Skip to content

Betapa pentingnya waktu (Seri lanjutan)

ykkokut
6 menit baca
betapa pentingnya waktu seri lanjutan

Betapa pentingnya waktu (Seri lanjutan) – Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam Dialah rabb satu-satunya yang berhak untuk di ibadahi dan kami bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Pada artikel kali ini, in syaa Allah kita akan melanjutkan pembahasan tentang urgensi waktu, tentang betapa pentingnya waktu itu. Karena waktu itu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya maka waktu akan memenggalmu. Oleh karenanya, kami rasa sangatlah penting pembahasan mengenai waktu ini. Terlebih di zaman sekarang! Telah kita lihat, betapa banyak para pemuda dan pemudi yang hidup dalam kesia-siaan, menghabiskan banyak waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Oleh karena keurgensian waktu tersebut, mari kita merenungi ayat-ayat Allah dengan membaca lanjutan dari pembahasan yang telah berlalu.

Allah memberi Udzur bagi Orang yang telah Berusia 60 Tahun

Bukhari meriwayatkan di dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda:

أعذر الله عزّ و جلّ إلى امرء أخّر عمره حتّى بلّغه ستّين سنة

Artinya: “Allah Ta’ala telah memberikan udzur kepada seseorang dengan memanjangkan umurnya hingga mencapai usia enam puluh tahun. “ (shahih, Bukhari dalam shahihnya)

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya (II: 417), dari Abu Hurairah, ia berkata:

من عمّره الله تعالى ستّين سنة، فقد أعذر إليه في العمر

Artinya: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah panjangkan umurnya selama 60 tahun, sungguh Dia telah memberikan udzur dalam hal umur kepadanya.”

Maksudnya, Allah telah menghilangkan peluang udzurnya, dan tidak lagi memberi kesempatan udzur kepadanya, karena Dia telah melapangkan udzur itu sepanjang umurnya.

Allah Ta’ala Bersumpah dengan Waktu untuk Menjelaskan Keagungan dan Urgensinya

Terdapat banyak ayat yang mengingatkan tentang keagungan salah satu pokok nikmat ini, selain yang telah disebutkan dipembahasan sebelumnya. Cukuplah bagi kita mengetahui bahwa Allah telah bersumpah dengan waktu di dalam kitab-Nya yang mulia dan ayat-ayat-Nya yang luhur dalam konteks yang berbeda-beda. Hal itu sebagai informasi dan peringatan tentang nilai urgensitas waktu. Allah yang urusan-Nya demikian agung telah bersumpah dengan waktu malam, siang, fajar, subuh, saat terbenamnya matahari, waktu dhuha, dan dengan masa. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala berikut ini: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 1-2) “Dan malam ketika telah berlalu, dan subuh apabila mulai terang.” (QS. Al-Muddatstsir: 33-34)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya. Kalau dicermati, bahwa setiap Allah bersumpah dengan waktu, maka sudah pasti waktu itu amat sangat penting. Dan sumpah Allah dengan waktu tersebut terjadi dalam dua kondisi yang urgen sekali. Pertama, untuk membebaskan Rasulullah dari tuduhan orang-orang musyrik dan para musuhnya, bahwa Rabbnya telah meninggalkan dirinya. Kedua, untuk menjelaskan bahwa setiap manusia itu pasti merugi dan binasa, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

Allah Ta’ala telah berfirman dengan bersumpah atas nama waktu:
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam yang bila telah sunyi (gelap). Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.” (QS. Adh-Dhuha: 1-3)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Abdullah bin Abbas, yang digelari ‘tinta umat’ dan penerjemah Al-Qur’an, mengatakan, “Yang dimaksud dengan kata al-‘ashr adalah az-zaman (waktu, masa).”

Penjelasan Fakhrurrazi tentang Urgensi dan Keagungan Waktu

Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan di dalam tafsirnya ketika menafsirkan surat Al-Arhr, di mana ringkasan dan maknanya adalah sebagai berikut, “Allah Ta’ala telah bersumpah dengan al-ashr yang maksudnya adalah az-zaman (waktu, masa), karena di dalamnya memang mengandung berbagai keajaiban. Di dalamnya terdapat rasa senang dan susah, sehat dan sakit, kaya dan miskin. Dan juga, bahwa umur ini tidak dapat dinilai dengan sesuatu, dalam hal mahal dan berharganya umur itu.

Seandainya seseorang menyia-nyiakan waktu seribu tahun untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, kemudian dia bertaubat dan ditetapkan dian mendapatkan kebahagiaan di detik-detik terakhir umurnya, maka dia akan berada di dalam surga buat selamanya. Dan, seseorang pun tahu bahwa sesuatu yang paling berharga adalah hidupnya di detik-detik terakhir dari umurnya tersebut.

