Menyikapi Banyak Tertawa

Fenomena tawa memang sudah lazim dan biasa terjadi. Dan itu memang wajar dan tak ada salahnya. Namun segala sesuatu kalau dilakukan dengan berlebih-lebihan, pasti membawa efek buruk. Dan bila banyak tertawa sudah menjadi hal yang biasa di setiap perkumpulan atau kerumunan orang, biasanya hal itu akan menjurus pada hal-hal yang dilarang dalam agama; seperti memoles perkataan dengan kedustaan, mengolok dan mengejek orang tertentu, dan yang semisalnya.

Fenomena yang sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita ini, di mana terdengar darinya lengkingan tawa yang tak berkesudahan, hiruk pikuk yang memekakkan telinga, dan juga obrolan yang tak tentu arah pembicaraannya, bahkan terkadang memperbincangkan hal yang tabu dan melanggar norma; ini semua perlu untuk kita perbaiki. Perlu untuk kita carikan solusi dan terapinya. Agar hati mereka tidak gersang, tidak keras dan kaku kala mendengar siraman oase iman.

Paling tidak, untuk memberikan terapi atas hal ini – seperti yang diungkapkan Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajjid.- bisa dilihat dari dua sisi; sisi ilmiah dan sisi praktis (amaliah). Demikian seperti yang diungkapkan Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajjid.

*Dari sisi ilmiah, maka bisa kita perhatikan dua perkara berikut:

1.Hendaknya kita tahu bagaimanakah petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam masalah tertawa. Karena beliaulah tauladan terbaik dalam hal tersebut dan dalam segala hal. Dalam hadits shohih dinyatakan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidaklah tertawa melainkan dengan senyuman. Dan dalam hadits lain dinyatakan bahwa beliau orang yang seringkali diam dan sedikit tertawa (HR. Ahmad; bisa dilihat di Shohihul Jami’ 4822). Dan Aisyah juga berkata: “Tidak pernah sama sekali aku melihat Rosululloh n tertawa dengan lepas sampai aku melihat pangkal langit-langit mulut beliau. Beliau hanyalah tersenyum.” (HR. Abu Daud). Dan dalam hadits shohih dinyatakan bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa. Karena sesungguhnya banyak tawa itu bisa mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain: “Karena sesungguhnya banyak tertawa itu merupakan rusaknya hati.” Dan bila seorang muslim sudah tahu akan hal-hal seperti ini, maka tak sepantasnya bila kemudian ia melakukan hal yang tak jelas, padahal ia tahu ada kerusakan yang tersimpan di dalamnya. Ini adalah solusi dari perkara ini secara singkat dilihat dari sisi ilmiah.

Namun di sini perlu ditegaskan bahwa tertawa itu sendiri sebenarnya bukanlah hal yang haram. Atau jangan dipahami bahwa seorang muslim haruslah bermuka masam, kasar dan memasang muka tak bersahabat. Karena tertawa adalah suatu hal yang alamiah dan sudah merupakan tabiat. Alloh sendiri berfirman:

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى

dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. (QS. An-Najm:43)

Memang, tawa itu sendiri secara alami adalah suatu naluri; datang secara serta merta. Bila kita melihat sesuatu yang menyenangkan, kitapun tertawa; dan tak bisa dibendung ataupun disembunyikan. Demikian pula dengan menangis. Alloh lah yang membuat orang senang, sehingga Alloh pun menjadikannya tertawa. Dan Alloh pula yang membuat orang sedih, sehingga membuatnya menangis. Jadi, dalam batas kewajaran, ini adalah suatu naluri, bukan hal yang terlarang.

Akan tetapi masalah yang tengah kita perbincangkan tentang solusinya dan kita peringatkan tentang berbagai dampak dan efeknya adalah:

-bila berbagai tempat berkumpulnya orang didominasi oleh deraian dan lengkingan tawa yang bersahut-sahutan.

-bila seorang mukmin merusak hatinya dengan memperbanyak tawa. Padahal semestinya ia menjadi orang yang bersungguh-sungguh dan berhati yang sehat.

-bila seorang muballigh lebih suka membuat orang tertawa sebagai sarana –seperti yang ia sangka – untuk menarik minat audiens, untuk menanamkan kesan dan memberikan manfaat agama kepada mereka.Sedangkan ia tidak tahu bahwa orang-orang mengelilinginya agar mereka bisa mendapat hiburan dan bisa tertawa. Sedangkan faidah dan manfaat yang mereka peroleh begitu minim.

