Skip to content

SAFAR DALAM ISLAM

ykkokut
4 menit baca
safar dalam islam

Safar atau perjalanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dahulu, manusia melakukan perjalanan untuk berbagai tujuan, seperti berdagang, menuntut ilmu, berdakwah, atau sekadar mencari pengalaman baru. Dalam Islam, safar memiliki kedudukan yang penting karena sering kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad. Islam tidak hanya membolehkan safar, tetapi juga memberikan tuntunan, adab, serta keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang melakukan perjalanan.

Artikel ini membahas pengertian safar, dasar hukumnya, tujuan safar, adab-adab safar, serta dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis yang disertai teks bahasa Arab dan artinya. Penulisan artikel ini disusun dengan bahasa yang mengalir agar mudah dipahami dan terasa seperti tulisan manusia pada umumnya.

Pengertian Safar

Secara bahasa, safar (السَّفَرُ) berarti membuka atau menyingkap. Dikatakan demikian karena safar menyingkap akhlak dan tabiat seseorang. Adapun secara istilah dalam fikih Islam, safar adalah keluar dari tempat tinggal dengan menempuh jarak tertentu yang menurut syariat sudah dianggap sebagai perjalanan, sehingga seseorang mendapatkan hukum-hukum khusus seperti bolehnya menjamak dan mengqashar shalat.

Para ulama berbeda pendapat tentang batas jarak safar. Namun, mayoritas ulama menetapkan jarak sekitar 80–90 km sebagai ukuran safar yang membolehkan adanya rukhsah.

Dasar Hukum Safar dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an banyak menyebutkan safar sebagai bagian dari kehidupan manusia. Salah satu ayat yang menjelaskan tentang safar adalah sebagai berikut:

Dalil Al-Qur’an:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

Artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat.” (QS. An-Nisa: 101)

Ayat ini menunjukkan bahwa safar diakui dalam Islam dan bahkan menjadi sebab diberikannya keringanan dalam ibadah shalat. Hal ini menandakan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya agar ibadah tetap dapat dilaksanakan dengan mudah.

Safar dalam Hadis Nabi

Nabi Muhammad sering melakukan safar, baik untuk berdagang sebelum kenabian, berdakwah, maupun dalam rangka jihad dan haji. Banyak hadis yang menjelaskan hukum dan adab safar.

Dalil Hadis:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

Artinya: “Safar itu adalah bagian dari kesusahan, yang menghalangi seseorang dari makan, minum, dan tidurnya. Maka apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan keperluannya dalam safar, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa safar memiliki tantangan dan kesulitan, sehingga Islam memberikan kemudahan dan anjuran untuk tidak memperpanjang perjalanan tanpa kebutuhan.

Tujuan Safar dalam Islam

Safar dalam Islam tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga memiliki nilai ibadah jika diniatkan dengan benar. Beberapa tujuan safar antara lain:

1. Menuntut ilmu

2. Berdagang dan mencari nafkah yang halal

3. Berdakwah dan menyebarkan kebaikan

4. Silaturahmi

5. Melaksanakan ibadah seperti haji dan umrah

Setiap safar yang diniatkan karena Allah akan bernilai ibadah dan mendapatkan pahala.

Rukhsah bagi Musafir

Islam memberikan keringanan bagi orang yang safar, di antaranya:

1. Qashar shalat

2. Jamak shalat

3. Boleh tidak berpuasa Ramadhan dan menggantinya di hari lain

Dalil tentang Rukhsah Puasa:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Adab-Adab Safar

Islam mengajarkan adab yang baik ketika melakukan perjalanan, di antaranya:

1. Meluruskan niat

2. Berpamitan kepada keluarga

3. Berdoa sebelum berangkat

4. Menjaga akhlak selama perjalanan

5. Mengingat Allah di mana pun berada

Doa Safar:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.”

Safar dan Tawakal

Safar mengajarkan seorang muslim untuk bertawakal kepada Allah. Dalam perjalanan, seseorang menyadari keterbatasannya dan kebutuhan akan perlindungan Allah.

Dalil Tawakal:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)

Hikmah Safar

Di balik safar terdapat banyak hikmah, di antaranya:

1. Menambah pengalaman hidup

2. Melatih kesabaran

3. Memperluas wawasan

4. Menguatkan rasa syukur

5. Mendekatkan diri kepada Allah

Safar dan Keamanan

Islam sangat memperhatikan keselamatan jiwa. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan mempersiapkan safarnya dengan baik, baik dari segi fisik, bekal, maupun perencanaan perjalanan. Rasulullah melarang safar yang membahayakan diri tanpa alasan yang dibenarkan.

Persiapan yang matang merupakan bagian dari ikhtiar, sedangkan hasil akhir tetap diserahkan kepada Allah melalui tawakal.

Safar Perempuan dalam Islam

Safar bagi perempuan juga dibahas secara khusus dalam Islam. Para ulama sepakat bahwa keselamatan dan kehormatan perempuan harus dijaga. Oleh karena itu, terdapat pembahasan mengenai mahram dalam safar, terutama pada perjalanan jauh.

Perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini menunjukkan bahwa hukum Islam selalu mempertimbangkan konteks dan kondisi sosial.

Safar dan Lingkungan

Dalam safar, seorang muslim diajarkan untuk menjaga lingkungan. Tidak merusak alam, menjaga kebersihan, dan menghormati makhluk hidup merupakan bagian dari akhlak Islami.

Dalil Al-Qur’an:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Penutup

Safar dalam Islam memiliki dimensi yang sangat luas, mencakup aspek ibadah, sosial, akhlak, dan pendidikan jiwa. Dengan memahami konsep safar secara menyeluruh, seorang muslim dapat menjadikan setiap perjalanan sebagai ladang pahala dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Semoga pembahasan panjang ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang safar dan penerapannya dalam kehidupan sehari-har

REFERENSI:

Diringkas oleh: Alandri, dari buku: fiqih muyassar bab safar

Bagikan:

Artikel Terkait

kesalahan para muadzin
Fiqh 14/05/2026

Kesalahan-Kesalahan Para Muadzin

Kesalahan-Kesalahan Para Muadzin – Ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh para muadzin dan orang-orang yang shalat pada saat adzhan dan iqamah. Kepada saudara dan saudariku yang mulia, inilah sebagian kesalahan yang dilakukan oleh para muadzin: Kesalahan pertama: Mengada-adakan sebagian kalimat atau doa sebelum dan sesudah adzan Sebagian muadzin menciptakan dari diri mereka sendiri sebagian kalimat […]

Barometer ibadah yang baik dan diterima 1
Fiqh 11/04/2026

Delapan Barometer Ibadah  Yang Baik Dan Diterima (Part 1)

Delapan Barometer Ibadah  Yang Baik Dan Diterima (Part 1) – Maka hikmah dari penciptaan adalah ibadah dan menjalani serangkaian cobaan adalah untuk mendapatkan ibadah dengan baik dan sempurna. Kata “ibadah” memiliki dua makna: Dengan ungkapan lain: makna dari sisi peribadahan itu sendiri, dan makna dari sisi apa yang digunakan untuk beribadah: Makna pertama adalah kesempurnaan […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map