Menjaga Kemuliaan Islam

Menjaga Kemuliaan Islam
Sumber gambar: Cover buku "Islam The Perfect Religion" karya Sy. Muhammad Amin asy-Syinqeety

Oleh: Brilly El-Rasheed

Muslim otomatis cinta Islam, ingin Islam jaya nan mulia, sebagaimana awalnya dan sebagaimana mestinya. Kendati harus bersinggungan dengan pelbagai kelompok kepentingan, sepanjang sesuai petunjuk Islam, muslim pantang mundur membela citra Islam demi menjaga kemuliaan islam. Kendati harus berhadapan dengan kondisi dunia yang rusak dan tak kenal Islam kecuali sedikit, muslim berada di garda terdepan menjaga kemuliaan Islam. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menyatakan,

إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ فِيْ أُنَاسٍ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana pertama kali muncul. Maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing. Yaitu orang-orang sholih (baik) di tengah orang-orang buruk. Orang yang memusuhi mereka lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shohih Muslim, Musnad Ahmad, Shohih Al-Jami’ no. 3921)

Tekad yang membaja untuk menjaga kemuliaan Islam kan mengundang kemuliaan pada pemiliknya. Seperti juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam kesempatan lain,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ [مَنْصُورِينَ] لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ [حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ] وَهُمْ كَذَلِكَ

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran [mendapat pertolongan (dari Alloh)], orang-orang yang menghina mereka tidak bisa membahayakan mereka, sampai datang keputusan Alloh [qiyamah tegak], dan mereka tetap berada pada kondisi tersebut.” (Muttafaq ‘alaih; Musnad Ahmad; Sunan At-Tirmidzi; Sunan Ibnu Majah)

Dua hadits ini mengisyaratkan pentingnya menjaga kemuliaan Islam di mata dunia, tentu dengan cara yang dituntunkan Islam. Terlebih ketika qiyamat sudah dekat, seperti sekarang ini. Muslim diharapkan senantiasa mencurahkan segala potensi untuk menepis stigma negatif terhadap Islam, yang digulirkan oleh musuh-musuh Islam, yaitu nonmuslim yang otomatis kafir, missionaris, orientalis, dan liberalis-pluralis. Jangan dikira ini bukan dakwah.

Telah banyak tokoh Islam yang membantah tuduhan miring terhadap Islam, yang digelontorkan orang-orang yang qolbunya tertutup dan tidak disinari cahaya hidayah. Ya, demi kemuliaan Islam. Islam memang mulia, karena Allah Azza wa Jalla telah menjaminnya. Tapi kemuliaannya bisa saja tidak nampak kalau pemeluk Islam sendiri tidak menampakkan kemuliaan Islam.

Banyak pula generasi salaf yang menyusun karya tulis spesial menjawab nuansa kontradiktif yang ditangkap sebagian muslim dan nonmuslim dari nash primer Islam. Andai nuansa kontradiktif ini dibiarkan, pasti akan ada anggapan Islam itu inkonsisten dan membingungkan. Selanjutnya, ada prasangka bahwa Islam itu hanya kreasi Nabi Muhammad dan para ulama, tidak otentik dari Allah Azza wa Jalla.

Menjaga Kemuliaan Islam degan Kemuliaan Umat Islam

Dalam upaya penjagaan terhadap citra Islam, muslim diharapkan ikut andil dalam upaya penjagaan kemuliaan umat. Merendahkan martabat umat Islam, sama artinya dengan merendahkan martabat Islam itu sendiri. Betapa banyak fakta terpampang, akibat sebagian muslim menjatuhkan keluhuran derajat sesamanya, Islam pun tampak murahan bahkan hina di mata nonmuslim.

Allah Azza wa Jalla telah mengecam hal ini,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang senang dengan tersiarnya (berita) kekejian di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Alloh Mahatahu, dan kalian tidak tahu.” (QS. An-Nur : 19)

Dalam firman-Nya ini, Allah Azza wa Jalla melarang menyebarkan berita-berita kekejian yang mungkin dilakukan seorang muslim karena kekhilafannya, demi menjaga kemuliaan seluruh umat Islam. Allah Azza wa Jalla meminta, jika terjadi kekejian di kalangan orang-orang beriman agar dipendam, kecuali dalam rangka penegakan hukum, jangan sampai didengar oleh nonmuslim.

