Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

HIJRAH DARI KEMAKSIATAN DAN ISTIQOMAH DALAM KETAATAN

HIJRAH DARI KEMAKSIATAN ISTIQOMAH DALAM KETAATANafdesign

HIJRAH DARI KEMAKSIATAN DAN ISTIQOMAH DALAM KETAATAN

Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan, serta bertaubat kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan perbuatan kita. karena barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang di sesatkanNya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.       

Saudara-saudariku di jalan Allah….

Siapakah yang tidak berbuat maksiat kepada Allah? Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

و الذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا لذهب الله بكم، ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفرلهم

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah telah meniadakan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lantas mereka beristighfar kepada Allah, lalu Dia mengampuni mereka .”[1]

Beliau juga Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

كلّ بني آدم خطّاء، وخير الخطّائين التوّابون.

Artinya: setiap anak adam sering melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat”[2]

Adakah jiwa -selain para nabi ‘alaihi salam- yang naik kedudukannya tanpa melakukan dosa atau di kalahkan oleh syahwat?

Tetapi walaupun demikian, orang yang beriman mengetahui bahaya dan kejinya kemaksiatan, bahwa kemaksiatan itu merupakan bentuk kelancangan terhadap Dzat yang menciptakan dan pelarian dariNya, dan bahwa tidaklah musibah yang terjadi di dunia ini melainkan karena dosa. Orang yang beriman jika terjerumus dalalm dosa dia merasa hina dan ketakutan. Dia berharap suatu saat nanti dia dapat berpisah dan terbebas dari dosa tersebut.

Saudara-saudariku… Inilah kiat-kiat hijrah dari kemaksiatan dan istiqomah dalam ketaatan:

 

²  Anda Termasuk Jenis dari Pelaku Maksiat yang Mana?

    Saudariku yang mulia! Bandingkanlah dua ilustrasi berikut ini:

        Pertama, seorang pemuda dengan sebuah maksiat yang telah menguasai hati dan pikirannya. Dia melakukan strategi dan mengerahkan segenap kemampuan serta pikirannya untuk mendapatkan jalan menuju ke sana. Kemudian dia berusaha untuk itu dengan  anggota tubuhnya dan mungkin mengorbankan sebagian hartanya atau kedudukannya. Ketika anggota tubuhnya berpisah dengan maksiat tersebut, gema kemaksiatan itu masih selalu memanggil-manggilnya dalam benaknya. Dia merasa senang saat melihatnya. Tatkala dia bertemu dengan para sahabatnya, dia membangga-banggakan apa yang pernah dilakukannya dan menceritakan apa yang pernah diperbuatnya. Ketika dia kehilangan kesempatan untuk melakukan kemaksiatan, dia menyesal dan bersedih  atas  apa yang lepas darinya. Jiwa-jiwanya menyuruh untuk bertobat, maka itu hanyalah selintas saja, segera  hilang dan dicairkan oleh munculnya nafsu untuk berbuat maksiat.

     Kedua, seorang pemuda yang membenci kemaksiatan dan pelaku kemaksiatan. Dia menghabiskan waktunya guna  menaati Tuhannya. Tetapi suatu saat dia mengalami kelemahan manusiawi sehingga dia terjerumus dalam kemaksiatan. Pada saat dia telah berpisah dengan kemaksiatan tersebut, hatinya menyala-nyala karna rasa penyesalan dan kesedihan. Dia merasa sakit dan sedih serta mengangkat kedua tangannya kepada tuhannnya sebagai orang yang bertaubat dan beristighfar. Pada Saat dia mendengar orang yang menasehati maka hatinya gemetar, kemaksiatannya betul-betul  nampak di depan matanya, dan setelah itu tak henti-hentinya dia bertanya, “Apa jalan keluarnya?apa solusinya?” dia menjauhi segala jalan yang membawanya kepada kemaksiatan. Demikianlah keadaan dan kebiasaannya saat dia melakukan kemaksiatan.

             Kemudian, dia menghina dan membenci jiwanya. Dia merasa  bahwa jiwanya itu jauh dari jalan orang-orang yang sholih dan menuduhnya dengan sifat orang-orang yang bodoh dan munafik.

