Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Saatnya Berbuat Jujur

saatnya berbuat jujur

Sifat jujur merupakan sifat yang sangat terpuji. Namun, sekarang sifat ini menjadi barang langka. Manusia merasa bahwa kejujuran adalah pekara yang tidak penting. Mereka berasumsi bahwa kebohongan adalah suatu yang wajar dan bukan sebuah dosa.

Definisi Jujur:

Jujur adalah lawan dari dusta. Al-imam ar Raghib al-Ashfahani berkata, “jujur adalah kesesuaian ucapan dengan apa yang tersembunyi dan yang akan dikabarkan secara bersamaan. Apabila tidak terpenuhi syarat ini maka bukan sebuah kejujuran”.

Al-Imam al-jurjani Rahimahullah berkata, ” jujur adalah kesesuaian hukum terhadap kenyataan, ini adalah lawan dari berdusta.”

Mahalnya Sebuah Kejujuran

Setiap manusia pasti senang dengan kejujuran, keadilan, perbuatan baik, akhlak mulia, dan lain-lain dari perkara yang baik. Sebaliknya, semua orang juga membenci perbuatan dusta, zalim, akhlak buruk dan sebagiannya. Dua hal ini adalah fitrah yang telah Allah tanamkan dalam duri setiap manusia, tidak bisa ditolak dan diingkari.

Di antara sifat terpuji yang banyak dilalaikan oleh mayoritas manusia adalah sifat jujur. Kejujuran pada zaman sekarang terasa begitu mahal. Orang yang hendak berbuat jujur selaku kalah, dikatakan sok suci, bahkan dikucilkan oleh teman-temannya. Tentu hal ini dalam bentuk kemerosotan nilai keimanan yang sangat nyata. Tatkala zaman sama makin jelek. Manusia semakin jauh dari bimbingan wahyu, maka berbuat jujur adalah sebuah tantangan bagi orang-orang beriman untuk tetap konsisten dan tegar dalam memegang panji kejujuran meskipun orang menilainya sebagai sikap yang bodoh dan ketinggalan zaman.

Kita tidak perlu memedulikan penilaian orang tersebut karena prinsip kita berpegang teguh dengan apa yang dilakukan oleh Allah dan Rasul bukan berpegang dengan apa kata kebanyakan orang! Allah berfirman :

و إن تطع أكثر من في الارض يضلوك عن سبيل الله أن يتبعون إلا الظن و إن هم إلا يخرصون

Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah, mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. al-An’am [6]: 116)

Dan sungguh benar sabda Nabi yang menggambarkan perihal manusia zaman sekarang yang serba terbalik dalam sabda beliau yang artinya:” Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu. Orang yang dusta dibenarkan, orang yang jujur didustakan. Orang yang khianat diberi amanat, orang yang khianat dianggap amanat dan orang-orang Ruwaibidhoh berani bicara.” Ada yang bertanya, ” siapa Ruwaibidhoh itu? ” Beliau menjawab, ” Dia adalah orang bodoh Yang berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah dalam sunannya)

Pendorong Berbuat Jujur

Al-Imam al-Mawardi menyimpulkan bahwa perbuatan jujur dilatarbelakangi beberapa sebab, diantaranya:

Pertama: Akal. Akalnya menyadari bahwa jeleknya perbuatan dusta

Kedua: Sisi agama. Artinya, dia memahami dengan baik berbuat jujur dan ancaman bahaya berbuat dusta. Dan Allah tidak mensyariatkan kecut semua kebaikan.

Ketiga: Kehormatan diri, karena demi menjaga diri dan kehormatan akan mencegahnya berbuat dusta dan mendorong berbuat jujur.

Keempat: Cinta popularitas agar dikenal sebagai orang yang jujur.

Tentu sebab pertama dan kedua lah yang dibenarkan, agar perbuatan jujur yang kita lakukan berbuah pahala disisi Allah.

Macam-macam Kejujuran

  1. Jujur dalam ucapan

Wajib bagi setiap hamba untuk menjaga ucapannya, tidak berbicara melainkan dengan jujur. Jujur dalam lisan adalah jenis kejujuran yang paling terkenal dan paling tampak.

  1. Jujur dalam niat dan keinginan Perkara ini disebut dengan ikhlas. Apalagi amalannya tercampur dengan keinginan pribadi dan penyakit riya’ maka niatnya belum jujur, bahkan pelakunya berhak disebut pendusta. Sebagaimana kisah tiga golongan yang dicampakkan ke dalam neraka gara-gara salah niat ketika beribadah sedekah, baca Alquran, dan jihad. Allah menyebut mereka pendusta karena niatnya yang salah bukan karena ibadah sedekah, baca Alquran dan jihadnya yang salah.
  2. Jujur dalam tekad dan menunaikan janji Semisal seorang yang punya tekat untuk banyak sedekah jika diberi kekayaan. Atau orang yang berjanji lalu dia jujur untuk memenuhinya. Tekad dan janji semacam ini kadang terpenuhi kadang kala juga tidak. Oleh karena itu, Allah memuji orang-orang yang memenuhi janjinya dan disebut sebagai orang yang benar dan jujur.
  3. Jujur dalam perbuatan

Yaitu perbuatannya sesuai dengan apa yang ada dalam batin, tidak bertentangan. Muthorrif mengatakan, ” bila batin seorang hamba sesuai dengan perbuatan lahirnya, maka Allah akan berkata, ‘inilah Hambali yang sejati.”

