Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Keutamaan Orang Yang Suka Menolong Sesama

KEUTAMAAN ORANG YANG SUKA MENOLONG SESAMA

KEUTAMAAN ORANG YANG SUKA MENOLONG SESAMA

Bismillah, Al-hamdulillah, Was-salamu Ala Rasulillah, berikut ini adalah pembahasan tentang keutamaan orang yang suka menolong terhadap sesama, dengan dilengkapi dengan dalil-dalil dan penjelasan dari syeikh al-utsaimin, dan diringkas dalam artikel berikut ini.

Dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rodiyaallahu ‘anhu, dari Nabi shallahhu ‘alahi wasallam, beliau bersabda:

( من نفّس عن مؤمن كربة من كرب يوم القيامة, ومن يسّر على معسر, يسّر الله عليه في الدنيا و لآخرة…..)

Artinya: ’Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia seorang mukmin, niscaya Allah akan melapangkan kesusahan dirinya di hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. …’’ (HR.Muslim. no: 2699/38)

PENJELASAN HADITS:

Sabda beliau:

من نفّس عن مؤمن artinya melapangkan kesusahan orang mukmin:  sesuatu yang menyusahkan , menyedihkan dan membuat sempit di hati.

 من كرب الدنيا Artinya dari kesusahan dunia, yakni kesusahan yang berkaitan dengan urusan dunia, sekalipun termasuk masalah agama, sebab terkadang menimpa kepada seseorang kesusahan agama, kemudian ia menghilangkannya.

عن مؤمن كربة من كرب يوم القيامة Artinya niscaya Allah akan melapangkan kesusahan dirinya di hari kiamat, yakni balasan yang diberikan sesuai berdasarkan jenis amalan. Jika melapangkannya, maka dibalas dengan dilapangkan. Akan tetapi berdasarkan bentuknya jauh berbeda.karena melapangkan di dunia sama sekali tidak akan sama bila dibandingkan dengan kelapangan dari Allah di hari akhirat. Apabila Allah melapangkan kesusahan seseorang di hari akhirat berarti pahalanya lebih agung dari amalannya.

يوم القيامة Artinya hari dimana di sana terjadinya Kiamat. Dinamakan demikian karena tiga hal:

Pertama:  pada hari itu manusia bangkit dari kubur, mereka menghadap Allah Ta’ala. Firman-Nya:

يوم يقوم النّاس لربّ العلمين

Artinya: ‘’(Yaitu) hari  (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta  alam.’’ (QS. Al-Muhaffifiin: 6)

Berasal dari kata:  قَامَ – يَقُوْمُ-قِيَامَةً , seperti pada ayat diatas, manusia berdiri menghadap Allah.

Kedua : pada hari itu para saksi dibangkitkan, sebagaimana firman Allah:

إنّا لننصر رسلنا والذي آمنوا في الحياة الدّنيا و يوم الأشهاد

Artinya: ‘’Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).’’  (QS. Ghaafir:52)

Ketiga: pada hari itu keadilan ditegakkan, sebagaimana firman-Nya:

ونضع الموازين القسط ليوم القيامة فلا تظلم نفس شيئا

Artinya: ‘’Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat (hari ditegakkan (keadilan)), maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun.’’  (QS. Ghaafir: 51)

Sabda beliau:  artinya: memudahkan,   orang yang ditimpah kesusahan, sebagaimana firman-Nya:

وإن كان ذو عسرة فنظرة إلى ميسرة

Artinya: ‘’Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.’’  (QS. Al-Baqoroh: 280)

Artinya Allah mudahkan baginya didunia dan akhirat. Mencakup memudahkan dalam hal harta,pekerjaan, mencari ilmu, dan bentuk kemudahan lainnya. Dalam hal ini disebutkan balasannya di dua tempat, di dunia dan diakhirat.

Artinya: Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Yakni: jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti menolongmu sebagiamna engkau menolong saudaramu. Artinya:  jika engkau menolong saudaramu. Sebagian orang awam meriwayatkannya dengan lafadzh:   (ketika si hamba sedang menolong saudaranya). Ini keliru, sebab jika mengatakan seperti itu, maka maknanya: pertolongan Allah tidak akan datang, kecuali ketika ia sedang melaksankan pertolongan terhadap saudaranya. Dan jangan dipahami bahwa pertolongan Allah terhadap hamba seperti pertolongan hamba kepada saudaranya.

