Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Penyakit Riya’ Dan Obatnya (Bagian 2)

penyakit riya dan obatnya 2

Penyakit Riya’ Dan Obatnya (Bagian 2) – Segala puji hanya milik Allah rabb alam semesta, barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad, shalawat juga untuk para keluarga dan para sahabat beliau.

Pembahasan selanjutnya dari seri penawar hati adalah “Penyakit Riya dan Obatnya”.

Diantara penyakit-penyakit hati adalah penyakit riya’, penyakit riya’ adalah penyakit yang tercela dan telah dijelaskan bahayanya di dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّ الْـمُنَافِقِيْنَ يُـخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيْلًا.

Artinya: “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” [1]

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَـهُمْ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَا بِالْيَومِ الْأَخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِيْنًا فَسَآءَ قَرِيْنًا

“Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” [2]

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَآءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ وَاللهُ بِـمَا يَعْمَلُونَ مُـحِيْطٌ

Artinya: “Dan janganlah kamu sperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.” [3]

Allah berfirman di dalam hadits qudsi:

عَنْ أَبِـي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَـى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْـرِ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, Aku meninggalkannya dan sekutunya.’” [4]

عَنْ أَبِـي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَغْنَـى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ لِـي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيْهِ غَيْـرِي فَأَنَا مِنهُ بَـرِيءٌ وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ

Artinya: ”Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa mengerjakan suatu amalan dengan menyertakan sekutu selain diri-Ku, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia milik sekutu yang disertakannya itu.” [5]

عَن مَـحْمُودِ بْنِ لَبِيْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَـهُمْ يَومَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِـهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَـجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Artinya: “Dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Ap aitu syirik kecil wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Itu adalah Riya’, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan di sisi mereka?” [6]

Diantara contoh orang yang berbuat riya’ adalah ada suatu kaum yang mereka membaca Al Qur’an dan mereka mempelajari ilmu dan juga bersedekah, akan tetapi mereka sanggat disayangkan orang yang pertama diseret dan dimasukkan ke dalam neraka, dan orang yang pertama dihisab pada hari kiamat, begitu meruginya jika berbuat demikian.

عَن أَبِـي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَـمْعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقِضَى يَومَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِـيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُـمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِـيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمَتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكْنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِـمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُـمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْـمَالِ كُلِّهِ فَأُتِـيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُـحِبُّ أَنْ يُنْفِقَ فِيْهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ ثُـمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُـمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Artinya: “Dari Abu Hurairah radiallahu’anhu ia berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat?’ Dia menjawab: ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang diberi keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya?’ dia menjawab: ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridhai.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” [7]

عَن أَبِـي مُوسَى قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ سَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شُـجَاعَةً وَيُقَاتِلُ حَـمِيَّةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَـهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Artinya: “Dari Abu Musa dia berkata, Rasulullah pernah ditanya mengenai seorang laki-laki yang berperang supaya dikatakan pemberani, berjuang karena membela kesukuan dan berjuang karena ingin dipuji, maka manakah yang disebut berjuang di jalan Allah?” Rasulullah lalu bersabda: “Barangsiapa berjuang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka itulah yang disebut berjuang di jalan Allah.” [8]

Subhannallah! Suatu kaum yang bersedekah, pada dhohirnya bahwa infak di jalan Allah, akan tetapi sangat disayangkan sekali mereka di azab disebabkan apa yang mereka perbuat.

Adapun orang yang beramal dengan tidak ikhlas karena Allah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَـهُمْ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَا بِالْيَومِ الْأَخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِيْنًا فَسَآءَ قَرِيْنًا

Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” [9]

Subhannallah! Seorang yang terbunuh ikut berperang bersama Rasulullah dan ikut tanpa terkecuali membunuh orang-orang musyrikin, dan tidak diberi balasan seorang dari sahabat Rasulullah sebagaimana laki-laki ini di dalam peperangan. Bersamaan dengan itu Nabi menimpali dengan sabdanya:

هُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Dia termasuk penduduk neraka”

Sampai-sampai para Sahabat raadiallahu’anhum terkaget-kaget, padahal laki-laki tersebut yang hebat dalam berperang. Haditsnya telah disampaikan di atas.

 

CARA MENGOBATI PENYAKIT RIYA’

Penyakit Riya merupakan penyakit yang sangat serius membutuhkan penangganan yang serius juga. Penyakit ini terkadang tidak disadari oleh manusia.

Obat penyakit riya’ adalah dengan cara berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari penyakit riya’, yaitu dengan berdoa:

اللُّهُمَّ إِنِّـي أَعُوذُبِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِـمَا لَا أَعْلَمُ

Artinya: “Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, agar tidak menyekutukan kepada-Mu, sedang aku mengetahuinya dan meminta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui”

Dan senantiasa menerima agar setiap amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah, senantiasa setiap amal kebaikan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, berdasarkan dalil-dalil dalam Al Qur’an maupun hadits Nabi.

Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan tentang hal tersebut, yaitu:

Allah Ta’ala berfirman:

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُـخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْـرُ لَّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُمْ مِن سَيِّئَاتِكُمْ

Artinya: “Jika kamu menampakan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus Sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” [10]

إِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِـمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِـجَارَةً لَّن تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan Sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.

Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” [11]

Begitu juga Nabi memberikan contoh motivasi shalat (shalat sunnah, red) dilakukan di dalam rumah untuk menghindari dari perbuatan riya’ dan ingin di dengar.

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْـمَرءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْـمَكْتُوبَةَ

Artinya: “Wahai manusia shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dilakukannya di rumahnya, kecuali shalat fardhu.” [12]

Dan ibadah-ibadah lain yang dapat dikerjakan ketika manusia sedang tidur atau sedang tidak ada manusia.

Demikian beberapa obat penawar penyakit riya’ dan dalil-dalilnya yang menerangkan kepada kita agar melakukan ibadah dengan cara disembunyikan lebih baik ketimbang amalan yang dilakukan secara terang-terangan semoga kita bisa terhindar dari penyakit riya’. Amin

Bersambung tema lain insyaallah..

 

MARAJI’:

  1. Al Qur’an
  2. Hadits Digital
  3. Obat Penawar Hati karya Mustofa Al ‘Adawi

 

[1] Q.S An Nisa’: 152

[2] Q.S An Nisa’: 38

[3] Q.S Al Anfal: 47

[4] Hadits Riwayat Muslim no. 2985

[5] Hadits Riwayat Ibnu Majah no. 4202 dan Ahmad no. 9246

[6] Hadits Riwayat Ahmad no. 22523, 22528

[7] Hadits Riwayat Muslim no. 1905, Nasa’i no. 3086 dan Ahmad no. 7928

[8] Hadits Riwayat Muslim no. 1904, Bukhari no. 123, 2810, 2894

[9] Q.S An Nisa’: 38

[10] Q.S Al Baqarah: 271

[11] Q.S Fathir: 29-30

[12] Hadits Riwayat Bukhari no. 731, An Nasa’i no. 1599, Ahmad no. 20637, Darimi no. 1406 dan Malik no. 441

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.