MENYELAMI DZIKIR DAN DOA SAAT HENDAK TIDUR

menyelami-adab-dan-doa-saat-hendak-tidur

Manusia tidur, begitu pula manusia mati. Seperti halnya manusia itu bangun, begitu pula iapun dibangkitkan. Tidur merupakan satu tanda di antara tanda-tanda kebesaran Alloh, di mana begitu banyak hikmah dan faidah yang bisa dipetik dari tidurnya para makhluk. Dan itu menunjukkan bahwa Alloh semata sajalah yang  berhak untuk disembah, karena Dia Maha Hidup, tidak mati, tidak dihinggapi kantuk apalagi tidur; tidak dengan makhluk-makhluk-Nya.

Tidur merupakan kebutuhan yang tak bisa dielakkan bagi setiap manusia. Tidur menjadi pelepas penat dan letih bagi badan dan pikiran yang telah diforsir seharian dalam berbagai aktivitas yang beragam. Dan merupakan fenomena yang sangat mengherankan, bila manusia senantiasa berusaha –walau kadang ia harus mengerahkan segenap yang ada pada dirinya- untuk bisa mendatangkan tidurnya dan menjadikan matanya terkatup, karena ia yakin bahwa ia membutuhkan tidur; -dan ia pun tak gentar untuk memasuki alam tidurnya; meski di siang harinya mungkin adalah hari yang kelam baginya- namun demikian, kala disebutkan kematian di hadapannya, bulu kuduknya pun akan berdiri karena ketakutan dan iapun diliputi perasaan mencekam.

Padahal bila manusia tahu, kematian hampir sama dengan tidur. Tidur hanyalah kematian kecil sebelum ia benar-benar memasuki alam kematian. Tidur juga merupakan masa istirahat panjang –bagi yang mendapatkan istirahat dan ketenangan- yang berbeda dengan tidur yang selama ini ia dambakan untuk hadir dalam kesehariannya. Padahal sebenarnya tak perlu ada keresahan dan perasaan mencekam menghadapi tidur panjang ini yakni kematian, selama hati manusia penuh dengan iman kepada-Nya dan iman dengan hari pembalasan-Nya. Maka dari itu, hendaknya kita selalu antusias untuk menghadirkan ketaatan kepada Alloh dan mendatangkan keridhaan-Nya; agar kita bisa tidur dengan tidur yang terbaik, dan bisa dibangunkan dengan mengisi lembaran amal kebaikan, dan kelak dibangkitkan dengan sebaik-baik keadaan, untuk mendapatkan balasan yang terbaik dan nikmat yang melimpah dari-Nya.

Itulah pesan yang bisa kita tangkap dari firman Alloh yang mengemukakan tentang hakikat tidur yang selama ini dijalani anak manusia. Alloh berfirman dalam QS. Az-Zumar:42:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Juga firman Alloh lainnya (QS. Al-An’am:60):

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Sebagian salaf berkata: ruh orang-orang yang telah meninggal diambil bila mereka telah mati, demikian pula dengan ruh orang-orang yang masih hidup saat mereka tidur, hingga keduanya pun akan saling berkenalan sekadar yang Alloh kehendaki untuk mereka berkenalan. Lalu Dia menahan ruh dari orang yang telah mati, dan melepaskan ruh lainnya yang masih hidup hingga waktu yang telah ditentukan.

Dan pada edisi lalu telah dibahas perihal adab dan tata cara seorang muslim kala hendak beranjak ke tempat tidurnya. Sungguh, itu merupakan adab nan tinggi dan bernilai bagi yang memahaminya. Dan kali ini kita akan sedikit mengulas tentang dzikir-dzikir dan doa-doa yang hendaknya dibaca seorang muslim kala hendak tidur. Mengingat bahwa masa tidur adalah masa kematian kecil, yang seseorang tidaklah tahu apakah itu akan berujung pada kematian besar; yaitu kematian sesungguhnya, ataukah ia masih diberi kesempatan untuk melakoni hidupnya di dunia hingga waktu yang ditentukan. Sehingga pada masa ini, seseorang perlu pula untuk bersiap-siap, sehingga ia menjelajah alam kematian kecilnya dengan penuh kesucian, penuh khidmat, dengan bibir yang sebelumnya telah melantunkan untaian doa dan dzikir yang membuat jiwanya dekat dengan Alloh. Ia akan mengukir amal salih sebelum benar-benar kematian besar menjemputnya, dan itu sudah ia persiapkan sebaik mungkin sebelum tidur. Kalaupun ruhnya masih dikembalikan, iapun akan melewati tidurnya dengan mimpi indah, jauh dari belenggu setan, dan akan kembali beraktivitas dengan etos seorang mukmin yang selalu berusaha untuk mendulang pahala.

