KEMULIAAN AHLUL BAIT

AHLUL BAIT

UNGKAPAN-UNGKAPAN DARI AL-QUR’AN, HADITS DAN AHLUSSUNNAH

TENTANG KEMULIAAN AHLUL BAIT

 

KEMULIAAN AHLUL BAIT DALAM ALQUR’AN

Berikut ini ayat yang menerangkan keutamaan ahlul bait beserta keterangan para ulama tafsir dalam menjelaskan ayat tersebut.

Istri seseorang adalah bagian dari keluarganya.sebagaimana ketika Allah Subhanahu Wata’ala  menceritakan tentang keluarga Nabi Ibrahim ‘allaihissallam.

قا أوا أتعجبين من أمر الله رحمت الله وبركته عليكم أهل البيت إنه حميد مجيد

Artinya:

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul bait! Sesungguhnya Allah maha terpuji lagi maha pemurah”(QS. Hud//11:73)

 

Imam al-Qurthubi berkata : Ayat ini memberikan penjelasan bahwa istri seseorang termasuk bagian dari ahli baitihi (keluarganya). Hal ini menunjukan bhawa istri para nabi adalah bagian dari keluarganya (Ahlul baitihi). Maka ‘Aisyah dan istri Nabi lainnya termasuk Ahlul Bait nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, yakni termasuk diantara orang yang disebutkan Allah Subhanahu Wata’ala  , dalam firman-Nya:

إنمايريدالله ليذهب عنكم الر جس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala  bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (QS. Al-Ahzab/33:33)

                Lalu ketika menafsirkan ayat ke-6 surat al-Ahzab, Imam al-Qurthubi mengatakan “Allah Subhanahu Wata’ala  telah memuliakan istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menjadikan mereka sebagai Ummahatul Mukminin (ibunda orang-orang beriman). Yaitu dalam hal wajibnya memuliakan, berbuat baik, menghormati dan diharamkan menikahinya atas kaum laki-laki. Hal yang membedakan mereka dari ibu kandung sendiri adalah mereka diwajibkan untuk berhijab dari (kaum laki-laki yang bukan mahram)”.

Demikian pula Syaikh asy-Syinqithi ketika menjelaskan ayat yang sama, beliau membantah pendapat yang mengeluarkan istri Nabi dari bagian Ahlul Bait. “Seseungguhnya qarinah (bukti) dari maksud konteks ayat secara tegas menyatakan bahwa para istri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam  termasuk kedalam ayat tersebut. Karena di awal ayat Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

قل لأزواجك إن كنتن تردن

“Katakanlah kepada istri-istrimu jika mereka menginginkan……..”

                Lalu setelah itu, Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

إنما يريد الله ليذ هب عنكم الر جس أ هل البيت

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala  bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait”

 

Lalu Allah Subhanahu Wata’ala  lanjutkan dengan firman-Nya:

واذكرن ما يتلى في بيو تكن

“Dan ingatlah (istri-istri Nabi) apa yang dibacakan di rumahmu”

 

Maksud Syaikh asy-Syinqithi adalah bahwa ayat-ayat diatas semuanya bercerita tentang istri-istri Nabi. Dan ayat yang menyebutkan tentang Ahlul Bait berada diantara ayat-ayat tersebut, maka hal ini menunjukan dengan jelas bahwa yang di maksud dengan Ahlul Bait adalah mereka istri-istri Nabi.

Kemudian beliau kemukakan dalil lain bahwa istri seseorang adalah termasuk bagian dari keluarganya. Kata beliau: “Hal yang sama, dari perihal masuknya para istri dalam sebutan Ahlul Bait adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala  tentang istri Nabi Ibrahim :

قالوا أتعجبين من أ مر الله رحمت الله وبر كته عليكم أهل البيت إنه حميد

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala ? (itu adalah) rahmat Allah Subhanahu Wata’ala  dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala  Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. “(QS. Hud/11:73)

