasululah yang ditulis Khalid Muhammad Khalid Penerbit Ummul Quro

Baca juga Artikel:

Infotaiment Dalam tinjauan Islam

Hiananya Hati Yang Keras

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.