Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Keutamaan Masjidil Haram

keutamaan masjidil haram

Keutamaan Masjidil Haram

Al-Masjid al-Haram adalah masjid terbesar dalam Islam, terletak di kota Makkah, kerajaan Saudi Arabia.

Al-Masjid al-Haram memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh masjid-masjid yang lain, diantaranya ;

1. Masjid pertama yang dibangun di permukaan bumi

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali Imran: 96).

 

2. Nabi berangkat Isra’ Mi’raj dari Masjidil Haram

Allah  mengisahkan di dalam Alqur’an:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. al-Israa: 1)

3. Sebaik-baik Perjalanan Adalah Ke Masjidil Haram Nabi  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

Artinya: “Jangan mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil haram, masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha.” HR. Bukhari no.1189, Muslim no.827

4. Mendapat Pahala 100.000 Lebih

Bagi yang shalat di al-Masjid al-Haram, maka dia akan mendapat keutamaan seratus ribu shalat dibandingkan dengan shalat di masjid lainnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Artinya: “Shalat di masjidku ini (Nabawi) lebih utama dibandingkan 1000 kali shalat, kecuali masjidil haram. Shalat di masjidil haram lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Ka’bah

Ka’bah adalah sebuah bangunan di tengahntengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram, di Makkah, Hejaz, Arab Saudi. Tempat ini adalah tempat yang paling disucikan dalam agama Islam.

Allah Azza Wajalla berfirman :

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ  إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Rabb Kami, terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 127)

Nama-Nama Ka’bah :

Bangunan Ka’bah beberapa kali disebutkan dalam Alquran dan Hadits, Ka’bah disebut dengan Baitullah, Baitul Haram, Baitul ‘Atiiq (Rumah Tua), dan Awwalul Bait (Rumah pertama). (Tafsir Ibnu Katsir 2/78, Tahqiq: Sami as-Salamah.)

Sejarah Pembangunan Ka’bah

Ka’bah disebut Baitul `Atiiq, yang artinya rumah tua, karena bangunan ini sudah ada dari jaman Nabi Ibrahim dan Isma’il sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an, surah Ibrahim ayat 37.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: “Ya Rabb Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37).

Pada masa Nabi Muhammad n berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat menjadi rasul pada saat itu), bangunan ka’bah direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad pada salah satu sudut Ka’bah, namun berkat penyelesaian bijaksana Nabi Muhammad  perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Bagian Bangunan Ka’bah :

Ka’bah terdiri dari 4 bangunan inti:

  1. Rukun Hajar Aswad
  2. Rukun Yamani
  3. Rukun Syami
  4. Rukun Iroqi

Ka’bah Adalah Kiblat Kaum Muslimin

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ  فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. al-Baqarah: 144).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila anda hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah kiblat dan bertakbirlah”. (HR. Bukhari: 6251, Muslim: 397)

Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu yang berada pada salah satu sisi ka’bah yang kita disunnahkan untuk menciumnya   jika mampu pada salah satu manasik haji dan umrah.

Asal usul nama Hajar Aswad Batu ini berwarna hitam karenanya dinamakan sebagai hajar yang berarti batu dan aswad yang berarti hitam.

Batu Dari Syurga Dahulunya Hajar Aswad berwarna putih dan merupakan batu yang berasal dari surga. Banyaknya dosa manusia menyebabkan   batu tersebut menjadi berwarna hitam.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ

Artinya: “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. (HR. at-Tirmidzi no.877. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Tidak Tabarruk Dengan Batu

Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu berkata: “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanya sebongkah batu, tidak dapat memberikan manfaat juga tidak bisa memberikan bahaya, andaikan aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu”.

Maqom Ibrahim

Maqom Ibrahim merupakan bangunan (struktur) yang mencakup batu lebar kecil yang terletak kurang lebih 20 hasta di sebelah timur Ka’bah.

Tempat ini bukanlah tempat yang menjadi kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat kebanyakan orang.

Maqom Ibrahim hanyalah batu yang dijadikan pijakan oleh Nabi Ibrahim p ketika membangun Ka’bah bersama putranya Ismail. 17 Allah memerintahkan agar maqom Ibrahim dijadikan sebagai tempat shalat,

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُود

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al-Baqarah: 125)

Thawaf

Salah satu rukun dalam ibadah Haji dan Umrah adalah Thawaf.

Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلْيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ

Artinya: “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. al-Hajj: 29)

Thawaf adalah berputar tujuh kali mengelilingi Ka’bah dengan melawan arah jarum jam. Thawaf di mulai dari hajar aswad dan berakhir di hajar aswad juga. Setiap kali melewati hajar aswad maka kita mengucapkan takbir dan menciumnya jika mampu, jika tidak mampu maka cukup dengan berisyarat. Ketika berada diantara rukun yamani dan hajar aswad membaca do’a:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

(Rabbana Aatina Fiddunya Hasanah Wa Fil Akhiroti Hasanah Wa Qina A’zabannar).

Artinya: “Ya Rabb Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. al-Baqarah: 201).

 

Bersambung Insya Alah

 

REFERENSI:

  • Al-Qur’anul Karim, surat Al-Baqarah, Al-Hajj, Ibrahim
  • Muttafaqun Alihi, Imam Bukhari dan Muslim
  • Al-Musnad, Imam Ahmad bin Hambal
  • As-Sunan, Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah

Oleh: Husein Abu Khaitsamah (Pengajar ponpes Darul Qur’an Wal-Hadits, Oku Timur)

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.