Kesempurnaan Cinta

Mendengar kata cinta tentunya telinga kita sudah terbiasa mendengarnya, sejak dipangkuan ibunda kita sering mendengar kata cinta darinya, hingga kita menginjak masa remaja istilah ini pun tak luput terlepas dari bibir para pemuda yang tengah dimabuk asmara, dan nanti sampai tua nanti kita tidak akan terlepas dari kata cinta. Cinta memang tak ada habisnya hingga tak terhitung banyaknya tulisan yang membahas tema ini seakan cinta merupakan tema abadi yang terus terkenang sepanjang masa. Dan tulisan saya kali ini pun akan membahas tentang cinta, mari kita berkenalan lebih mendalam tentang cinta, bagaimana cinta yang benar dan tidak mengundang kemarahan dari sang pemberi rasa cinta.

Pembahasan pertama: Cinta yang Benar Adalah Mengesakan Dzat yang Paling dicintai dan yang Tertinggi

Cinta yang benar adalah pengesaan terhadap dzat yang dicintai. Dan tidak menyekutukan cinta tersebut dengan selain-Nya, serta menjauhkan dan tidak memberikan kesempatan kepada sesuatu selain Allah untuk menempati hati kita. Jika seseorang enggan dan cemburu ketika cintanya disekutukan dengan orang lain, padahal ia sama sekali tidak berhak untuk menerima seluruh kekuatan cinta tersebut. Lalu bagaimana dengan Dzat yang sejatinya Ialah yang paling berhak untuk menerima puncak dari kecintaan seluruh makhluknya. Sungguh ini merupakan standar ganda bagi makhluk yang tidak mengenal hak penciptanya dan hanya menuntut hak atas dirinya. Ketahuilah wahai saudaraku, jika kita menyerahkan puncak kecintaan kita kepada Allah dan juga kepada selain-Nya maka ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan kepada Allah dalam hal kecintaan. Maka dari itu hendaknya kita berhati-hati dalam hal mencintai sesuatu, jangan sampai kecintaan kita tersebut melebihi kadar yang telah Allah tetapkan batasannya. Karena jika kita mati dalam keadaan syirik maka Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفرما دون ذلك لمن يشاء(116)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang lebih ringan dari itu bagi siapa yang Ia kehendaki” (QS. An-Nisa:116)

Yang dimaksud tidak mengampuni disini adalah apabila ia mati diatas kesyirikan dan belum bertaubat, adapun ababila ia telah bertaubat dan telah memenuhi syarat-syaratnya maka Allah akan mengampuni dosanya. Dan disebutkan bahwa Allah mengampuni dosa yang lebih ringan dari syirik karena ada dosa yang setara dengan syirik, yaitu kekafiran. Maka dari itu jika seseorang menyekutukan Allah dalam kecintaan disebut pelaku syirik maka bagaimana jika ia hanya mengerahkan seluruh kecintaannya kepada selain Allah? Maka inilah perbuatan yang dapat menjadikan ia jatuh kepada kekafiran. Oleh karena itu, dalam hal mencintai pun kita perlu ilmu, hingga kita rasa cinta yang kita luapkan, tidak menyebabkan kita jatuh dalam kemurkaan Allah. Dan juga seseorang adalah budak bagi siapa yang ia cintai. Sebagaimana yang telah disenandungkan oleh penyair arab dalam syairnya:

Engkau adalah korban pembunuhan dari semua yang kau cintai,

maka ambillah untuk dirimu dalam cinta yang engkau pilih.

Dan jika salah dala memilih siapa yang kita cintai, hingga kita berpaling dari cinta kepada Allah dan tidak menjadikan Allah sebagai penguasanya serta yang memeliharanya niscaya hawa nafsunya lah yang akan menjadi sesembahannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat) mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).

