Waspadai Virus Yang Menjangkiti Penuntut Ilmu!

Jalan penuntut ilmu tidaklah selamanya mulus. Banyak hal-hal yang menghadang, sehingga bisa melemahkan, bahkan mematikan tekad untuk mencarinya. Kali ini kita akan sedikit mengulas tentang berbagai virus dan penyakit yang sering dijumpai pada sebagian penuntut ilmu. Dengan harapan kita bisa waspada, sehingga bisa menggapai ilmu yang berkah dan diridhoi-Nya. di antara virus yang sering menjangkiti mereka adalah:

  • Mencari ilmu bukan karena Alloh

Hal ini sudah sangat jelas sekali dan sudah banyak dikupas dalam berbagai forum. Cukuplah di sini –sebagai pengingat- sabda Rasulullah n mengenai hal ini:

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diupayakan untuk mencari wajah Alloh, ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan satu kesenangan dunia, maka ia tidaklah bisa mencium aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Hakim)

  • Tak mengamalkannya

Padahal mengamalkan ilmu menjadi faktor pendorong untuk lebih hafal dan mengerti. Sebagaimana tidak mengamalkan ilmu akan menjadi faktor pendorodng hilangnya ilmu. Karena itulah As-Sya’bi berkata: “Kami mencari bantuan dalam menghafal hadits dengan mengamalkannya. Dan kami mencari bantuan dalam menncarinya dengan berpuasa.” Mengenai hal ini, Ibnu Mas’ud berkata: “Sungguh, aku mengira bahwa seorang hamba itu lupa akan suatu ilmu yang dulu pernah ia ketahui dikarenakan kesalahan yang ia perbuat.”

Rosul juga berdoa dengan mengucapkan:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yant tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim dan lainnya)

Sedangkan para sahabat, mereka sangat perhatian dalam hal mengamalkan ilmu. Ibnu Mas’ud berkata: “Seseorang di antara kami, apabila ia mempelajari 10 ayat, ia tidak akan melewatinya hingga ia tahu makna-maknanya dan mengamalkannya.” Jadi mereka mempelajari Al-Quran dan sekaligus mengamalkannya.

Tak mengamalkan ilmu ada dua macam:

1.Tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban syariat, dan tidak meninggalkan hal-hal yang diharamkan syariat. Ini merupakan dosa besar. Berbagai ayat dan hadits yang memuat ancaman terhadap orang yang tidak mengamalkan ilmunya, dibawa pada jenis yang pertama ini.

2.Meninggalkan hal-hal yang sunnah dan tak menjauhi hal-hal yang dimakruhkan. Jenis ini memang juga mendapat celaan, namun tidak masuk dalam kategori yang diancamkan dalam berbagai hadits. Hanya saja, seorang alim dan penuntut ilmu, hendaknya mereka menjaga berbagai amalan sunnah dan menjauhi hal-hal yang makruh.

  • Berkeyakinan bahwa amal bisa mendatangkan ilmu tanpa harus belajar

Ada sebagian orang yang berkeyakinan seperti ini. Mereka mengatakan bahwa dengan beramal (melakukan amalan yang diperintahkan), Alloh akan mengajarkan kepadanya apa-apa yang tidak diketahuinya, tanpa harus belajar. Mereka mendasarkannya pada firman Alloh yang artinya:

Dan bertakwalah kepada Alloh; Allah mengajarmu.” (QS. Al-Baqoroh: 282)

Padahal yang benar adalah bahwa ilmu itulah yang akan membuahkan ketakwaan (dan takwa diimplementasikan dengan amal). Tak ada takwa tanpa ilmu. Ilmu adalah yang menjadi dasar pertama. Sehingga tepat bila dikatakan, bahwa ilmu itu harus ada sebelum berkata-kata dan berbuat.

  • Sombong dan besar diri

Orang yang sombong tak akan bisa menggapai ilmu dengan baik. Penyair berkata:

Ilmu selalu memerangi seseorang yang besar diri

Bagaikan aliran air yang selalu memusuhi tempat yang tinggi

Ayyub As-Sikhtiyani berkata: “Seyogyanya seorang alim untuk menaruh debu di atas kepalanya penuh tawadhu’ karena Alloh.”

Ada pula sebagian orang yang baru membaca satu atau dua buku, baru tahu satu atau dua masalah, kemudian setelah beberapa saat dari belajar mereka, merekapun menahbiskan dirinya sebagai mujtahid, memandang remeh ulama, dan tak ada yang mengungguli mereka. Sungguh besar sekali bahaya mereka, sangat sedikit manfaat mereka, dan betapa kerasnya kebodohan mereka. Semoga Alloh membimbing kita di jalan-Nya yang lurus.

  • Hanya mengandalkan buku, tanpa merujuk pada ulama yang kompeten

Ini termasuk penyakit yang membuat penderitanya menjadi tersisih dari jajaran orang berilmu dalam artian sebenarnya. Banyak kesalahan yang ada pada mereka, dan terkadang menimbulkan hal-hal yang kontradiktif. Imam Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang bertafaqquh (belajar agama) dari kandungan buku, ia telah menyia-nyiakan hukum.” Yang lain berkata: “Di antara bencana yang paling besar adalah menjadikan lembaran buku menjadi syaikhnya (gurunya).” Rosul sendiri pun mendapatkan pengajaran Al-Quran dari Jibril.