Yang menjadi masalah adalah bahwa sebagian orang menjadikan tertawa sebagai jalan pelepas keresahan dan kegundahannya. Ia meninggalkan solusi yang jauh lebih baik dan mencari ganti dengan perkara yang sebenarnya bukan solusi dan tidak menyelesaikan masalah. Ketika ia mencari hal yang bisa membuatnya tertawa, mungkin saat itu ia lupa dengan masalah yang tengah ia hadapi. Namun setelah itu, keadaannya pun kembali seperti sedia kala. Dirundung derita dan nestapa.

Padahal seharusnya kita tidak melupakan solusi dan terapi dari Nabi untuk mengobati kegundahan, keresahan dan kesulitan. Adalah Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, bila beliau tertimpa hal yang sulit, beliau akan beranjak sholat. Dan bila tertimpa suatu kesusahan, beliau berdoa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi makhluk, hanya dengan rahmat-Mu lah aku memohon pertolongan.” (HR. Turmudzi) Sedangkan dalam hadits lainnya, bahwa Rosululloh mengajarkan kepada Asma’ Binti Umais, agar mengucapkan doa berikut kala tertimpa kesusahan: bila tertimpa keresahan atau kegundahan, beliau berdoa:

اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ شَيئاً

Alloh Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (HR. Nasai dalam As-Sunanul Kubro)

Dan masih ada lagi doa dan dzikir yang diajarkan Rosul terkait dengan hal tersebut.

*Dari sisi praktis (amaliah)

Solusi untuk masalah ini, di samping juga harus menghadirkan solusi ilmiah, yang terwujud dengan meninjau ayat-ayat dan hadits-hadits yang berbicara mengenai hal tersebut, juga perlu untuk dibarengi dengan langkah-langkah konkrit dan praktis. Sehingga ia akan tergiring untuk selalu ingat kepada Alloh. Di antara cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah:

  1. Mengingat kematian, hari akhir dan segala yang ada di dalamnya, seperti adanya hisab, neraka, dan segala kengerian lain yang ada di sana. Dan untuk menumbuhkan kesadaran ini, perlu merenungi nash-nash yang menggambarkan peristiwa-peristiwa tersebut. Dan juga dengan seringkali bermajlis dengan mereka ahli zuhud dan yang memiliki hati lembut.

2.Merenungi realita kaum muslimin,dan kenyataan bahwa banyak di antara mereka yang jauh dari agama, terbelakang dalam segala bidang, dan ditambah lagi dengan penindasan dan upaya penumpasan kaum muslimin, serta berbagai persekongkolan internasional untuk menjatuhkan mereka. Bila seorang muslim merenungi berbagai keadaan ini, maka pasti akan membawanya untuk selalu memikirkan keadaan dan nasib mereka.

3.Berusaha untuk menahan tawa dari dirinya dan juga lainnya. terkadang seseorang duduk dengan orang-orang yang biasanya kebanyakan waktunya habis untuk tertawa dan terbahak-bahak. Maka pertama-tama, ia harus berusaha menahan tawa dari dirinya. Kemudian yang kedua, ia menasihati orang-orang yang ada. Dan ini memerlukan sosok yang serius, tetap pendirian, dan luwes. Dan perlu juga untuk disampaikan berbagai nasihat terkait dengan hal tersebut, seperti halnya memperingatkan dampak buruk dari tertawa dan membuat orang tertawa, misalnya hal itu bisa menjurus pada dusta. Karena terkadang seseorang bila tidak memiliki cerita nyata, ia akan membuat-buat kisah palsu untuk bisa membuat orang tertawa. Padahal Nabi pernah bersabda: “Celaka bagi orang yang berbicara, lalu ia berdusta agar orang-orang tertawa… celaka baginya dan celaka baginya.” (Shohihul Jami’ 7136).

6.Mengalihkan tema pembicaraan menuju pembicaraan yang membawa faidah. Bila ada hadirin yang keterlaluan dalam tertawa, sudah keluar dari batasan wajar dalam tertawa, maka kalau bisa kita masuki relung hati mereka dengan cara yang pas. Dengan maksud agar kita bisa beralih menuju tema baru yang bisa membawa manfaat.

7.Bila hal tersebut sudah sampai pada puncaknya dan sudah di luar kendali, misalnya saja mereka tidak bisa beralih menuju perkara yang bermanfaat, maka terapi yang terakhir adalah kita keluar dari kerumunan mereka. ini untuk menjaga diri kita dan menjaga agar hati kita tak terjangkiti virus yang merusak; setelah kita menunaikan kewajiban kita yaitu memberi nasihat dan pengarahan.

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (QS. Al-An’am:164).

Disadur dari Hulul Wa Syakawa –Syamilah- Syaikh Muhammad Munajjid.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 07 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.