Pembahasan Kedua: Beribadahlah Dengan Cinta

Pembahasan tentang cinta tidak hanya berkutat tentang hubungan antara dua insan yang tengah dimabuk asmara, atau cinta orang tua terhadap anaknya ataupun kisah bertemakan cinta lainnya. Bahkan yang terpenting dari itu semua terkadang kita lupakan dari menu bacaan kita, itu adalah cinta dalam beribadah. Syaikh Ibnul Qayim Rahimahullah dalam kitabnya “Ad-Da’ wad Dawa’” menuturkan:

Kekhususan ibadah adalah cinta yang diiringi dengan ketundukan dan penghinaan diri kepada yang dicintai. Barang siapa yang mencintai sesuatu dan merendahkan diri kepadanya berarti dia telah beribadah dengan hatinya. Bahkan, Ibadah itu merupakan tingkatan akhir atau puncak sebuah cinta. Hal ini dinamakan dengan tatayyum”.

Nah dari perkataan beliau rahimahullah dapat kita ambil dua point penting dalam beribadah, yaitu pertama adalah cinta yang diiringi dengan ketundukan dan yang kedua adalah penghinaan diri kepada yang dicintai. Dengan demikian seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan ibadah ketika dia tidak menggabungkan dua hal ini dalah peribadatannya kepada Allah ta’ala.

Bahkan cinta merupakan pilar utama dalam suatu ibadah, hingga jika kita tidak menghadirkan cinta dalam beribadah tentunya kita tidak akan merasakan lezatnya beribadah. Marilah kita renungkan wahai saudaraku, engkau yang seorang gammer rela untuk berletih-letih menahan kantuk dimalam hari, berjam-jam matamu mengarah ke monitor ataupun layar gadget-mu. Apa alasan terbesarmu untuk melakukan hal itu? Itu adalah cinta, karena engkau bermain dengan cinta. Namun, tatkala engkau mendengar seruan adzan engkau dengan berat hati untuk melaksanakan sholat dengan membaca ayat yang paling singkat dan dengan gerakan secepat kilat, seakan engkau ingin segera berpisah dari perjumpaan dengan Rabb-Mu. Itu semua bisa jadi karena engkau melaksanakan sholat karena terpaksa, atau hanya menganggap sekedar rutinias harian belaka. Itulah ibadah tanpa cinta, semua amalan yang dilakukan seakan tiada makna. Padahal dalam ibadah itu terdapat lezat, dan didalam iman itu terdapat manis, dan itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan cinta yang penuh terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi kita yang mulia Shalallahu ‘alaihi wasallam.

ثلاث من كن فيه وجد ثلاثة الإيمان.. منها: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما

Tiga hal yang barang siapa terdapat sesuatu tersebut didalam dirinya niscaya ia akan merasakan manisnya iman, ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling ia cintai dari sesuatu selain keduanya, …” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah cinta, maka beribadahlah dengan cinta. Niscaya engkau akan bahagia.

Pembahasan ketiga: Tingkatan Cinta

Setelah mengetahui urgensi cinta dalam ibadah, maka selanjutnya saatnya mengenal tingkatan cinta hingga pada akhirnya kita dapat meraih kesempurnaan cinta. Syaikh Ibnul Qayim Rahimahullah dalam kitabnya “Ad-Da’ wad Dawa’” membagi cinta dalam beberapa tingkatan.

Tingtkatan pertama adalah ‘alaqah yang berarti hubungan atau ikatan. Dinamakan hubungan karena terdapat keterkaitan antara hati orang yang mencintai dan orang yang dicintai. Tingkatan ini merupakan tingkatan awal dalam proses perjalan cinta.

Tingkatan kedua ialah shabaabah (kerinduan). Dinamakan demikian karena tertuangnya hati orang yang mencintai kepada yang dicintai.

Tingkatan ketiga adalah gharam (cinta yang membara). Maksudnya, rasa cinta yang senantiasa menetap di hati dan tidak terpisahkan darinya. Oleh sebab itu pula, orang yang berpiutang dinamakan gharim, karena dia selalu menetapi (terikat dengan) orang yang berutang kepadanya. Makna yang sma juga terdapat dalam firman Allah ta’ala:

karena sesungguhnya adzabnya itu membuat kebinasaan yang kekal.” (Al-Furqan: 65)

Tingkatan ketiga adalah ‘isyq (mabuk asmara), yaitu cinta yang berlebihan. Oleh karena itu, Allah tidak disifati dengan sifat ini dan sifat ini tidak dimutlakkan untuk-Nya.