Maka dia itu termasuk golongan yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wata’ala:

و لذي إذا فعلوا فحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم و من يغفر الذنوب إلاّ الله و لم يصرّوا على ما فعلوا و هم يعلمون

Artinya: “Dan juga  orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri meraka sendiri, mereka segera berzikir menyebut dan mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka dan  siapa lagi yang dapat menganpuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [3]

 Jawablah dengan nama-nama Allah , Apakah keduanya sama? Manakah diantara keduanya yang lebih dekat  kepada rahmat Raja yang maha mengetahui dan maha penerima taubat lagi maha penyayang?

           Maka demikian inilah yang diisyaratkan oleh AL-Hafizh Ibnu Qoyyim . Beliau berkata ”Allah hanyalah mengampuni seorang hamba apabila terjadinya dosa tersebut karena dikalahkan oleh syahwat dan karena kuatnya kecenderungan. Jadi dia melakukan dosa padahal dia membencinya dan tidak ada keinginan dalam hatinya untuk meneruskan kemaksiatan tersebut. Maka orang seperti ini diharapkan mendapat ampunan dari Allah dan maafNya , karena Allah mengetahui kelemahannya dan syahwat yang telah mengalahkannya serta bahwasanya dia melihat setiap saat apa yang dia tidak punya kesabaran terhadapnya. Orang ini apabila melakukan dosa, dia merasa hina lagi rendah di hadapan Tuhannya, ketakutan berkecamuk di dalam dadanya nafsu pada dosa dan keimanan yang benci kepadanya. Jadi dia memenuhi panggilan nafsu sekali tempo dan memenuhi panggilan iman dalam banyak tempo. Adapun orang yang membangun urusannya untuk tidak merenungi dosa, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak meninggalkan syahwatnya karena Allah, dan justru dia adalah orang yang bergembira dan bersuka cita lahir batin apabila melakukan dosa. Orang seperti inilah yang dikhawatirkan dapat terhalang untuk bertobat dan tidak mendapat taufik untuk bertaubat.[4]

                Beliau mengatakan: “Gembira dengan kemaksiatan membuktikan rasa sangat senangnya dengan kemaksiatan tersebut, ketidaktahuannya terhadap kedudukan Dzat yang dia maksiati dan pengaruh buruk serta besarnya bahaya kemaksiatan.  Rasa bangganya terhadap kemaksiatan itu menutupi dirinya, sedangkan merasa bangga dengan kemaksiatan itu lebih bahaya dari pada melakukan kemaksiatan itu sendiri. Orang yang beriman tidak pernah merasakan kelezatan bermaksiat selamanya dan tidak bergembira dengannya, bahkan tiap dia melakukan kemaksiatan, pasti kesedihan merasuki hatinya. Tetapi syahwat yang memabukkan menghalangi dirinya untuk merasakan kesedihan tersebut. Kapan saja hatinya kosong dari kesedihan tersebut dan semakin besar keinginan dan rasa gembiranya, maka hendaklah dia mempertanyakan keimanannya dan menangis karena kematian hatinya, sebab jika sekiranya hatinya hidup, niscaya perbuatan doa yang dilakukannya pasti membuatnya sedih, membuatnya marah dan menyulitkan dirinya, sementara hatinya tidak merasakan semua itu. Hati yang tidak merasakan itu (berarti hatinya itu telah mati), sebab luka tidak meninggalkan rasa sakit bagi mayat.”[5]

                Al-Baihaqi meriwayatkan Syu’ab al-imam dari ibnu as-Sammak bahwasanya dia berkata: “Manusia itu terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama, golongan yang bertaubat dari dosa, membawa dirinya dari menjauhi dosanya, dia tidak ingin kembali kepada keburukan yang pernah dilakukannya walaupun sedikit. Inilah orang yang bagus.

Kedua, golongan orang yang melakukan suatu dosa kemudian menyesal, kemudian berbuat dosa lagi lalu bersedih, kemudian berbuat dosa lagi lalu menangis. Orang ini diharapkan mendapatkan ampunan namun juga dikhawatirkan mendapatkan siksa.

Ketiga, golongan orang yang berdosa tapi tidak menyesal dan tidak pula bersedih, lalu berdosa tapi tidak menangis. Orang seperti ini sudah menyimpang dari jalan surga dan menuju ke neraka.”[6]

                Al baihaqi juga meriwayatkan dari yunus bin al awwam bin al-Hausyab, bahwa dia berkata: wahai saudara-saudariku yang mulia lihatlah keadaan anda dalam hubungannya dengan maksiat terhadap kepada Allah ta’ala: Apakah anda termasuk orang yang berbahagia dengan kemaksiatan, mencarinya dan mendapatkannya? Waspadalah! Jangan sampai kelezatan syahwat melalaikan anda dari pahitnya dosa, dan jangan sampai api hawa nafsu membakar atom keimanan dan keshalihan dalam hati hamba.

