LENTERA BERTETANGGA

Oleh : Abu Aniisah

Sebuah kenikmatan yang sangat besar diberikan oleh Allah ta’ala kepada kita berupa tempat tinggal, walaupun masih mengontrak, menumpang ataupun sudah memiliki rumah sendiri.

Dimanapun kita bertempat tinggal, maka tidak akan lepas dari lingkungan masyarakat terkhusus tetangga.

Di dalam kitab Syarah Riyadhussholihin yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Imam An-Nawawi menyebutkan “Bab Hak Tetangga dan Nasehat Kepadanya” dijelaskan bahwa Tetangga adalah rumah yang bersebelahan atau dekat dengan rumah anda. Menurut sebagian atsar, bahwa yang termasuk tetangga adalah empat puluh rumah dari setiap sisinya.

Dan tentunya sangat sering sekali terjadi interaksi dengan tetangga, baik dengan pertolongan dari tetangga bahkan sampai hanya sebagai teman ngobrol.

Di dalam syari’at islam, tetangga mempunyai kedudukan yang sedemikian rupa yang sangat perlu diketahui kita sebagai umat muslim. Dan dalam hal ini juga, kita diwajibkan berlaku baik terhadap tetangga.

من كان يؤمن باالله واليوم الآخر فليحسن إلى جاره

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah terhadap tetangga”

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

خيرالأصحب عندالله خيرهم لصاحبه، وخير الجران عندالله خيرهم لجاره

Sebaik-baik teman disisi Allah adalah yang paling baik kepada temannya. Dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya. (Shahih. HR. Bukhori dalam adabul mufrod no. 115)

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan kita sebagai seorang muslim untuk tidak menyakiti tetangga dengan bentuk dan cara apapun. Karna jelas, dikatakan bahwa “sebaik-baik tetangga…” dan juga dikatakan “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah terhadap tetangga”.

Banyak cara dan perlakuan baik terhadap tetangga. Seperti salam dan sapa kepada tetangga tiap bertemu, atau bisa juga dengan sesekali memberikan makanan kepadanya atau dengan cara-cara lain yang dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap tetangga

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Kekasihku (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam) berwasiat kepadaku:

‘Jika engkau memasak daging, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik’.” (HR. Muslim no. 2625)

A. Tingkatan-tingkatan Tetangga

Tetangga memiliki berbagai macam karakter dan tingkat emosional. Sebagai seorang muslim tentu tidak sembarang mengambil langkah dalam mensikapi berbagai macam karakter dari tetangga tersebut, agar tetap terjalinnya hubungan masyarakat yang baik.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Tetangga itu ada tiga (3):

  1. Tetangga yang memiliki satu hak, dia adalah tetangga yang haknya paling rendah yaitu dia adalah tetangga yang musyrik yang tidak mempunya hubungan kekeluargaan
  2. Tetangga yang memiliki dua hak, dia adalah tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan. Ia memiliki hak islam dan hak sebagai tetangga
  3. Tetangga yang memiliki tiga hak, dia adalah tetangga yang paling baik haknya, yaitu ia adalah tetangga muslim yang memiliki hubungan kekeluargaan. Ia memiliki hak islam, hak tetangga dan hak kekeluargaan.

(HR. Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim dalam Hilyah, V/207)

B. Perintah Berbuat Baik Terhadap Tetangga

Allah ta’ala berfirman di dalam surat Annisaa: 36

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hama sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Kita diperintahkan Allah ta’ala untuk berbuat baik terhadap tetangga, setelah Allah memerintahkan untuk beribadah dan meng-EsakanNya semata. Sebagai seorang muslim tentunya sangat memperhatikan dan berusaha menjalankan perintah ini, dan tidak mencoba sedikitpun untuk menyakiti tetangga yaitu dengan cara menjaga hak-haknya sebagai tetangga.

