Seri Bagaimana Mengambil Manfaat Dari Enam Kitab Hadis Pokok – Shohih Bukhori

Segala Puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta tolong dan ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari buruknya jiwa kami dan dari jahatnya amal-perbuatan kami. Barang siapa yang Allah tunjukki ia maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Saya bersaksi tidak ada sesembahan yang hak (untuk disembah) kecuali Allah semata tidak ada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus dengan petunjuk dan agama yang haq agar nampak diatas semua agama lainnya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasehati umat.

Semoga sholawat, salam dan keberkahan selalu diberikan atas hamba dan utusan-Mu nabi Muhammad dan keluarga serta para sahabt juga pengikut beliau sampai akhir zaman.

Amma ba’du:

Risalah ini adalah seri bagaimana mengambil manfaat dari kitab hadis yang enam; shohih Bukhori, shohih Muslim, sunan Abi Dawud, sunan An-Nasai, jami’ At-Tirmidziy, dan sunan Ibni Majah.

Maka Saya katakan bahwa sebesar-besar nikmat yang Allah berikan kepada umat Muhammad adalah diutusnya rasul yang mulia Muhammad ‘alahi afdholus sholah wa atammas salam, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Beliau melaksanakan beban ini dengan sebaik-baik pelaksanaan. Menunaikan apa yang Allah utus kepadanya dengan lengkap dan sempurna. Tidaklah beliau meninggalkan kebaikan kecuali beliau menunjuki umat kepadanya dan memotivasi akan hal itu. Dan tidaklah beliau meninggalkan keburukan kecuali beliau peringatkan umat daripadanya dan melarangnya. Sholawatullahi wa salamuhu wa barokatuhu ‘alahi.

Taufik selalu menyertai sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum wa ardhojum. Allah memilih mereka untuk menjadi sahabat Nabi-Nya. Memuliakan penglihatan mereka di dunia ini dengan memandang kepada Rasul-Nya. Memanjakan pendengaran mereka dengan mendengar sabdanya yang mulia dari lisannya yang mulia. Sholawatullahi wa salamuhu wa barokatuhu ‘alahi.

Para sahabat mempelajari darinya Al-Qur’an dan semua yang berasal dari beliau baik berupa perkataan, perbuatan atau penetapan. Lalu mereka menyampaikannya kepada generasi setelahnya dengan sempurna dan lengkap. Sehingga mereka menjadi orang yang terdepan dan kebaikan, generasi utama yang merupakan sebaik-baik umat.

Lalu setelah berlalunya masa sahabat, dimulailah kodifikasi hadis dan pengumpulannya dengan sanad-sanadnya sampai kepada Nabi. Hal ini terus berlanjut sampai ke masa tahun 300-an yang menandai puncak penyusunan hadis. Dan diantara kitab terpenting yang disusun mengenai sunnah secara mutlak adalah shohih Imam Abi Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhoriy (lahir tahun 194H dan wafat tahun 256H), shohih Imam Abi Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisabury (lahir tahun 204H-tahun wafatnya Imam Asy-Syafi’i- dan wafat tahun 251H). Kemudian kitab sunan milik 4 Imam: Abi Daud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistaniy (wafat tahun 275H), Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i (wafat tahun 303H), Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzy (wafat tahun 279H), dan Abi Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah Al-Qozwainiy (wafat tahun 273H).

Kitab-kitab inilah yang dikenal dengan Kitab yang Enam, yang mendapat perhatian khusus dan dedikasi yang tinggi dari para ulama berkaitan dengan isinya (matannya) maupun perowinya (rijalnya).

Pertama adalah kitab shohih Imam Abi Abdillah Al-Bukhori, merupakan kitab yang paling shohih yang pernah disusun dalam bidang hadis secara mutlak. Kemudian setelahnya kitab shohih Imam Muslim. Kedua kitab ini mendapatkan apresiasi yang tinggi karena perhatian penyusunnya dalam mengumpulkan hadis-hadis yang shohih dari Rasulullah. Walau keduanya tidak mengumpulkan semua hadis shohih dan tidak menekankan hal itu. Bahkan ditemukan banyak hadis shohih lainnya di luar kitab keduanya.tapi kebanyakan hadis shohih yang tsabit dari Nabi ada di kitab dua imam ini.

