Meninggalkan Suap-Menyuap, Pintu Rezeki Jadi Terbuka
Meninggalkan Suap-Menyuap, Pintu Rezeki Jadi Terbuka
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, amanah, dan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam urusan muamalah dan pekerjaan, seorang muslim diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal serta menjauhi segala bentuk harta yang haram.
Salah satu penyakit sosial yang sangat merusak tatanan masyarakat adalah praktik suap-menyuap (risywah). Perbuatan ini tidak hanya merusak sistem keadilan, tetapi juga menghancurkan keberkahan rezeki seseorang.
Suap sering dianggap sebagai jalan pintas untuk memperlancar urusan atau memperoleh keuntungan. Padahal dalam pandangan Islam, suap merupakan dosa besar yang sangat dikecam.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini menunjukkan bahwa suap adalah cara yang batil dalam memperoleh harta. Ia merusak keadilan dan menghilangkan keberkahan dalam kehidupan manusia.
Namun Islam juga mengajarkan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Hal ini terbukti dalam banyak kisah nyata orang-orang yang menjaga ketakwaannya.
Kisah Nyata: Meninggalkan Suap, Rezeki Melimpah
Ada seorang kawan bercerita tentang seorang pedagang di Arab Saudi pada awal dia meniti karir dalam bisnis. Dia bercerita bahwa dulunya dia bekerja di sebuah pelabuhan di negeri ini dan semua barang-barang perniagaan yang akan masuk harus melalui dia dan mendapatkan tanda tangannya. Dia selalu mengawasi orang-orang yang main suap-menyuap. Tetapi dia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang suap. Maka dengan tanpa rasa malu lagi, atasannya menasihati teman kami ini agar tidak terlalu keras dan mau menerima uang yang diberikan oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.
Setelah mendengar perkataan tersebut, dia gemetar dan merasa takut. la lalu keluar dari kantornya, sementara kesedihan, penyesalan dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadanya. Yang ini mengatakan kepadanya, “Ini adalah hadiah dari perusahaan kami.” Yang satu lagi bilang, “Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah Anda yang baik.” Dan dia selalu mengembalikan dan menolak semuanya. Tetapi sampai kapan kondisi ini akan tetap berlangsung?! Dia khawatir suatu waktu mentalnya akan melemah dan akhirnya mau menerima harta haram tersebut, dia berada di antara dua pilihan; meninggalkan jabatannya dan gajinya atau dia harus melanggar hukum-hukum Allah dan mau menerima suap. Karena hatinya masih berada di atas fitrah dan bisa meresapi Firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan akan mem-berinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Teman kami ini berkata, “Kemu-dian Allah mengaruniaiku sebuah kapal kargo yang kecil. Aku pun memulai bisnis, mengangkut barang-barang. Lalu Allah mengaruniaiku kapal kargo lain lagi. Beberapa pedagang mulai memintaku untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka karena (mereka melihat) kesungguhanku dalam mengangkut barang-barang, seolah-olah barang-barang itu milikku sendiri.
Di antara kejadian yang aku alami adalah sebuah kapal kargoku menabrak karang dan pecah, karena sang nahkoda tertidur. Dia meminta maaf dan aku memaafkannya. Maka merasa heranlah seorang polisi lalu lintas laut karena aku begitu mudah memaafkan orang. Dia bersikeras untuk berkenalan denganku.
Setelah berlangsung beberapa tahun, pangkat polisi itu bertambah tinggi. Saat itu datang barang-barang perniagaan dalam jumlah besar. Dia tidak mau orang lain, dia memilihku untuk mengangkut barang-barang tersebut tanpa tawar-menawar lagi.”
Saudaraku, pembaca (yang budiman), lihatlah, bagaimana pintu-pintu rizki terbuka untuknya. Sekarang dia telah menjadi seorang saudagar besar. Kepedulian sosial dan santunannya bagi orang-orang miskin begitu besar. Demikianlah, barangsiapa yang meninggalkan suatu perbuatan (yang haram) karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.
Islam sangat tegas dalam melarang praktik suap. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
Artinya: “Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah. Hal ini menunjukkan betapa besar dosa suap dalam Islam.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
Artinya: “Hadiah yang diberikan kepada para pejabat (karena jabatannya) adalah bentuk pengkhianatan.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menjelaskan bahwa hadiah yang diberikan kepada seseorang karena kedudukannya dalam jabatan sering kali merupakan bentuk suap yang terselubung.
Ketakwaan Membuka Pintu Rezeki
Kisah pedagang dalam cerita tersebut menunjukkan bahwa ketakwaan kepada Allah adalah kunci datangnya keberkahan rezeki.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa ketakwaan bukan hanya membawa pahala di akhirat, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam kehidupan dunia.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
Artinya: “Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad)
Hadits ini benar-benar terbukti dalam kisah pedagang tersebut. Ia meninggalkan jabatan dan gaji demi menjaga dirinya dari suap, tetapi Allah justru memberinya rezeki yang jauh lebih besar.
Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Ini
Ada banyak pelajaran penting yang dapat diambil dari kisah tersebut.
- Menjaga kehalalan harta
Seorang muslim harus sangat berhati-hati dalam mencari rezeki. Harta yang haram akan menghilangkan keberkahan dalam hidup.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Artinya: “Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi)
- Kejujuran mendatangkan keberkahan
Sikap jujur dan amanah adalah sebab datangnya keberkahan dalam perdagangan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Artinya: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)
- Akhlak mulia membuka pintu kebaikan
Ketika pedagang tersebut memaafkan kesalahan nahkoda, sikap mulia itu justru menjadi sebab datangnya peluang besar dalam bisnisnya.
Ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik memiliki dampak besar dalam kehidupan seseorang.
Penutup
Dari uraian dan kisah yang telah dipaparkan sebelumnya, kita dapat memahami bahwa menjaga diri dari harta yang haram merupakan salah satu bentuk ketakwaan yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Dalam kehidupan dunia yang penuh dengan godaan dan kemudahan untuk melakukan pelanggaran, terkadang seseorang dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ada kalanya seseorang harus memilih antara mempertahankan pekerjaan atau jabatan dengan cara yang tidak halal, atau meninggalkannya demi menjaga keimanan dan ketaatan kepada Allah.
Kisah pedagang dalam cerita di atas memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa keputusan untuk meninggalkan sesuatu yang haram demi Allah bukanlah kerugian, melainkan sebuah keuntungan yang besar. Pada awalnya mungkin keputusan tersebut terasa berat, bahkan menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan, ekonomi, dan kebutuhan hidup. Namun seorang mukmin yang benar-benar yakin kepada janji Allah akan memahami bahwa rezeki tidaklah terbatas pada satu pintu saja.
Allah telah menjamin bahwa orang yang bertakwa kepada-Nya akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Janji ini bukan sekadar kata-kata, tetapi merupakan kebenaran yang telah terbukti dalam kehidupan banyak manusia sepanjang sejarah. Banyak orang yang meninggalkan sesuatu yang haram karena takut kepada Allah, lalu Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik, lebih berkah, dan lebih menenangkan hati.
Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui cara yang haram, seperti suap-menyuap, kecurangan, penipuan, dan berbagai bentuk kezaliman lainnya, pada hakikatnya tidak akan membawa keberkahan dalam kehidupan seseorang. Mungkin secara lahiriah harta tersebut terlihat banyak dan melimpah, tetapi di dalamnya terdapat kegelisahan, kesempitan hati, serta hilangnya ketenangan hidup. Bahkan sering kali harta yang diperoleh dengan cara yang haram menjadi sebab datangnya berbagai musibah dan kesulitan dalam kehidupan.
Rasulullah telah mengingatkan bahwa setiap harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal akan menjadi beban bagi pemiliknya pada hari kiamat. Oleh karena itu, seorang muslim yang beriman hendaknya selalu berhati-hati dalam mencari rezeki dan memastikan bahwa setiap harta yang masuk ke dalam kehidupannya berasal dari jalan yang halal.
Kisah pedagang dalam cerita tersebut juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kejujuran dan amanah dalam bekerja. Ketika seseorang memiliki sifat jujur, amanah, dan bertanggung jawab, maka sifat-sifat tersebut akan menumbuhkan kepercayaan dari orang lain. Kepercayaan inilah yang sering kali menjadi pintu terbukanya berbagai peluang dan keberhasilan dalam kehidupan.
Selain itu, akhlak yang mulia juga memiliki peranan yang sangat besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa pedagang itu memaafkan kesalahan nahkoda yang menyebabkan kapalnya rusak. Sikap pemaaf dan kelapangan hati yang ia tunjukkan ternyata menjadi sebab datangnya peluang besar dalam usahanya. Hal ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik tidak hanya membawa pahala di sisi Allah, tetapi juga memberikan dampak positif dalam kehidupan dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mendengar ungkapan bahwa rezeki seseorang telah ditentukan oleh Allah. Keyakinan ini seharusnya membuat seorang muslim merasa tenang dan tidak tergoda untuk mencari harta dengan cara yang haram. Sebab tidak ada satu pun rezeki yang akan tertukar dengan orang lain. Apa yang telah ditetapkan untuk seseorang pasti akan sampai kepadanya pada waktu yang telah Allah tentukan.
Oleh karena itu, ketika seorang muslim dihadapkan pada pilihan antara yang halal dan yang haram, maka hendaknya ia memilih yang halal meskipun tampak lebih sulit. Kesulitan tersebut hanyalah sementara, sedangkan keberkahan yang Allah berikan akan dirasakan sepanjang hidup, bahkan hingga akhirat.
Kita juga harus menyadari bahwa keberkahan rezeki tidak selalu diukur dengan banyaknya harta yang dimiliki. Keberkahan rezeki dapat berupa ketenangan hati, keluarga yang harmonis, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan. Banyak orang yang memiliki harta melimpah, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan dan berbagai masalah. Sebaliknya, ada orang yang hartanya tidak terlalu banyak, tetapi hidupnya penuh ketenangan dan kebahagiaan karena rezekinya diberkahi oleh Allah.
Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya selalu berusaha untuk menjaga kehalalan rezekinya, menjauhi segala bentuk suap-menyuap, serta menjadikan ketakwaan sebagai prinsip utama dalam menjalani kehidupan. Ketika seseorang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkahnya, maka Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya dan membukakan baginya pintu-pintu kebaikan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
semoga kisah dan pelajaran yang telah disampaikan dalam tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga kejujuran, amanah, dan ketakwaan dalam mencari rezeki. Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang selalu takut kepada-Nya, menjauhkan kita dari segala bentuk harta yang haram, serta melimpahkan kepada kita rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.
Semoga pula Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ketika meninggalkan sesuatu karena-Nya, maka Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik di dunia maupun di akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
REFERENSI:
Judul buku: Kisah-Kisah Nyata Meninggalkan yang Haram Karena Allah, Mendapatkan yang Lebih Baik, Dari : Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi, Penerbit: Darul Haq.
Diringkas oleh: Lailatul Fadilah (Staf Pengajar Pondok Pesantren Darul Qur’an wal Hadits OKU Timur Sumatera Selatan)
Baca juga artikel:
