Hakekat Ujian dan Musibah Bagi Seorang Mukmin

Sudah menjadi sunnatullah ( ketentuan Alloh ) didunia ini, bahwa orang yang hendak menjalankan perkara agama ini (al-Islam) maka ia akan diuji oleh Alloh dengan berbagai macam ujian, dan hal ini telah Alloh jelaskan dalam firman-Nya,

الم ،أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Alif laam miim, apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-`Ankabût: 1-3).

Ayat diatas menjelaskan bahwa orang yang mengaku dirinya sebagai orang yang beriman, maka Alloh akan mengujinya dengan berbagai macam ujian, sehingga akan nampak bagi manusia kejujurannya dalam pengakuannya sebagai orang yang beriman.

Oleh karena itulah hendaknya seorang mukmin menyadari hakikat sebenarnya dari ujian dan musibah, dengan harapan ia memiliki cara pkitang yang benar tentang ujian dan musibah. Sehingga hal itu dapat membantunya untuk menyikapi dengan benar musibah yang menimpanya, yang mana sikap seperti itu dapat mengantarkannya untuk meraih ridho Alloh Subhanahu wata’ala. Selain itu musibah juga akan jadi terasa ringan baginya, walaupun datang bertubi-tubi, yang tidak kunjung reda.

           Ketahuilah bahwa apabila musibah menimpamu, maka itu semua adalah atas kehendak Alloh dengan keadilanNya, Alloh telah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (QS: Al Hadid: 22)

Alloh juga berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS: Al-Baqoroh: 155)

Dan ketahuilah, bahwa Alloh tidak hendak menzholimimu dengan musibah tersebut, karena hal tersebut telah Alloh haramkan bagi diriآya, dalam hadits qudsi Alloh berfirman,

يَا عِبَادِي ، إنِّي حَرَّمْتُ الظُلْمَ عَلَى نَفْسي وَجَعَلْتُهُ بيْنَكم مُحَرَّماً

Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku telah mengharamkan bagi diri-Ku kezholiman, dan Aku telah menjadikan kezholiman itu haram bagi kalian….[1]

Dengan meyakini bahwa semua itu adalah datang dari Alloh semata, atas kehendak-Nya dengan keadilan dan kasih-sayang-Nya, maka seorang mukmin akan mengembalikan semua urusannya kepada Alloh, disertai keyakinan bahwa di dalamnya pasti terkandung hikmah dan pelajaran, ia tidak akan menjadi stres dengan adanya musibah yang menimpanya .

Pada hakikatnya, musibah yang menimpa seorang muslim adalah sebuah kebaikan baginya, bagaimana tidak, karena musibah itu datangnya dari Alloh yang Maha Adil lagi Bijaksana, yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya, sedang hamba tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri karena keterbatasan ilmunya, oleh karena itu Alloh telah berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُون

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqoroh: 216).

Jiak kita perhatikan dalil-dalil yang berbicara tentang ujian dan musibah, maka kita dapatkan bahwa musibah yang datang kepada seseorang disebabkan karena beberapa hal, diantaranya:

1. Disebabkan karena dosa dan kesalahan kita sendiri agar kita bertaubat dan kembali kepada Alloh.

Alloh berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syûrô: 30)

Berkata Syaikh As-Sa’di, Alloh mengabarkan bahwa tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah pada tubuhnya, hartanya, anak-anaknya, dan segala yang ia cintai sehingga hal itu terasa berat baginya, melainkan itu semua disebabkan karena ulahnya sendiri dari perbuatan-perbuatan yang buruk, dan bahwasanya apa yang Alloh ampuni dari kesalahan tersebut adalah lebih banyak, karena Alloh tidak pernah menzholimi seorang hamba, tapi hamba itu sendiri yang menzholimi dirinya sendiri, Jikalau Alloh menghukum manusia karena kezholimannya, niscaya tidak akan ditinggalkannya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata.[2]

Alloh juga berfirman,

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al-A`rôf: 168).