Tingkatan keempat adalah syauq (sangat rindu), yakni berkelananya hati menuju yang dicintai. Lafazh ini disebutkan juga untuk Allah ta’ala sebagaimana dinukil dalam musnad imam ahmad, dari ammar bin yasir, bahwasanya ia pernah mengerjakan shalat secara ringkas. Hal ini pun ditanyakan kepadanya. Lalu dia menjawab: aku berdo’a didalamnya dengan do’a-do’a yang dahulu Nabi berdo’a dengannya, yaitu: diantaranya;

aku meminta kepada-Mu puncak kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.

Tingkatan kelima adalah tatayyum, yang merupakan puncaknya. Yang dimaksud dengan tatayyum adalah penghambaan pencinta terhadap yang dicintai. Secara etimologi, dikatakan tayyamahul hubba, artinya rasa cinta menjadikannya hamba. Dikatakan juga taimullah, yang bermakna hamba allah.

Hakikat peribadahan adalah menghinakan diri dan tunduk kepada yang dicintai. Oleh sebab itu dikatakan: thariq mu’abbad”, yaitu jalan yang dihinakan karena diinjak-injak oleh tapak kaki mereka.

Dengan kata lain, yang dinamakan hamba adalah yang dihinakan oleh rasa cinta dan ketundukan kepada yang dicintai. Karena itulah, tingkatan yang termulia dari seorang hamba adalah penghambaan. Tidak ada kedudukan yang lebih mulia daripada ini.

Allah menyebutkan makhluk-Nya yang paling mulia dan yang paling dicintai, yaitu Rasul-Nya, Muhammad shallallahu Alaihi Wasallam, dengan sebutan hamba. Padahal, kedudukan dan kondisi beliau adalah yang paling mulia, yaitu ketika berdakwah kepada-Nya, mendapat tantangan terhadap kenabiannya, dan pada saat peristiwa isra’.

Allah berfirman:

dan sesungguhnya ketika hamba Allah (muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya.” (Al-Jin:19)

dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang kami turunkan kepada hamba kami (muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya…” (Al-Baqarah:23)

dan juga disebutkan dalam hadits syafaat:

Pergilah kalian kepada Muhammad, hjamba yang dosanya telah diampuni Allah, baik yang telah lalu maupun yang akan datang kemudian.” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasulullah mendapat kedudukan syafaat karena kesempurnaan penghambaan dan kesempurnaan ampunan Allah untuk beliau.

Hakikat penghambaan tersebut tidak akan terwujud dengan perbuatan menyekutukan Allah dalam kecintaan. Hal ini berbeda dengan mencintai karena Allah, yang merupakan kelaziman dari peribadahan kepada-Nya. Oleh karena itulah, iman tidak akan sempurna, melainkan dengan mencintai Nabi saw dengan mengedepankan cinta tersebut melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, orang tua, ataupun anak-anaknya, sebab mencintai Nabi adalah bagian dari mencintai Allah. Begitu juga dengan cinta-cinta lain dalam ketaatan kepada Allah dan yang dilakukan karena-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang tercantum dalam as-sunnan;

barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah maka ia telah menyempurnakan imannya.”

Disebutkan dalam hadits lain

Tidaklah terdapat dua orang yang saling mencintai karena Allah melainkan yang paling utam diantara keduanya adalah yang paling besar rasa cintanya kepada sahabatnya.” (HR. Al-Bukhari dalam adabul mufrad)

Kecintaan seperti ini adalah kelaziman rasa cinta kepada Allah, jika cinta ini semakin kuat, berarti asalnya yaitu kecintaan kepada Allah pun sangat kuat.

Berkaitan tentang cinta, disini syaikh ibnul qayyim rahimahullah membedakan cinta menjadi empat macam, yang mana jika seseorang tidak dapat membedakannya maka ia akan teresesat karenanya.

1. Mahabbatullah (cinta kepada Allah). Hal ini saja belumlah cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab Allah dan memperolehh pahala-Nya. Sebaba kaum musyrik, penyembah salib, bangsa Yahudi, dan selain mereka juga mencintai Allah.

