Amalan Yang Menghantarkan Seorang Muslim ke Surga

Segala puji bagi Allah Azza Wajalla, Dzat Yang Mahatinggi, yang telah menciptakan surga dan neraka. Dan telah menciptakan penghuni-penghuni bagi keduanya, menjadikan surga sebagai tempat kembali bagi hamba yang dikasihi-Nya dan neraka sebagai tempat kembali bagi musuh-musuh-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah untuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, begitu pula kepada keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa istiqamah diatas pemahaman mereka.

Hal-hal yang berkaitan tentang janji surga dan ancaman neraka telah diterangkan dalil-dalilnya dalam Al-Qur’an maupun dalam As-Sunnah. Sehingga dengan adanya keterangan / dalil yang jelas ini bisa memperkuat keimanan seseorang tentang adanya hari akhirat, bisa membuat sabar dalam mentaati apa yang Allah perintahkan dan berusaha untuk  menjauhi segala larangan-larangan Allah, serta bisa kuat dalam menghadapi berbagai cobaan dan musibah.

Berikut ini kami sebutkan beberapa amalan yang mengantarkan seorang muslim ke Surga, diantaranya adalah:

  1. Allah menjelaskan bahwa iman, hijrah, dan jihad merupakan amalan teragung untuk meraih kedudukan tertinggi di surga.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20) يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ (21) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (22)

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar”. (QS. At-Taubah [9]: 20-22)

  1. Ketakwaan yang benar kepada Allah

Ketakwaan sebagaimana yang banyak didefinisikan oleh para ulama’ adalah melaksanakan semua apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan semua apa yang dilarang-Nya.

هَذَا ذِكْرٌ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآبٍ (49) جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ (50) مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ (51) وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ أَتْرَابٌ (52) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ (53) إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ (54)

 Artinya: “Ini peringatan, Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surge And yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, didalamnya mereka bertelekan (diatas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu. Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya. Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya”. (QS. Shad [38]: 49-54) 

  1. Termasuk amalan yang dapat menghantarkan seseorang ke surga adalah memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik.

Yang dimaksud dengan pinjaman yang baik adalah memberikan infaq atau sedekah kepada yang paling membutuhkan dengan tidak berharap imbalan duniawi. Infaq yang memiliki nilai terbesar di sisi Allah adalah infaq fi sabilillah, yaitu memberikan harta untuk membantu para mujahidin yang sedang berjihad.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245)

 Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Baqarah [2]: 245)

  1. Memperbanyak taubat kepada Allah dan istighfar disetiap waktu.

 Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (60) جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا (61) لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (62)

 Artinya: “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surge dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. Yaitu surge And yang telah dijanjikan oleh Rabb Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun surga itu tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna didalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezekinya di surge itu tiap-tiap pagi dan petang.” (QS. Maryam [19]: 60-62)

  1. Menuntut ilmu syar’I (ulumuddin). Allah telah memuliakan kedudukan orang-orang yang berilmu, bahkan Allah memberi batasan bahwa hanya orang yang memiliki ilmu saja (para ulama’) yang bisa memiliki rasa takut kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

 Artinya: “Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan dalam rangka menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan ia menempuh jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah diantara rumah-rumah Allah, untuk membaca kitabullah dan saling mempelajari diantara mereka, kecuali mereka akan dikelilingi malaikat, dituruni ketenangan, diliputi rahmat, dan Allah menyebut-nyebut mereka terhadap malaikat yang ada di sisi-Nya. Siapa yang lambat amalnya maka nasabnya tidak bisa menyempurnakannya.” (Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i)

  1. Menghindari perdebatan dan berakhlak baik.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا , وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا , وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ»

Artinya: “Saya menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan saya menjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan perkataan dusta meskipun ia bercanda, dan saya menjamin rumah di ketinggian surga bagi siapa yang memperbagus akhlaknya.” (Shahih, HR. Abu Dawud (7/178 (4800)).