Namun bila seseorang tidak bisa menemukan seorang alim untuk menimba ilmu padanya, maka ia bisa membuat perpustakaan pribadi untuk mempelajari berbagai macam buku dalam berbagai disiplin ilmu agama. Dan apa yang ia pahami bisa ia konsultasikan dengan orang yang kompeten. Juga bisa memanfaatkan berbagai macam media yang ada, seperti mendengarkan berbagai kajian yang ada, atau lewat kaset-kaset, dan yang semacamnya. Dan juga memanfaatkan berbagai media yang bisa ia dapatkan, seperti bertanya kepada ulama lewat telepon, dan yang semisalnya. (Min fiqhith Tholab)

  • Tidak meniti jenjang ilmu secara berurutan dan tidak menyesuaikan level keilmuan

Al-Quran sendiri diturunkan secara bertahap, tidak sekaligus secara langsung diturunkan. Dan seseorang tidak boleh menyelami suatu bidang ilmu hingga ia mengambil bidang ilmu sebelumnya secara berurut. Kalau tidak, maka itu hanya akan menyesatkan pemahaman.

Dan tak dipungkiri lagi bahwa segala sesuatu haruslah mempunyai dasar dan pondasi yang kokoh. Apa yang ia bangun akan menjadi mapan dan kuat bila pondasinya juga kokoh. Namun bila tak kokoh, atau bahkan tanpa pondasi, maka hanya kehancuran yang akan ia tuai.

Begitu pula dengan ilmu. Harus ada kesesuaian antara ilmu yang akan dipelajari dengan tingkat keilmuan seseorang. Hal ini terasa sangat diperlukan, agar seseorang tidak merasa bingung dan kesulitan. Berapa banyak orang yang tidak mengukur dirinya, sehingga ia menyelami cabang ilmu ataupun suatu pembahasan dari materi yang tidak sesuai dengan levelnya. Sehingga ia akan banyak mendapati kesulitan, dan lebih parah lagi ia akan salah dalam memahami. Dan hal ini bisa menyesatkan dirinya dan juga orang lain dalam memahami sesuatu.

Kita ambil contoh dalam bidang hadits. Seseorang yang belum mempelajari hadits-hadits Arbain Nawawi, Umdatul Ahkam dan Bulughul Maram beserta penjelasannya, tak seyogyanya ia langsung melahap syarah (penjelasan) Shohih Bukhori. Ia harus mencari perbekalan agar mempunyai tangga untuk menaiki tingkatan ini; yaitu tingkatan untuk membaca syarah kitab-kitab induk dalam hadits misalnya. Maka bila ia hafal hadits-hadits Arbain, telah membaca syarah dari Arbain, begitu pula dengan Umdatul Ahkam dan Bulughul Maram, barulah ia bisa membaca dan mengkaji syarah Bukhari misalnya. (Syarh Kitabul Ilmi Abu Khaitsamah; oleh Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair)

  • Tergesa-gesa mengharapkan buah ilmu

ilmu tak bisa diraih dalam sekejap. Sampai-sampai ada yang menyangka bahwa setelah belajar satuh tahun, ia sudah menjadi seorang alim besar! Ini adalah anggapan yang salah besar, dan akan mengakibatkan hal yang buruk. Ia akan berkata atas nama Alloh tanpa landasan ilmu. Ia akan mempunyai percaya diri yang buta, dan senang untuk selalu mengunggulkan diri. Na’udzu billah. Bukankan ilmu itu dituntut semenjak masih di buaian sampai ke liang lahad. Maka, ilmu itu tak bisa diraih kecuali bagi orang yang menenteng lembaran catatan, membawa tinta, menembus padang (jarak) yang membentang, dan terus-menerus mencari ilmu baik di siang maupun malam hari.

  • Miskin kemauan

Ini juga penyakit yang parah. Kalaupun seseorang mempunyai kecerdasan tingkat tinggi, namun tidak dibarengi dengan kemauan yang kuat, maka hasilnyapun tak akan maksimal. Perolehannya pun hanya sekadarnya saja.

Ketika Imam Thabari menawarkan kepada murid-muridnya untuk menulis tafsir sebanyak 30 ribu lembar, mereka menjawab bahwa itu akan menghabiskan umur sebelum bisa merampungkannya. Imam Thabari berkomentar: “Inna lillah wa inna ilaihi roji’un! Kemauan keras telah mati.” Maka Imam Thabari pun hanya mendiktekan tafsirnya sejumlah 3000 lembar. Demikian pula dengan asal mula dituliskannya kitab sejarah karya Ibnu Jarir At-Thabari.

Demikian tinggi etos dan tekad Imam Thabari. Namun demikian murid-murid beliau pun sebenarnya juga berkemauan tinggi, meski tidak setinggi tekad dan obsesi guru mereka. Namun, seberapa besar kadar tekad dan kemauan kita sekarang ini?!