KEMULIAAN AHLUL BAIT DALAM HADITS NABI

Berikut ini hadits yang menunjukan tentang kewajiban memuliakan Ahlul Bait dan kemuliaan ini bersifat umum, tidak secara personal (setiap pribadi) mereka. Karena dari kalangan luar Ahlul Bait secara personal ada orang yang lebih mulia dari sebagian Ahlul Bait berikut redaksi dibawah akan menjelaskan setelah Hadits memuliakan Ahlul Bait:

((أنا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب إن الله تعالى خلق الخلق فجعلني في خيرهم ثم جعلهم فر قتين

فجعلني في خير هم فرقة ثم جعلهم قبا ئل فجعلني في خيرهم قبيلة ثم جعلهم بيو تا فجغلني في خير هم بيتا فأ نا خيركم بيتا وأ نا خير كم نفسا))

“Saya adalah anak ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib. Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan makhluk, lalu ia menjadikan aku dalam bagian mereka yang terbaik. Kemudian Allah Subhanahu Wata’ala  menjadikan mereka dua golongan, maka Allah Subhanahu Wata’ala  menjadikan aku pada golongan yang terbaik. Kemudian Allah Subhanahu Wata’ala  menjadikan mereka berbangsa-bangsa, maka Allah Subhanahu Wata’ala  menjadikan aku pada bangsa yang terbaik. Lalu Allah Subhanahu Wata’ala  menjadikan mereka bersuku-suku, maka Allah Subhanahu Wata’ala  menjadikan aku pada suku yang terbaik. Aku adalah yang terbaik diantara manusia dari segi suku dan jiwa”.[1]

Hadits ini menunjukan kemuliaan Ahlul Bait karena Allah Subhanahu Wata’ala  telah memilih nabi yang mulia (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam) dari suku mereka. Kemudian seperti jawaban Ali , ketika ditanya oleh anaknya sendiri yang bernama Muhammad Ibnul Hanafiah, mengenai kalangan luar Ahlul Bait secara personal ada orang yang lebih mulia dari sebagian individu Ahlul Bait.

Berikut Redaksinya:

عن محمد ابن الحنفيةقا ل قلت لأ بى أ ى النا س خير بعد رسول الله ؟ قال : أبو بكر. قال قلت ثم عمر. قال ثم خشيت أن يقول عثمان فقلت ثم أنت يا أبة قال ما أ نا إ لأرجل من المسلمين

Dari Muhammad Ibnul Hanafiyah, ia berkata,”Aku bertanya pada ayahku, siapa manusia yang paling baiksetelah Rasulullah “? Jawabnya,”Abu Bakar”. Kemudian aku bertanya lagi,”Kemudian siapa”?. Jawabnya,”Umar”. Kemudian aku cemas bila ia mengatakan ‘Utsman, maka aku katakan,”Kemudian engkau ya ayahku?” Ia menjawab,”Aku ini hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin”[2]

UNGKAPAN ULAMA AHLUSSUNNAH TENTANG KEMULIAN AHLUL BAIT

Perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz, Salah Seorang Khalifah dari Bani Umayyah

                ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada ‘Abdullah bin Hasan bin Husain (cucu dari Husain bin ’Ali), “Jika engkau ada kebutuhan, maka tulislah kepadaku! Sesungguhnya aku malu kepa Allah bila Dia melihat engkau (berdiri) di depan pintu rumahku. Tidak ada dimuka bumi ini keluarga yang paling aku cintai dari pada kalian. Sungguh kalian lebih aku cintai dari pada keluargaku sendiri”[3]

Pada suatu kali yang lain, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada Fathimah binti ‘Ali (anak perempuan ‘Ali bin abi Thalib): “Wahai putri ‘Ali! Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai dari pada kalian. Sungguh kalian lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri”[4]

 

Sengaja disebutkan disini perkataan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz untuk membantah prasangka buruk yang senantiasa dituduhkan oleh sekelompok orang terhadap keluarga Bani Umayyah, bahwa mereka memusuhi atau membenci Ahlul Bait. Melalui ungkapan ‘Umar bin’Abdul ‘Aziz di atas amat jelas bagaimana besarnya kemulian Ahlul Bait dalam pandangannya. Dan ini sebagai bukti bahwa tidak ada permusuhan antara Bani Umayyah dengan Ahlul Bait. Yang ada hanyalah kecintaan dan penghargaan mereka yang tinggi terhadap Ahlul Bait. Disini terbuktilah kebohongan tuduhan kelompok yang senantiasa menyebarkan prasangka buruk tersebut.

