WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA’

PERANGKAP RIYA

 

WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA’

Apa Syarat diterimanya Amal?.

Sebelum anda melangkah satu langkah wahai saudaraku muslim hendaklah anda mengetauhi jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan , namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capek dan keletihan saja di dunia dan disiksa di akhirat.

Maka, sebelum memulai semua amalan, hendaklah anda mengetauhui syarat diterimanya amal, yaitu harus dipenuhi dua perkara penting pada setiap amalan. Jika salah satu tidak tercapai , akibatnya amalan seseorang tidak ada harapan untuk diteria.

Pertama : Iklas Karena Allah.

Kedua :  Mengikuti Rasulullah dalam pelaksanaanya.

Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, perbuatan yang baik tidak masuk kategori amal shalih dan tidak akan diterima oleh Allah, sebagaimana firrman Allah :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

                “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robnya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabnya. ( QS. Al-Kahfi : 110 ).

                Dalam ayat ini ,Allah memerintahkan agar amalan yang dikerjakan ialah amalan shalih, yaitu amal perbuatan yang sesuai dengan aturan syariat. Selanjutnya. Allah memerintahkan orang yang menjalankanya supaya mengiklaskan amalan itu kepada Allah semata, tidak mencari pahala atau pamri dari selainya dengan amalan itu.

Al-Hafidz ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, Malan itu harus murni untuk Allah dan benar-benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah .

Perintah Iklas ,Larangan Berbuat Riya’ dan Syirik.

Ketauhuilah wahai saudaraku muslim , bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat. Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الَأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan dengan apa yang diniatkanya. (HR Bukhari)

                Dan dalam amal itu harus mengiklaskan niat untuk Allah ta’ala, berdasarkan firman Allah yang artinya.:

Padahal mereka tidak disuruh,kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. ( QS. Al-Bayyinah : 5 ).

Dan Rasulullah bersabda :  “Barangsiapa mempelajari ilmu  yang denganya dicari wajah Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapatkan aroma surge pada hari kiamat. ( HR. Abu Daud ).

Riya dan Jenis-Jenisnya.

Diantara jenis Riya ialah sebagai berikut.

  1. Riya Yang Berkaitan Dengan Badan.

Misalnya dengan menampakan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominanya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakan keloyoan badan, untuk menmpakan bahwasanya ia rajin berpuasa.

  1. Riya Dari Sisi Pakaian.

Misalnya, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan jenis pakain tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, makai a mengenakan pakaian itu agar dikatakan oleh orang dia itu orang Alim.

  1. Riya Dengan Perkataan.

Umumnya Riya seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasehat, memberi peringatan, menghafalkan hadist-hadist dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berduskusi dan melakukan perdebatan, menampakan kelebiahan ilmu , berdzikir dengan menggerakan dua bibir dihadapan orang banyak, menampakan kemarahan dihadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara, semua itu untuk menunjukan rasa takut, sedih dan kusyu kepada Allah.

  1. Riya Dengan Perbuatan.

Seperti riya nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikan lama, memanjangkan ruku, sujud, dan menampakan kekusyu’an, riya dengan memperlihatkan puasa, perang jihad, haji, shadaqoh dan semacamnya.

  1. Riya Dengan Kawan-Kawan dan Tamu-tamu.

Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang Alim atau abid, agar dikatakan “ Sesungguhnya si fulan telah mengunjungi si fulan .” Atau juga mengundang  orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “ sesungguhnya orang-orang beragama sering mendatanginya. .’

Perkara Yang Disangka Riya Dan Syirik , Padahal Bukan.

  1. Pujian manusia Untuk Seseorang Terhadap Perbuatan Baiknya.

عن أبي ذرّقال قيل لرسول الله : أرأيت الرّجل يعمل العمل من الخير ويحمده النّاس عليه قال تلك عاجل بشرى المؤمن.

 “Dari Abu Dzar, dia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah : “Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya, “Beliaupun bersabda :Itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin. ( HR.Muslim ).

  1. Giatnya Seorang Hambah Melakukan Ibadah Pada Saat Dilihat Oleh Orang-Orang yang Beribadah.

Mungkin ada seseorang yang menyangka bahwa perbuatan itu merupakan Riya’ padahal tidak mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian, bahwasanya setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah, tetapi terkadang banyak kendalayang menghalanginya. Dan kelalaian telah menyeretnya, sehingga dengan menyaksikanya orang lain itu, maka kemungkinan menjadi factor yang menyebabkan hilangnya kealaian tersebut, kemudia ia dapat menguji urusanya itu, dengan cara menggambarkan orang-orang lain itu berada disuatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia melihat jiwanya ringan melakukan ibadah,  maka itu untuk Allah. Jika jiwanya merasa berat, maka keringanan jiwanya dihadapan orang banyak itu merupakan riya, bandingkan perkara yang lainya dengan ini.

Aku katakan : Kemalasan seseorang ketika sendirian datang masuk dalam konteks sabda Nabi :

فإنّما يأكل الذّئب القاصية.

Sesungguhnya serigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri,” sedangkan semangatnya masuk kedalam bab melaksanakan sabda beliau.:

عليكم بالجماعة.

 “Hendaknya kamu menetapi jama’ah”. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah)

  1. Membaguskan dan Memperindah Pakaian,Sendal dan Semacamnya.

Didalam Shahi Muslim dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Beliau Bersabda.:

Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada kesombongan seberat biji Sawi, seorang laki-laki bertanya”? Ada seseorang yang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus, apakah termasuk kesambongan? Maka beliaupun menjawab”. Sesungguhnya Allah maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah Menolok kebenaran dan meremehkan manusia.( HR. Muslim ).

  1. Tidak Menceritakan Dosa-Dosanya dan menyembunyikanya.

Ini merupakan kewajiban menurut syariat atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan berdasarkan Sabda Nabi :

كل أمّتي معافى إلّا المجاهرين وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملاً ثمّ يصبح وقد ستره الله عليه فيقول يا فلان عملت البارحة كذا وكذا وقد بات يستره ربّه ويصبح يكشف ستر الله عنه.

Semua umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan kemaksiatan pada waktu malam dan Allah telah menutupinya, lalu ketika pagi ia mengatakan,” Hai fulan, kemaren aku melakukan ini dan ini, padahal waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya”. ( HR. Bukhari ).

                Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, dan bukan disini perincianya. Diantaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat ditengah-tengah hamba dan menyepelehkan perintah-perintah Allah ta’ala. Barang siapa yang menyang ka bahwa menyumbunyikan dosa-dosa bahwasanya riya dan menceritakan dosa-dosa merupakan keiklasan, maka orang itu telah diracukan oleh syeitan. Kita berlindung kepada Allah darinya.

  1. Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya.

Al-Maqdisi berkata: Yang tercela ialah, seseorang yang mencari ketenaran. Adapun adanya ketenaran dari sisi Allah ta’ala tanpa usaha manusia mencarinya, maka demikian itu tidak tercela.Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah imanya.

                Demikian, beberapa penjelasan berkaitan dengan Riya’ Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang iklas dalam beramal…

Karya : Syaikh Husain bin ‘Audah Al-Awayisyah

Diambil Dari : Majalah As-Sunnah Edisi 01/Thn.XII/1429H/2008H

Diringkas Oleh : Ummu Hizam Anita Sari

Baca juga artikel :

Wasiat-Wasiat Ulama Terdahulu

Tujuan Hidup

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.