  1. Jujur dalam inti sari agama

Seperti perbuatan jujur ketika merasa takut, berharap, tawakal, perasaan cinta, dan sebagainya. Misalnya dalam ibadah takut, maka orang yang jujur dia akan takut kepada Allah ketika berbuat maksiat, takut mendapat siksa neraka inilah orang yang jujur dan benar dalam rasa takutnya.

Tanda Kejujuran

Termasuk tanda-tanda kejujuran adalah tenangnya hati. Dan termasuk tanda kedustaan adalah keragu-raguan.

Keutamaan Berbuat Jujur

  1. Melaksanakan perintah Allah

Allah memerintahkan para hamba untuk menjadi orang-orang yang jujur. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يايها الذين ءامنو اتقوا الله وكونوا مع الصادقين

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertakwa lah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. at-Taubah[9]: 119)

  1. Jalan menuju kenikmatan

Allah telah mengkhususkan nikmat yang agung dari kalangan orang-orang jujur. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين و الصديقين والشهداء والصالحين اولئك رفيقا

Artinya: “Dan barang siapa menaati Allah dan Rasulnya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. an-nisa’ [4]: 69)

  1. Jujur adalah lawan munafik

Allah akan membalas dengan pahala yang besar bagi yang berbuat jujur dan menyiksa orang munafik karena kedustaannya. Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

ليجزى الله الصدقهم ويعذب المنافقين إن شاء أو يتوب عليهم إن الله كنا غفورا رحيما

Artinya: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS.al-Ahzab [33]: 24)

4.Jalan selamat dari siksa akhirat

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قال الله هذا يوم ينفع الصادقين صدقهم لهم جنت تجرى الله من تحتها الا نهار خالدين فيها أبدا رضى الله عنه ذلك الفوز العظيم

Artinya: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai; mereka kekal didalamnya selama-lamanya; Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Ma-‘idah [5]: 119)

Ancaman Bagi Orang yang Berbohong

Bohong termasuk dosa yang jelek dan aib yang tercela. Umat ini telah sepakat akan keharaman berbohong, ditambah lagi dengan adanya dalil-dalil yang sangat banyak dalam masalah ini. Untuk menegaskan bahwa berbohong bukan perkara yang ringan, kami nukilkan disini sebagian ancaman bagi orang yang berdusta, diantaranya:

  1. Tanda orang munafik

Berbohong adalah kebiasaan orang munafik, orang munafik akan selalu menampakkan sesuatu yang menyelisihi apa yang ada di dalam benaknya, di antaranya adalah dengan berbohong. Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan:

آية المنافق ثلاث إذ حدث كذب و إذ وعد اخلف وإذ ائتمن خان

Artinya: Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya dia khianat.” (Muttafaqun Alaih)

  1. Mendapat adzab yang pedih

Ini pun termasuk celaan dan ancaman bagi orang yang berbohong. Renungkan lah kisah dalam hadits berikut ini, bahwa berbohong bukan sekedar dosa yang ringan!

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang laki-laki, kemudian keduanya membawaku ke sebuah tempat suci. Ditempat itu aku melihat dua orang yang sedang duduk dan ada dua orang yang sedang berdiri, ditangan mereka ada sebongkah besi. Besi itu ditusukkan ke tulang rahangnya sampai tembus tengkuknya. Kemudian ditusukkan besi itu pada tulang rahangnya yang lain semisal itu juga, hingga penuh dengan besi… akhirnya Rasulullah bertanya, ‘ kalian telah mengajakku berkeliling, sekarang kabarkan kepadaku peristiwa demi peristiwa yang telah kulihat.’ keduanya berkata, angkanya dengan besi, dia adalah seorang pendusta, berkata bohong, hingga dosanya itu memenuhi penjuru langit, apa yang engkau lihat terhadapnya akan terus diperbuat hingga hari kiamat.”

  1. Allah akan meminta pertanggungjawaban anggota badan

Ucapan yang dusta, perbuatan yang bohong, semua akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah.

  1. Ancaman neraka baginya

Orang yang terbiasa berdusta telah menceburkan dirinya ke dalam ancaman neraka.

Beberapa Perkara Dusta yang Dianggap Benar Padahal Bukan

  • Memanggil anak kecil untuk diberi sesuatu padahal tidak punya

Biasanya, sebagian orang tua yang sudah lelah menghadapi tingkah anak-anaknya akan berbohong untuk menarik perhatian si anak dengan mengajak (memanggil) nya untuk diberi sesuatu atau lainnya padahal si orang tua tidak bermaksud sungguh-sungguh. perkara ini dianggap simpel namun dilarang di dalam Islam.

  • Menceritakan semua yang telah didengar

Termasuk musibah besar yang menimpa sebagian kaum muslimin adalah adanya orang-orang yang kurang teliti dalam menerima berita.

  • Berkata bohong untuk membuat orang tertawa

Dengan alasan untuk menghilangkan kepenatan hidup, menghibur orang, atau sekedar mencairkan suasana sebagian orang biasa bercerita bohong agar para pendengarnya tertawa. Jelas PEKARA ini haram.

 

Penutup:

Demikian lah pembahasan yang dapat saya ringkas, semoga Allah memudahkan langkah kita untuk berbuat jujur dan menjauhkan diri dari sifat dusta.

Aamiin….

 

Sumber:

Majalah Al-furqan edisi ll TH.ke-10 jumada akhir 1432

Karangan: Abu Abdillah Syahrul fatwa bin Lukman

Diringkas oleh: Dinda Oktarina

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.