Di samping itu, membela kehormatan saudara se-Islam merupakan satu hal yang utama. Dari Abu Ad-Darda`, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ] كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنْ النَّارِ[

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya (se-Islam) Allah Azza wa Jallamenghindarikan wajahnya dari neraka pada hari qiyamah.” Dalam riwayat lain, “Akan ada baginya penghalang dari neraka.” (Shohih Al-Jami’ no. 6262, 6263)

Betapa dahsyat keuntungan yang diterima oleh orang yang membela kehormatan sesama muslim, lebih-lebih jika yang dibela kehormatannya itu tidak mengetahui. Sebaliknya, betapa dahsyat dosa menjatuhkan kemuliaan sesama muslim. Dari Sa’id bin Zaid, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata,

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الِاسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling parah adalah melampaui batas dalam kehormatan muslim tanpa kebenaran.” (Sunan Abu Dawud no. 4876, Ash-Shohihah no. 1433, 1871, dan Shohih Al-Jami’ no. 2203)

Ghibah adalah bagian dari merusak kehormatan. Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya melarang keras ghibah. Ghibah disamakan dengan memakan bangkai orang yang dighibahi. Ungkapan ghibah, kata Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam, seandainya dibuang ke laut, niscaya air laut akan berubah menjadi buruk. Di akhirat, Allah Azza wa Jalla menetapkan siksa yang teramat keras, kuku orang-orang yang suka berghibah akan memanjang dan berubah menjadi tembaga yang mereka gunakan untuk mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri.

Menjaga Kemuliaan Ulama Islam

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk memuliakan para ahli ilmu Islam. Memuliakan ulama adalah karakter khas pengikut beliau.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan dari golongan kami, orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan mengasih sayangi yang lebih muda dan mengetahui hak-hak ulama kita.” (Shohih Al-Jami’ no. 5443, Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 96)

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bahkan mengeluarkan orang yang tidak menghargai para ulama dari jajaran umat Islam,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلْ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan menghargai ulama kita.” (Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 101)

Menghormati ulama kini mulai menjadi barang langka, seolah ditimbun oleh hawa nafsu dan prasangka buruk kepada para ulama dan kehormatan mereka. Kita bisa melihat akhir-akhir ini betapa sebagian besar manusia mulai mencampakkan para ulama, menganggap para ulama itu hanya memenuhi kebutuhan pribadi dalam dakwahnya, menuduh para ulama itu tak tahu realita dan tidak humanis.

Fatwa-fatwa para ulama dianggap angin lalu. Lebih-lebih dengan adanya perselisihan (ikhtilaf) di kalangan ulama, sebagian orang merasa lelah dan bosan untuk kembali mengkaji Islam melalui para ulama, sehingga ada saja muslim yang belajar Islam dari orang kafir/nonmuslim. Apalagi saat fatwa para ulama tidak memihak kepentingan masyarakat.

Sikap meremehkan ulama inilah yang harus segera dihapus dari dada-dada sebagian kaum muslimin. Diharapkan ada langkah konkrit dari para pemerintah dan tokoh masyarakat mengajak kaum muslimin untuk kembali merapat ke barisan para ulama dan menimba ilmu dari mereka.

Perlu disadarkan tentang wajibnya menjaga adab di hadapan para ulama Islam. Kalaupun terjadi kesalahan pada para ulama, pintu ‘udzur terbuka lebar, dan kita sebagai umat semestinya mengingatkan, bukan secara serampangan menjatuhkan martabat para ulama.

Menghina seorang ulama, eksesnya sama dengan menghina seluruh ulama. Ketika kaum muslimin di suatu wilayah menghina ulama, satu saja, perlahan perhatian kaum muslimin kepada ulama berkurang, dan klimaksnya, ulama seolah dimakzulkan dari posisinya sebagai penerus dakwah para nabi dan rasul. Dan akibat yang paling parah, muslim menjadi bodoh terhadap Islam. Bisa jadi mereka melakukan penafsiran yang salah terhadap Islam, bisa jadi mereka mengubah-ubah Islam, bisa jadi mereka membuang Islam jauh-jauh dari kehidupan.

Contoh paling ringan, rokok yang semenjak lama telah menjadi seperti bahan konsumsi pokok bagi mayoritas muslim Indonesia, bahkan bagi sebagian orang yang dianggap ulama. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram rokok, ramai-ramai hujatan berbagai kalangan, hingga para kyai dan ustadz pecinta rokok, menggempur kekokohan tekad anggota MUI dalam menginformasikan hukum-hukum Islam. Yang ajaib, ada sebagian liberalis muslim yang menyerukan pembubaran MUI.

Dampak selanjutnya, ketika MUI memfatwakan hal-hal krusial, sebagian masyarakat muslim Indonesia tak menghiraukan. Paling banter berkomentar, “Masalah tersebut tidak usah difatwakan juga kami sudah tahu. Seperti tidak ada pekerjaan saja MUI itu.” Apatah lagi kala MUI menggelontorkan fatwa untuk hal yang sederhana ataupun yang kontroversial.

Iklim penghormatan terhadap para ulama Islam ini sangat perlu untuk ditumbuhkan dan dilestarikan, dalam rangka penjagaan kemuliaan Islam. Ulama dihormati kaum muslimin, Islam disegani kaum kafirin.


Sumber: Majalah Lentera Qolbu, tahun ke 4 edisi ke 10

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*