  • Serampangan dalam memilih dan membaca buku

Banyak orang yang tak peduli dengan buku yang ia baca. Asal sesuai dengan selera dan minatnya, ia langsung membacanya tanpa ada pertimbangan apapun. Padahal bisa jadi buku yang tengah ia baca adalah buku yang belum masanya untuk ia baca, atau buku yang tidak seharusnya ia baca, atau bahkan buku yang mengusung pemahaman yang sesat. Konsekuensinya ia akan jatuh dalam pemahaman yang salah, atau bahkan sesat.

Hal seperti ini muncul karena seseorang tidak bertanya dan berkonsultasi terlebih dahulu dengan orang yang lebih paham mengenai buku dan ilmu. Paling tidak, dengan bertanya kepada ahlinya, seseorang akan tahu tentang buku apa yang seharusnya ia tekuni, dan sesuai dengan tingkat keperluannya. Sehingga ia bisa mengambil manfaat dan faidah semaksimal mungkin. Sebagai contoh, kalau ia serampangan dalam memilih kitab, ia akan membaca kitab yang asal ia senangi, atau yang biasa dijumpai di masyarakatnya. Dan bisa saja kitab tersebut banyak memuat hadits-hadits lemah atau bahkan palsu. Lalu iapun akan memakai apa yang ia baca di beberapa forum, seperti di khutbah, atau ia jadikan sebagai landasan amalan tertentu. Inilah letak bahayanya. Ternyata ilmu yang ia dapat dan ia sebarkan, ternyata bersumber dari hal-hal yang tidak boleh dijadikan sebagai pegangan. Apalagi kalau haditsnya adalah hadits maudhu’ (palsu).

  • Di antara bentuk ketidakteraturan dalam membaca adalah tidak mempunyai jadwal yang jelas dan tetap dalam membaca dan mengkaji.

Padahal kontinyuitas adalah hal yang paling disukai. seseorang dituntut untuk mengkaji secara kontinyu dan berkesinambungan. Karena disamping ia akan mempunyai struktur ilmu yang berurutan, juga akan lebih mendisiplinkan seseorang dalam belajar. Karena ia mempunyai jadwal yang tetap dan berkelanjutan. Contoh kasarnya adalah, apabila dalam sekolah tidak dibuat jadwal pelajaran dan waktu-waktunya, bisa dijamin kegiatan belajar mengajar akan kacau. Demikian pula kira-kira dengan seseorang yang membaca tanpa ada jadwal yang jelas. Kalaupun seseorang mempunyai tekad yang kuat untuk belajar dan membaca, namun tanpa didukung dengan jadwal yang tetap, itu akan bertahan selama pada permulaannya saja, untuk kemudian semangatnya akan menjadi tak terkontrol karena tidak didukung dengan jadwal yang tetap.

Imam Ibnu Jama’ah berkata: “Demikian pula seorang penuntut ilmu yang masih dalam masa permulaan mencari ilmu, hendaknya ia berhati-hati agar tidak menelaah karangan yang beraneka ragam, karena hanya akan menyia-nyiakan waktunya dan juga membuat pikirannya tidak fokus. Seharusnya, justru kitab yang tengah ia baca, atau bidang ilmu yang sedang ia tekuni, ia selami dengan penuh totalitas, hingga ia bisa menguasainya dengan sebaik mungkin. Demikian pula ia harus berhati-hati dari berpindah-pindah dari satu kitab ke kitab yang lain tanpa ada keperluan. Karena hal itu adalah pertanda kejengkelan dan tidak adanya kesuksesan.” (Thôlibul `Ilmi Baynat Tartîb wal Fawdhowiyyah hal 52)

  • Suka Menunda dan banyak angan

Ini juga penyakit yang sering menjangkiti banyak orang, sehingga menghalangi mereka untuk menekuni ilmu. Padahal Alloh telah memerintahkan kita untuk berlomba-lomba mengejar kebaikan; dan termasuk di dalamnya menuntut ilmu. Rosul sendiri berpesan kepada Ibnu Umar: “Jadilah di dunia ini seolah engkau adalah orang asing atau pengelana jalan.” Dan Ibnu Umar pernah berkata: “Bila engkau berada di waktu sore, jangan menanti pagi. Bila di waktu pagi, jangan menanti sore. Ambillah dari sehatmu sebelum datang sakitmu, dan manfaatkan hidupmu untuk kematianmu!”

Bahkan kalaupun sudah merasa terlambat belajar, sejatinya tak ada kata terlambat dalam belajar. Saat itu pulalah seseorang harus memulai menuntut ilmu. Tidak lagi menunda-nunda. Bahkan Imam Thabari, kala hendak meninggal, masih sempat meminta pena dan lembaran untuk menulis satu permasalahan. Beliau meninggal dalam keadaan tahu tentang masalah tersebut, lebih baik daripada tak mengetahuinya.

Dan masih banyak lagi virus yang bisa menjangkiti orang yang hendak menuntut ilmu. Kiranya dengan yang sedikit ini bisa membuat kita waspada akan berbagai virus ini, untuk menggapai ridho Ilahi. (diambil dari `Awâiqut Tholab, dll).

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 05 Tahun 02

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.