Jadi tidaklah musibah menimpa kita, kecuali teguran bagi kita, agar kita merenungi akan kesalahan yang telah kita perbuat, kemudian segera untuk bertaubat kepada Alloh dari kesalahan tersebut, sebelum datang masa yang mana tidak diterima lagi taubat hamba pada masa tersebut, dan ini semua menunjukan akan kasih sayang Alloh terhadap hamba-hamba-Nya, agar kelak ketika ia menghadap Alloh dalam keadaan bersih dan suci dari noda-noda dosa yang dapat mengotori hatinya.

2. Sebagai bukti atas kecintaan Alloh pada hamba yang terkena musibah .

Mungkin ada yang bertanya diantara kita, jika memang Alloh mencintai kita, kenapa harus dibuktikan dengan memberikan musibah, bukankah cinta menuntut untuk tidak menyakiti orang yang dicintai?

Bukan musibah yang Alloh inginkan untuk kita, tapi sikap kita terhadap musibah itu yang Alloh inginkan, apa yang kita lakukan setelah musibah itu datang, itulah yang Alloh kehendaki dari musibah tersebut. Apakah kita akan ridho dan menerima dengan penuh kesabaran akan musibah itu, sehingga Alloh akan semakin cinta kepada kita, atau justru sebaliknya kita akan marah dan tidak terima terhadap musibah yang menimpa kita, sehingga Allohpun marah kepada kita.

Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.

“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Bila Alloh suka kepada suatu kaum maka mereka akan diuji. Jika mereka ridho maka Alloh ridho dan bila dia marah maka Alloh pun akan marah padanya.” [3]

Dalam hadits yang lain Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan untuknya maka Alloh akan mengujinya (menimpakan kepadanya musibah)[4] .

3. Sebagai penghapus dosa orang mukmin dan pengangkat derajatnya disisi Alloh.

ini merupakan salah satu bentuk dari kebaikan yang Alloh kehendaki dari musibah yang menimpa seorang mukmin, yaitu Alloh akan menghapus dosa darinya dan juga mengangkat derajatnya disisiNya sebanding dengan musibah yang menimpanya, tentu saja jika ia ridho dan sabar dari musibah tersebut.

Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Alloh akan menghapus dosanya dengannya, sekalipun musibah itu hanya tertusuk duri.” [5]

Dalam hadits lain Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَ وَلَدِهِ وَ مَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ .

“Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Alloh tanpa membawa dosa.” [6]

Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Sesungguhnya ujian bagi seorang mukmin laksana obat baginya yang mengeluarkan penyakit-penyakit darinya, yang apabila penyakit itu tidak segera dikeluarkan darinya maka akan membinasakannya, atau akan mengurangi pahalanya, sehingga akan menurunkan derajatnya (disis Alloh), maka ujian tersebut akan mengeluarkan penyakit-penyakit itu, sehingga mukmin tadi siap untuk menerima pahala yang sempurna dan derajat yang tinggi, dan sudah dimaklumi bahwa kebaikan ini hanya ada pada seorang mukmin.[7] Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan semua keadaan orang-orang mukmin. Sesungguhnya semua urusan yang dimilikinya itu semuanya baik, dan tidaklah hal demikian itu dimiliki kecuali hanya oleh orang-orang mukmin saja. Jika dia mendapat kesenangan maka dia bersyukur, dan itu baik baginya; dan apabila mendapatkan kesusahan dia bersabar, dan itu baik baginya.”[8]

4. Ujian atas keimanan.

Saudaraku tidak ada seorangpun yang mengaku dirinya sebagai orang mukmin kecuali dirinya pasti akan diuji oleh Alloh. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيْبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datang pertolongan Alloh?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.” (QS: Al- Baqoroh: 214)

Bahkan para rosulpun yang tidak mengajak kecuali kepada yang baik, yang maksum dari dosa, mereka juga tidak luput dari ujian Alloh, bahkan ujian yang mereka terima lebih berat dari mukmin manapun.

Dari Mush’ab bin Sa`ad -seorang tabi’in- dari ayahnya (Sa’ad bin Abi waqash) , ia berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَمَا يَبْرَحُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallAllohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.[9]

Inilah hakikat dari ujian yang menimpa seorang mukmin, maka setelah meyakini dengan seyakin-yakinnya apa yang telah disebutkan di atas, sudah seharusnya seorang mukmin menyikapi ujian yang menimpanya dengan benar, dengan sesuatu yang dapat menghadirkan ridho Alloh untuknya, hal itu bias diwujudkan dengan beberapa hal , diantaranya:

  1. Bersabar dan menerima takdir dari Alloh, karena semua memang sudah ditetapkan oleh Alloh, tidak ada sesuatupun yang keluar dari ketetapan Alloh.

Alloh berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS: At-Taubah: 51)

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan:

     الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَه

Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.

  1. Segera bertaubat dari dosa dan maksiat yang selama ini dilakukan.

Alloh berfirman,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: Al-A`rôf: 23)

  1. Tetap berbaik sangka dan tidak berputus asa terhadap rahmat Alloh.

Ummu Salamah pernah berkata, aku mendengar Rosulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا. قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِى سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. ثُمَّ إِنِّى قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Alloh; ‘inna lillahi wa inna ilaihi roji’un Allôhumma jurni fî mushîbatî wakhluf lî khoiron minhâ, kecuali Alloh akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”. Maka ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam: “Siapa seorang muslim yang lebih baik dari Abu Salamah? Sebuah keluarga yang pertama kali berhijrah kepada Rosululloh? Kemudian aku pun mengucapkannya. Dan Alloh menggantikannya dengan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam.” [10]

Akhirnya kami ingin menyampaikan kepada saudaraku seiman, yakinlah bahwa dibalik setiap musibah pasti ada jalan keluarnya, setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan,

Alloh berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 5-6)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa`di mengatakan: “Kata al-`usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”

Demikianlah, semoga kesabaran senantiasa mengiringi siapapun dari kaum muslimin yang diliputi ujian dan bencana, walau penderitaan terasa tak kunjung reda. Karena dengan kesabaranlah pertolongan Alloh akan datang, dan dengan kesabaran pahitnya kehidupan akan berbuah manis pada akhirnya.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 07 Tahun 03

[1] Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Dzar, bab: Tahrimizh Zhulmi, no. 2577, dan yang lainnya.

[2] Tafsir As-Sa’di ( Taisîru Karîmir Rohmân), juz 5, hal. 1596, Dar ibnu Al-Jauzi

[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas (no. 2396), bab: Ash-Shobru `Alal Balâ’. Dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah As-Shohîhah, no. 146.

[4] Diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Hurairoh (no. 5213) bab: maa jaa-a fi kaffarotil marod.

[5] Diriwayatkan oleh Bukhori (no. 5290) bab: Mâ jâ-a fi kaffârotil marodh. Dan Muslim (no. 5272) bab: Tsawâbul muslim limâ yushîbuhu.

[6] Diriwayatkan oleh Hakim, kitab Ar-Riqôq (7879), Tirmidzi (no. 2399), bab: Mâ jâ-a fî ash-Shobri `alal balâ’. Berkata Hakim: “ Hadits tersebut shohih sesuai syarat Muslim”, dan keduanya tidak mengeluarkannya, dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam sisilah Ash-Shohîhah (no. 2280).

[7] Ighôtsatul Lahfân (II/88)

[8] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2999), bab: Al-Mu’min amruhu kullu khoir.

[9] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 2398), Ibnu Majah (no. 4024), Ad-Darimi (no. 2783), Ahmad (1/185). Syaikh Albani dalam ShohihuAt Targhîb wat Tarhîb (no. 3402) mengatakan bahwa hadits ini shohih.

[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 918), bab : Mâ Yuqôlu `Indal Mushîbah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*