2. Mahabbatu maa yuhibullah (mencintai perkara yang dicintai Allah). Perkara inilah yang memasukkan pelakunya kedalam islam dan mengeluarkannya dari kekufuran.

3. Al-Hubbillah wa fillah ( mencintai sebab Allah dan dalam ketaatan kepada-Nya). Hal ini merupakan syarat dari mencintai perkara yang dicintai oleh-Nya. Sungguh, mencintai sesuatu yang dicintai tidak akan tegak, melainkan dengan mencintai karena Allah dan dalam ketaatan kepada-Nya.

4. Al-Mahabbatu ma’allah (mencintai selain Allah bersama Allah). Ini adalah kecintaan yang syirik. Barang siapa yang mencintai sesuatu bersama Allah bukan karena Allah, bukan sebagai sarana kepada-Nya, dan bukan dalam ketaatan kepada-Nya, maka dia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah. Seperti inilah kecintaan kaum musyrikin.

Bagian yang kelima yang tidak termasuk dalam pembahasan kali ini adalah kecintaan tabiat. Bentuknya adalah kecendrungan seseorang terhadap perkara yang sesuai dengan tabiatnya, seperti seseorang yang haus mencintai air, seseorang yang lapar mencintai makanan, seseorang yang mencintai tidur, isteri, anak, dan sebagainya.

Kecintaan ini tidak tercela, kecuali jika cinta tersebut melalaikan dari mengingat Allah dan yang menyibukkan hamba dari mencintai-Nya. Sebagaimana firman-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah…” (Al-Munafiqun:9)

Tingkatan kelima. Khullah yang mengandung puncak kesempurnaan cinta, yang menjadi akhir dari kecintaan sehingga dalam hati orang yang mencintai tidak lagi tersisa kelapangan untuk selain yang dicintainya. Tingkatan cinta ini tidak lagi menerima segala bentuk perserikatan. Kedudukan ini hanyalah dikhususkan untuk dua orang. – sebagaimana sabda Nabi shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih), sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih” (HR. Muslim).

dan juga disebutkan dalam kitab as-shahihain. Dari Rasulullah shallallahu Alahi Wasallam, beliau bersabda:

sekiranya aku mengambil kekasih dari penduduk bumi ini, tentulah aku menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih, tetapi sahabat kalian ini – yaitu Nabi Muhammad – adalah kekasih Allah”.

Tatkala ibrahim memohon keturunan dan dikabulkan oleh-Nya, lalu hati beliau terikat oleh cinta kepada anaknya hingga kemudian cintanya terbagi, maka Allah pun cemburu terhadap kekasih-Nya itu disebabkan dalam hati Ibrahim ada tempat untuk selain-Nya. Karena itu, Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya. Perinta ini terjadi dalam mimpi, tidak lain supaya pelaksanaannya menjadi ujian dan cobaan yang lebih berat. Maksud perintah tersebut bukanlah untuk menyembelih anak itu secara nyata, akan tetapi yang dimaksud adalah menyembelih kecintaan terhadap anak tersebut dari hatinya, agar hati Ibrahim kembali murni untuk Allah semata. Ketika Ibrahim bersegera untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, karena mendahulukan rasa cinta kepada Allah daripada rasa cintanya terhadap sang anak, tercapailah pokok dari tujuan tersebut, sehingga perintah penyembelihan terhadap anaknya pun dicabut, lalu digantikan dengan sesembelihan yang agung (kurban).

Inilah bentuk kesempurnaan cinta, yang memurnikan rasa cinta hanya kepada Allah semata hingga ia menjadi kekasih-Nya. Setidaknya, jika kita tidak bisa meraih tingkatan ini dan tidak akan bisa karena khalilullah hanyalah untuk dua orang saja, yaitu nabi Ibrahim dan Muhammad – semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk keduanya. Namun kita masih tetap bisa untuk meraih satu tingkatan dibawahnya, yaitu tingkatan tatayyum (penghambaan diri kepada Allah).

Penyusun: Sahl Suyono (Santri Idad Du’at Muallimin Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

Maraji’: Ad-Da’ wad Dawa’ Ibnul Qayyim al-Jauziyyah

Jika ustaz jadi wasit

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.