Berharaplah Rahmat Alloh dan Janganlah Berputus Asa

Oleh: Ust. Hizbul Majid

Sesuatu yang sudah dimaklumi bahwa manusia akan terus merasakan dua hal di dalam hidupnya, kesedihan dan kegembiraan. Kedua hal ini senantiasa menyertai seorang manusia mulai dari kecil hingga ajal menjemputnya. Akan tetapi, seorang muslim adalah seorang yang memiliki prinsip dan keyakinan teguh bahwasanya segala perkara ada di tangan Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam. Inilah prinsip seorang muslim yang harus tertanam dalam qolbunya.

Jika seorang muslim sudah meresapi dan memahami prinsip di atas, maka dia akan meyakini bahwa segala apa yang terjadi di dunia ini dan segala apa yang menimpa dirinya adalah kehendak Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam. Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Alloh; dan barangsiapa yang beriman kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. AtTaghobun : 12)

Memang terkadang sebuah ujian datang bertubi-tubi hingga membuat seorang manusia hampir putus asa. “Bukankah saya telah beramal sholih? Bukankah saya telah menghidupkan sunnah-sunnah Nabi? Kapankah datang pertolongan Alloh? Kapankah ini semua berakhir? Kapankah…kapankah?”

Cukuplah sebagai jawabannya firman Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam yang artinya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Alloh?” “Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat” (QS. Al Baqoroh : 214)

Faktor utama munculnya putus asa

Kebanyakan orang yang berputus asa, kita dapatkan ketika berada dalam dua keadaan:

  1. Ketika ditimpa musibah dalam hal dunia

Berputus asa dari rahmat Alloh dalam menghadapi ujian hidup dalam masalah dunia adalah termasuk sifat-sifat orang kafir. Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam berfirman:

لا يَسْأَمُ الإنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 49-50)

Maka janganlah kesempitan harta atau banyaknya masalah dunia, menjadikan kita putus asa terhadap rahmat-Nya. Teladanilah para nabi Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam menghadapi musibah.

Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam dalam menghadapi musibah yang menimpa dirinya! Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam berfirman:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Alloh, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)

Dan perhatikanlah kesabaran beliau dalam menghadapi ujian yang berat tersebut:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ . وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku); Dan Alloh sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Ya’qub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Alloh aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…” (Yusuf 18 dan 86)

Lihatlah kesabaran Nabi Ayyub ketika beliau ditimpa penyakit yang berkepanjangan:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shaad: 41)

Dan lihatlah bagaimana keyakinan Al-Kholil Ibrohim ‘alaihis salaam, yang disebutkan dalam firmanNya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’arâ: 80)

Tetapi sayanganya banyak di antara kaum muslimin yang begitu cepat berputus asa, ketika Alloh menguji mereka dalam perkara dunia. Hati mereka begitu sempit, dan mereka lupa akan luasnya rahmat Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam. Sebagai contoh, ketika mereka diuji dengan minimnya harta, maka mereka berputus asa dan putus harapan, seakan dunia akan kiamat, seakan tidak ada lagi harapan hidup. Akhirnya mereka pun mendatangi dan meminta pertolongan dukun-dukun untuk mendapatkan keuntungan dunia yang sedikit. Padahal mereka tahu bahwa Alloh Maha Kaya lagi Pemberi Rezeki.

  1. Ketika terjerumus dalam perbuatan dosa

Ketika seseorang terjatuh dalam perbuatan-perbuatan dosa, ia merasa sudah begitu banyak dosa yang telah dilakukan dan tidak ada harapan untuk mendapatkan ampunan. Akhirnya ia pun berputus asa dan tetap dalam perbuatan-perbuatan dosanya serta tidak mengakhirinya dengan bertaubat kepada Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Padahal yang seharusnya ia lakukan adalah segera bertaubat kepada Alloh, karena Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat.. tidak ada yang mustahil bagi Alloh, bahkan dosa kufur dan syirik pun akan diampunkan-Nya jika seorang jujur/benar dalam taubatnya. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” [1]

Firman Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Alloh dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AlMâidah: 74)

Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam juga berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)

Ketika menjelaskan surat Az-Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan, “Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabulloh. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Alloh l memberi taufik padanya untuk bertaubat.”[2]

Renungan:

Pertama, Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah Dzat Yang Maha Adil, tidak pernah dan tidak mungkin menzholimi hamba-Nya.

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Robb-mu tidaklah menzhalimi seorangpun” (QS. Al-Kahfi : 49)

Kedua, segala apa yang menimpa kita semuanya sudah tertulis dalam lauhul mahfuzh, maka hendaknya kita bersabar dan tidak perlu berduka cita. Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam berfirman yang artinya:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (QS. Al-Hadid : 22-23)

Ketiga: Berputus asa dari rahmat Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan akhlaq yang sangat tercela karena perbuatan ini merupakan sikap su’u dzon (buruk sangka) kepada Alloh l ditinjau dari dua sisi:

  1. Meragukan kemampuan Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam. Barang siapa yang yakin akan kesempurnaan kemampuan Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam, tentunya tidak akan menganggap harapannya mustahil terpenuhi oleh Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam.
  2. Meragukan rahmat Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam. Seorang yang yakin dengan kasih sayang Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam, maka dia tidak akan menganggap bahwa Alloh Shalallahu ‘alaihi wassalam enggan manyayanginya.[3]

Wallohu Ta’ala A’lam.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 05 Tahun 04

[1] Lihat Shohih Jami’us Shoghir: no, 4391.

[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/141.

[3] Al-Qaulul Mufid: 2/204.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.