  1. Shalat dua raka’at sesudah wudhu.

Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Bilal,

«حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ الْبَارِحَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ» قَالَ: «مَا عَمِلْتُ فِي الْإِسْلَامِ أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَطَّهَرْ طَهُورًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلَا نَهَارٍ، إِلَّا صَلَّيْتُ لِرَبِّي مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ»

 Artinya: “Hai Bilal, katakana kepadaku suatu amal dalam islam yang paling diharapkan yang pernah kamu lakukan. Karena aku pernah mendengar detak sepasang terompahmu berada didepanku di surga. Bilal berkata: “Tidak ada satupun amal yang paling menjanjikan harapan yang aku lakukan selain daripada kebiasaanku yang setiap kali bersuci pada siang atau malam hari, aku selalu menggunakannya untuk shalat. Sepertinya aku merasa berkewajiban untuk melakukan shalat.” (Shahih, Bukhari dan Muslim)

  1. Membangun masjid untuk mencari ridha Allah

Banyak riwayat yang menyebutkan keutamaan amalan membangun masjid dengan niat yang ikhlas, suatu saat ketika Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, membangun masjid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam orang-orang memberikan komentar negative padanya, lalu ia berata; Kenapa kalian mencercaku padahal sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

” مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ – بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ (وفِي رِوَايَتِهِ: مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ)

Artinya: “Barangsiapa yang membangun sebuah masjid untuk mencari keridhaan dari Allah, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. (Dalam riwayat lain disebutkan: …niscaya Allah membangunkan untuknya masjid yang sama di surga)”. (Shahih, HR Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, dll)

 Dalam riwayat lain disebutkan;

“من بني لله مسجدا صغيرا كان أو كبيرا بني الله له بيتا في الجنة”

Artinya: Barangsiapa membangun sebuah masjid untuk Allah, baik berukuran kecil ataupun besar, maka Allah bangunkan sebuah rumah di surga.”  (Mustakhroj At-Thusi Ala Jami’ At-Tirmidzi (2/207))

  1. Seorang wanita yang menunaikan shalat lima waktu, yang memelihara kehormatannya, dan yang taat kepada suaminya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خُمُسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دخلت من أي أبواب الجنة شاءت”

Artinya: “Apabila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, niscaya ia masuk ke surge dari pintu manapun yang ia sukai.” (Shahih, HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

  1. Bersikap sabar saat menghadapi musibah, terutama jika musibah itu berbentuk kematian anak yang ia cintai.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

«ما مِن الناسِ مِن مسلمٍ يُتوفَّى له ثلاثةٌ مِن الولدِ لم يَبلُغوا الحِنثَ إِلاَّ أَدخَلَه اللهُ الجنةَ بفضلِ رحمةِ اللهِ عزَّ وجلَّ»

Artinya: “Setiap orang muslim yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum sampai melakukan dosa, niscaya Allah akan memasukkannya ke surga karena rahmat-Nya kepada mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’I, dll)

Dalam riwayat lain:

“من دفن ثلاثة فصبر عليهم واحتسب وجبت له الجنة”. فقالت أم أيمن: أو اثنين؟ فقال: “واثنين”. فقالت: وواحدًا؟ فسكت ثم قال: «يَا أُمَّ أَيْمَنَ، مَنْ دَفْنَ وَاحِدًا فَصَبَرَ عَلَيْهِ وَاحْتَسَبَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»

 Artinya: Barangsiapa yang sabar atas di tinggal mati tiga anaknya, niscaya ia akan masuk ke surga. Ummu Aiman berdiri dan bertanya; “Bagaimana Jika dua?” Beliau menjawab: ya, demikian juga dua. Ummu Aiman bertanya; “Bagaimana Jika satu?” Beliau menjawab: ya, demikian juga satu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (3/63))

  1. Selalu membaca Sayyidul Istighfar

Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:

“سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “، قَالَ: «مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

Artinya: “Sayyidul Istighfar adalah engkau membaca “Wahai Allah, engkau adalah Rabbku, dan tiada ilah melainkan diri-Mu, Engkau menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, dan aku akan tunduk dibawah ikaatan dan janji kepada-Mu, semampu yang dapat aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat. Aku juga mengakui nikmat yang Engkau berikan kepada-Ku dan aku juga mengakui dosaku kepada-Mu. Ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosaku melainkan Engkau.

Barangsiapa membaca doa seperti itu di waktu siang dan dia sangat meyakininya, lalu ia meninggal dunia sebelum datangnya petang, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang membacanya diwaktu malam dan dia sangat meyakininya, lalu ia meninggal dunia sebelum datangnya pagi, maka dia juga termasuk penghuni surga.” (Shahih, HR . Bukhari dalam Adabul Mufrod (1/217))

 

Maroji’:

  • Ahwalun Nar, Karya Muhammad Ali Al-Kulaib
  • Hadiul Arwah ila Biladil Afrah, Karya Ibnul Qoyyim
  • Indahnya Surga dan Dahsyatnya Neraka, Ali Hasan Atsari

Penyusun: Lilik Ibadurrohman, S.Ud

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*