Membuang Kedengkian Hati
Membuang Kedengkian Hati – Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Lisan seorang mukmin hendaknya tidak pernah berhenti memuji dan memuja-Nya atas segala nikmat yang dilimpahkan, terutama nikmat Islam dan iman. Dengan nikmat tersebut, manusia mengenal Pencipta alam semesta serta memiliki tujuan, panduan, dan tuntunan hidup yang jelas, sehingga dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Syukur merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, yang diwujudkan melalui ucapan “Alhamdulillah” dan pengaplikasian ketaatan dalam seluruh anggota tubuh. Selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada utusan Allah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah-Nya.
Hati merupakan pusat dari segala aktivitas manusia. Kualitas hidup seseorang, baik secara lahiriah maupun batiniah, sangat bergantung pada kondisi hatinya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah riwayat:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتْ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” [1]
Tiga Jenis Hati Manusia
Para ulama membagi kondisi hati manusia menjadi tiga bagian utama:
- Hati yang Sehat (Qalbun Salim): Hati yang dipenuhi dengan keimanan, ilmu agama, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati jenis ini senantiasa lunak, tunduk kepada kebenaran, dan mampu menerima takdir dengan lapang. Hati yang bersih inilah yang menjadi satu-satunya penyelamat di hari kiamat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Ash-Shu’ara: 88-89).
Pondasi utama dari hati yang sehat adalah tauhid, yaitu keyakinan mutlak bahwa tidak ada pencipta, pemilik, penguasa, dan sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Hati yang Mati: Hati yang jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengenal zikir, dan tidak memiliki amalan batin seperti ikhlas dan takwa. Hati yang mati membuat seseorang mudah berputus asa, sulit menghadapi ujian hidup, dan cenderung melakukan kemaksiatan meskipun memiliki kesempurnaan fisik atau materi.
- Hati yang Sakit: Hati yang memiliki benih keimanan namun tercampur dengan penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki (hasad), riya, dan dendam. Hati ini memerlukan pengobatan segera melalui taubat nasuha dan peningkatan ibadah agar penyakit tersebut dapat dikeluarkan.
Hakikat dan Bahaya Hasad (Kedengkian)
Penyebab kesepuluh yang sangat krusial dalam melapangkan dada adalah membuang kedengkian hati. Hasad atau iri dengki adalah kondisi di mana seseorang tidak senang melihat kelebihan atau nikmat pada orang lain dan berkeinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut. Penyakit ini dilarang keras dalam Islam karena dapat menghanguskan pahala amal saleh. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: “Hati-hatilah kalian dengan hasad (iri dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan pahala-pahala kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” [2]
Para ulama memberikan batasan mengenai hasad yang diharamkan:
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin: Hasad adalah iri yang diikuti dengan harapan hilangnya nikmat dari orang lain, baik berupa harta, kedudukan, ilmu, maupun fisik.
- Ibnu Taimiyah: Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasadi. [3]
Larangan Saling Membenci dan Memutus Hubungan
Islam membangun pondasi ukhuwah (persaudaraan) yang sangat kuat di atas landasan kebersihan hati. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِيعُ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَا هُنَا
Artinya: “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling melakukan najasy (menipu dalam transaksi), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (memutus hubungan), janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menelantarkannya, tidak boleh membohonginya, dan tidak boleh menghinanya. Takwa itu ada di sini (beliau menunjuk dadanya tiga kali).” [4]
Setiap Muslim diharamkan menumpahkan darah, mengambil harta, dan merusak kehormatan Muslim lainnya. Termasuk dalam menghina adalah mencibir secara lisan (lumazah) maupun mencontohkan kekurangan fisik orang lain dengan gerakan tubuh (humazah). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam pelaku tindakan ini dengan siksa yang pedih (QS. Al-Humazah: 1).
Ghibthah: Iri yang Diperbolehkan
Terdapat jenis rasa iri yang diperbolehkan, yang disebut dengan Ghibthah. Ghibthah adalah keinginan untuk memiliki nikmat yang sama seperti orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari pemiliknya. Hal ini terbatas pada dua perkara. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ القُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
Artinya: “Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua orang: (pertama) orang yang diberikan Al-Qur’an oleh Allah lalu ia membacanya (dan mengamalkannya) di waktu malam dan siang, (kedua) orang yang diberikan harta oleh Allah lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan siang.” [5]
Cara Membersihkan Hati dan Melapangkan Dada
Untuk mencapai kelapangan hati yang maksimal, seseorang harus melakukan langkah-langkah berikut:
- Membenci Perbuatan, Bukan Fisik: Saat seseorang berbuat salah kepada kita, hendaknya kita membenci perbuatannya saja. Hal ini memungkinkan kita untuk mudah memaafkan ketika orang tersebut bertaubat. Contoh nyata adalah Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu yang di masa jahiliah sangat keras menyiksa umat Islam, namun ketika ia mendapatkan hidayah dan bertaubat, umat Islam menerimanya dengan kemuliaan karena yang dibenci sebelumnya hanyalah kekafirannya, bukan jati dirinya sebagai manusia.
- Segera Menyelesaikan Masalah: Jangan membiarkan konflik atau permusuhan menginap lebih dari tiga hari. Seorang Muslim yang bijak akan segera mengklarifikasi masalah, meminta maaf jika salah, dan memaafkan jika benar, guna membuka lembaran baru.
- Mendoakan Kebaikan Bagi Orang Lain: Mendoakan keberkahan atas nikmat yang didapatkan orang lain merupakan obat bagi penyakit hasad. Ketika kita mendoakan orang lain, malaikat akan mendoakan agar kita mendapatkan hal yang serupa.
- Menumbuhkan Sifat Itsaar (Mendahulukan Orang Lain): Sebagaimana kaum Ansar menyambut kaum Muhajirin dengan kerelaan untuk berbagi harta dan tempat tinggal demi ikatan persaudaraan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Menyadari Keutamaan Memaafkan: Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan ampunan bagi mereka yang bersedia memaafkan kesalahan kerabat atau sesama meskipun hati merasa tersakiti. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22).
Kesimpulan
Hati yang bersih adalah kunci utama kebahagiaan dunia dan akhirat. Membuang kedengkian, dendam, dan kebencian dari dalam dada merupakan langkah terbesar untuk mendapatkan kelapangan hati. Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa tidak ada gunanya melakukan sebab-sebab kelapangan dada jika sifat-sifat tercela masih bersarang di dalam hati. Maka, hendaknya setiap Muslim berupaya keras membersihkan hatinya dan mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Referensi:
[1] Hadis Riwayat Bukhari, No. 52 dan Muslim, No. 1599.
[2] Hadis Riwayat Abu Dawud, No. 4903.
[3] Perkataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 10/111.
[4] Hadis Riwayat Muslim, No. 2564.
[5] Hadis Riwayat Bukhari, No. 73 dan Muslim, No. 815.
Diringkas dari kajian Islam dengan judul:
10 Penyebab Lapangnya Hati #10: Membuang Kedengkian Hati
Pemateri: Ustadz Dr. Khalid Basalamah
Channel Youtube: Khalid Basalamah Official
Diringkas Oleh: Abu Muhammad Fauzan (Staf Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
BACA JUGA :