Jika ia berkata:   akan dipahami bahwa pertolongan Allah Ta’ala seperti pertolongan manusia kepada saudaranya. Disebabkan hadist ini adalah lafadz Nabi  shallahhu ‘alahi wasallam, maka tidak boleh diubah.

Maka, perlu kita ketahui bahwa ada beberapa faedah(pelajaran ) yang bisa dipetik dari hadist ini diantaranya adalah:

  1. Dorongan untuk melapangkankesusahan orang mukmin, berdasarkan sabda beliau ” Siapa yang melapangkan satu kesusahan di dunia, maka Allah Ta’ala akan melapangkan kesusahan dirinya di hari kiamat.”.

Ini mencakup kesusahan dalam badan, harta, kesusahan perang dan selainnya, maka setiap kesusahan yang dihilangkan dari seseorang mukmin termasuk pengertian hadist ini.

  1. Balasan sesuai dengan jenis amalan. Melapangkan, maka akan dibalas dengan dilapangkan, ini adalah bentuk kesempurnaan keadilan Alllah Ta’ala, akan tetapi bentuknya berbeda, sebab balasan Allah Ta’ala lebih besar dan lebih baik dari amlannya. Satu kebajikan akan dibalas dengan sepuluh yang semisalnya hingga 700 kali lipat.
  2. Penetapan akan adanya hari kiamat, berdasarkan sabdanya: “Niscaya Allah Ta’ala akan melapangkan kesusahan dirinya di hari kiamat.’’
  3. Ketahuilah bahwa hari Kiamat akan ada kesusahn yang sangat besar, akan tetap meskipun demikian alhamdulillah bagi seorang Muslim hal itu menjadi mudah. Sebagaimana berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وكان يوما على الكافرين عسيرا

Artinya: ‘’Dan adalah (hari itu), hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir.’’ (QS. Al-Furqon: 26)

Begitu juga dalam  firman-Nya juga:

على الكافرين غير يسير

Artinya: “Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah’’ (QS. Al-Muddatstsir: 10)

Adapun bagi orang yang beriman Allah akan mudahkan dan meringkan mereka. Manusia bertingkat-tingkat keadaanya tergantung apa yang dimiliki mereka dari iman dan amal shalih.

  1. Anjuran untuk memudahkan orang yang kesusahan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Baik kesusahan menyelesaikan hakmu yang ada padanya atau selain hakmu. Hadist ini mencakup dua hal ini: “Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan untuknya’’.

Akan tetapi jika berkaitan dengan hakmu, maka memudahkan wajib hukumnya.dan jika berkaitan dengan hak selainmu,pertolonganmu dalam memudahkannya disunnahkan.

Apabila seseorang berkata: betapa banyaknya orang berdusta di zaman ini, mereka mengaku susah padahal tidak demikian, sehingga pemilik hak tidak mempercayai pengakuan mereka. Kita katakan: benar, bahwa amnat di zaman sekarang berbeda (dengan zaman sebelumnya). Orang yang mengaku susah padahal tidak demikian, bahkan ia mendatangkan saksi bahwa dirinya orang yang sedang kesusahan. Namun jika terbukti atau prediksimu yang kuat bahwa orang ini benar-benar kesusahan, maka wajib atasmu menahan diri dari meminta atau menuntutnya.

Namun jika sebaliknya maksudnya ia berpura-pura susah, maka disini engakau memiliki hak untuk meminta dan menuntutnya. Ini yang berkenaan dengan orang yang kesusahan dalam menunaikan hakmu.

Akan tetapi jika ia kesusahan terhadap hak selainmu, maka hukumya sunnah. Kecuali engkau khawatir ia disakiti atau dipenjara tanpa alasan yang benar, maka disini kita katakan: wajib menyelamatkannya dari hal itu selama kita mampu.

  1. Memudahkan oarang yang kesusahan terdapat dua pahala yaitu pahala didunia dan pahala di akhirat.

Demikian,semoga bermanfaat dan lebih bersemangat lagi ketika tolong menolong antara manusia, akrena kita tahu bahwa pahala begitu besar disisi Allah Ta’ala.

Wassalamu’alaikum warohmatuallahhi wabarokaatuh.

Referensi:

kitab Syarah Hadist Arba’in karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

Peringkas: Nensi Lestari (Ummu Salma Atikah Hasna)

Baca juga artikel:

Nasehat Untukmu Pemuda

Jalan Golongan Selamat

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.