Waktu adalah salah satu dari pokok-pokok nikmat. Untuk itu, Allah telah bersumpah dengannya, dan Dia telah memperingatkan bahwa waktu malam dan siang adalah sebuah kesempatan yang sering disia-siakan oleh banyak orang! Waktu itu lebih mulia dari sebuah tempat, sehingga Allah pun bersumpah dengannya. Karena, waktu adalah nikmat yang bersih, yang tidak ada cela di dalamnya. Sungguh, yang merugi dan tercela adalah manusia itu sendiri.”

Inilah penjelasan yang telah dikemukakan di dalam Al-Quranul Karim, di mana hal itu menunjukkan prihal urgensi waktu, dan waktu merupakan salah satu dari pokok-pokok nikmat yang agung.

Penjelasan As-Sunnah tentang Urgensi Waktu

Penjelasan As-Sunnah yang suci tentang urgensi waktu sangatlah jelas dan gamblang. Diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu,  ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ

Artinya: “Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu adalah karunia yang agung, dan anugerah yang begiru besar. Hanya orang-orang hebat yang mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui, lalu memanfaatkannya seoptimal mungkin. Seperti yang diisyaratkan dalam hadits, “Banyak manusia tertipu di dalam keduanya.” Itu artinya, orang yang mampu memanfaatkan waktu amatlah sedikit. Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya.

Kecemburuan yang Destruktif terhadap Waktu Bagi Ahli Ibadah dan Orang Berakal

Imam Ibnu Qoyyim pernah menegaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin (III: 49), saat mengulas makna ghirah (kecemburuan) dan cakupannya terhadap banyak hal dan perkara, yakni bahwa di antara bentuknya adalah kecemburuan terhadap waktu. Beliau mengungkapkan, “Kecemburuan terhadap waktu yang hilang begutu saja! Ia adalah jenis kecemburuan yang destruktif, karena waktu itu begitu mudah berlalu, bersifat angkuh, dan begitu lambat kembali lagi. Waktu bagi seorang ahli ibadah adalah untuk beribadah dan melantunkan wirid. Untuk seorang yang taat, waktu adalah untuk berkonsentrasi kepada Allah, dan mencurahkan seluruh jiwanya karena Allah. Waktu baginya adalah sesuatu yang paling berharga. Ia akan merasa cemburu sekali bila waktu itu berlalu begitu saja! Karena waktu selanjutnya sudah memiliki kewajibannya tersendiri pula. Bila waktu berlalu, tak ada jalan untuk menggapainya lagi.

Kenapa disebut destruktif? Karena pengaruhnya memang mematikan. Sebab penyesalan atas hilangnya waktu sangatlah berbahaya. Terutama bila orang yang mengalami penyesalan itu tahu betul bahwa tidak ada lagi jalan untuk bisa menggapai waktu yang telah hilang tersebut. Seperti ungkapan bijak, “Menyibukkan diri dengan menyesali waktu yang telah berlalu, sama halnya menyia-nyiakan waktu yang akan datang!” Oleh sebab itu, ada sebuah ungkapan, “Waktu itu ibarat pedang. Bila engkau tidak memotongnya, maka sang waktu yang akan memenggalmu!”

Itulah yang dapat kami sampaikan, dan in syaa Allah akan dilanjutkan di lain kesempatan. Semoga Allah Ta’ala memberikan Taufik serta Hidayahnya kepada kita para hamba-Nya.

Referensi:

Sayikh Abdul Fattah/2021/MANAJEMEN WAKTU PARA ULAMA/Solo/Zamzam

Artikel : Adibah Mira Trisna _Santriwati pengabdian ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKUT

BACA JUGA :

Bagikan:

Artikel Terkait

cukuplah kematian sebagai nasihat
Muhasabah 12/05/2026

Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat dan Peringatan

Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat dan Peringatan – Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan  kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan dari kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang di sesatkan oleh Allah, maka tiada seorang pun […]

kacamata iman setengah isi setengah kosong
Muhasabah 03/03/2026

Memandang Hidup dengan Kacamata Iman: Antara Setengah Isi dan Setengah Kosong

Memandang Hidup dengan Kacamata Iman: Antara Setengah Isi dan Setengah Kosong – Cara manusia memandang kehidupan sangat menentukan bagaimana ia bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan. Dua orang bisa berada dalam kondisi yang sama, namun menghasilkan respons yang sangat berbeda. Perbedaan itu sering kali bukan terletak pada keadaan, melainkan pada sudut pandang. Inilah inti pesan yang […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map