Hadis yang disepakati oleh Syaikhoin Imam Bukhori dan Muslim adalah derajat hadis yang paling tinggi dibanding jika salah satunya menyendiri. Oleh karena itu tingkatan hadis shohih jika ditunjau berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim atau tidak, ada tujuh derajat.

Derajat pertama: apa yang Imam Bukhori dan Muslim sepakati atasnya, Kedua: apa yang Imam Bukhori menyendiri dengannya, Ketiga: apa yang Imam Muslim menyendiri dengannya, Keempat: apa yang sesuai syarat Imam Bukhori dan Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya. Kelima: apa yang sesuai syarat Imam Bukhori dan beliau tidak mengeliarkannya, Keenam: apa yang sesuai syarat Imam Muslim dan beliau tidak mengeluarkannya, Ketujuh: apa yang tidak terdapat di Shohihain dan tidak sesuai syarat keduannya, tapi dia shohih.

Itulah tujuh tingkatan hadis shohih. Yang paling tinggi adalah apa yang Imam Bukhori dan Muslim sepakati atasnya. Dan kitab yang paling bagus dalam bab ini adalah kitab “Lu’lu wa Marjan fima Ittafaqo ‘alahi Syaikhon” karya Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi (wafat tahun 1388H). Beliau menyusun kitabnya mengacu kepada susunan Imam Muslim. Adapun nash Hadits yang beliau tetapkan berasal dari Shohih Bukhoriy. Beliau memilih pendekatan lafazh dari shohih Bukhroiy yang bersesuaian dengan shohih Muslim, lalu beliau mencantumkannya.

Beliau menyusunnya berdasarkan susunan Imam Muslim karena Imam Muslim mengumpulkan Hadis-hadis yang setema di satu judul dan beliau mengeluarkannya di satu tempat. Beliau menyebutkan hadis (pertama) sebagai pokok (asal) kemudian disusul jalur periwayatan lain dan sanad-sanad (lainnya) dengan menyebutkan tambahan (lafadz) dan pengurangannya serta perbedaan yang ada antara hadis asal dan hadis setelahnya.

Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi menetapkan lafadz hadis menurut Bukhoriy di tempatnya dari shohih Muslim kemudian beliau berkata, “Bukhori mengeluarkannya di kitab ini, bab ini.” Dan menyebutkan nomor kitab dan nomor babnya. Adapun penulis tidak mengikuti susunan kitab Imam Bukhori karena Imam Bukhori memotong-motong lafadz hadis dan menyebarnya di berbagai bab yang bermacam-macam untuk beristidlal dengan (potongan) hadis itu sesuai judul (tarjamah) masalah yang beliau bawakan. Alasan beliau, karena ingin menjadikan kitabnya sebagai kitab (hadis) riwayat dan diroyat. Jumlah hadis yang terdapat di dalam kitab “Lu’lu wa Marjan” sebanyak 1906 hadis.

Ulama berkata ketika mereka mencantumkan hadis dari Shohihain, “Hadis Riwayat Bukhoriy dan Muslim, atau Diriwayatkan oleh Syakhoin, atau Muttafaq ‘alaihi.” Adapun istilah “Muttafaq ‘alaihi” maksudnya adalah kesepakatan Bukhoriy dan Muslim, kecuali menurut Al-Majd Ibnu Taimiyyah, kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah penulis kitab “Muntaqol Akhbar” yang disyarah (diberi penjelasan) oleh Asy-Syaukani dalam kitabnya “Nailul Author”. Karena yang beliau (penulis kitab “Muntaqol Akhbar”) inginkan dari istilah “Muttafaq ‘alaihi” adalah imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya, sebagai tamabahan dari Bukhori dan Muslim. Oleh karena itu, jika beliau berkata, “Muttafaq ‘alaihi.” Maka maksudnya adalah tiga Imam (Imam Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Shohih Bukhori

Shohih Imam Bukhoriy merupakan kitab hadis yang paling shohih. Adapun tema kitab hadis ini adalah hadis-hadis bersanad marfu sampai kepada Rasulullah. Imam Bukhoriy sangat ingin kitabnnya menjadi kitab diroyah selain riwayah, sebagai kitab hadis dan juga fiqih. Karena alasan itulah beliau mengikuti cara yang mengungguli Imam Muslim dalam shohihnya. Itu juga sebab imam Bukhoriy memotong hadis dan menyebarnya dan meletakkannya sesuai bab-babnya, sebagai bentuk pendalilan dengan potongan hadis sesuai judul bab, dan terkadang mengulang hadis pada banyak tempat yang pasti mengindikasikan faedah baik itu yang berkaitan dengan sanad maupun matan hadis.