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

من كان يؤمن باالله واليوم الآخر فليحسن إلى جاره

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah terhadap tetangga”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, apa hak tetangga yang wajib bagi tetangganya?”

Beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam) menjawab:

إِنْ سَأَلَكَ فَأَعطِهِ، وَإِذَا استَقْرَضَكَ فَأَقرِضهُ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبهُ، وَإِذَ مَرِضَ فَعُدهُ مٌصِيبَةٌ فَعِزْهُ وَلاَ تُؤْذِهِ بِقَتَارِ رِيحِ قِدْرِكَ إِلاَّ أَن تُغرِفَ لَهُ مِنهَا، وَلاَ تَرفَعْ عَلَيهِ البِنَاءَ لِتَسُدَّ عَلَيهِ الرِّيحَ إلاَّ بِإذْنِهِ

“Jika ia minta sesuatu kepadamu berilah ia, jika ia meminta pertolongan kepadamu tolonglah ia, jika ia meminjam uang kepadamu pinjamilah ia, jika ia mengundangmu penuhilah undangannya, jika ia saki jenguklah ia, jika ia meninggal dunia antarkanlah jenazahnya, jika ia tertimpa musibah hiburlah ia, jangan engkau sakiti ia dengan bau tungkumu, kecuali jika engkau memberikan sebagian unuknya, dan janganlha engkau meningikan bangunan untuk menghalangi angin menerpanya kecuali dengan izinnya.” (disebutkan Ibnu Munqidz dalam Lubabul Adab, hal. 259)

C. Ancaman Berbuat Buruk Terhadap Tetangga

Kita sebagai seorang muslim, diperintahkan untuk berbuat baik terhadap tetangga dan juga diperintahkan untuk menahan diri dari menyakiti tetangga.

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, yang di riwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

من كان يؤمن باالله واليوم الآخر فلا يؤذجاره

“Barang siapa yang beriman kepada Allah ta’ala dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. (HR. Bukhari, kitab al-adab No. 6135)

Kemudian sahabat tercinta, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“diantara hak tetangga adalah engkau perlakukan ia dengan baik dan engkau menahan diri dari menyakitinya. (Bahjatul Majalis I/292)

Dan tentunya, kita berusaha menjalankan perintah ini karena jika tidak maka tentu akan menerima konsekuensinya yaitu ancaman neraka bagi seseorang yang menyakiti tetangganya, baik dengan lisannya, atau secara langsung dengan fisik.

Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam ada seorang wanita yang rajin shalat malam, puasa dan sedekah, akan tetapi dia selalu mengganggu tetangganya dengan lisannya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Tidak ada kebaikan kepadanya, dia termasuk penghuni neraka.” Kemudian disebutkan lagi ada wanita yang dia melakukan shalat wajib lima waktu dan dia suka bersedekah dengan keju dan tidak mengganggu seorangpun juga, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Dia termasuk ahli Syurga.” (Shahih. HR. Bukhari dalam adabul mufrad no. 119)

Di dalam hadits ini jelas dikatakan bahwa tidak ada kebaikan pada diri seseorang, bahkan diancam masuk neraka bagi orang yang suka mengganggu tetangganya, misal dengan suka memfitnahnya, membicarakan aibnya kepada orang banyak, mudah menuduh tetangganya tanpa bukti, dan lain sebagainya yang mana tetangganya seakan tidak akan bisa selamat dari cengkraman maut lisan orang tersebut.

D. Tetangga yang Buruk

Di dalam kehidupan bertetangga di bermasyarakat, kita tentunya menghadapi berbagai macam karakter seseorang, mungkin ada yang suka membantu tetangganya, sering memberikan hadiah dan makanan, namun sebaliknya ada yang suka marah-marah dengan tetangganya tanpa sebab, ada yang suka menuduh, dan ada juga yang setiap ketemu di caci atau dihina.

