PENGHANCUR SEGALA KENIKMATAN

penghancur-segala-kenikmatan

Penghancur kenikmatan, Mengangankan dan mencintai segala kebaikan dunia adalah sifat yang melekat pada diri manusia. Harapan melambung tinggi, keinginan ada kalanya meluap tanpa kendali. Kecintaan kepada hal-hal yang indah dan nikmat adalah ciri kebanyakan manusia di muka bumi. Alloh ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS. Ali Imron: 14)

Sungguh waktu terus berjalan tanpa ada seorangpun yang mampu menahannya walau hanya sesaat. Nafas yang sekarang ini keluar dari rongga hidung akan diganti dengan nafas yang lain sesuai dengan jatah yang telah ditentukan, menandakan usia sedikit demi sedikit semakin bertambah, dan jatah hidup semakin berkurang. Sehingga pada saatnya yang sudah ditentukan, nafas itu akan terhenti dan usia akan ditutup dengan kematian. Selanjutnya akan berpindah tempat ke alam yang sangat jauh berbeda dari alam dunia ini. Itulah alam kubur yang merupakan persinggahan pertama menuju alam akhirat.

Benarlah apa yang dikatakan Rosululloh, kematian adalah pemberhenti segala ketamakan dan kerakusan, meluluhlantakkan kepongahan dan kesombongan, pemutus segala kelezatan dan kenikmatan, penghancur semua impian.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِمَجْلِسٍ وَهُمْ يَضْحَكُوْنَ فَقَالَ أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ أَحْسَبُهُ قَالَ فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِي ضِيْقٍ مِنَ العِيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ وَلاَ فِي سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهُ عَلَيْهِ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik rodhiyalllohu ‘alaihi wa sallam bahwa Rosululloh n melewati sebuah majlis dan mereka sedang tertawa, kemudian Rosululloh n  bersabda: “Perbanyaklah oleh kalian mengingat pemutus segala kelezatan”. Aku (Anas bin Malik) menyangka bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seseorang mengingatnya dalam kondisi kesempitan hidup melainkan telah melapangkannya, dan dalam kelapangan hidup melainkan  telah menyempitkan atasnya.”[1]

Dalam riwayat lain beliau bersabda,

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan (mati)”[2]

Al-Qurthubi rohimahulloh berkata: “Sabda Nabi, “Perbanyaklah  kalian mengingat penghancur segala kenikmatan”, adalah ucapan yang simpel akan tetapi mencakup seluruh peringatan dan paling sempurna dalam hal nasihat. Karena sesungguhnya orang yang benar-benar mengingat mati akan hilang seluruh kenikmatan yang ada padanya, akan menghalanginya untuk berangan-angan tentang yang akan datang, dan akan menjadikan dirinya zuhud terhadap kehidupannya.[3]

Kematian pasti tiba tanpa ragu

Sebagai manusia yang berakal, kita sadar betul bahwa bunga yang begitu indah berseri di musim semi, lama kelamaan akan layu. Demikian halnya baju baru yang kita kenakan, lambat laun akan usang. Semua orang dewasa pasti pernah merasakan masa kanak-kanak, dengan bergulirnya waktu dan tanpa disadari, saat ini sudah semakin berumur, yang selanjutnya akan menemui ajal yang pasti menanti. Bagaikan matahari yang terbit di pagi hari dengan begitu perkasa dengan sinarnya yang menyilaukan, secara lamban namun pasti, iapun  menjumpai masa senja dan ahirnya terbenam di ufuk barat pada saatnya yang pasti.

Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang hidup di dunia ini. Hal tersebut banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi . Diantaranya adalah firman Alloh ta’ala:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron: 185)

Jika ada manusia di dunia yang patut lolos dari kematian, maka dia adalah Rosululloh Muhammad. Karena beliau adalah sebaik-baik manusia, paling bertaqwa dan paling takut kepada Alloh. Namun sebagai manusia biasa yang hidup di dunia, maka beliaupun harus mati, dan pindah dari alam dunia ke alam yang lain. Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

“Sesungguhna engkau mati dan mereka juga mati”. (QS. Az Zumar: 30)

Mati merupakan sunnatulloh yang berlaku sejak dahulu hingga kini dan sampai nanti selama dunia ini masih ada. Seluruh jin dan manusia yang telah Alloh bebankan kepada mereka untuk beribadah kepada-Nya pasti merasakan mati dan tidak ada yang kekal. Alloh ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”. (QS. Al-Anbiyâ’: 34)

Rosululloh n  bersabda dalam lantunan doanya:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Aku berlindung dengan keagungan-Mu, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia semuanya mati.”[4]

Jika anda dihadapkan kepada satu pertanyaan, “Apakah anda siap mati sekarang?”, maka jawaban apakah yang akan anda berikan?. Mungkin dengan sepontan anda akan mengatakan: “Tidak, saya belum siap, karena saya masih banyak dosa”. Sebagian bahkan kebanyakan manusia belum siap untuk menghadapi mati dan berpisah dengan dunia ini. Dengan berbagai alasan mereka ingin tetap hidup lebih lama lagi. Akan tetapi itu semua akan sia-sia jika tidak waspada. Karena mati akan datang secara tiba-tiba. Alloh ta’ala telah mengingatkan kita dalam firman-Nya,

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78)

Dalam ayat yang lain Alloh ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Alloh), yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumu`ah: 5)

Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Setiap manusia pasti akan mati dan tidak mungkin tidak. Tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan diri dari kematian, baik dia berusaha keras untuk menghalaunya ataupun tidak. Karena mati baginya adalah waktu yang pasti tiba dan masa yang sudah terbagi.

Kholid bin Walid rhodhiallohu ‘anhu ketika ia berada di atas dipannya dan ajal menghampirinya ia berkata: “Aku telah turut serta dalam perang ini dan perang itu, dan tidak ada satu anggota tubuhku yang tidak terluka, baik tertusuk atau terkena anak panah, dan sekarang aku harus mati di atas dipanku, maka tidak terlelap mata orang-orang yang penakut”.[5]

Penyesalan yang sia-sia.

Wahai saudaraku yang hidupnya dipenuhi kemaksiatan. Jangan engkau lihat remehnya maksiat yang engkau lakukan. Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat. Engkau bermaksiat kepada Alloh yang telah menciptakanmu. Engkau bermaksiat kepada Dzat yang telah memberikan segala sesuatu yang engkau butuhkan walaupun engkau tidak memintanya. Alloh telah memberikan kesempatan kepadamu untuk tetap hidup dan agar engkau segera bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Sungguh kemaksiatan adalah penyimpangan yang nyata dari jalan Alloh. Dan tidak pantas bagi kita untuk menyimpang dari jalan-Nya walau sedikit saja.

Wahai saudaraku yang sedang bergelimang dosa dan nista. Jangan pernah engkau berfikir besok atau lusa masih ada kesempatan untuk bertaubat. Karena mati akan datang secara tiba-tiba tidak mengenal waktu dan tempat. Sungguh karunia yang paling baik jika kita boleh tawar menawar usia ketika ajal menjemput walau sesaat. Namun itu tidak mungkin. Untuk sesaatpun tidak mungkin. Oleh karenanya, janganlah kita terpedaya oleh bujuk rayu setan dan lantunan irama nafsu yang menyesatkan.

Sungguh tentang masa yang pasti tiba telah diingatkan oleh Alloh dalam banyak ayat-Nya di dalam Al-Qur’an. Penyesalan bahkan beribu penyesalan tiada guna. Ratapan dan tangisan setelah kematian tiba tidak bermanfaat. Orang sholih ingin dikembalikan ke dunia agar bisa beramal sholih lebih banyak lagi. Orang fasiq ahli maksiat ingin dikembalikan ke dunia agar dapat bertaubat dan kembali ke jalan Alloh yang lurus. Orang kafir dan munafik ingin dikembalikan ke dunia agar mereka beriman dengan sungguh-sunnguh. Akan tetapi penyesalan tinggallah penyesalan hampa tanpa arti. Alloh ta’ala berfirman:

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ

“Satu jiwa mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Alloh”. (QS. Az Zumar: 56)

Di dalam ayat yang lain Alloh ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu hanyalah ucapan yang ia ucapkan saja. dan dihadapan mereka ada barzah sampai mereka dibangkitkan”. (QS. Al Mukminun: 99-100)

Di dalam ayat lain Alloh ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ. وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Robb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?. Dan Alloh sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Alloh Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Munâfiqûn: 10-11)

Di dalam ayat lain Alloh ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ [إِبْرَاهِيمَ:44]

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang- orang yang zholim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rosul-rosul”. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?”. (QS. Ibrohîm: 44)

Dan masih bayak lagi ayat-ayat yang senada di dalam Al-Qur’an. Bagi yang memiliki nurani yang bersih, cukup dengan membaca satu ayat saja menjadi cemeti baginya untuk kembali ke jalan yang benar.

Alloh ta’ala juga mengabarkan bahwa usia manusia telah ditentukan. Kematian datang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dan tidak ada kata tawar menawar usia walau sesaat. Diantara dalilnya adalah firman Alloh ta’ala:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَابًا مُّؤَجَّلاً

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Alloh, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”.[6]

Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Seseorang tidak mati melainkan dengan ketentuan Alloh ta’ala dan waktu yang Ia berikan kepadanya telah sempurna”. Selanjutnya beliau berkata: “Ayat yang tersebut di atas merupakan penyemangat bagi orang-orang yang penakut sekaligus dorongan bagi mereka untuk berperang. Karena maju ataupun mundur dalam peperangan tidak mengurangi atau menambah usia sesorang”.[7]

Akhirnya cukuplah kematian sebagai nasihat

Ibnul Jauzi rohimahulloh berkata: “Betapa baik kondisi seseorang yang mengingat kematian, kemudian dia beramal untuk menghadapinya sebelum terlambat. Dia menyibukkan diri untuk mengabdikan dirinya kepada Tuannya. Memanfaatkan kehidupannya di dunia untuk kebahagiaan alam akhiratnya, serta rindu akan tempat tinggal yang kenikmatannya tidak hilang dan kemuliaannya tidak pudar.

Dalam sebuah riwayat dengan sanad yang hasan dinyatakan bahwa Rosululloh n  bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ

“Jibril mendatangiku dan berkata: “Wahai Muhammad hiduplah sesukamu kerena sesungguhnya engkau pasti mati, cintai siapa saja sesukamu karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan lakukan apa saja sesukamu karena sesunggunhnya engkau pasti dibalas.”[8]

Wallôhu a`lam bishshowâb

[1] HR. Bazzar dan Baihaqi dengan sanad yang hasan. Lihat shohîhut targhib wat tarhib hadits no. 3334 oleh Syeikh Albani.

[2] HR. Bukhori, lihat Irwâ’ul gholîl, Kitâbul janâiz, hadits no. 682. atau dalam Mukhtashor Irwa’  dengan nomor hadits yang sama oleh Syeikh Albani.

[3] At-Tadzkiroh bi ahwâlil mautâ wa umûril âkhiroh, Al-Qurthubi, Tahqîq DR. Shodiq Muhammad Ibrohim, Maktabah Dârul Minhâj – Riyadh, V.01, th. 1425 H: 122

[4] HR. Bukhori: 7383, dari Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma.

[5] Tafsirul Qur’anil ‘Adzim, Ibnu Katsir, Tahqiq Sami Muhammad Salamah, Daar Thoyyibah, V.02, th. 1999 M: 2/360

[6] QS. Ali Imron: 145

[7] Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm, Ibnu Katsir: 2/129

[8] HR. Tabroni, Hakim, Abu Nu’aim. Lihat As Silsilah As Shahihah: 831

Oleh: Ust. Amruddin

Refrensi: Diambil dari majalah Lentera Qolbu

 

Baca juga artikel berikut:

PEMBATAL KEISLAMAN SESEORANG

BENARKAH CARA BERISLAM ANDA?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.