 

²  Anggaplah Besar Dosamu

            Orang yang beriman lagi bertaqwa yang takut kepada Tuhannya dan mengagungkanNya, dia akan menganggap besar dosanya dan menganggap besar dalam hatinya kekurangan dirinya dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah. Sejauh mana keimanan seseorang dan pengagungannya kepada Allah, sejauh itu dia menganggap besar dosa dan kemaksiatannya.

Allah mensifati hamba-hambaNya yang bertakwa dengan firmanNya:

و بالأسحارهم يستغفرون * كانوا قليلا من الليل ما يهجعون

Artinya: mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)[7]

                Abdullah ibnu mas’ud rahimahullah mengilustrasikan keadaan orang yang beriman dalam hubungannya dengan kemaksiatan dengan ilustrasi yang detail dan mendalam, beliau berkata: “orang-orang beriman melihat dosanya seolah-olah dia duduk dibawah gunung, dia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang berbuat dosa melihat dosanya seperti lalat yang lewat diatas hidungnya, dia hanya melakukan begini.” -ibnu Syahib berkata: (yakni mengibaskan)tangannya diatas hidungnya_.[8]

                Al-Muhib Athobari berkata: ini hanyalah sifat orang beriman karena begitu takutnya kepada allah dan hukumanNya, karena ia merasa yakin dengan dosa-dosanya dan tidak yakin mendapatkan ampunan. Sedangkan orang yang suka berbuat dosa sedikit pengetahuannya tentang Allah. Oleh karena itu, kurang rasa takutnya dan menganggap remeh kemaksiatan.

                Saudara-saudariku yang mulia! Jika aku letakkan diriku juga dirimu pada timbangan ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dan bagaimana kita melihat kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa kita, maka kita termasuk dalam sisi timbangan yang mana? Apakah kita termasuk mereka yang melihat dosa-dosanya laksana gunung ataukah termasuk orang-orang yang melihat dosanya seperti lalat?[9]

Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan: “sesungguhnya dia melakukan amalan-amalan tersebut hanya karena hal ini karena kalau tidak karena itu, maka seluruh yang muncul darinya ada;lah termaafkan, bahkan mendapatkan pahala karena dia ijtihat didalamnya. Jika demikian sikap mereka dalam apa yang mereka ijtihatkan, lalu bagaimana halnya dengan orang-orang yang betul-betul melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan?

Saudara-saudariku yang mulia…

Menganggap besar suatu dosa, bagi orang yang melakukan dosa, akan melahirkan istighfar, taubat, tangisan, penyesalan, dan rengekan kepada Allah dengan doa dan permohonan kepadaNya agar dirinya di bebaskan dari keburukan dan akibat buruk dosa tersebut. Semua itu menjadi faktor kuat yang memungkinkan pelaku dosa tersebut dapat mengalahkan syahwatnya dan menguasai hawa nafsunya. Adapun orang  menganggap remeh dosa, mereka merasa menyesal dan bertekat untuk bertobat, tetapi tekat tersebut tekat yang sangat lemah yang mudah lenyap di hadapan tarikan-tarikan kemaksiatan

Bersambung…

REFRENSI:

Diringkas dari kitab: Kiat-Kiat Hijrah dari Kemaksiatan dan Istiqomah dalam Ketaatan

Karya: Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy

Penerbit: Darul Haq

Cetekan1: 1415 Hijriyah

Diringkas oleh: Anggun paramita Farhah

Status: Pengar Ma’had Darul Qur’an wal Hadits ;


[1] Di riwayatkan oleh Muslim, no. 3539

[2] Di riwayatkan oleh muslim, no 2499; dan tirmidzi, no. 3539

[3] Ali imron: 15

[4] Miftahul Dar as-Sa’dah, 1/283

[5] Madarij as-Salikin, 1/201

[6] Sunan al-Baihaqi, no. 7156

[7] Q.S Adz-Dzariyat:17-18

[8] Di riwayatkan oleh Bukhari, no. 6308

[9] Fath al-Bari, no.11/105.

Baca juga artikel:

Hadits Yang Disalah Pahami

Bicaramu Surga atau Nerakamu?

 

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.