Imam Bukhoriy jika mencantumkan hadis yang diulang maka beliau memakai jalur dari Syaikh yang lain, sehingga berfaedah banyaknya jalur hadis ini.adapunhadis yang diulang sanad dan matannya maka sangat sedikit sekali kurang lebih hanya 20 buah. Sebagaimana Al-Hafidz mengisyaratkannya dalam Al-Fath (11/340) dan juga kitab Kasyfudz Dzunun (1/363).

Dan saya telah menyebutkan tempat-tempat hadisnya di faedah ke 254 dalam kitabku “Al-Fawaid Al-Muntaqoh min Fathil Barii wa Kutub Ukhro”.

Metode (cara penyusunan) kitab yang diikuti Imam Bukhoriy dalam hal menyebar hadis di beberapa bab membuat wujud beberapa hadis tidak ada pada tempat yang biasanya. Sehingga beberapa ulama mengira bahwa hadis itu tidak ada di dalam kitab shohihnya. Seperti yang terjadi pada Imam Al-Hakim dalam kitab Mustadrak beliau, ketika men-istidrak beberapa hadis atas Imam Bukhori, seraya berkata, “Beliau tidak mengeluarkannya.” Padahal ada di dalam shohih Bukhoriy.

Contohnya seperti hadis yang dibawakan Imam Bukhoriy (2283) di kitab Al-Ijaraoh dalam hal An-Nahyu ‘an ‘Asbil Fahl. Sungguh Imam Al-Hakim men-istidrok atas bukhori sehingga beliau keliru (salah paham). Al-Hafidz berkata dalam syarh hadis ini, “Sungguh beliau keliru dalam istidroknya.” Padahal hadis itu ada di Bukhoriy sebagaimana kamu lihat. Sepertinya, karena Imam Al-Hakim tidak mendapati hadis ini di kitab Buyu’ sehingga beliau salah sangka bahwa bukhoriy tidak mengeluarkan hadis ini.”

Adapun Fiqihnya imam bukhoriy maka sudah jelas berasal dari tarojum (judul-judul bab) yang Al-Hafizh Ibnu Hajar mensifatinya di dalam Muqoddimah kitabnya Al-Fath sebagai pembuat binggung pikiran, memusingkan akal dan penglihatan, dan sangat jauh pencapaiannnya, serta tidak ada tandingannya. Beliau memiliki kejelian di dalam perkara ini yang menyendiri dari orang semisalnya. Dan beliau terkenal dengan penelitiannya dalam hal ini dibanding orang selevelnya.

Contoh kedalaman pengamatan beliau di dalam tarojum babnya adalah perkataan beliau di dalam kitab Al-Ijaroh,


«باب إذا استأجر أجيراً ليعمل له بعد ثلاثة أيام أو بعد شهر أو بعد سنة جاز وهما على شرطهما الذي اشترطاه إذا جاء الأجل»

(Bab seseorang boleh memperkejakan seorang pegawai untuk masuk bekerja sesudah tiga hari-atau satu bulan atau satu tahun-dan keduanya harus memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati oleh keduanya bila waktunya telah tiba).

Maksud dari judul bab ini bahwasannya jangka waktu (memulai) penyewaan tidak disyaratlan langsung dilakukan setelah akad. Beliau mencantumkan hadis ‘Aisyah (2264) mengenai perjanjian Rasulullah dan Abu Bakar dengan seorang dari Bani Ad-Diil sebagai penunjuk jalan yang cakap dan keduannya menyerahkan hewan tunggangan kepadanya. Dan membuat perjanjian dengannya di gua Tsur setelah tiga malam.

Dan diantara metode penulisan Imam Bukhoriy di dalam shohihnya, jika beliau meriwayatkan suatu hadis di satu tempat dengan dua jalur (sanad) dari dua orang syaikh, maka matan hadis adalah milik syaikh yang kedua. Al-Hafidz mengisyaratkan kepada hal ini dalam Al-Fath (1/436), beliau berkata, “Dan telah tampak melalui pengamatan yang lama terhadap pola penyusunan Imam Bukhoriy, jika beliau mencantumkan suatu hadis lebih dari satu syaikh maka lafadz hadis (matannya) adalah milik yang terakhir. Allahu ‘Alam.”