Perkataan Imam al-Ajurri

                Imam al-Ajurri berkata,”Diwajibkan atas setiap orang muskmin laki-laki dan orang mukmin perempuan untuk mencintai keluarga (Ahlul Bait) Rasulullah. Yaitu, Bani Hasyim, ‘Ali bin Abi Thalib beserta anak dan cucu-cucunya, Fathimah beserta anak dan cucu-cucunya, Hasan dan Husain beserta anak dan cucu-cucunya, Ja’far ath Thayyar beserta anak dan cucu-cucunya, Hamzah beserta anak dan cucu-cucunya, ‘Abbas beserta anak dan cucu-cucunya. Mereka itulah keluarga rosulullah. Diwajibkan atas orang-orang Muslim mencintai dan memuliakan mereka”[5].

Melalui pernyataan Imam al-Jurri di atas menjadi jelas bagi kita bahwa Ahlul Bait tersebut tidak hanya keturunan ‘Ali atau keturunan Husain saja, sebagaimana asumsi orang-orang Syi’ah Rafidhah. Akan tetapi, mencakup siapa saja yang beriman dari paman-paman Nabi serta anak dan cucu mereka.

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

                Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Diantara pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah …bahwa sesungguhnya mereka mencintai para keluarga (Ahlul Bait) Rasulullah dan setia kepada mereka serta menjaga benar wasiat Rosulullah ketika ia bersabda pada hari Ghadir Khum[6] :

أذكر كم الله في أهل بيتي

Aku ingatkan kalian pada Allah tentang (hak-hak) keluargaku[7].

Beliau juga berkata,”Tidak diragukan lagi bahwa keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam  memiliki hak (Agung) di atas umat ini yang tidak dimiliki orang selain mereka. Mereka berhak untuk lebih dicintai dan dimuliakan, tanpa ada suku Quraisy lain yang berhak mendapatkannya[8]

Dari ungkapan Beliau ini terbantahakan pula tuduhan bohong kepada beliau, bahwa beliau tidak mencintai keluarga Rasul Sesungguhnya ungkapan-ungkapan beliau yang semakna dengan ungkapan yang diatas sangat banyak sekalidalam kitab-kitab beliau.

Perkataan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab

                Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab “Saya mencintai paa sahabat Rasul . Begitu pula para keluarga beliau. Saya memuji mereka, dan mendoakan semoga Allah Subhanahu Wata’ala  meridhai mereka. Saya menutup mulut dari membicarakan kejelekan dan perselisihan yang terjadi diantar mereka”[9].

Dari sini juga terbukti kebohongan yang dituduhkan kepada Syaikh Muhammad bin’Abdul Wahhab bahwa beliau tidak mencintai Ahlul Bait. Ungkapan yang semakna juga sering terulang dalam kitab-kitab beliau. Bahkan beliau menamakan anak-anak beliau dengan nama Ahlul Bait sebagai benuk kecintaanbeliau pada Ahlul Bait. Di antara putra-putri beliau ada yang bernama ‘Ali, Hasan, Husain dan Fathimah[10].

 

Di Tulis oleh                      : Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra

Diambil dari Majalah      :

As – Sunnah EDISI 02/THN XV/RAJAB1432H/JUNI2011M

Di ringkas oleh                 : Riki Irawan (pengajar ponpes DQH)

Baca Juga Artikel             :

Indahnya Tawakkal

Seperti Hati Burung

 

[1] HR. At-Tirmidzi no. 3632. Menurutnya hadits ini adalah hadits hasan

[2] HR. Al-Bukhari no 3468 dan Abu Dawud no. 4631

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-kubra 5/333-334

[4] Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-kubra 5/387-388

[5] Lihat asy-Syari’ah 3/3

[6] Lihat asy-Syari’ah: 3/3

[7] Lihat Aqidah al-Wasithiyah hlm. 26

[8] Lihat Minhajus Sunnah 4/363

[9] Lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafat Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab jilid 3.

[10] Lihat kitab Ulama Najd 1/155

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.