Dalam hal ini, jika kita mendapatkan tetangga yang demikian yaitu punya perilaku buruk terhadap kita, maka janganlah kita membalas dengan keburukan juga, namun kita balas tetap dengan kebaikan dan bersabar terhadapnya.

Al-Hasan Rahimahullah ta’ala mengatakan:

“Bertetangga yang baik adalah bukanlah menahan diri dari mengganggunya, tetapi bertetangga yang baik adalah bersabar terhadap gangguannya (tetangga). (jami’ul ulum wal hikam I/353)

Dalam riwayat lain, diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: ‘ada tiga orang yang Allah ta’ala mencintai mereka,’ Nabi menyebutkan siapa mereka, diantaranya: ‘seseorang yang memiliki tetangga jahat yang sering menyakitinya lalu ia bersabar menghadapi gangguannya hingga Allah ta’ala menjaganya dari (kejahatan) tetangganya dengan kehidupan atau kematian.’” (HR. Ahmad V/176, ath-thabrani dalam almu’jam alkabir no. 1636)

Namun jika kita mendapatkan tetangga yang terus menerus menyakiti kita, sementara berbagai cara kebaikan terhadapnya telah kita lakukan, maka mungkin kita bisa melaporkannya kepada pemerintah desa setempat seperti Bapak RT, Bapak Lurah.

E. Tetangga Idaman

Setiap orang tentu ingin mempunyai tetangga idaman yaitu tetangga terbaik. Tetangga yang terbaik adalah tetangga yang terbaik bagi tetangganya dan paling bermanfaat bagi tetangga-tetangganya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

خَيرُ الأَصحَابِ عِندَ اللهِ تعلى خَيرُهُم لِصَاحِبِهِ، وخَيرُ الجِيرَانِ عِندَ اللهِ خَيرُهُم لِجَارِهَ

“Sebaik-baik teman disisi Allah adalah yang terbaik untuk temannya. Dan sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang terbaik untuk tetangganya. (HR. Bukhari dalam adabul mufrad n0. 115)

Jika kita ingin mempunyai tetangga yang terbaik, maka dimulailah dari diri kita terlebih dahulu untuk menjadi tetangga terbaik bagi tetangga lain. Untuk menjadi tetangga terbaik yaitu dengan memperhatikan hak-haknya sebagai tetangga diantanranya mengucapkan salam dan sapa ketika bertemu, menjenguknya ketika sakit.

F. Berlindung dari Tetangga yang Jahat

Untuk mendapatkan tetangga idaman dan dijauhkannya dari tetanga yang jahat terhdap diri kita, maka tentunya sebagai seorang muslim tidak lupu terus memanjatkan do’a, memohon kepada Allah.

Banyak contoh-contoh lafadz do’a dari Nabi-nabi tentang memohon perlindungan kepada Allah dari pelakuan dan kejahatan tetangga.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, diantara do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam

اللهمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِن جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ المُقَمِ فَإِنَّ جَارَ البَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ

“Ya Allah, sesunguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga jahat di negeri menetap, karena tetangga dalam perjalanan pasti berpindah” (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Disebutkan dalam satu riwayat, Nabi Dawud ‘Alaihissalam berdo’a

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِن جَارِ السُّوءٍ تَرعَانِ عَينَاهُ، وَتَسمَعٌنِي أُذُنَاهُ، إِن رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِن رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga jahat yang kedua matanya selalu mengawasiku, yang kedua telinganya selalu mendengar tentangku. Jika melihat suatu kebaikan ia pendam kebaikan itu, dan jika ia melihat suatu keburukan ia sebar keburukan itu.”

(HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath VII/103)

Sumber Rujukan :

-) Al-Qur’an Al-Karim

-) Minhajul Muslim karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

-) “Syarah Arbain An-Nawawi karya Yazid Abdul Qadir Jawwaz

-) Latful Anzhaar Ilaa Huquuquil Jaar karya Sulaiman bin Syatiwi Al-Mahdawi Al-’Aufi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*