Termasuk metode beliau juga di dalam shohihnya. Jika ada lafazh asing yang serupa dengan kata Al-Qur’an maka beliau mencantumkan makna kata itu dengan kata yang berasal dari Al-Qur’an. Sehingga dengannya beliau menggabungkan antara tafsir ghorib Al-Qur’an dan Hadits (makna kata yang asing di dalam keduanya). Al-Hafidz mengisyaratkan hal ini di dalam Al-Fath di beberapa tempat seperti (3/196, 324, 343)

Al-Hafidz Ibnu Hajar dapat mengetahui istilah-istilah Imam Bukhoriy dan metodenya di shohihnya. Saya telah menyebutkan hal ini di dalam kitab “Al-Fawaid Al-Muntaqoh min Fathil Barii wa Kutub Ukhro” sejumlah besar faedah yang berhubungan dengan hal ini dari faedah ke 226 sampai 284.

Karena pentingnya Shohih Bukhoriy ini, sehingga mendapatkan perhatian dan apresiasi dari para ulama di zaman yang berbeda-beda. Dan diantara yang mendapat taufiq untuk hal ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai pemegang puncaknya. Beliau menjelaskan (syarh) kitab ini dengan penjelasan yang berharga lagi luas, perpaduan ilmu dari generasi-generasi terdahulu. Dan apa yang Allah berikan taufiq kepadanya dari pemahaman dan istinbath dari kitab shohih yang agung ini. Itulah kitab “Fathul Bariy”, dianggap sebagai jurang pemisah antara generasi terdahulunya dan generasi setelahnya. Orang-orang yang mendahului beliau, ilmunya terkumpul di dalam kitab ini. Orang-orang setelah beliau menjadikan kitabnya rujukan.

Kitab “Fathul Bariy ini telah dicetak oleh penerbit As-Salafiyah di Mesir. Tiga juz pertama dari kitab ini mengandung komentar (ta’liqot) yang bagus dan berharga dari guru kami Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz. Cetakan ini juga mencantumkan penomoran hadis kitab ini yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Fu`ad Abdul Baqiy.

Adapun metode beliau dalam penomoran adalah mencantumkan nomor hadis di awal tempat munculnya hadis di tempat lain yang datang setelahnya. Dan ketika munculnya hadis di tempat itu beliau tidak memberi isyarat kepada tempat pertama munculnya hadis yang bernomor. Cara mencari hadis yang pertama (terdahulu) dengan melihat penjelasan Al-Hafidz Ibnu Hajar terhadap hadis itu. Karena beliau terkadang mengisyaratkan hal ini (hadis yang terdahulu). Bisa juga dengan merujuk ke “faharisul Bukhoriy” yang ditulis Ridwan Muhammad Ridwan, karena beliau berkata-ketika mecantumkan hadis di beberapa tempat yang berulang penyebutan hadis itu-, “Lihat hadis ini nomor ini.” Seraya menyebutkan judul kitab yang hadis itu terdapat di dalamnya untuk pertama kali.

Jumlah kitab yang terdapat di dalam shohih Bukhoriy sebanyak 97 kitab. Dan jumlah hadisnya dengan pengulangan-sebagaimana menurut penomoran Syaikh Muhammad Fu`as Abdul Baqiy-7563 hadis. Di dalam kitab shohih Bukhoriy terdapat 22 hadis tsulasiy-yang jarak antara Imam Bukhoriy dan Nabi Muhammad hanya 3 orang rowi saja-.

Itulah kitab pertama dari kitab induk hadis yang enam, semoga Allah memberikan taufiq-Nya dan kesempatan agar seri kedua dan seterusnya dapat dilanjutkan. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Pemberi Taufiq. Saya berdoa semoga Allah senantiasa menunjuki saya dan kalian untuk selalu belajar dan memuroja’ah ilmu yang didapat. Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan Iman dan Islam. Sungguh Allah Maha Kuasa akan hal itu.

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para Sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Diterjemahkan dari kitab

كيف نستفيد من الكتب الحديثية الستة

Karya Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafizhaullah ta’ala.

Oleh: Muhammad Syarifudin

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.