Sekarang kita akan mengulas sedikit tentang dzikir dan doa yang dipanjatkan sebelum beranjak ke tempat tidur. Dan apa yang terkandung di balik itu semua. Semoga saja bisa menggugah dan menyalakan kembali obor iman yang selama ini menerangi dada insya Alloh. Karena berdoa ketika hendak tidur akan menjadi pungkasan amalan seseorang pada hari tersebut. Dan bila ia terbangun, maka amalan pertamanya adalah berdzikir dengan tauhid dan kalimat-kalimat thayyibah. Sehingga para malaikat pencatat amalpun akan menuliskan awal lembaran amalnya dengan catatan amal salih, dan begitu pula akan menyudahinya dengan seperti itu juga. Dengan demikian diharapkan ampunan baginya di antara kedua keadaan tersebut.

Adalah Nabi bila hendak tidur, beliau berucap:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

Dengan nama-Mu Ya Alloh aku mati dan hidup.

Sedangkan bila bangun dari tidur, beliau berucap:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Segala puji bagi Alloh Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya lah akan dibangkitkan. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam doa yang diajarkan Nabi ini saat seseorang hendak tidur, terdapat makna yang mendalam. Lihatlah bagaimana seharusnya seorang hamba menjadikan Alloh sebagai sandaran utama dalam segala urusan, baik dalam hidup maupun dalam kematian. Doa ini mengandung makna, bahwa aku tidur dengan meminta bantuan dari Alloh, dengan memintakan pernjagaan dari-Nya, dan mengharapkan perlindungan dan keselamatan dari Alloh. Dan bahwa aku ini dalam keadaan seperti ini, aku selalu mengingat nama-Mu. Dan dengan mengingat nama-Mu, aku hidup selama masa hayatku, dan di atas nama-Mu pula aku meninggal.

Dan di sana ada isyarat, bahwa seorang muslim tidak bisa lepas -walau sekejap saja- dari dzikir kepada Alloh, baik saat tidurnya, saat terjaga, dan di semua urusannya. Lihatlah bagaimana seorang muslim saat hendak tidur mengakhiri amalannya dengan dzikir; dan juga saat ia bangun, amalan pertama dari dirinya adalah dzikir kepada Alloh. Dan begitulah ia dalam semua waktunya. Ia selalu melanggengkan dzikir kepada Alloh. Atas pondasi dzikir kepada Alloh seorang muslim hidup, dan di atasnya pula ia meninggal, dan dalam keadaan seperti itu pulalah ia akan dibangkitkan kelak di hari Kiamat. .

Karena itulah saat bangun pun, bacaan dzikir pun mengingatkan akan hari kebangkitan kelak; di mana bangun dari tidur mengingatkan akan adanya hari kebangkitan di mana semua para hamba akan dibangkitkan pada hari Kiamat. Sehingga seorang muslim pun ketika meresapi doa bangun tidur inipun  akan merasakan betapa hidup manusia tidak bisa lepas dari mengingat Alloh, karena semua hamba akan dibangkitkan kelak untuk menuai amalannya. Namun yang menjadi musibah adalah banyak orang yang kurang peka terhadap hal ini, bahkan terkadang kita pun hanya sekedar hapal doa ini di bibir saja, namun tidak sampai meresap ke dalam sanubari kita.

Dan Rosul pun mengajarkan kepada kita, bahwa bila beliau hendak tidur, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya yang kanan dan berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

Ya Alloh, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan para hamba-Mu. (HR. Abu Daud)

Beliau membaca doa ini, padahal beliau terjaga dari adzab Alloh! Sungguh betapa tinggi sikap tawadhu’ beliau kepada Alloh, dan begitu tinggi beliau mengagungkan-Nya. Sekaligus beliau hendak mengajarkan kepada umatnya akan doa ini. Karena bisa jadi itu adalah saat-saat terakhir dari umur mereka, sehingga akhir amalan mereka adalah dzikir kepada Alloh dengan disertai pengakuan akan kealpaan hamba dalam beramal untuk-Nya.

*Rosul n juga bersabda: “BIla salah seorang dari kalian beranjak ke tempat tidurnya, maka hendaklah ia mengibas-ngibaskan tempat tidurnya dengan bagian dalam kain sarungnya. Karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang ditinggalkan padanya, kemudian agar ia berdoa:

باسْمِكَ رَبي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أرْفَعُهُ، إنْ أمْسَكْتَ نَفْسِي فارْحَمْها، وَإِنْ أرْسَلْتَها فاحْفَظْها بما تَحْفَظُ بِهِ عِبادَكَ الصَّالِحينَ

Dengan menyebut nama-Mu wahai Robbku aku meletakkan lambungku, dan dengan menyebut-Mu pula aku mengangkatnya. Bila Engkau menahan jiwaku, maka kasihilah dia, dan bila Engkau melepaskannya maka jagalah ia dengan penjagaan yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang salih. (HR. Bukhori, Muslim)

Demikian pula dengan apa yang diajarkan Ibnu Umar, di mana Ibnu Umar mendapatkannya dari Rosululloh, bila seseorang beranjak ke pembaringannya agar berdoa:

اللَّهُمَّ أنْتَ خَلَقْتَ نَفْسِي وأنْتَ تَتَوَفَّاها، لَكَ مَمَاتُها وَمَحْياها، إنْ أحْيَيْتَها فاحْفَظْها، وَإنْ أمَتَّها فاغْفِرْ لَهَا، اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ العافِيَةَ

Ya Alloh, Engkaulah Yang menciptakan diriku dan Engkau pula yang mewafatkannya. Bagi-Mu lah mati dan hidupnya. Bila Engkau menghidupkannya maka jagalah ia, dan jika Engkau mematikannya maka ampunilah ia. Ya Alloh, sungguh aku memohon kepada-Mu keselamatan. (HR. Muslim)

Karena itulah, hendaknya seorang muslim meminta penjagaan kepada Robbnya bila memang ia ditakdirkan masih diberi umur; dan bila ia ditakdirkan meninggal, agar ia memohonkan rahmat dan ampunan dari Alloh. Sungguh, satu pengajaran yang sangat berharga.

Demikian pula agar seorang muslim ketika beranjak ke tempat tidurnya agar berdoa seperti yang dibaca Rosul:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أطْعَمَنا وَسَقَانا، وكَفانا وآوَانا، فَكَمْ مِمَّنْ لا كافِيَ لَهُ وَلا مُؤْوِيَ

Segala puji bagi Alloh Yang telah memberi makan dan minum kepada kita, telah mencukupi (melindungi) dan memberi tempat berteduh kepada kita. Berapa banyak orang yang tidak diberi kecukupan dan perlindungan oleh Alloh, dan berapa banyak orang yang tidak diberi tempat hunian. (HR. Turmudzi)

Kita perhatikan dalam doa ini; betapa doa ini menuntut kita untuk mereview apa yang berlaku selama ini sepanjang hari yang kita lalui. Kita perhatikan episode kehidupan yang telah kita jalani; penggal demi penggal, sehingga kita pun akan mengaku, betapa nikmat dan rahmat yang telah Dia berikan kepada kita; untuk kemudian kita mengintrospeksi itu semua. Tetap saja kita telah berbuat alpa dan kurang. Lalu di mana syukur kita atas semua itu? Karena itu, seseorang yang hendak beranjak ke tempat pembaringannya perlu untuk mengingat dua hal ini:

-Mengingat apa yang telah berlalu di sepanjang hari yang dijalani; sehingga iapun memuji Alloh atas segala pasokan nikmat yang diberikan untuknya, baik berupa kesehatan, keselamatan, makanan, minuman, tempat tinggal dan lainnya.

-Dan agar mengingat waktu mendatang yang akan ia jelang. Di mana seseorang berada di antara dua hal: bisa saja ruhnya dicabut saat ia nanti tidur; dan ia pun meminta kepada Alloh agar diberikan ampunan dan rahmat; atau ia akan diberi jeda umur yang lebih panjang, sehingga iapun meminta agar diberi penjagaan seperti halnya Alloh menjaga para hamba-Nya yang salih.

Bersambung…

Diambil dari Al-Adzkâr, Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkâr, Al-Futûhât Ar-Robbâniyyah Syarh Al-Adzkar An-Nawawiyyah

Sumber: Majalah Lentera Qolbu

artikel lainnya:

Dijalanpun Perlu Etika

Jika Nabi Muhammad Wafat atau Dibunuh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.