Skip to content

Fatawa Anak Anak Penguhuni Surga

Osa Maliki
3 menit baca
Fatawa Anak Anak Penguhuni Surga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya[1] mengenai penduduk surga, apakah mereka melahirkan keturunan atau tidak? Apakah anak-anak (yang meninggal) menjadi anak-anak penghuni surga? Dan apakah hukum bagi anak-anak? Apakah ruh penduduk surga jika keluar dari jasad akan mendapatkan kenikmatan di surga dan jika ruh penduduk neraka keluar dari jasad akan di adzab di neraka? Ataukah ruh tersebut berada di tempat khusus hingga jasad dibangkitkan? Apakah hukum anak hasil perzinaan jika ia meninggal, apakah ia bersama dengan ash-hâbul a`rôf ataukah berada di surga? Manakah yang benar, apakah anak-anak orang musyrik merupakan penghuni neraka atau penghuni surga? Dan apakah hari-hari di akhirat dinamakan sebagaimana dinamakan di dunia, seperti Hari Sabtu, dan Ahad?

Syaikhul Islam menjawab: Segala puji bagi Alloh, anak-anak yang mengelilingi penduduk surga adalah makhluk diantara makhluk yang ada di langit, bukan anak-anak penduduk bumi. Anak-anak penduduk bumi apabila mereka masuk surga ciptaannya (posturnya) akan disempurnakan sebagaimana penduduk surga seperti bentuk Adam, dan memiliki umur tigapuluh tiga tahun, tingginya enam puluh hasta. Dan telah diriwayatkan bahwa lebarnya tujuh hasta. Ruh orang-orang yang beriman berada dalam surga, sementara ruh orang-orang kafir berada di neraka sampai waktu dikembalikan ke tubuh mereka. Anak hasil perzinaan apabila beriman dan melakukan amal sholih ia akan masuk surga, jika tidak maka ia akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya sebagaimana orang yang lainnya akan dibalas. Balasan itu berdasarkan amalan bukan berdasarkan nasab. Anak hasil perbuatan zina dicela karena ia menjadi obyek prasangka bahwa ia akan melakukan perbuatan keji sebagaimana hal demikian itu yang sering terjadi, sebagaimana nasab-nasab yang mulia merupakan obyek prasangka dilakukannya amal kebaikan. Adapun apabila suatu perbuatan telah dilakukan, maka balasannya sesuai dengan perbuatan tersebut. Orang yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang paling bertakwa.

Adapun anak-anak orang musyrik, maka yang benar mengenai mereka adalah jawaban Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang disebutkan dalam Shohih Bukhori dan Muslim bahwa beliau bersabda: “Tidak ada anak yang terlahir melainkan dalam keadaan fitroh.” Beliau ditanya: “Wahai Rosululloh, bagaimana pendapat anda mengenai anak orang-orang musyrik yang meninggal dalam keadaan masih kecil?” Maka beliau menjawab: “Alloh lebih mengetahui apa yang mereka lakukan.” Maka tidak boleh menghukumi individu tertentu diantara mereka baik menyatakan ia masuk surga atau masuk neraka. Dan telah diriwayatkan bahwa mereka pada hari kiamat akan diuji di suatu halaman pada hari kiamat. Barang siapa yang mentaati Alloh maka pada saat itu ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka maka ia akan masuk neraka. Beberapa hadits menunjukkan bahwa sebagian mereka berada di surga dan sebagian mereka berada di neraka. Di surga tidak ada matahari dan rembulan, tidak ada malam dan tidak ada siang. Akan tetapi pagi dan sore diketahui dengan cahaya yang nampak dari `arsy. Allohu a`lam.

[1] Majmû` Fatâwâ, juz: 5, hal. 82.

Sumber : Majalah Lentera Qolbu Tahun ke-2 Edisi ke-8

Bagikan:

Artikel Terkait

pintu surga terbuka lebar
Fiqh 27/10/2025

Saudariku Pintu Surga Masih Terbuka Lebar Untukmu

Saudariku pintu surga masih terbuka lebar untukmu – Kesibukan bagi seorang ibu rumah tangga, mulai mengurus suami, belanja, masak, mengurusi anak, dan lainnya ternyata sangat melelahkan dan sangat menyita waktu. Terutama bagi kalangan ummahat (ibu-ibu) yang biasanya anak-anaknya banyak dan kecil-kecil lalu bagaimanakah mereka bisa menjalankan aktivitas ukhrawi untuk mendapatkan kebahagiaan surga Allah? Apakah dibalik […]

bersabar demi keutuhan rumah tangga
Fiqh 08/10/2025

Bersabar Demi Keutuhan Rumah Tangga

Bersabar Demi Keutuhan Rumah Tangga – Sesungguhnya Allah telah mewajibkan husnul ‘usyrah (pergaulan yang baik) antar suami-istri. Maka, masing-masing pihak memenuhi hak pasangannya, sehingga terwujudlah kebaikan dan kedamaian bagi mereka berdua. Namun, terkadang muncul sikap tidak menyenangkan dari pasangan hidup. Suami merasakan istrinya suka cemberut dan mahal senyum. Begitu juga sebaliknya, istri melihat suami suka […]